3 Level Iman Marta: Kita di Level Mana?
(RD Josep Susanto)
Sebagai imam Katolik, saya sangat bangga ketika melihat sudah banyak umat yang sadar untuk terlibat dalam gerak dan kegiatan di paroki-paroki.
Ada banyak umat yang saya kenal telah bertahun-tahun berkecimpung sebagai aktivis entah di paroki masing masing ataupun di tingkat keuskupan.
Meski saya tahu, mereka semua orang super sibuk. Tetapi mereka masih mau meluangkan waktu untuk Gereja dengan cara dan keterlibatan mereka masing-masing.
Dalam renungan kali ini saya mencoba menggali inspirasi Kitab Suci supaya umat yang membaca renungan ini semakin dikuatkan untuk menemukan makna dari keterlibatan mereka di Gereja.
Kali ini saya mau menggali tokoh Marta, yang di kalangan umat sudah terlanjur namanya "jelek" karena sibuk dengan berbagai perkara yang tidak perlu.
Kalau kita baca tokoh Marta dalam Injil Yohanes kita akan melihat wajah Marta yang lain. Kali ini wajahnya begitu memukau dan luar biasa.
Marta si super sibuk dalam pelayanan ternyata juga punya sisi yang menonjol lain yaitu kemampuan yang luar biasa dalam MENGENALI YESUS.
Di Yoh 11 kita melihat kemunculan Marta dalam konteks kematian Lazarus, saudaranya. Situasi hati Marta pasti sedang sedih, hancur, kehilangan, bingung, putus asa.
Tuhan Yesus mengajak Marta pelan-pelan untuk sungguh mengenal identitas Yesus.
Ada 3 level perjalanan iman Marta di Yoh 11:
PERTAMA: IMAN SEBATAS PENGETAHUAN.
Tampak Marta sudah mengenal Yesus sebelumnya. Tampak sudah ada relasi yang cukup dekat antara keluarga Marta dan Yesus.
Marta pun tampak sudah beriman kepada Yesus. Tetapi imannya hanya sebatas di kepala. Hal itu tampak dalam kata-kata Marta, 2x ia mengatakan:
"AKU TAHU bahwa Allah akan memberikan kepadaMu segala sesuatu yang Engkau minta kepadaNya."
Di sini iman Marta seperti orang kebanyakan. Yesus hanya sebagai pengabul doa-doa umatNya.
Melihat hal itu Tuhan Yesus mengajak Marta untuk melangkah lebih dalam. Marta menanggapi ajakan Yesus dengan menjawab:
"AKU TAHU bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."
Iman dan relasi pada Yesus tentunya bukan cuma soal pengeTAHUan seperti yang diungkapkan Marta. Di sini iman Marta BELUM CUKUP di mata Yesus.
KEDUA: IMAN HARUS DIHAYATI
Tuhan Yesus mengajak Marta untuk melompat dari PENGETAHUAN IMAN ke PENGHAYATAN IMAN.
Dan Marta berhasil ketika ia mengungkapkan:
"Ya, Tuhan, AKU PERCAYA, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."
Apakah proses iman Marta selesai sampai di sini? Ternyata belum.
KETIGA: MENJADI SAKSI IMAN
Marta yang sudah disapa, dibentuk oleh Yesus tidak berdiam diri. Kesedihannya hilang, Marta tampak sebagai manusia baru.
Marta langsung pergi ke pada Maria saudarinya, memberi kabar tentang Tuhan yang datang. Ia mengajak saudarinya itu kepada Yesus.
Dari renungan ini, kita sudah sampai di level yang mana sebagai aktivis dan penggerak Gereja?
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar