☘🍁Doa pagi🍁☘
Hari Senin 1Juli 2019
Bapa,
kuserahkan diriku ke dalam tanganMu.
Lakukanlah atas diriku apa yang Engkau kehendaki.
Apapun yang Engkau perbuat,
aku selalu bersyukur kepadaMu.
Aku siap untuk segalanya.
Biarlah hanya kehendakMu yang terlaksana
dalam diriku dan dalam semua ciptaanMu.
Ya Tuhan,
yang kuharapkan tiada yang lain.
Ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku,
kepadaMu kupersembahkan hidupku
dengan segenap cinta yang membara dalam hatiku,
sebab aku mencintaiMu, ya Tuhan.
Oleh karena itu kuberikan diriku,
kuserahkan diriku ke dalam tanganMu,
tanpa syarat dan dengan kepercayaan tanpa batas,
sebab Engkau adalah Bapaku.
Amin.
Salam Damai Kristus
Minggu, 30 Juni 2019
Kencan Dengan Tuhan
Senin, 1 Juli 2019
Bacaan: 1 Kor 6:19-20
"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"
Renungan:
Suatu ketika ada seorang ibu naik mobil angkutan umum setelah mengunjungi temannya yang suaminya baru saja meningga. Tiba-tiba sebuah angkutan umum lain berjalan ngebut dan ugal-ugalan, kemudian mengerem dengan sangat kasar sehingga bannya terdengar berdecit-decit. Ibu tersebut berkomentar, "Wah orang itu tidak sayang sama mobilnya." Sopir pun berkata, "Begitulah bu, walaupun mobilnya masih baru, tetapi kalau tidak dipelihara dengan baik akan rusak. Sama dengan tubuh manusia kalau tidak diperlakukan dengan baik akan cepat rapuh." Tiba-tiba ibu tersebut ingat akan temannya yang suaminya baru saja meninggal. Almarhum suami temannya itu rajin bekerja dan melayani Tuhan. Tetapi ia tidak sadar bahwa ia masih hidup dalam tubuh jasmani yang terbatas dan butuh perhatian yang cukup. Suaminya itu menderita penyakit paru-paru basah yang membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Tetapi ia tidak menjaga kondisi tubuhnya, sebaliknya ia memaksa tubuhnya untuk bekerja melebihi batas kemampuannya. Akhirnya hal itu mengantarkannya pada kematian. Beberapa situs kesehatan mengatakan bahwa kurangnya asupan makanan dan waktu istirahat akan memicu berkembangnya penyakit-penyakit berbahaya.
Tubuh kita adalah Bait Suci yang harus tetap dijaga sebaik mungkin. Melalui para dokter, Tuhan memberitahu kita bagaimana cara menjaga kesehatan tubuh. Tuhan memang berjanji untuk memelihara hidup kita, tetapi kita juga harus turut ambil bagian di dalam pemeliharaan Tuhan.
1 Kor 10:31 berkata, "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." Itu artinya Tuhan memberikan waktu untuk bekerja, beristirahat, makan dan minum dengan sebaik mungkin. Dengan menjaga kondisi tubuh kita dan beristirahat yang cukup, berarti kita telah memuliakan Allah. Ingat, Tuhan Yesus sendiri pun membutuhkan istirahat setelah melakukan tugas dan pelayanannya. Tuhan memberkati.
Doa:
Yesus, berilah aku hikmat agar dapat menjalani dan menjaga hidupku dengan baik. Amin. (Dod).
Salam Damai Kristus
Senin, 1 Juli 2019
Bacaan: 1 Kor 6:19-20
"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"
Renungan:
Suatu ketika ada seorang ibu naik mobil angkutan umum setelah mengunjungi temannya yang suaminya baru saja meningga. Tiba-tiba sebuah angkutan umum lain berjalan ngebut dan ugal-ugalan, kemudian mengerem dengan sangat kasar sehingga bannya terdengar berdecit-decit. Ibu tersebut berkomentar, "Wah orang itu tidak sayang sama mobilnya." Sopir pun berkata, "Begitulah bu, walaupun mobilnya masih baru, tetapi kalau tidak dipelihara dengan baik akan rusak. Sama dengan tubuh manusia kalau tidak diperlakukan dengan baik akan cepat rapuh." Tiba-tiba ibu tersebut ingat akan temannya yang suaminya baru saja meninggal. Almarhum suami temannya itu rajin bekerja dan melayani Tuhan. Tetapi ia tidak sadar bahwa ia masih hidup dalam tubuh jasmani yang terbatas dan butuh perhatian yang cukup. Suaminya itu menderita penyakit paru-paru basah yang membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Tetapi ia tidak menjaga kondisi tubuhnya, sebaliknya ia memaksa tubuhnya untuk bekerja melebihi batas kemampuannya. Akhirnya hal itu mengantarkannya pada kematian. Beberapa situs kesehatan mengatakan bahwa kurangnya asupan makanan dan waktu istirahat akan memicu berkembangnya penyakit-penyakit berbahaya.
Tubuh kita adalah Bait Suci yang harus tetap dijaga sebaik mungkin. Melalui para dokter, Tuhan memberitahu kita bagaimana cara menjaga kesehatan tubuh. Tuhan memang berjanji untuk memelihara hidup kita, tetapi kita juga harus turut ambil bagian di dalam pemeliharaan Tuhan.
1 Kor 10:31 berkata, "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." Itu artinya Tuhan memberikan waktu untuk bekerja, beristirahat, makan dan minum dengan sebaik mungkin. Dengan menjaga kondisi tubuh kita dan beristirahat yang cukup, berarti kita telah memuliakan Allah. Ingat, Tuhan Yesus sendiri pun membutuhkan istirahat setelah melakukan tugas dan pelayanannya. Tuhan memberkati.
Doa:
Yesus, berilah aku hikmat agar dapat menjalani dan menjaga hidupku dengan baik. Amin. (Dod).
Salam Damai Kristus
#renungan
*HARGA YANG HARUS DIBAYAR*
Senin 01 Jul 2019
_`Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: `Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.` Yesus berkata kepadanya: `Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya` (Mat 8:19-20)_
Apa yang membuat ahli Taurat ini datang kepada Yesus, menyapa Yesus sebagai guru, dan mau mengikuti-Nya ke mana saja Dia pergi? Padahal, Yesus sangat menentang legalisme sempit yang menjadi tumpuan agama para ahli Taurat. Rupanya, ahli Taurat ini kagum dan tertarik kepada pribadi dan ajaran Yesus. Hidup, pribadi, dan pengajaran seseorang bisa sangat besar pengaruhnya bagi orang lain. Tidak mengherankan ada yang berkata, `Kotbah yang baik adalah kotbah lewat hidup dan kepribadian.`
Jawaban Yesus kepada ahli Taurat itu: `Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya`. Dengan itu, Yesus memintanya untuk berpikir dalam-dalam dulu apa yang diperbuatnya dan akan harga yang harus dibayarnya. Ia tidak ingin pengikut yang a) semangatnya mudah berkobar, tetapi mudah padam juga, b) orang yang hanya hanyut oleh perasaan yang kuat, namun segera reda dan hilang. Ia ingin para pengikut-Nya benarbenar tahu apa yang mereka perbuat, berani memikul salibnya setiap hari (bdk. Mat 10:38), membenci orang-orang terdekatnya, bahkan nyawanya sendiri (bdk. Luk 14:26). Mari kita perbarui semangat kita mengikuti Yesus dengan memikul salib setiap hari dan menyangkal diri.
*_Sr. M. Vianney, P.Karm_*
Senin 01 Jul 2019
Kej 18:16-33; Mzm 103:1-48-11; Mat 8:18-22
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus
*HARGA YANG HARUS DIBAYAR*
Senin 01 Jul 2019
_`Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: `Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.` Yesus berkata kepadanya: `Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya` (Mat 8:19-20)_
Apa yang membuat ahli Taurat ini datang kepada Yesus, menyapa Yesus sebagai guru, dan mau mengikuti-Nya ke mana saja Dia pergi? Padahal, Yesus sangat menentang legalisme sempit yang menjadi tumpuan agama para ahli Taurat. Rupanya, ahli Taurat ini kagum dan tertarik kepada pribadi dan ajaran Yesus. Hidup, pribadi, dan pengajaran seseorang bisa sangat besar pengaruhnya bagi orang lain. Tidak mengherankan ada yang berkata, `Kotbah yang baik adalah kotbah lewat hidup dan kepribadian.`
Jawaban Yesus kepada ahli Taurat itu: `Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya`. Dengan itu, Yesus memintanya untuk berpikir dalam-dalam dulu apa yang diperbuatnya dan akan harga yang harus dibayarnya. Ia tidak ingin pengikut yang a) semangatnya mudah berkobar, tetapi mudah padam juga, b) orang yang hanya hanyut oleh perasaan yang kuat, namun segera reda dan hilang. Ia ingin para pengikut-Nya benarbenar tahu apa yang mereka perbuat, berani memikul salibnya setiap hari (bdk. Mat 10:38), membenci orang-orang terdekatnya, bahkan nyawanya sendiri (bdk. Luk 14:26). Mari kita perbarui semangat kita mengikuti Yesus dengan memikul salib setiap hari dan menyangkal diri.
*_Sr. M. Vianney, P.Karm_*
Senin 01 Jul 2019
Kej 18:16-33; Mzm 103:1-48-11; Mat 8:18-22
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus
Mutiara Iman
MOTIVASI MENGIKUTI YESUS
1 Juli 2019
“Guru, Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi” (Mat 8:19)
Lectio
Kej 18:16-33;,Mzm 103:1-2,3-4,8-9,10-11; Mat 8:18-22
Seorang Ibu yang baru saja menerima makan siang dari Komunitas Pendalaman Kitab Suci berkata kepada perwakilan dari komunitas tersebut :
”Pak, saya senang sekali dengan Komunitas ini. Saya mau percaya kepada Tuhan Yesus, seperti lagu-lagu tadi.”
Bapak itu bertanya :
”Apa yang mendorong Ibu mau percaya pada Tuhan Yesus?”
Ibu itu terdiam sejenak, lalu menjawab :
”Mungkin kalau percaya pada Tuhan Yesus, saya bisa mendapatkan makan pagi, makan siang dan makan malam.”
Lalu Bapak itu menjawab :
“Motivasi ibu seharusnya bukan untuk mendapatkan makanan, namun tetapi adalah untuk memberikan makanan kepada yang membutuhkan agar kita bisa memancarkan kasih Allah.”
Mengikuti YESUS, adalah membangun RELASI bersama-Nya, PERCAYA akan segala Penyelenggaraan-Nya dan SETIA melakukan segala perintah-Nya.
Oratio
Yesus, Engkaulah andalanku. Amin
Missio
Marilah kita mengikuti Yesus dengan penuh KOMITMEN karena kita percaya bersama-Nya, kita akan mengalami KEHIDUPAN.
Have a Blessed Monday.
MOTIVASI MENGIKUTI YESUS
1 Juli 2019
“Guru, Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi” (Mat 8:19)
Lectio
Kej 18:16-33;,Mzm 103:1-2,3-4,8-9,10-11; Mat 8:18-22
Seorang Ibu yang baru saja menerima makan siang dari Komunitas Pendalaman Kitab Suci berkata kepada perwakilan dari komunitas tersebut :
”Pak, saya senang sekali dengan Komunitas ini. Saya mau percaya kepada Tuhan Yesus, seperti lagu-lagu tadi.”
Bapak itu bertanya :
”Apa yang mendorong Ibu mau percaya pada Tuhan Yesus?”
Ibu itu terdiam sejenak, lalu menjawab :
”Mungkin kalau percaya pada Tuhan Yesus, saya bisa mendapatkan makan pagi, makan siang dan makan malam.”
Lalu Bapak itu menjawab :
“Motivasi ibu seharusnya bukan untuk mendapatkan makanan, namun tetapi adalah untuk memberikan makanan kepada yang membutuhkan agar kita bisa memancarkan kasih Allah.”
Mengikuti YESUS, adalah membangun RELASI bersama-Nya, PERCAYA akan segala Penyelenggaraan-Nya dan SETIA melakukan segala perintah-Nya.
Oratio
Yesus, Engkaulah andalanku. Amin
Missio
Marilah kita mengikuti Yesus dengan penuh KOMITMEN karena kita percaya bersama-Nya, kita akan mengalami KEHIDUPAN.
Have a Blessed Monday.
RUAH
Senin, 01 Juli 2019
Hari Biasa Pekan XIII
Barangsiapa memikirkan kebahagiaan, ia menjadi kawanan Tuhan; hal ini menimbulkan kegembiraan besar, juga di tengah-tengah air mata dukacita --- St. Agustinus
Antifon Pembuka (Mzm 103:8)
Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang kesabaran-Nya dan berlimpah kasih setia-Nya
Doa Pembuka
Allah Bapa kami, seringkali kami mendengar Sabda-Mu tetapi kami menutup hati dan tidak melaksanakannya. Semoga kami mau dan mampu memperbarui hidup kami dan melaksanakan kehendak-Mu dengan penuh kegembiraan dan iman yang teguh. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Bacaan dari Kitab Kejadian (18:16-33)
"Apakah engkau akan membinasakan orang saleh bersama dengan orang jahat?"
Setelah Abraham diberi janji oleh Tuhan, maka berangkatlah ketiga tamunya. Mereka mengarahkan pandangannya ke Sodom, dan Abraham mengantarkan mereka. Berpikirlah Tuhan, “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang akan Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya ia memerintahkan kepada anak-anak dan keturunannya, agar tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan agar Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” Maka bersabdalah Tuhan, “Sesungguhnya, banyaklah keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora, dan sesungguhnya sangat beratlah dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.” Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan Tuhan. Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan membinasakan orang benar bersama dengan orang jahat? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan membinasakan tempat itu? Tidakkah Engkau mengampuninya demi kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya daripada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama dengan orang jahat, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang jahat! Jauhkanlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Tuhan bersabda, “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu demi mereka.” Abraham menyahut, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benaritu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Tuhan bersabda, “Aku takkan memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.” Lagi Abraham melanjutkan perkataannya, “Sekiranya empat puluh didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan berbuat demikian demi yang empat puluh itu.” Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata sekali lagi, Sekiranya tiga puluh yang didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan berbuat demikian jika Kudapati tiga puluh di sana.” Kata Abraham lagi, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh yang didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan memusnahkannya demi yang dua puluh itu.” Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi ini saja. Sekiranya sepuluh yang didapati di sana?” Jawab Tuhan, “Aku takkan memusnahkannya demi yang sepuluh itu.” Lalu pergilah Tuhan, setelah Ia selesai bersabda kepada Abraham. Dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
Ayat. (Mzm 103:1-2.3-4.8-9.10-11)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!
2. Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
3. Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak terus-menerus Ia murka, dan tidak untuk selamanya Ia mendendam.
4. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita. Setinggi langit dari bumi, demikian besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takut akan Dia!
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah suara Tuhan.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (8:18-22)
"Ikutilah Aku."
Pada suatu hari banyak orang mengerumuni Yesus. Melihat hal itu Yesus menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku, dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Suatu hari sehabis melayat, saya bersama beberapa frater melewati depan sebuah gereja; namanya, gereja YHS, "Yakin Hidup Sukses." Kami terbelalak melihat gereja itu. Ada kesan, jika seseorang masuk dalam gereja itu, ia pasti hidup sukses, kaya dan berkelimpahan. Ia pasti akan punya ini dan itu dan sebagainya.
Demikiankah hidup mengikut Yesus itu? Demikiankah Gereja yang Yesus dirikan? Demikiankah hidup Yesus sendiri? Injil hari ini memberi jawaban: tidak! Seorang ahli Taurat yang menyebut Yesus sebagai "Guru" dan menawarkan diri untuk mengikuti-Nya ke mana pun Yesus pergi, ditanggapi oleh Yesus dengan berkata ringan, "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Mat 8:20). Artinya, jika ada orang yang mau mengikuti Yesus atau dia dipanggil untuk mengikuti-Nya, Yesus --Anak Manusia itu-- tidak memberikan jaminan kenyamanan atau kesuksesan duniawi, tetapi keselamatan.
Karena itu, Gereja yang didirikan oleh Yesus, dan bukan oleh manusia mana pun, mesti terus-menerus membiarkan diri dibimbing oleh: pertama, Injil Sabda Bahagia di mana Yesus berkata, "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah" (Luk 6:20). Jelas, yang empunya Kerajaan Allah itu bukan mereka yang hidup sukses secara duniawi, tapi yang miskin di hadapan Allah (Mat 5:3), yang hidup sepenuhnya bergantung kepada Allah dan kuasa-Nya serta menempatkan Allah sebagai sumber kebahagiaan, walau secara materi tidak hidup dalam kelimpahan. Kata St. Agustinus, "Kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari hidup bahagia," bukan hidup sukses.
Kedua, dibimbing oleh kemiskinan Yesus (Mat 8:20), supaya oleh kemiskinan-Nya, sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, "kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa" (Ef 1:7), bukan hidup sukses. Ketiga, dibimbing oleh perhatian-Nya kepada kaum miskin dan dengan itu Ia mengajak kita untuk melihat kehadiran-Nya di dalam saudara-Nya, para fakir miskin (Mat 25:40).
Santa Teresa dari Kalkuta berkata, kita dipanggil mengikuti Kristus bukan untuk hidup sukses tetapi untuk setia; dan jika orang setia sampai mati, ia akan beroleh selamat. (Mrk 13:13)
Salam Damai Kristus
Senin, 01 Juli 2019
Hari Biasa Pekan XIII
Barangsiapa memikirkan kebahagiaan, ia menjadi kawanan Tuhan; hal ini menimbulkan kegembiraan besar, juga di tengah-tengah air mata dukacita --- St. Agustinus
Antifon Pembuka (Mzm 103:8)
Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang kesabaran-Nya dan berlimpah kasih setia-Nya
Doa Pembuka
Allah Bapa kami, seringkali kami mendengar Sabda-Mu tetapi kami menutup hati dan tidak melaksanakannya. Semoga kami mau dan mampu memperbarui hidup kami dan melaksanakan kehendak-Mu dengan penuh kegembiraan dan iman yang teguh. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Bacaan dari Kitab Kejadian (18:16-33)
"Apakah engkau akan membinasakan orang saleh bersama dengan orang jahat?"
Setelah Abraham diberi janji oleh Tuhan, maka berangkatlah ketiga tamunya. Mereka mengarahkan pandangannya ke Sodom, dan Abraham mengantarkan mereka. Berpikirlah Tuhan, “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang akan Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya ia memerintahkan kepada anak-anak dan keturunannya, agar tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan agar Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” Maka bersabdalah Tuhan, “Sesungguhnya, banyaklah keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora, dan sesungguhnya sangat beratlah dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.” Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan Tuhan. Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan membinasakan orang benar bersama dengan orang jahat? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan membinasakan tempat itu? Tidakkah Engkau mengampuninya demi kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya daripada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama dengan orang jahat, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang jahat! Jauhkanlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Tuhan bersabda, “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu demi mereka.” Abraham menyahut, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benaritu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Tuhan bersabda, “Aku takkan memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.” Lagi Abraham melanjutkan perkataannya, “Sekiranya empat puluh didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan berbuat demikian demi yang empat puluh itu.” Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata sekali lagi, Sekiranya tiga puluh yang didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan berbuat demikian jika Kudapati tiga puluh di sana.” Kata Abraham lagi, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh yang didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan memusnahkannya demi yang dua puluh itu.” Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi ini saja. Sekiranya sepuluh yang didapati di sana?” Jawab Tuhan, “Aku takkan memusnahkannya demi yang sepuluh itu.” Lalu pergilah Tuhan, setelah Ia selesai bersabda kepada Abraham. Dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
Ayat. (Mzm 103:1-2.3-4.8-9.10-11)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!
2. Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
3. Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak terus-menerus Ia murka, dan tidak untuk selamanya Ia mendendam.
4. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita. Setinggi langit dari bumi, demikian besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takut akan Dia!
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah suara Tuhan.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (8:18-22)
"Ikutilah Aku."
Pada suatu hari banyak orang mengerumuni Yesus. Melihat hal itu Yesus menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku, dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Suatu hari sehabis melayat, saya bersama beberapa frater melewati depan sebuah gereja; namanya, gereja YHS, "Yakin Hidup Sukses." Kami terbelalak melihat gereja itu. Ada kesan, jika seseorang masuk dalam gereja itu, ia pasti hidup sukses, kaya dan berkelimpahan. Ia pasti akan punya ini dan itu dan sebagainya.
Demikiankah hidup mengikut Yesus itu? Demikiankah Gereja yang Yesus dirikan? Demikiankah hidup Yesus sendiri? Injil hari ini memberi jawaban: tidak! Seorang ahli Taurat yang menyebut Yesus sebagai "Guru" dan menawarkan diri untuk mengikuti-Nya ke mana pun Yesus pergi, ditanggapi oleh Yesus dengan berkata ringan, "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Mat 8:20). Artinya, jika ada orang yang mau mengikuti Yesus atau dia dipanggil untuk mengikuti-Nya, Yesus --Anak Manusia itu-- tidak memberikan jaminan kenyamanan atau kesuksesan duniawi, tetapi keselamatan.
Karena itu, Gereja yang didirikan oleh Yesus, dan bukan oleh manusia mana pun, mesti terus-menerus membiarkan diri dibimbing oleh: pertama, Injil Sabda Bahagia di mana Yesus berkata, "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah" (Luk 6:20). Jelas, yang empunya Kerajaan Allah itu bukan mereka yang hidup sukses secara duniawi, tapi yang miskin di hadapan Allah (Mat 5:3), yang hidup sepenuhnya bergantung kepada Allah dan kuasa-Nya serta menempatkan Allah sebagai sumber kebahagiaan, walau secara materi tidak hidup dalam kelimpahan. Kata St. Agustinus, "Kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari hidup bahagia," bukan hidup sukses.
Kedua, dibimbing oleh kemiskinan Yesus (Mat 8:20), supaya oleh kemiskinan-Nya, sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, "kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa" (Ef 1:7), bukan hidup sukses. Ketiga, dibimbing oleh perhatian-Nya kepada kaum miskin dan dengan itu Ia mengajak kita untuk melihat kehadiran-Nya di dalam saudara-Nya, para fakir miskin (Mat 25:40).
Santa Teresa dari Kalkuta berkata, kita dipanggil mengikuti Kristus bukan untuk hidup sukses tetapi untuk setia; dan jika orang setia sampai mati, ia akan beroleh selamat. (Mrk 13:13)
Salam Damai Kristus
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Senin,_ *01 Juli 2019*
Kej 18:16-33
Mzm 103:1-4,8-11
Mat 8:18-22
*DAYA TARIK YESUS*
_Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi. -- Mat 8:19_
Cinta pada pandangan pertama merupakan istilah yang populer. Yang tidak kalah sohor juga, istilah cinta buta.
Cinta dapat membuat orang memiliki energi yang luar biasa. Sering saya dengar dari radio tentang pasangan yang rela menghabiskan waktu untuk mengantar jemput kekasihnya walaupun harus menempuh jarak yang sangat jauh. Bahkan jarak tersebut ditempuh dengan mengendarai sepeda motor. Atau pasangan yang rela memberikan waktu dan tenaga demi memberi kejutan bagi pasangannya. Ya, cinta dapat menggerakkan orang untuk melakukan hal-hal luar biasa.
Ketika awal perjumpaan dengan Tuhan Yesus, saya jatuh cinta. Saya rela menghabiskan waktu hanya untuk berdoa, membaca Alkitab, dan ke gereja. Saya sangat terpesona dengan pribadi Yesus. Sama seperti yang dituliskan dalam Injil, bahwa orang-orang terpesona dengan daya tarik Yesus dan rela mengikuti-Nya. Dan pesona itu masih terasa sampai sekarang, sehingga banyak orang yang memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan.
Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa pesona Tuhan ditampilkan melalui satu pribadi? Apakah kita menyadari bahwa Tuhan memakai kita sebagai instrumen untuk menyampaikan kasih-Nya kepada orang lain? Kadang kita berhenti sebagai orang yang menikmati kasih dan enggan berbagi dengan orang lain. Namun melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa kita memiliki andil dalam menyampaikan pesona daya tarik Yesus dalam hidup kita sehari-hari. Sudahkah kita melakukan itu? (An)
_Pesona apa yang membuat saya tertarik mengikuti Yesus?_
Salam Damai Kristus
_Senin,_ *01 Juli 2019*
Kej 18:16-33
Mzm 103:1-4,8-11
Mat 8:18-22
*DAYA TARIK YESUS*
_Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi. -- Mat 8:19_
Cinta pada pandangan pertama merupakan istilah yang populer. Yang tidak kalah sohor juga, istilah cinta buta.
Cinta dapat membuat orang memiliki energi yang luar biasa. Sering saya dengar dari radio tentang pasangan yang rela menghabiskan waktu untuk mengantar jemput kekasihnya walaupun harus menempuh jarak yang sangat jauh. Bahkan jarak tersebut ditempuh dengan mengendarai sepeda motor. Atau pasangan yang rela memberikan waktu dan tenaga demi memberi kejutan bagi pasangannya. Ya, cinta dapat menggerakkan orang untuk melakukan hal-hal luar biasa.
Ketika awal perjumpaan dengan Tuhan Yesus, saya jatuh cinta. Saya rela menghabiskan waktu hanya untuk berdoa, membaca Alkitab, dan ke gereja. Saya sangat terpesona dengan pribadi Yesus. Sama seperti yang dituliskan dalam Injil, bahwa orang-orang terpesona dengan daya tarik Yesus dan rela mengikuti-Nya. Dan pesona itu masih terasa sampai sekarang, sehingga banyak orang yang memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan.
Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa pesona Tuhan ditampilkan melalui satu pribadi? Apakah kita menyadari bahwa Tuhan memakai kita sebagai instrumen untuk menyampaikan kasih-Nya kepada orang lain? Kadang kita berhenti sebagai orang yang menikmati kasih dan enggan berbagi dengan orang lain. Namun melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa kita memiliki andil dalam menyampaikan pesona daya tarik Yesus dalam hidup kita sehari-hari. Sudahkah kita melakukan itu? (An)
_Pesona apa yang membuat saya tertarik mengikuti Yesus?_
Salam Damai Kristus
Doa Hari Senin
01 Juli' 2019
By : Team Moderator DSM
Doa untuk para perawat
Tuhan,
Engkau mengajarkan kami untuk saling
mengasihi dengan kerendahan hati.
Kami mau membawakan para perawat yang
terpanggil untuk memperhatikan orang-orang
lain. Tumbuhkanlah sikap melayani dalam hati
mereka. Tanggunglah beban mereka, ya Tuhan.
Berkatilah mereka seperti mereka telah
memberkati orang yang telah mereka rawat.
Ingatkanlah mereka agar mereka senantiasa
menghadapi tantangan pelayanan mereka
bersama dengan Engkau.
Engkau yang telah memanggil mereka
menempuh jalan ini, Engkaupun tidak akan
meninggalkan mereka berjalan sendirian.
Biarlah Tuhan memberikan mereka senantiasa
kesabaran dan menggantikan kesabaran
mereka dengan kesabaran-Mu.
Lindungi perasaan dan kesehatan emosi
mereka ketika orang atau situasi yang mereka
hadapi menjadi sulit.
Yesus,
lindungi para perawat agar tetap sehat dan
kuat dalam setiap aspek hidup mereka.
Kuatkan dan berikan senantiasa pemulihan
jasmani, emosi dan spiritual yang mereka
butuhkan.
Berkatilah mereka dengan kasih-Mu yang
berlimpah-limpah yang ditunjukkan dengan
berbelas-kasihan kepada pasien mereka.
Berkatilah kehidupan dan keluarga mereka.
Terima kasih karena Engkaulah sumber
kekuatan mereka. Terima kasih Engkau telah
memanggil mereka untuk melayani sebagai perawat.
Amin.
„Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih!“
– Gal. 5:13
John Kusuma
Salam Damai Kristus
01 Juli' 2019
By : Team Moderator DSM
Doa untuk para perawat
Tuhan,
Engkau mengajarkan kami untuk saling
mengasihi dengan kerendahan hati.
Kami mau membawakan para perawat yang
terpanggil untuk memperhatikan orang-orang
lain. Tumbuhkanlah sikap melayani dalam hati
mereka. Tanggunglah beban mereka, ya Tuhan.
Berkatilah mereka seperti mereka telah
memberkati orang yang telah mereka rawat.
Ingatkanlah mereka agar mereka senantiasa
menghadapi tantangan pelayanan mereka
bersama dengan Engkau.
Engkau yang telah memanggil mereka
menempuh jalan ini, Engkaupun tidak akan
meninggalkan mereka berjalan sendirian.
Biarlah Tuhan memberikan mereka senantiasa
kesabaran dan menggantikan kesabaran
mereka dengan kesabaran-Mu.
Lindungi perasaan dan kesehatan emosi
mereka ketika orang atau situasi yang mereka
hadapi menjadi sulit.
Yesus,
lindungi para perawat agar tetap sehat dan
kuat dalam setiap aspek hidup mereka.
Kuatkan dan berikan senantiasa pemulihan
jasmani, emosi dan spiritual yang mereka
butuhkan.
Berkatilah mereka dengan kasih-Mu yang
berlimpah-limpah yang ditunjukkan dengan
berbelas-kasihan kepada pasien mereka.
Berkatilah kehidupan dan keluarga mereka.
Terima kasih karena Engkaulah sumber
kekuatan mereka. Terima kasih Engkau telah
memanggil mereka untuk melayani sebagai perawat.
Amin.
„Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih!“
– Gal. 5:13
John Kusuma
Salam Damai Kristus
Santo-Santa
1 Juli
Hari Raya Darah Yesus Yang MahaKudus
Hari Raya Darah Yesus Yang MahaKudus mau mengarahkan hati kita kepada makna peristiwa "Sengsara Yesus", yang diwarnai dengan penumpahan DarahNya yang Kudus demi keselamatan umat manusia. Seluruh umat diajak untuk merenungkan tentang mahalnya harga bayaran yang harus ditanggung oleh Kristus, sekaligus tentang rahasia cintakasihNya demi penebusan dosa umat manusia.
Dalam doa sebelum komuni, Gereja berdoa: "Kami menimba air dari Sumber Penyelamat kami dengan sukacita. Kami mohon, moga-moga darahMu menjadi bagi kami sumber air yang memancarkan kehidupan yang kekal."
Pesta ini diresmikan oleh Sri Paus Pius IX (1846-1878), sebagai tanda syukur atas peristiwa kembalinya Sri Paus ke Roma setelah pemberontakan dikalahkan. Ketika Paus Yohanes XXIII naik tahkta, beliau tidak saja meningkatkan pesta ini menjadi salah satu hari raya Gereja, tetapi juga menunjukkan devosi yang besar kepada Darah Yesus yang MahaKudus itu.
Sumber : www.imankatolik.or.id
1 Juli
Hari Raya Darah Yesus Yang MahaKudus
Hari Raya Darah Yesus Yang MahaKudus mau mengarahkan hati kita kepada makna peristiwa "Sengsara Yesus", yang diwarnai dengan penumpahan DarahNya yang Kudus demi keselamatan umat manusia. Seluruh umat diajak untuk merenungkan tentang mahalnya harga bayaran yang harus ditanggung oleh Kristus, sekaligus tentang rahasia cintakasihNya demi penebusan dosa umat manusia.
Dalam doa sebelum komuni, Gereja berdoa: "Kami menimba air dari Sumber Penyelamat kami dengan sukacita. Kami mohon, moga-moga darahMu menjadi bagi kami sumber air yang memancarkan kehidupan yang kekal."
Pesta ini diresmikan oleh Sri Paus Pius IX (1846-1878), sebagai tanda syukur atas peristiwa kembalinya Sri Paus ke Roma setelah pemberontakan dikalahkan. Ketika Paus Yohanes XXIII naik tahkta, beliau tidak saja meningkatkan pesta ini menjadi salah satu hari raya Gereja, tetapi juga menunjukkan devosi yang besar kepada Darah Yesus yang MahaKudus itu.
Sumber : www.imankatolik.or.id
Sabtu, 29 Juni 2019
#renungan
*KEHENDAK TEGUH, MENGIKUTI YESUS*
Minggu 30 Jun 2019
_`Lalu Ia berkata kepada seorang lain: `Ikutlah Aku!.` (Luk 9:59a)_
Yesus membutuhkan orang yang mau diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah. Mengikuti Yesus berarti kita bersedia menyerahkan kehendak bebas kita untuk diutusNya dan siap sedia memberikan diri sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.
Bagaimana tanggapan kita bila Yesus meminta kita untuk mengikuti-Nya? Adakah keterikatan dan hal-hal yang merintangi kita untuk mengikuti-Nya? Untuk mengikutiNya, kadangkala kita tidak berani dengan kehendak teguh menjawab, `Ya, ya, dan ya` karena diperlukan pengorbanan untuk menyangkal diri dan memikul salib setiap hari.
Kedagingan kita begitu lemah untuk mengikuti kehendak-Nya. Seringkali kita masih ingin mengikuti kehendak sendiri, tidak berani keluar dari situasi nyaman, lebih ingin merasakan kenikmatan dan kesenangan.
Namun, sesungguhnya cinta kita akan dimurnikan melalui hal-hal yang tidak menyenangkan yang harus kita tanggung, salib, penderitaan, atau penyakit. Melalui pemurnian itu kita akan mengalami sukacita yang sejati di dalam Allah.
Agar kita tidak menuruti keinginan daging hendaklah kita membiarkan diri digerakkan atau dipimpin oleh Roh Kudus. Melalui doa dan persahabatan dengan Roh Kudus, kita akan dibawa kepada pengenalan akan Allah dan apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita. Rahmat Allah cukup bagi kita untuk mengikuti-Nya.
*_Sr. M. Aurelia, P.Karm_*
Minggu 30 Jun 2019
Hari Minggu Biasa XIII
1Raj 19:16.19-21; Mzm 16:1-2.5.7-11; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus
*KEHENDAK TEGUH, MENGIKUTI YESUS*
Minggu 30 Jun 2019
_`Lalu Ia berkata kepada seorang lain: `Ikutlah Aku!.` (Luk 9:59a)_
Yesus membutuhkan orang yang mau diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah. Mengikuti Yesus berarti kita bersedia menyerahkan kehendak bebas kita untuk diutusNya dan siap sedia memberikan diri sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.
Bagaimana tanggapan kita bila Yesus meminta kita untuk mengikuti-Nya? Adakah keterikatan dan hal-hal yang merintangi kita untuk mengikuti-Nya? Untuk mengikutiNya, kadangkala kita tidak berani dengan kehendak teguh menjawab, `Ya, ya, dan ya` karena diperlukan pengorbanan untuk menyangkal diri dan memikul salib setiap hari.
Kedagingan kita begitu lemah untuk mengikuti kehendak-Nya. Seringkali kita masih ingin mengikuti kehendak sendiri, tidak berani keluar dari situasi nyaman, lebih ingin merasakan kenikmatan dan kesenangan.
Namun, sesungguhnya cinta kita akan dimurnikan melalui hal-hal yang tidak menyenangkan yang harus kita tanggung, salib, penderitaan, atau penyakit. Melalui pemurnian itu kita akan mengalami sukacita yang sejati di dalam Allah.
Agar kita tidak menuruti keinginan daging hendaklah kita membiarkan diri digerakkan atau dipimpin oleh Roh Kudus. Melalui doa dan persahabatan dengan Roh Kudus, kita akan dibawa kepada pengenalan akan Allah dan apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita. Rahmat Allah cukup bagi kita untuk mengikuti-Nya.
*_Sr. M. Aurelia, P.Karm_*
Minggu 30 Jun 2019
Hari Minggu Biasa XIII
1Raj 19:16.19-21; Mzm 16:1-2.5.7-11; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus
Minggu, 30 Juni 2019
Minggu Biasa XIII
1Raj. 19:16b,19-21; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Gal 5:1,13-18; Luk. 9:51-62.
“Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” - Luk 9,58
Rumah atau tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Dalam Injil hari ini, Yesus bahkan menyebut 2 tempat tinggal untuk binatang, yakni sarang untuk burung dan liang untuk serigala. Yesus sendiri sebenarnya mempunyai rumah. Paling tidak, ada rumah Yosep dan Maria di Nazaret. Kemudian, setelah berkarya, rupanya Dia tinggal di Galilea (Mrk 1:14) bersama para murid. Namun, Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk "berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan" (Mat 9:35). Malahan, ketika suatu kali Ia kembali ke Nazaret, tempat ia berasal dan dibesarkan, orang-orang di Nazaret menolak-Nya (Luk 4:16-30). Penolakan tersebut bagi-Nya tidak berarti apa-apa karena memang Ia lebih suka hidup berpindah-pindah di banyak tempat. Lukas, misalnya mencatat bahwa Yesus berpindah-pindah antara lain di Galiela (4:14-15), Kapernaum (4:31-37), dan kota-kota lain di seluruh Yudea (4:42-44); Malam hari, Ia tidak pulang ke rumah tetapi pergi ke bukit untuk berdoa semalam-malaman (6:12). Maka, benarlah Yesus mengatakan bahwa Ia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20). Tempat tinggal berupa bangunan rumah, bagi-Nya tidak penting. Yang lebih penting adalah Ia mendapat tempat dan mempunyai rumah di hati murid-murid-Nya, termasuk kita. Ia lebih suka tinggal dalam hati kita masing-masing. Untuk itu, marilah kita senantiasa membuka hati kita di mana Yesus dapat tinggal dan "meletakkan kepala-Nya". Dengan demikian, Dia juga berkarya di dalam, melalui dan bersama kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Minggu Biasa XIII
1Raj. 19:16b,19-21; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Gal 5:1,13-18; Luk. 9:51-62.
“Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” - Luk 9,58
Rumah atau tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Dalam Injil hari ini, Yesus bahkan menyebut 2 tempat tinggal untuk binatang, yakni sarang untuk burung dan liang untuk serigala. Yesus sendiri sebenarnya mempunyai rumah. Paling tidak, ada rumah Yosep dan Maria di Nazaret. Kemudian, setelah berkarya, rupanya Dia tinggal di Galilea (Mrk 1:14) bersama para murid. Namun, Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk "berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan" (Mat 9:35). Malahan, ketika suatu kali Ia kembali ke Nazaret, tempat ia berasal dan dibesarkan, orang-orang di Nazaret menolak-Nya (Luk 4:16-30). Penolakan tersebut bagi-Nya tidak berarti apa-apa karena memang Ia lebih suka hidup berpindah-pindah di banyak tempat. Lukas, misalnya mencatat bahwa Yesus berpindah-pindah antara lain di Galiela (4:14-15), Kapernaum (4:31-37), dan kota-kota lain di seluruh Yudea (4:42-44); Malam hari, Ia tidak pulang ke rumah tetapi pergi ke bukit untuk berdoa semalam-malaman (6:12). Maka, benarlah Yesus mengatakan bahwa Ia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20). Tempat tinggal berupa bangunan rumah, bagi-Nya tidak penting. Yang lebih penting adalah Ia mendapat tempat dan mempunyai rumah di hati murid-murid-Nya, termasuk kita. Ia lebih suka tinggal dalam hati kita masing-masing. Untuk itu, marilah kita senantiasa membuka hati kita di mana Yesus dapat tinggal dan "meletakkan kepala-Nya". Dengan demikian, Dia juga berkarya di dalam, melalui dan bersama kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Minggu,_ *30 Juni 2019*
*Hari Minggu Biasa XIII*
1Raj 19:16b,19-21
Mzm 16:1-2a,5,7-11
Gal 5:1,13-18
Luk 9:51-62
*KEBEBASAN YANG SEJATI*
_Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. -- Gal 5:13_
Kebebasan adalah suatu pesan yang terkandung dalam Injil, seperti kebebasan dari perbudakan dosa dan dari ancaman maut akibat dosa. Namun banyak orang yang salah mengartikan kebebasan menjadi kebebasan yang kelewat batas. Bebas mereka artikan sebagai semau saya.
Hal ini banyak terjadi terutama di negara-negara Barat, maupun negara yang dipengaruhi oleh budaya Barat yang tidak sehat. Kebebasan yang seperti itu bukanlah arti kebebasan yang sejati.
Kebebasan diri kita tentu juga dibatasi oleh kebebasan yang dimiliki oleh orang lain. Tak mungkin kita bisa bebas semau kita, karena kitapun tidak ingin orang lain bersikap seperti itu. Oleh karena itu, kebebasan dibatasi oleh aturan, norma, budaya, dan hukum yang berlaku. Ada batasan dari keterbatasan seseorang demi melindungi kebebasan yang dimiliki oleh orang lain.
Terlebih lagi, "...seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Galatia 5:14). Maka kebebasan yang kita punya sebenarnya adalah kebebasan untuk mencintai, melayani, berbuat baik, dan menolong sesama.
Jadi tidak ada yang namanya bebas tanpa batasan, karena kita hidup dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh bermacam-macam hal. Marilah kita memperjuangkan kebebasan yang sejati dengan berpegang pada firman-Nya dan gereja-Nya. (Aw)
_Apakah kebebasan yang saya miliki sudah saya gunakan dengan benar dan berguna bagi sesama?_
Salam Damai Kristus
_Minggu,_ *30 Juni 2019*
*Hari Minggu Biasa XIII*
1Raj 19:16b,19-21
Mzm 16:1-2a,5,7-11
Gal 5:1,13-18
Luk 9:51-62
*KEBEBASAN YANG SEJATI*
_Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. -- Gal 5:13_
Kebebasan adalah suatu pesan yang terkandung dalam Injil, seperti kebebasan dari perbudakan dosa dan dari ancaman maut akibat dosa. Namun banyak orang yang salah mengartikan kebebasan menjadi kebebasan yang kelewat batas. Bebas mereka artikan sebagai semau saya.
Hal ini banyak terjadi terutama di negara-negara Barat, maupun negara yang dipengaruhi oleh budaya Barat yang tidak sehat. Kebebasan yang seperti itu bukanlah arti kebebasan yang sejati.
Kebebasan diri kita tentu juga dibatasi oleh kebebasan yang dimiliki oleh orang lain. Tak mungkin kita bisa bebas semau kita, karena kitapun tidak ingin orang lain bersikap seperti itu. Oleh karena itu, kebebasan dibatasi oleh aturan, norma, budaya, dan hukum yang berlaku. Ada batasan dari keterbatasan seseorang demi melindungi kebebasan yang dimiliki oleh orang lain.
Terlebih lagi, "...seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Galatia 5:14). Maka kebebasan yang kita punya sebenarnya adalah kebebasan untuk mencintai, melayani, berbuat baik, dan menolong sesama.
Jadi tidak ada yang namanya bebas tanpa batasan, karena kita hidup dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh bermacam-macam hal. Marilah kita memperjuangkan kebebasan yang sejati dengan berpegang pada firman-Nya dan gereja-Nya. (Aw)
_Apakah kebebasan yang saya miliki sudah saya gunakan dengan benar dan berguna bagi sesama?_
Salam Damai Kristus
RUAH
Minggu, 30 Juni 2019
Hari Minggu Biasa XIII
"Kurban Ekaristi juga dipersembahkan untuk umat beriman yang mati di dalam Kristus, 'yang belum disucikan seluruhnya'" --- Konsili Trente: DS 1743
Antifon Pembuka (Mzm 47:2)
Segala bangsa, bertepuk-tanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai.
All peoples, clap you hands. Cry to God with shouts of joy!
Omnes gentes plaudite manibus: iubilate Deo in voce exsultationis.
Mzm. Quoniam Dominus excelsus, terribilis: Rex magnus super omnem terram.
Doa Pembuka
Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau menghendaki agar kami mengikuti Putra-Mu dengan sepenuh hati. Kami mohon, bebaskanlah kami dari segala hambatan agar kami dapat menjadi pengikut-pengikut-Nya yang setia dan siap sedia melaksanakan kehendak-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja (19:16b.19-21)
"Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia."
Sekali peristiwa Tuhan berkata kepada Nabi Elia, “Elisa bin Safat dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.” Maka pergilah Elia menemui Elisa bin Safat. Pada waktu itu Elisa sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, dan ia sendiri mengendalikan yang kedua belas. Elia lewat di dekatnya dan melemparkan jubahnya kepada Elisa. Segera Elisa meninggalkan lembu-lembunya, mengejar Elia dan berkata, “Perkenankanlah aku mencium ayah dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawab Elia kepadanya, “Baiklah! Pulanglah dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” Elisa lalu meninggalkan Elia, mengambil pasangan lembu itu dan menyembelihnya. Lalu ia memasak dagingnya dengan kayu bajak itu sebagai kayu api, dan memberikan daging itu kepada orang-orangnya, dan mereka pun memakannya. Sesudah itu bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = g 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11)
1. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah Tuhanku, Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepada-Ku."
2. Aku memuji Tuhan yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
3. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorai, dan tubuhku akan diam dengan tentram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan.
4. Engkau memberitahukan kepadaku, ya Allah, jalan kehidupan, di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, dan di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia (5:1.13-18)
"Kamu dipanggil untuk merdeka."
Saudara-saudara, Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau tunduk lagi di bawah kuk perhambaan. Memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain karena kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Akan tetapi, kalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, jangan-jangan kamu saling membinasakan. Maksudku ialah: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, - karena keduanya bertentangan – sehingga setiap kali kamu tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Sebaliknya, kalau kamu membiarkan diri dibimbing oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (1Sam 3:9; Yoh 6:68c)
Bersabdalah, ya Tuhan, sebab hamba-Mu mendengarkan. Sabda-Mu adalah sabda hidup yang kekal.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:51-62)
"Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi."
Ketika hampir genap waktunya diangkat ke surga, Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Maka diutus-Nya beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke sebuah desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, bolehkah kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Tetapi Yesus berpaling dan menegur mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan. Anak manusia datang bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkannya.” Lalu mereka pergi ke desa yang lain. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, datanglah seorang di tengah jalan, berkata kepada Yesus, “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu kepada seorang lain Yesus berkata, “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus menjawab, “Biarlah orang mati mengubur orang mati; tetapi engkau, pergilah, dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. Dan seorang lain lagi berkata, “Tuhan, aku akan mengikuti Engkau, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
Renungan
Yesus berkata kepada seorang ahli Taurat bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk beristirahat dan meratapi kematian. Karena itu, orang yang hendak mengikuti Yesus harus memiliki motivasi yang benar dan murni. Bagi orang beriman, rencana Allah adalah yang paling penting. Karenanya layak untuk diemban dengan komitmen dan tindakan nyata. Tidak usah ragu dengan banyak alasan tambahan bekerja untuk Kerajaan Allah. Karena menurut Yesus sendiri, "Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah!". Injil hari ini mengajak kita untuk berfokus pada hidup kita saat ini dan perjalanan kita ke depan. Janganlah kita terlalu sering menengok ke belakang. Jangan juga hidup dengan kelekatan-kelekatan masa lalu karena akan menghalangi kebahagiaan masa kini kita.
“Keinginan daging tidak terbatas pada kecenderungan panca indera yang tak teratur secara umum atau keinginan seksual secara khusus. Hal ini juga mengacu kepada kesenangan akan kenyamanan, kepada keengganan untuk menggerakkan diri kita sendiri atau bahkan untuk menjadi siap siaga, sehingga membuat kita mencari sekecil-kecilnya hal yang tidak nyaman, mencari apa yang paling menyenangkan, mencari jalan yang ditawarkan kepada kita yang kelihatannya lebih pendek dan tidak menyusahkan, bahkan jika itu harus dibayar dengan kegagalan kita untuk tetap setia kepada Allah. Musuh yang lain adalah keinginan mata, keserakahan yang mendalam yang menganggap tidak berharga apa yang tak dapat diwariskan. Mata jiwa menjadi rabun; akal budi berpikir dirinya sendiri sudah cukup memadai, menyingkirkan Allah sebagai yang tidak perlu. Ini adalah godaan halus yang didukung oleh martabat kecerdasan yang telah dikaruniakan Allah Bapa kepada kita agar kita dapat mengenal dan mengasihi-Nya tanpa terpaksa. Terbujuk oleh godaan ini, akal budi manusia menganggap dirinya sendiri sebagai pusat alam semesta, dengan sukacita [mengingat] kembali kepada perkataan ular di Kitab Kejadian, ‘kamu akan menjadi seperti Allah’ (Kej 3:5) dan dipenuhi dengan cinta diri, ia berpaling dari cinta Allah. Dengan cara ini, kita dapat menyerahkan diri secara tak bersyarat ke dalam tangan musuh yang ketiga, yaitu ‘keangkuhan hidup’. Ini bukan hanya semata-mata hal fantasi sesaat, hasil khayalan dari kesia-siaan cinta diri, [tapi] ini adalah segala bentuk dosa kesombongan—menganggap diri pasti selamat. Jangan kita menipu diri sendiri. Ini adalah dosa yang paling parah daripada segala kejahatan, akar dari setiap penyimpangan yang dapat dibayangkan…” (St. Jose Maria Escriva, Christ is passing by, 5-6).
Antifon Komuni (Mzm 103:1)
Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai seluruh diriku!
Bless the Lord, O my soul, and all within me, his holy name.
Salam Damai Kristus
Minggu, 30 Juni 2019
Hari Minggu Biasa XIII
"Kurban Ekaristi juga dipersembahkan untuk umat beriman yang mati di dalam Kristus, 'yang belum disucikan seluruhnya'" --- Konsili Trente: DS 1743
Antifon Pembuka (Mzm 47:2)
Segala bangsa, bertepuk-tanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai.
All peoples, clap you hands. Cry to God with shouts of joy!
Omnes gentes plaudite manibus: iubilate Deo in voce exsultationis.
Mzm. Quoniam Dominus excelsus, terribilis: Rex magnus super omnem terram.
Doa Pembuka
Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau menghendaki agar kami mengikuti Putra-Mu dengan sepenuh hati. Kami mohon, bebaskanlah kami dari segala hambatan agar kami dapat menjadi pengikut-pengikut-Nya yang setia dan siap sedia melaksanakan kehendak-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja (19:16b.19-21)
"Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia."
Sekali peristiwa Tuhan berkata kepada Nabi Elia, “Elisa bin Safat dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.” Maka pergilah Elia menemui Elisa bin Safat. Pada waktu itu Elisa sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, dan ia sendiri mengendalikan yang kedua belas. Elia lewat di dekatnya dan melemparkan jubahnya kepada Elisa. Segera Elisa meninggalkan lembu-lembunya, mengejar Elia dan berkata, “Perkenankanlah aku mencium ayah dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawab Elia kepadanya, “Baiklah! Pulanglah dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” Elisa lalu meninggalkan Elia, mengambil pasangan lembu itu dan menyembelihnya. Lalu ia memasak dagingnya dengan kayu bajak itu sebagai kayu api, dan memberikan daging itu kepada orang-orangnya, dan mereka pun memakannya. Sesudah itu bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = g 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11)
1. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah Tuhanku, Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepada-Ku."
2. Aku memuji Tuhan yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
3. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorai, dan tubuhku akan diam dengan tentram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan.
4. Engkau memberitahukan kepadaku, ya Allah, jalan kehidupan, di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, dan di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia (5:1.13-18)
"Kamu dipanggil untuk merdeka."
Saudara-saudara, Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau tunduk lagi di bawah kuk perhambaan. Memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain karena kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Akan tetapi, kalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, jangan-jangan kamu saling membinasakan. Maksudku ialah: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, - karena keduanya bertentangan – sehingga setiap kali kamu tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Sebaliknya, kalau kamu membiarkan diri dibimbing oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (1Sam 3:9; Yoh 6:68c)
Bersabdalah, ya Tuhan, sebab hamba-Mu mendengarkan. Sabda-Mu adalah sabda hidup yang kekal.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:51-62)
"Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi."
Ketika hampir genap waktunya diangkat ke surga, Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Maka diutus-Nya beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke sebuah desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, bolehkah kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Tetapi Yesus berpaling dan menegur mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan. Anak manusia datang bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkannya.” Lalu mereka pergi ke desa yang lain. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, datanglah seorang di tengah jalan, berkata kepada Yesus, “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu kepada seorang lain Yesus berkata, “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus menjawab, “Biarlah orang mati mengubur orang mati; tetapi engkau, pergilah, dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. Dan seorang lain lagi berkata, “Tuhan, aku akan mengikuti Engkau, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
Renungan
Yesus berkata kepada seorang ahli Taurat bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk beristirahat dan meratapi kematian. Karena itu, orang yang hendak mengikuti Yesus harus memiliki motivasi yang benar dan murni. Bagi orang beriman, rencana Allah adalah yang paling penting. Karenanya layak untuk diemban dengan komitmen dan tindakan nyata. Tidak usah ragu dengan banyak alasan tambahan bekerja untuk Kerajaan Allah. Karena menurut Yesus sendiri, "Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah!". Injil hari ini mengajak kita untuk berfokus pada hidup kita saat ini dan perjalanan kita ke depan. Janganlah kita terlalu sering menengok ke belakang. Jangan juga hidup dengan kelekatan-kelekatan masa lalu karena akan menghalangi kebahagiaan masa kini kita.
“Keinginan daging tidak terbatas pada kecenderungan panca indera yang tak teratur secara umum atau keinginan seksual secara khusus. Hal ini juga mengacu kepada kesenangan akan kenyamanan, kepada keengganan untuk menggerakkan diri kita sendiri atau bahkan untuk menjadi siap siaga, sehingga membuat kita mencari sekecil-kecilnya hal yang tidak nyaman, mencari apa yang paling menyenangkan, mencari jalan yang ditawarkan kepada kita yang kelihatannya lebih pendek dan tidak menyusahkan, bahkan jika itu harus dibayar dengan kegagalan kita untuk tetap setia kepada Allah. Musuh yang lain adalah keinginan mata, keserakahan yang mendalam yang menganggap tidak berharga apa yang tak dapat diwariskan. Mata jiwa menjadi rabun; akal budi berpikir dirinya sendiri sudah cukup memadai, menyingkirkan Allah sebagai yang tidak perlu. Ini adalah godaan halus yang didukung oleh martabat kecerdasan yang telah dikaruniakan Allah Bapa kepada kita agar kita dapat mengenal dan mengasihi-Nya tanpa terpaksa. Terbujuk oleh godaan ini, akal budi manusia menganggap dirinya sendiri sebagai pusat alam semesta, dengan sukacita [mengingat] kembali kepada perkataan ular di Kitab Kejadian, ‘kamu akan menjadi seperti Allah’ (Kej 3:5) dan dipenuhi dengan cinta diri, ia berpaling dari cinta Allah. Dengan cara ini, kita dapat menyerahkan diri secara tak bersyarat ke dalam tangan musuh yang ketiga, yaitu ‘keangkuhan hidup’. Ini bukan hanya semata-mata hal fantasi sesaat, hasil khayalan dari kesia-siaan cinta diri, [tapi] ini adalah segala bentuk dosa kesombongan—menganggap diri pasti selamat. Jangan kita menipu diri sendiri. Ini adalah dosa yang paling parah daripada segala kejahatan, akar dari setiap penyimpangan yang dapat dibayangkan…” (St. Jose Maria Escriva, Christ is passing by, 5-6).
Antifon Komuni (Mzm 103:1)
Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai seluruh diriku!
Bless the Lord, O my soul, and all within me, his holy name.
Salam Damai Kristus
Minggu, 30 Juni 2019
*TUNTUTAN RADIKAL MENGIKUTI YESUS*
*BACAAN*
*1Raj 19:16b.19-21* – “Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia”
*Gal 5:1.13-18* – “Kamu dipanggil untuk merdeka”
*Luk 9:51-62* – “Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem”
*RENUNGAN*
1.Dalam Injil hari ini, Yesus ditampilkan sebagai seorang Nabi yang mempunyai komitmen tegas terhadap tugas-Nya, yaitu pergi ke Yerusalem. Ia telah berketetapan hati untuk melangkah menuju ke tempat penderitaan dan kematian-Nya. Itulah jalan yang harus Ia tempuh untuk diangkat ke surga, sama seperti nabi Henokh, Elia, dan Musa yang telah diangkat ke surga.
2.Pada tahap awal perjalanan-Nya, Yesus segera mengalami penolakan. Itu tidak aneh bagi seorang nabi. Ketika menghadapi penolakan itu, Yesus dan para murid-Nya mempunyai pandangan yang bertolak belakang mengenai perutusan seorang nabi. Para murid-Nya berpendapat bahwa Yesus sebagai nabi yang harus menyampaikan hukuman yang keras atas mereka yang menolak-Nya. Yesus bersikap sebailknya. Ia menolak kekerasan yang diinginkan para murid dan mencari jalan lain untuk sampai pada tujuan-Nya. Ia meneruskan jalan penyelamatan seperti seorang hamba yang kecil dan tidak berdaya, dan mengajak murid-murid-Nya untuk ikut jalan yang demikian.
3.Ketiga percakapan singkat dengan calon pengikut-Nya menegaskan lebih jauh tentang “ongkos perjalanan” bagi seorang pengikut Yesus, yakni tuntutan mutlak bagi Kerajaan Allah. Yesus menuntut agar siapa pun yang mengikuti-Nya berani melepaskan diri secara radikal dari kepunyaan dan dari kemutlakan tuntutan keluarga, agar dapat sepenuhnya mengikut Yesus dalam tugas yang mendesak, yaitu menegakkan Kerajaan Allah. Menjadi pengikut Yesus bukanlah tugas sampingan, namun sebuah komitmen total. Komitmen terhadap Yesus dan Kerajaan-Nya menuntut kita untuk mengatur kembali segala kewajiban kita.
🇮🇩www.berkat.id🇮🇩
Salam Damai Kristus
*TUNTUTAN RADIKAL MENGIKUTI YESUS*
*BACAAN*
*1Raj 19:16b.19-21* – “Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia”
*Gal 5:1.13-18* – “Kamu dipanggil untuk merdeka”
*Luk 9:51-62* – “Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem”
*RENUNGAN*
1.Dalam Injil hari ini, Yesus ditampilkan sebagai seorang Nabi yang mempunyai komitmen tegas terhadap tugas-Nya, yaitu pergi ke Yerusalem. Ia telah berketetapan hati untuk melangkah menuju ke tempat penderitaan dan kematian-Nya. Itulah jalan yang harus Ia tempuh untuk diangkat ke surga, sama seperti nabi Henokh, Elia, dan Musa yang telah diangkat ke surga.
2.Pada tahap awal perjalanan-Nya, Yesus segera mengalami penolakan. Itu tidak aneh bagi seorang nabi. Ketika menghadapi penolakan itu, Yesus dan para murid-Nya mempunyai pandangan yang bertolak belakang mengenai perutusan seorang nabi. Para murid-Nya berpendapat bahwa Yesus sebagai nabi yang harus menyampaikan hukuman yang keras atas mereka yang menolak-Nya. Yesus bersikap sebailknya. Ia menolak kekerasan yang diinginkan para murid dan mencari jalan lain untuk sampai pada tujuan-Nya. Ia meneruskan jalan penyelamatan seperti seorang hamba yang kecil dan tidak berdaya, dan mengajak murid-murid-Nya untuk ikut jalan yang demikian.
3.Ketiga percakapan singkat dengan calon pengikut-Nya menegaskan lebih jauh tentang “ongkos perjalanan” bagi seorang pengikut Yesus, yakni tuntutan mutlak bagi Kerajaan Allah. Yesus menuntut agar siapa pun yang mengikuti-Nya berani melepaskan diri secara radikal dari kepunyaan dan dari kemutlakan tuntutan keluarga, agar dapat sepenuhnya mengikut Yesus dalam tugas yang mendesak, yaitu menegakkan Kerajaan Allah. Menjadi pengikut Yesus bukanlah tugas sampingan, namun sebuah komitmen total. Komitmen terhadap Yesus dan Kerajaan-Nya menuntut kita untuk mengatur kembali segala kewajiban kita.
🇮🇩www.berkat.id🇮🇩
Salam Damai Kristus
Doa Hari Minggu
30 Juni' 2019
By : Team Moderator DSM
Tuhan Yesusku,
saat aku datang menyembahMu,
arahkanlah hati dan pandanganku hanya kepadaMu Tuhan,
bukan kepada hal - hal lain yang sifatnya lahiriah
seperti megahnya gedung gereja, maraknya alat - alat musik,
indahnya paduan suara, dan sebagainya.
Jernihkanlah hati dan pikiranku Tuhan,
singkirkanlah setiap hal - hal duniawi yang dapat
menganggu konsentrasiku hanya kepadaMu.
Dan, saat aku mendengarkan firmanMu,
kiranya hati dan pikiranku terbuka untuk menerima
ajaranMu yang disampaikan oleh hambaMu.
Jangan biarkan aku melihat akan bagaimana rupa
hambaMu, kecakapannya dalam menyampaikan Firman Tuhan
dengan menarik, kehidupan pribadi hambaMu, dan
hal - hal lain yang bukan bagian dari kami
sebagai umatMu untuk menilai, karena hanya Engkaulah
yang berhak untuk menilai setiap pribadi.
Biarlah aku hanya fokus kepada sabdaMu yang disampaikan
oleh hambaMu, dan mengujinya sesuai dengan InjilMu.
Sadarkan aku dan seluruh umatMu Tuhan,
bahwa tak ada satu manusiapun di muka bumi ini
yang sempurna.
Hamba Tuhan ( Pendeta ) sekalipun, juga adalah manusia
yang tak sempurna dan dapat berbuat salah.
Karena itu tanamkan dalam diriku ya Tuhan,
bahwa datang beribadah ke rumahMu adalah untuk
mencari Engkau, bukan mencari dan melihat manusianya.
Terima kasih Tuhan Yesus,
terima kasih untuk kesempatan untuk datang
beribadah kepadaMu di hari perhentian yang
Kau kuduskan ini.
Di dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa dan
mengucap syukur.
Amin
Salam Damai Kristus
30 Juni' 2019
By : Team Moderator DSM
Tuhan Yesusku,
saat aku datang menyembahMu,
arahkanlah hati dan pandanganku hanya kepadaMu Tuhan,
bukan kepada hal - hal lain yang sifatnya lahiriah
seperti megahnya gedung gereja, maraknya alat - alat musik,
indahnya paduan suara, dan sebagainya.
Jernihkanlah hati dan pikiranku Tuhan,
singkirkanlah setiap hal - hal duniawi yang dapat
menganggu konsentrasiku hanya kepadaMu.
Dan, saat aku mendengarkan firmanMu,
kiranya hati dan pikiranku terbuka untuk menerima
ajaranMu yang disampaikan oleh hambaMu.
Jangan biarkan aku melihat akan bagaimana rupa
hambaMu, kecakapannya dalam menyampaikan Firman Tuhan
dengan menarik, kehidupan pribadi hambaMu, dan
hal - hal lain yang bukan bagian dari kami
sebagai umatMu untuk menilai, karena hanya Engkaulah
yang berhak untuk menilai setiap pribadi.
Biarlah aku hanya fokus kepada sabdaMu yang disampaikan
oleh hambaMu, dan mengujinya sesuai dengan InjilMu.
Sadarkan aku dan seluruh umatMu Tuhan,
bahwa tak ada satu manusiapun di muka bumi ini
yang sempurna.
Hamba Tuhan ( Pendeta ) sekalipun, juga adalah manusia
yang tak sempurna dan dapat berbuat salah.
Karena itu tanamkan dalam diriku ya Tuhan,
bahwa datang beribadah ke rumahMu adalah untuk
mencari Engkau, bukan mencari dan melihat manusianya.
Terima kasih Tuhan Yesus,
terima kasih untuk kesempatan untuk datang
beribadah kepadaMu di hari perhentian yang
Kau kuduskan ini.
Di dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa dan
mengucap syukur.
Amin
Salam Damai Kristus
Santo Santa 30 Juni
Santo Theobaldus, Pertapa
Theobaldus lahir pada tahun 1017 di Provins, Prancis, dari sebuah keluarga bangsawan. Semasa mudanya, ia banyak membaca buku-buku tentang kehidupan Santo Yohanes Pemandi dan riwayat hidup orang-orang kudus lainnya. Bacaan-bacaan ini menimbulkan dalam hatinya benih panggilan Allah untuk menjalani hidup seperti orang-orang kudus itu. Ia sungguh mengagumi cara hidup dan perjuangan para kudus untuk meraih kesempurnaan hidup Kristiani.
Terdorong hasrat besar untuk meniru cara hidup para kudus itu,ia meninggalkan rumah mereka pada tahun 1054 tanpa sepengetahuan orang-tuanya. Ia pergi ke Luxemburg. Disana ia bekerja sepanjang hari di hutan Petingen sebagai pembakar arang bagi tetangga-tetangganya yang bekerja sebagai tukang besi. Sementara itu, ia terus menjalani hidup tapa dan doa secara diam-diam.
Ketika semua orang tahu akan kesucian hidup Theobaldus, banyak orang datang untuk menjadi muridnya. Ia lalu mengasingkan diri ke Salanigo untuk menjalani hidup tapa. Teteapi ia diikuti oleh orang-orang yang tertarik untuk mendapat bimbingannya. Ia kemudian ditabhiskan menjadi imam agar lebih pantas menjalankan tugas-tugas misioner.
Pada tanggal 30 Juni 1066, Theobaldus meninggal dunia karena terserang penyakit yang berbahaya. Ia digelari ‘kudus’ oleh Paus Alexander II pada tahun 1073.
Sumber : www.imankatolik.or.id
Santo Theobaldus, Pertapa
Theobaldus lahir pada tahun 1017 di Provins, Prancis, dari sebuah keluarga bangsawan. Semasa mudanya, ia banyak membaca buku-buku tentang kehidupan Santo Yohanes Pemandi dan riwayat hidup orang-orang kudus lainnya. Bacaan-bacaan ini menimbulkan dalam hatinya benih panggilan Allah untuk menjalani hidup seperti orang-orang kudus itu. Ia sungguh mengagumi cara hidup dan perjuangan para kudus untuk meraih kesempurnaan hidup Kristiani.
Terdorong hasrat besar untuk meniru cara hidup para kudus itu,ia meninggalkan rumah mereka pada tahun 1054 tanpa sepengetahuan orang-tuanya. Ia pergi ke Luxemburg. Disana ia bekerja sepanjang hari di hutan Petingen sebagai pembakar arang bagi tetangga-tetangganya yang bekerja sebagai tukang besi. Sementara itu, ia terus menjalani hidup tapa dan doa secara diam-diam.
Ketika semua orang tahu akan kesucian hidup Theobaldus, banyak orang datang untuk menjadi muridnya. Ia lalu mengasingkan diri ke Salanigo untuk menjalani hidup tapa. Teteapi ia diikuti oleh orang-orang yang tertarik untuk mendapat bimbingannya. Ia kemudian ditabhiskan menjadi imam agar lebih pantas menjalankan tugas-tugas misioner.
Pada tanggal 30 Juni 1066, Theobaldus meninggal dunia karena terserang penyakit yang berbahaya. Ia digelari ‘kudus’ oleh Paus Alexander II pada tahun 1073.
Sumber : www.imankatolik.or.id
Jumat, 28 Juni 2019
#renungan
*Pengenalan akan Allah*
Sabtu 29 Jun 2019
_`..Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?` (Mat 16:15)_
Sebuah pengenalan yang mendalam itu berasal dari adanya suatu relasi yang erat antara satu pribadi dengan pribadi lainnya. Misalnya, relasi antara suami dan istri. Relasi antara suami dan istri yang harmonis akan menghasilkan suatu pengenalan mendalam antara satu dengan yang lainnya. Dan, buah dari pengenalan yang mendalam ini adalah kasih di antara mereka.
Yesus bertanya, `Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?` Apa yang dapat kita renungkan dari pertanyaan Tuhan Yesus ini? Yang akan kita renungkan adalah sebuah `pengenalan`. Dari jawaban para murid, kita dapat melihat bahwa mereka belum terlalu mengenal Guru mereka. Mungkin, hal ini sama dengan kebanyakan dari kita. Kita hanya sekadar tahu bahwa Yesus adalah Tuhan yang telah menjadi manusia dan menyelamatkan seluruh umat manusia dari belenggu dosa dan maut. Dengan kata lain, kita kurang memiliki relasi yang mendalam dengan pribadi Yesus itu sendiri. Akibatnya adalah kita menjadi kurang sadar akan besarnya kasih dan pengurbanan yang telah diberikan Yesus bagi kita.
Mari kita semakin rindu untuk memiliki relasi yang makin mendalam dengan pribadi Yesus. Sehingga, pada akhirnya dengan seluruh keberadaan kita, kita dapat menjawab pertanyaan Yesus ini seperti Rasul Petrus, `Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!`
Untuk itu, sejenak refleksikanlah apa yang bisa Anda lakukan untuk memperdalam relasi Anda dengan Yesus? Memperbaiki komitmen doa, menerima Sakramen Tobat, mengampuni sesama, atau apa?
*_Kis 12:1-11; Mzm 34:2-9; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19_*
Sabtu 29 Jun 2019
Hari Raya S. Petrus dan S.Paulus Rasul
Fr. Kevin de Sactis, CSE
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus
*Pengenalan akan Allah*
Sabtu 29 Jun 2019
_`..Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?` (Mat 16:15)_
Sebuah pengenalan yang mendalam itu berasal dari adanya suatu relasi yang erat antara satu pribadi dengan pribadi lainnya. Misalnya, relasi antara suami dan istri. Relasi antara suami dan istri yang harmonis akan menghasilkan suatu pengenalan mendalam antara satu dengan yang lainnya. Dan, buah dari pengenalan yang mendalam ini adalah kasih di antara mereka.
Yesus bertanya, `Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?` Apa yang dapat kita renungkan dari pertanyaan Tuhan Yesus ini? Yang akan kita renungkan adalah sebuah `pengenalan`. Dari jawaban para murid, kita dapat melihat bahwa mereka belum terlalu mengenal Guru mereka. Mungkin, hal ini sama dengan kebanyakan dari kita. Kita hanya sekadar tahu bahwa Yesus adalah Tuhan yang telah menjadi manusia dan menyelamatkan seluruh umat manusia dari belenggu dosa dan maut. Dengan kata lain, kita kurang memiliki relasi yang mendalam dengan pribadi Yesus itu sendiri. Akibatnya adalah kita menjadi kurang sadar akan besarnya kasih dan pengurbanan yang telah diberikan Yesus bagi kita.
Mari kita semakin rindu untuk memiliki relasi yang makin mendalam dengan pribadi Yesus. Sehingga, pada akhirnya dengan seluruh keberadaan kita, kita dapat menjawab pertanyaan Yesus ini seperti Rasul Petrus, `Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!`
Untuk itu, sejenak refleksikanlah apa yang bisa Anda lakukan untuk memperdalam relasi Anda dengan Yesus? Memperbaiki komitmen doa, menerima Sakramen Tobat, mengampuni sesama, atau apa?
*_Kis 12:1-11; Mzm 34:2-9; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19_*
Sabtu 29 Jun 2019
Hari Raya S. Petrus dan S.Paulus Rasul
Fr. Kevin de Sactis, CSE
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus
Kencan Dengan Tuhan
Sabtu, 29 Juni 2019
Bacaan: Efesus 5:20 "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita."
Renungan:
Ah Long seorang anak laki-laki berusia 6 tahun, kehilangan kedua orang tuanya karena penyakit AIDS. Banyak orang tua yang melarang anaknya bermain dengan Ah Long, bahkan dia harus dikeluarkan dari sekolah atas desakan orang tua murid yang lain. Warga yang menaruh kasihan kepadanya kadang memberikan beras, pakaian bekas dll. Neneknya hanya sesekali saja datang untuk memasakkan makanan baginya. Ah Long kini mengerti bahwa tidak seorang pun yang mau mendekatinya termasuk nenek kandungnya. Ia hanya tinggal berdua dengan seekor anjing yang masih setia bersamanya.
Ia masih terlalu kecil untuk mengerti, tetapi ia tidak pernah bertanya mengapa hidupnya begitu berat. Sekalipun hidup terisolasi dari masyarakat, tetapi ia tidak bersedih dan menangisi hidupnya. Justru dia bisa hidup lebih mandiri. Ia juga tidak mengeluh, tetapi ia tetap berusaha dan belajar bagaimana memertahankan hidup.
Bersyukur kalau sampai hari ini kita masih diberkati Tuhan dengan kesehatan dan keluarga yang mencintai kita. Mari kita belajar dari Ah Long, yang tidak pantang menyerah di dalam menghadapi liku-liku kehidupannya. Masalah apapun yang kita alami saat ini, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk membuat kita berhenti melangkah. Tetaplah berjalan sekalipun itu sangat sulit, karena tangan Tuhan selalu ada untuk menopang dan menguatkan kita. Tuhan memberkati.
Doa:
Yesus, terima kasih atas kesehatan dan keluarga serta teman-teman yang masih menyayangiku. Ajarilah aku untuk selalu bersyukur atas keadaanku saat ini. Amin. (Dod).
Salam Damai Kristus
Sabtu, 29 Juni 2019
Bacaan: Efesus 5:20 "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita."
Renungan:
Ah Long seorang anak laki-laki berusia 6 tahun, kehilangan kedua orang tuanya karena penyakit AIDS. Banyak orang tua yang melarang anaknya bermain dengan Ah Long, bahkan dia harus dikeluarkan dari sekolah atas desakan orang tua murid yang lain. Warga yang menaruh kasihan kepadanya kadang memberikan beras, pakaian bekas dll. Neneknya hanya sesekali saja datang untuk memasakkan makanan baginya. Ah Long kini mengerti bahwa tidak seorang pun yang mau mendekatinya termasuk nenek kandungnya. Ia hanya tinggal berdua dengan seekor anjing yang masih setia bersamanya.
Ia masih terlalu kecil untuk mengerti, tetapi ia tidak pernah bertanya mengapa hidupnya begitu berat. Sekalipun hidup terisolasi dari masyarakat, tetapi ia tidak bersedih dan menangisi hidupnya. Justru dia bisa hidup lebih mandiri. Ia juga tidak mengeluh, tetapi ia tetap berusaha dan belajar bagaimana memertahankan hidup.
Bersyukur kalau sampai hari ini kita masih diberkati Tuhan dengan kesehatan dan keluarga yang mencintai kita. Mari kita belajar dari Ah Long, yang tidak pantang menyerah di dalam menghadapi liku-liku kehidupannya. Masalah apapun yang kita alami saat ini, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk membuat kita berhenti melangkah. Tetaplah berjalan sekalipun itu sangat sulit, karena tangan Tuhan selalu ada untuk menopang dan menguatkan kita. Tuhan memberkati.
Doa:
Yesus, terima kasih atas kesehatan dan keluarga serta teman-teman yang masih menyayangiku. Ajarilah aku untuk selalu bersyukur atas keadaanku saat ini. Amin. (Dod).
Salam Damai Kristus
Sabtu 29 Juni 2019
HR S. Petrus dan Paulus, Rasul
Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.
"Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Gereja-Ku"
Hari ini kita merayakan Santo Petrus dan Paulus, dua tokoh besar yang menjadi fondasi berdirinya Gereja. Keduanya mempunyai semangat luar biasa dalam mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus kendati harus menghadapi risiko yang besar. Bacaan I mengisahkan bahwa ketika jemaat mengalami penganianyaan, Petrus pun juga ditangkap dan dipenjara dengan terbelenggu serta dijaga ketat oleh para prajurit (Kis 12:4-6). Paulus, juga memberi kesaksian, "sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." (2 Kor 11:23-27). Berhadapan dengan semua itu, baik Petrus maupun Paulus, mempunyai keyakinan bahwa Tuhanlah satu-satunya yang harus diabdi, dilayani, dan ditaati. Oleh karena itu, apa pun risikonya mereka tetap mengabdi Tuhan dan memberi kesaksian iman. Mereka sangat yakin akan bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber kekuatan. Petrus mengatakan, "Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku" (Kis 12:11). Paulus pun yakin akan janji Tuhan yang mengatakan, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor 12:9). Selain itu, keduanya juga senantiasa mendapatkan kekuatan dari doa-doa jemaat. Ketika Petrus ditangkap dan dipenjara, "jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah" (Kis 12:5). Demikian pula, jemaat Paulus pun senantiasa berdoa untuknya bahkan disertai dengan berpuasa (Kis 13:3). Semoga kita pun, pada zaman sekarang juga memiliki semangat iman seperti St. Petrus dan Paulus: kendati ada berbagai macam tantangan dan kesulitan, namun tetap tekun dan giat dalam mewartakan dan memberi kesaksian tentang iman kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus
HR S. Petrus dan Paulus, Rasul
Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.
"Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Gereja-Ku"
Hari ini kita merayakan Santo Petrus dan Paulus, dua tokoh besar yang menjadi fondasi berdirinya Gereja. Keduanya mempunyai semangat luar biasa dalam mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus kendati harus menghadapi risiko yang besar. Bacaan I mengisahkan bahwa ketika jemaat mengalami penganianyaan, Petrus pun juga ditangkap dan dipenjara dengan terbelenggu serta dijaga ketat oleh para prajurit (Kis 12:4-6). Paulus, juga memberi kesaksian, "sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." (2 Kor 11:23-27). Berhadapan dengan semua itu, baik Petrus maupun Paulus, mempunyai keyakinan bahwa Tuhanlah satu-satunya yang harus diabdi, dilayani, dan ditaati. Oleh karena itu, apa pun risikonya mereka tetap mengabdi Tuhan dan memberi kesaksian iman. Mereka sangat yakin akan bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber kekuatan. Petrus mengatakan, "Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku" (Kis 12:11). Paulus pun yakin akan janji Tuhan yang mengatakan, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor 12:9). Selain itu, keduanya juga senantiasa mendapatkan kekuatan dari doa-doa jemaat. Ketika Petrus ditangkap dan dipenjara, "jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah" (Kis 12:5). Demikian pula, jemaat Paulus pun senantiasa berdoa untuknya bahkan disertai dengan berpuasa (Kis 13:3). Semoga kita pun, pada zaman sekarang juga memiliki semangat iman seperti St. Petrus dan Paulus: kendati ada berbagai macam tantangan dan kesulitan, namun tetap tekun dan giat dalam mewartakan dan memberi kesaksian tentang iman kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus
Sabtu, 29 Juni 2019, HR St. Petrus dan Paulus
*PETRUS SANG BATU KARANG*
*BACAAN*
*Kis 12:1-11* – “Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes”
*2Tim 4:6-8.17-18* – “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran”
*Mat 16:13-19* – “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku”
*RENUNGAN*
1.Yesus tidak tertarik dengan apa yang dipikirkan orang tentang diri-Nya. Ia ingin tahu apa yang aku pikirkan tentang Dia. Sebuah hubungan diuji sejauh mana satu sama lain saling berkomitmen. Seorang gadis muda yang sedang berpacaran, ingin tahu sejauh mana pacarnya serius. Seorang dosen, setelah beberapa kali perkuliahan, ingin tahu siapa saja mahasiswa yang serius. Tuhan Yesus juga ingin tahu seberapa serius kita terhadap-Nya. Maka pertanyaannya: apa makna Kristus bagiku? Apakah hanya sebuah gambar yang kita pajang di dinding? Apakah Ia memiliki tempat istimewa dalam hidup kita? Untuk menanggapi pertanyaan Yesus diperlukan jawaban otentik orisinil berdasarkan pengalaman mendalam bersama Yesus. Pengalaman seperti itu yang akan mampu mengubah hidup kita.
2.Petrus tahu dan mengakui bahwa Yesus adalah Kristus, Mesias. Yesus memuji Petrus, karena apa yang ia katakan tidak datang dari dunia, melainkan dari Allah Bapa. Itulah iman Petrus. Iman yang didasari relasi mendalam akrab dan pribadi dengan Yesus. Maka pertanyaannya adalah apakah aku memiliki relasi pribadi yang mendalam dengan Yesus, apakah aku mendengarkan Yesus lewat doaku, mendengarkan Yesus lewat Sabda-Nya dan mencecapnya? Atau Yesus hanya sebagai figure yang gambar-Nya biasa kita pasang di dinding rumah?
3.Kunci merupakan sebuah simbol kekuasaan. Tuhan kita memiliki semua kekuasaan di bumi (Mat 28:18 dan Mrk 2:10), termasuk mendelegasikan kekuasaan tersebut. Di sini Yesus memberi kekuasaan kepada Petrus untuk mengikat dan membebaskan. Kekuasaan di sini tidak lain adalah kekuasaan yang dimiliki oleh seorang Paus, yaitu kekuasaan untuk melayani. Tuhan bersabda: “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barang siapa menolak kamu, ia menolak Aku” (Luk 10:16).
🇮🇩www.berkat.id🇮🇩
Salam Damai Kristus
*PETRUS SANG BATU KARANG*
*BACAAN*
*Kis 12:1-11* – “Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes”
*2Tim 4:6-8.17-18* – “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran”
*Mat 16:13-19* – “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku”
*RENUNGAN*
1.Yesus tidak tertarik dengan apa yang dipikirkan orang tentang diri-Nya. Ia ingin tahu apa yang aku pikirkan tentang Dia. Sebuah hubungan diuji sejauh mana satu sama lain saling berkomitmen. Seorang gadis muda yang sedang berpacaran, ingin tahu sejauh mana pacarnya serius. Seorang dosen, setelah beberapa kali perkuliahan, ingin tahu siapa saja mahasiswa yang serius. Tuhan Yesus juga ingin tahu seberapa serius kita terhadap-Nya. Maka pertanyaannya: apa makna Kristus bagiku? Apakah hanya sebuah gambar yang kita pajang di dinding? Apakah Ia memiliki tempat istimewa dalam hidup kita? Untuk menanggapi pertanyaan Yesus diperlukan jawaban otentik orisinil berdasarkan pengalaman mendalam bersama Yesus. Pengalaman seperti itu yang akan mampu mengubah hidup kita.
2.Petrus tahu dan mengakui bahwa Yesus adalah Kristus, Mesias. Yesus memuji Petrus, karena apa yang ia katakan tidak datang dari dunia, melainkan dari Allah Bapa. Itulah iman Petrus. Iman yang didasari relasi mendalam akrab dan pribadi dengan Yesus. Maka pertanyaannya adalah apakah aku memiliki relasi pribadi yang mendalam dengan Yesus, apakah aku mendengarkan Yesus lewat doaku, mendengarkan Yesus lewat Sabda-Nya dan mencecapnya? Atau Yesus hanya sebagai figure yang gambar-Nya biasa kita pasang di dinding rumah?
3.Kunci merupakan sebuah simbol kekuasaan. Tuhan kita memiliki semua kekuasaan di bumi (Mat 28:18 dan Mrk 2:10), termasuk mendelegasikan kekuasaan tersebut. Di sini Yesus memberi kekuasaan kepada Petrus untuk mengikat dan membebaskan. Kekuasaan di sini tidak lain adalah kekuasaan yang dimiliki oleh seorang Paus, yaitu kekuasaan untuk melayani. Tuhan bersabda: “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barang siapa menolak kamu, ia menolak Aku” (Luk 10:16).
🇮🇩www.berkat.id🇮🇩
Salam Damai Kristus
Mutiara Iman
ANAK MANUSIA
29 Juni 2019
“Kata orang, siapakah ANAK MANUSIA itu?” (Mat 16:13)
Lectio
Kis 12:1-11; Mzm 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Tim 4:6-8,17-18; Mat 16:13-19
Sepulangnya dari kampus di hari terakhir kelas, Thomas berjalan bersama Rudi yang berkata :
“Tom, kamu kan begitu sibuk membantu di kapel, tapi nilaimu bisa bagus terus. Jadi sebenarnya siapa Yesus buat kamu?” tanya Rudi.
Namun Thomas balik bertanya :
”Kalau menurutmu, siapakah Yesus?”
Jawab Rudi :
“Yesus saya imani sebagai juru selamat, tapi aku sendiri tidak pernah mengalaminya secara pribadi. Lihat saja, nilaiku jelek, sering malas, sering bangun siang, dan kelayaban malam.”
Thomas tersenyum dan menjawab :
”Kamu harus BERUSAHA Rud. Keselamatan dari Tuhan selalu tercurah, tapi kalau kita TIDAK menanggapinya, seperti yang terjadi denganmu, maka artinya MENUTUP keselamatan itu sendiri.”
Mendengar itu Rudi berkata :
”Artinya saya harus SEDISIPLIN dan SEKERAS kamu ya?”
Yesus HIDUP ketika kita MENGALAMI dan MENANGGAPI KASIH-NYA.
Oratio
Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih-Mu. Amin
Missio
Marilah kita hidup dengan melakukan PERBUATAN KASIH sebagai tanggapan atas siapa Yesus buat kita.
Have a Blessed Saturday.
ANAK MANUSIA
29 Juni 2019
“Kata orang, siapakah ANAK MANUSIA itu?” (Mat 16:13)
Lectio
Kis 12:1-11; Mzm 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Tim 4:6-8,17-18; Mat 16:13-19
Sepulangnya dari kampus di hari terakhir kelas, Thomas berjalan bersama Rudi yang berkata :
“Tom, kamu kan begitu sibuk membantu di kapel, tapi nilaimu bisa bagus terus. Jadi sebenarnya siapa Yesus buat kamu?” tanya Rudi.
Namun Thomas balik bertanya :
”Kalau menurutmu, siapakah Yesus?”
Jawab Rudi :
“Yesus saya imani sebagai juru selamat, tapi aku sendiri tidak pernah mengalaminya secara pribadi. Lihat saja, nilaiku jelek, sering malas, sering bangun siang, dan kelayaban malam.”
Thomas tersenyum dan menjawab :
”Kamu harus BERUSAHA Rud. Keselamatan dari Tuhan selalu tercurah, tapi kalau kita TIDAK menanggapinya, seperti yang terjadi denganmu, maka artinya MENUTUP keselamatan itu sendiri.”
Mendengar itu Rudi berkata :
”Artinya saya harus SEDISIPLIN dan SEKERAS kamu ya?”
Yesus HIDUP ketika kita MENGALAMI dan MENANGGAPI KASIH-NYA.
Oratio
Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih-Mu. Amin
Missio
Marilah kita hidup dengan melakukan PERBUATAN KASIH sebagai tanggapan atas siapa Yesus buat kita.
Have a Blessed Saturday.
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Sabtu,_ *29 Juni 2019*
*Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus*
Kis 12:1-11
Mzm 34:2-9
2Tim 4:6-8,17-18
Mat 16:13-19
*TIDAK SENDIRI*
_Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku. -- Kis 12:11b_
Pernahkah Anda merasa seorang diri dalam menghadapi semua yang terjadi? Ataukah Anda pernah merasa tak ada yang ingin berteman dengan Anda?
Beberapa waktu lalu, saya merasakan itu semua. Saya memiliki beberapa teman dekat. Tetapi di saat saya membutuhkan dukungan mereka, ternyata mereka malah menunjukkan jati diri mereka yang sesungguhnya. Sedih dan terpukul rasanya. Saya hanya mengharapkan seorang teman, tetapi mereka menganggap saya membahayakan mereka. Di depan orang lain, mereka berbuat baik kepada saya, namun di belakang mereka merencanakan sesuatu.
Meski demikian saya masih berpikir positif, berharap suatu hari nanti mereka dapat berubah menjadi baik. Dengan dasar pemikiran tersebut, saya dengan tulus tetap membantu mereka meski perilaku mereka tidak menyenangkan. Tetapi sekali lagi, bantuan saya tidak dianggap oleh mereka yang justru merasa saya tidak berbuat apa-apa untuk membantu mereka. Dan dengan jelas, mereka menyisihkan saya dari antara mereka.
Saya sangat sedih dan berencana untuk tidak dapat ke komunitas dimana mereka ada. Namun hal itu menimbulkan dilema. Di satu sisi saya sungguh merindukan Tuhan, tetapi di sisi lain kehadiran saya di sana malah membuat saya semakin terpuruk.
Saya bersyukur, Tuhan menyadarkan saya bahwa kerinduan kepada-Nya jauh lebih besar daripada ketakutan dan kesedihan saya. Tuhan meneguhkan saya tidak hanya lewat bacaan hari ini, tetapi juga lewat syair: _"When I say that I love you."_ Terima kasih Tuhan, sekarang saya tahu saya tidak sendiri. Terima kasih atas kasih-Mu bagiku. (Cr)
_Apa yang saya lakukan ketika saya mengalami kesendirian?_
Salam Damai Kristus
_Sabtu,_ *29 Juni 2019*
*Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus*
Kis 12:1-11
Mzm 34:2-9
2Tim 4:6-8,17-18
Mat 16:13-19
*TIDAK SENDIRI*
_Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku. -- Kis 12:11b_
Pernahkah Anda merasa seorang diri dalam menghadapi semua yang terjadi? Ataukah Anda pernah merasa tak ada yang ingin berteman dengan Anda?
Beberapa waktu lalu, saya merasakan itu semua. Saya memiliki beberapa teman dekat. Tetapi di saat saya membutuhkan dukungan mereka, ternyata mereka malah menunjukkan jati diri mereka yang sesungguhnya. Sedih dan terpukul rasanya. Saya hanya mengharapkan seorang teman, tetapi mereka menganggap saya membahayakan mereka. Di depan orang lain, mereka berbuat baik kepada saya, namun di belakang mereka merencanakan sesuatu.
Meski demikian saya masih berpikir positif, berharap suatu hari nanti mereka dapat berubah menjadi baik. Dengan dasar pemikiran tersebut, saya dengan tulus tetap membantu mereka meski perilaku mereka tidak menyenangkan. Tetapi sekali lagi, bantuan saya tidak dianggap oleh mereka yang justru merasa saya tidak berbuat apa-apa untuk membantu mereka. Dan dengan jelas, mereka menyisihkan saya dari antara mereka.
Saya sangat sedih dan berencana untuk tidak dapat ke komunitas dimana mereka ada. Namun hal itu menimbulkan dilema. Di satu sisi saya sungguh merindukan Tuhan, tetapi di sisi lain kehadiran saya di sana malah membuat saya semakin terpuruk.
Saya bersyukur, Tuhan menyadarkan saya bahwa kerinduan kepada-Nya jauh lebih besar daripada ketakutan dan kesedihan saya. Tuhan meneguhkan saya tidak hanya lewat bacaan hari ini, tetapi juga lewat syair: _"When I say that I love you."_ Terima kasih Tuhan, sekarang saya tahu saya tidak sendiri. Terima kasih atas kasih-Mu bagiku. (Cr)
_Apa yang saya lakukan ketika saya mengalami kesendirian?_
Salam Damai Kristus
Doa Hari Sabtu
29 Juni' 2019
By : Team Moderator DSM
Tuhan Yesus,
Aku ingat akan sebuah lagu
yang mengatakan bahwa "mata Tuhan melihat,
apa yang kita perbuat, baik yang baik,
baik yang jahat."
Sejak kecil melalui pertolongan
hamba - hambaMu, aku diajarkan bahwa
Engkau adalah Tuhan yang tak pernah tertidur,
yang melihat apapun yang manusia kerjakan.
Saat aku besar, aku sungguh mengamini hal ini.
Aku merasakan bahwa Engkau selalu hadir dalam
setiap segi kehidupanku.
Saat aku diam, saat aku berbicara,
saat aku bekerja, saat aku bersantai,
saat aku sedih, saat aku senang,
dalam keadaan bagaimanapun, Engkau mengawasi aku.
Engkaupun menegor aku saat aku berbuat salah
melalui Roh KudusMu Tuhan.
Sungguh Engkau Allah yang Maha Hadir,
yang mengatasi segala ruang dan waktu.
Namun, meski aku sadar mataMu mengawasi diriku,
seringkali aku masih bertindak semauku sendiri,
seakan - akan Engkau tak ada dan tak melihat
apa yang aku lakukan.
Ampuni aku ya Tuhan.
Bimbinglah aku untuk selalu menjaga perkataanku,
sikap dan perbuatanku agar selalu berpadanan
dengan InjilMu.
Saat aku tergoda untuk berbuat yang tidak benar,
untuk berkata - kata yang tidak membangun,
ingatkan aku ya Tuhan bahwa Engkau melihat akan
semuanya itu, dan Engkau tidak menyukainya.
Kiranya hal - hal yang baiklah yang aku lakukan,
dan semuanya itu kulakukan bukan karena ketakutan
karena Engkau mengawasi aku, melainkan karena
kerinduan hatiku untuk menyenangkanMu,
dan agar aku bertumbuh semakin menyerupai karakterMu
Tuhan Yesusku.
Di dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa.
Amin
Salam Damai Kristus
29 Juni' 2019
By : Team Moderator DSM
Tuhan Yesus,
Aku ingat akan sebuah lagu
yang mengatakan bahwa "mata Tuhan melihat,
apa yang kita perbuat, baik yang baik,
baik yang jahat."
Sejak kecil melalui pertolongan
hamba - hambaMu, aku diajarkan bahwa
Engkau adalah Tuhan yang tak pernah tertidur,
yang melihat apapun yang manusia kerjakan.
Saat aku besar, aku sungguh mengamini hal ini.
Aku merasakan bahwa Engkau selalu hadir dalam
setiap segi kehidupanku.
Saat aku diam, saat aku berbicara,
saat aku bekerja, saat aku bersantai,
saat aku sedih, saat aku senang,
dalam keadaan bagaimanapun, Engkau mengawasi aku.
Engkaupun menegor aku saat aku berbuat salah
melalui Roh KudusMu Tuhan.
Sungguh Engkau Allah yang Maha Hadir,
yang mengatasi segala ruang dan waktu.
Namun, meski aku sadar mataMu mengawasi diriku,
seringkali aku masih bertindak semauku sendiri,
seakan - akan Engkau tak ada dan tak melihat
apa yang aku lakukan.
Ampuni aku ya Tuhan.
Bimbinglah aku untuk selalu menjaga perkataanku,
sikap dan perbuatanku agar selalu berpadanan
dengan InjilMu.
Saat aku tergoda untuk berbuat yang tidak benar,
untuk berkata - kata yang tidak membangun,
ingatkan aku ya Tuhan bahwa Engkau melihat akan
semuanya itu, dan Engkau tidak menyukainya.
Kiranya hal - hal yang baiklah yang aku lakukan,
dan semuanya itu kulakukan bukan karena ketakutan
karena Engkau mengawasi aku, melainkan karena
kerinduan hatiku untuk menyenangkanMu,
dan agar aku bertumbuh semakin menyerupai karakterMu
Tuhan Yesusku.
Di dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa.
Amin
Salam Damai Kristus
Santo Santa 29 Juni
Santo Petrus dan Paulus, Rasul
Sejak semula Gereja menghormati kedua rasul, Petrus dan Paulus, secara bersama-sama. Kedua rasul ini dianggap sebagai Sokoguru gereja.
Simon anak Yunus dan saudara Andreas, lahir di Betsaida, Galilea, sebuah kampung di tepi danau Genesaret. Seperti ayahnya, Simon adalah seorang nelayan yang ulet, bertabiat jujur, dan rajin. Ia tidak berpendidikan tinggi tetapi cukup terampil dalam pekerjaannya sebagai seorang nelayan. Kepribadiannya sangat menarik perhatian Yesus; karena itu Yesus berkenan menjadikannya seorang muridNya, bahkan mengangkatnya sebagai pemimpin para rasul dan pemimpin Gereja yang pertama.
Pada mulanya, Simon bersama Andreas saudaranya, menjadi murid Yohanes Pemandi. Oleh Andreas, Simon diperkenalkan kepada Yesus, Sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh seluruh bangsa Israel. “Kami telah menemukan Mesias, yaitu Kristus”, kata Andreas kepada Simon. Pada saat itu, Yesus berkata kepada Simon, “Engkau anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).(Yoh1:41-42) Kefas artinya wadas atau batu karang. Sejak saat itu, dia lebih dikenal dengan nama Petrus.
Petrus secara resmi berkeputusan mengikuti Yesus, Sang Mesias dengan meninggalkan segala-galanya, ketika ia menyaksikan mukzijat penangkapan ikan secara ajaib oleh Yesus. Kata Yesus kepada Petrus: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Petrus berkata kepada Yesus: “Guru, sepanjang malam kami bekerja keras, dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dengan kepercayaan itu, Petrus menyaksikan kuasa Yesus, Sang Mesias.” Dan di depan Yesus yang penuh kuasa Ilahi itu Petrus bersujud: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”. Kepada Petrus yang rendah hati itu, Yesus berkata: “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia”. Setelah penyerahan diri ini, Petrus diperkenankan menyaksikan berbagai peristiwa dan akhirnya dipercayakan tugas menjadi pemimpin para rasul dan gembala kaum beriman.
Di samping kisah-kisah yang menampilkan pribadi Petrus sebagai orang kepercayaan Yesus, terdapat juga kisah Injil yang menampilkan pribadi Petrus sebagai seorang yang masih dangkal imannya dan belum memahami benar kehendak Allah atas diri Yesus. Dalam Mat16:21-28 dikisahkan tentang pemberitahuan Yesus tentang penderitaanNya, dan Petrus serta merta berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”. “Enyalah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”, demikian teguran Yesus kepada Petrus. Ia juga menyangkal Yesus ketika Yesus ditangkap dan diadili. Mat26:30-35; 69-75).
Sesudah kebangkitan Yesus, Petrus diangkat menjadi pemimpin keduabelas rasul dan gembala kaum beriman di Yerusalem. Petrus juga yang menerima orang kafir pertama ke dalam Gereja, dan memimpin konsili pertama di Yerusalem.
Paulus (Saulus) dilahirkan di Tarsus, Asia Kecil dari keluarga Yahudi yang berkewarganegaraan Romawi. Ia seorang terdidik dan belajar di Yerusalem pada Gamaliel, dari kelompok Farisi. Sebagai seorang Farisi yang fanatik, Saulus tiada henti mengejar dan memenjarakan murid-murid Yesus.
Dalam perjalanan ke Damsyik, Yesus menangkapnya dan menjadikan dia seorang rasul untuk bangsa-bangsa kafir. Ia dipermandikan oleh Ananias. Ia menjelajahi seluruh daerah Laut Tengah untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa kafir. Perjalanan misinya senantiasa diwarnai dengan berbagai kesulitan dan pertentangan dengan kaum kafir. Di Yerusalem ia ditangkap oleh bangsa Yahudi, lalu dipenjarakan dan di bawa ke Roma, sebab ia naik banding kepada kaisar. Akhirnya ia dibebaskan. Tak lama kemudian, dia ditangkap lagi dan akhirnya menemui ajalnya sebagai martir di Roma pada tahun 67.
Sumber berita : www.imankatolik.or.id
Sumber gambar : wikipedia
Santo Petrus dan Paulus, Rasul
Sejak semula Gereja menghormati kedua rasul, Petrus dan Paulus, secara bersama-sama. Kedua rasul ini dianggap sebagai Sokoguru gereja.
Simon anak Yunus dan saudara Andreas, lahir di Betsaida, Galilea, sebuah kampung di tepi danau Genesaret. Seperti ayahnya, Simon adalah seorang nelayan yang ulet, bertabiat jujur, dan rajin. Ia tidak berpendidikan tinggi tetapi cukup terampil dalam pekerjaannya sebagai seorang nelayan. Kepribadiannya sangat menarik perhatian Yesus; karena itu Yesus berkenan menjadikannya seorang muridNya, bahkan mengangkatnya sebagai pemimpin para rasul dan pemimpin Gereja yang pertama.
Pada mulanya, Simon bersama Andreas saudaranya, menjadi murid Yohanes Pemandi. Oleh Andreas, Simon diperkenalkan kepada Yesus, Sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh seluruh bangsa Israel. “Kami telah menemukan Mesias, yaitu Kristus”, kata Andreas kepada Simon. Pada saat itu, Yesus berkata kepada Simon, “Engkau anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).(Yoh1:41-42) Kefas artinya wadas atau batu karang. Sejak saat itu, dia lebih dikenal dengan nama Petrus.
Petrus secara resmi berkeputusan mengikuti Yesus, Sang Mesias dengan meninggalkan segala-galanya, ketika ia menyaksikan mukzijat penangkapan ikan secara ajaib oleh Yesus. Kata Yesus kepada Petrus: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Petrus berkata kepada Yesus: “Guru, sepanjang malam kami bekerja keras, dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dengan kepercayaan itu, Petrus menyaksikan kuasa Yesus, Sang Mesias.” Dan di depan Yesus yang penuh kuasa Ilahi itu Petrus bersujud: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”. Kepada Petrus yang rendah hati itu, Yesus berkata: “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia”. Setelah penyerahan diri ini, Petrus diperkenankan menyaksikan berbagai peristiwa dan akhirnya dipercayakan tugas menjadi pemimpin para rasul dan gembala kaum beriman.
Di samping kisah-kisah yang menampilkan pribadi Petrus sebagai orang kepercayaan Yesus, terdapat juga kisah Injil yang menampilkan pribadi Petrus sebagai seorang yang masih dangkal imannya dan belum memahami benar kehendak Allah atas diri Yesus. Dalam Mat16:21-28 dikisahkan tentang pemberitahuan Yesus tentang penderitaanNya, dan Petrus serta merta berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”. “Enyalah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”, demikian teguran Yesus kepada Petrus. Ia juga menyangkal Yesus ketika Yesus ditangkap dan diadili. Mat26:30-35; 69-75).
Sesudah kebangkitan Yesus, Petrus diangkat menjadi pemimpin keduabelas rasul dan gembala kaum beriman di Yerusalem. Petrus juga yang menerima orang kafir pertama ke dalam Gereja, dan memimpin konsili pertama di Yerusalem.
Paulus (Saulus) dilahirkan di Tarsus, Asia Kecil dari keluarga Yahudi yang berkewarganegaraan Romawi. Ia seorang terdidik dan belajar di Yerusalem pada Gamaliel, dari kelompok Farisi. Sebagai seorang Farisi yang fanatik, Saulus tiada henti mengejar dan memenjarakan murid-murid Yesus.
Dalam perjalanan ke Damsyik, Yesus menangkapnya dan menjadikan dia seorang rasul untuk bangsa-bangsa kafir. Ia dipermandikan oleh Ananias. Ia menjelajahi seluruh daerah Laut Tengah untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa kafir. Perjalanan misinya senantiasa diwarnai dengan berbagai kesulitan dan pertentangan dengan kaum kafir. Di Yerusalem ia ditangkap oleh bangsa Yahudi, lalu dipenjarakan dan di bawa ke Roma, sebab ia naik banding kepada kaisar. Akhirnya ia dibebaskan. Tak lama kemudian, dia ditangkap lagi dan akhirnya menemui ajalnya sebagai martir di Roma pada tahun 67.
Sumber berita : www.imankatolik.or.id
Sumber gambar : wikipedia
Kamis, 27 Juni 2019
Kencan Dengan Tuhan
Jumat, 28 Juni 2019
Bacaan: Amsal 28:22 "Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan."
Renungan:
Daniel Dancer, salah satu orang Inggris yang terkenal pelit, meninggal pada tanggal 30 September 1794. Ia adalah generasi ketiga dari orang pelit. Sifat pelit kakek dan ayahnya menurun kepadanya. Meskipun memiliki tanah dan pemasukan tahunan yang banyak, ia hanya makan sekali dalam sehari. Ia tidur di atas karung dan memakai baju rombeng. Sekali dalam setahun ia membeli baju, itu pun baju bekas. Merasa sayang untuk memakai penerangan, terkadang ia duduk dalam kegelapan. Pada tahun 1766, saudara perempuannya yang bertugas menjaga serta membersihkan rumahnya, jatuh sakit hingga sekarat. Tetapi ia menolak untuk memanggil dokter dengan berkata, "Mengapa aku harus memboroskan uangku untuk menghalangi kehendak yang di atas? Jika memang waktunya sudah tiba, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dia dari kematian."
Di dunia ini tidak sedikit orang yang memandang uang dan kekayaan sebagai sesuatu yang lebih berharga dari segalanya. Begitu berharganya kekayaan tersebut dalam penilaian sebagian orang, sehingga mereka merasa sayang untuk mengeluarkannya meskipun untuk hal yang sangat penting. Padahal Tuhan Yesus mengajarkan kepada para pengikutNya untuk tolong menolong, peduli dan suka memberi. Memberi adalah tantangan paling berat bagi orang kikir, karena ia berpikir bahwa dengan memberi, maka hartanya akan berkurang. Ini adalah prinsip yang sangat bertolak belakang dengan firman Tuhan dalam Pkh 11:1 yang berbunyi, "Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu."
Sadarilah bahwa semua berkat yang kita dapatkan adalah pemberian Tuhan dan kita bertanggung jawab untuk mengelolanya sesuai kehendakNya. Tuhan memberkati.
Doa:
Yesus, beriku hati yang mau memberi dan mau menolong sesamaku melalui apa yang Engkau percayakan padaku. Amin. (Dod).
Jumat, 28 Juni 2019
Bacaan: Amsal 28:22 "Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan."
Renungan:
Daniel Dancer, salah satu orang Inggris yang terkenal pelit, meninggal pada tanggal 30 September 1794. Ia adalah generasi ketiga dari orang pelit. Sifat pelit kakek dan ayahnya menurun kepadanya. Meskipun memiliki tanah dan pemasukan tahunan yang banyak, ia hanya makan sekali dalam sehari. Ia tidur di atas karung dan memakai baju rombeng. Sekali dalam setahun ia membeli baju, itu pun baju bekas. Merasa sayang untuk memakai penerangan, terkadang ia duduk dalam kegelapan. Pada tahun 1766, saudara perempuannya yang bertugas menjaga serta membersihkan rumahnya, jatuh sakit hingga sekarat. Tetapi ia menolak untuk memanggil dokter dengan berkata, "Mengapa aku harus memboroskan uangku untuk menghalangi kehendak yang di atas? Jika memang waktunya sudah tiba, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dia dari kematian."
Di dunia ini tidak sedikit orang yang memandang uang dan kekayaan sebagai sesuatu yang lebih berharga dari segalanya. Begitu berharganya kekayaan tersebut dalam penilaian sebagian orang, sehingga mereka merasa sayang untuk mengeluarkannya meskipun untuk hal yang sangat penting. Padahal Tuhan Yesus mengajarkan kepada para pengikutNya untuk tolong menolong, peduli dan suka memberi. Memberi adalah tantangan paling berat bagi orang kikir, karena ia berpikir bahwa dengan memberi, maka hartanya akan berkurang. Ini adalah prinsip yang sangat bertolak belakang dengan firman Tuhan dalam Pkh 11:1 yang berbunyi, "Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu."
Sadarilah bahwa semua berkat yang kita dapatkan adalah pemberian Tuhan dan kita bertanggung jawab untuk mengelolanya sesuai kehendakNya. Tuhan memberkati.
Doa:
Yesus, beriku hati yang mau memberi dan mau menolong sesamaku melalui apa yang Engkau percayakan padaku. Amin. (Dod).
- Salam Damai Kristus
Jumat, 28 Juni 2019
HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
Yeh. 34:11-16; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Rm. 5:5b-11; Luk. 15:3-7.
"Akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat" - Luk 15,7
Hari ini kita Merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus. Bacaan Injil berkisah tentang seorang gembala yang mencari sampai ketemu satu dombanya yang hilang. Setelah ketemu, domba itu tidak dimarahinya tetapi justru didekap dan dipanggulnya untuk dibawa pulang dan disatukan dengan kawanan yang lain. Mungkin, Sang Gembala itu juga harus mengobati luka-lukanya yang terjadi akibat goresan semak duri. Tidak hanya berhenti di situ: pesta pun diselenggarakan sebagai ungkapan sukacita karena dombanya yang hilang telah ditemukan. Kisah ini sebenarnya hendak menegaskan betapa Tuhan selalu mencari kita yang kadang kala menghilang dari hadapan-Nya. Kadang kita terlalu asyik dan sibuk dengan diri kita sendiri, dengan pekerjaan dan kesenangan kita. Kita mengabaikan Tuhan. Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan rahmat pertobatan. Ya, rahmat. Sebab, kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri, kita tidak mungkin bisa. Karena terlalu asyik, kita lupa pulang kepada Tuhan. Atau kalau kita ingat pulang, tapi tidak mampu mengalahkan godaan untuk menunda atau bahkan tidak mau pulang. Yach, seperti anak kecil yang asyik bermain dengan teman-temannya sampai lupa kalau sudah sore dan harus pulang untuk mandi, makan, dan belajar, sehingga orangtua harus mencari. Seperti orangtua kita, Tuhan juga mencari kita dan membantu kita untuk dapat berbalik kembali kepada-Nya. Mencari, merengkuh, menggendong dan menyatukan kita dalam kawanan-Nya adalah sifat dari hati Tuhan Yesus yang Mahakudus. Kekudusan Hati-Nya yang kita rayakan hari ini terletak dalam kasih-Nya yang tanpa batas, yang tidak berkurang sedikitpun oleh karena dosa-dosa kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus
HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
Yeh. 34:11-16; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Rm. 5:5b-11; Luk. 15:3-7.
"Akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat" - Luk 15,7
Hari ini kita Merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus. Bacaan Injil berkisah tentang seorang gembala yang mencari sampai ketemu satu dombanya yang hilang. Setelah ketemu, domba itu tidak dimarahinya tetapi justru didekap dan dipanggulnya untuk dibawa pulang dan disatukan dengan kawanan yang lain. Mungkin, Sang Gembala itu juga harus mengobati luka-lukanya yang terjadi akibat goresan semak duri. Tidak hanya berhenti di situ: pesta pun diselenggarakan sebagai ungkapan sukacita karena dombanya yang hilang telah ditemukan. Kisah ini sebenarnya hendak menegaskan betapa Tuhan selalu mencari kita yang kadang kala menghilang dari hadapan-Nya. Kadang kita terlalu asyik dan sibuk dengan diri kita sendiri, dengan pekerjaan dan kesenangan kita. Kita mengabaikan Tuhan. Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan rahmat pertobatan. Ya, rahmat. Sebab, kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri, kita tidak mungkin bisa. Karena terlalu asyik, kita lupa pulang kepada Tuhan. Atau kalau kita ingat pulang, tapi tidak mampu mengalahkan godaan untuk menunda atau bahkan tidak mau pulang. Yach, seperti anak kecil yang asyik bermain dengan teman-temannya sampai lupa kalau sudah sore dan harus pulang untuk mandi, makan, dan belajar, sehingga orangtua harus mencari. Seperti orangtua kita, Tuhan juga mencari kita dan membantu kita untuk dapat berbalik kembali kepada-Nya. Mencari, merengkuh, menggendong dan menyatukan kita dalam kawanan-Nya adalah sifat dari hati Tuhan Yesus yang Mahakudus. Kekudusan Hati-Nya yang kita rayakan hari ini terletak dalam kasih-Nya yang tanpa batas, yang tidak berkurang sedikitpun oleh karena dosa-dosa kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus
☕. *KOPI. PAGI*. ☕
*TANGGA BERJALAN~LIFT~ELEVATOR*
... _dia setia dan tahu, kapan kita harus turun, dan mengantar kita ketika harus turun.._
⚜ _Mencari sahabat atau teman hidup itu, bisa meniru cara kerja dia.._
⚜. _Saat kita turun..terjerembab jatuh dgn berbagai persoalan hidup, dia bisa mengajak kita naik, bangkit dan bersemangat shg kita bisa lepas dari belenggu penderitaan.._
⚜. _Sebaliknya, saat kita meninggi krn marah atau emosi, dia bisa menasehati shg kita bisa turun..menjadi orang yg sabar dan pemaaf.._
⚜. _Ketika kita bicara sombong dia menyentuh kita agar rendah hati.._
*Sahabat setia itu bisa dan ikhlas mendampingi dalam suka dan duka hingga akhir nanti..*
Salam Damai Kristus
*TANGGA BERJALAN~LIFT~ELEVATOR*
... _dia setia dan tahu, kapan kita harus turun, dan mengantar kita ketika harus turun.._
⚜ _Mencari sahabat atau teman hidup itu, bisa meniru cara kerja dia.._
⚜. _Saat kita turun..terjerembab jatuh dgn berbagai persoalan hidup, dia bisa mengajak kita naik, bangkit dan bersemangat shg kita bisa lepas dari belenggu penderitaan.._
⚜. _Sebaliknya, saat kita meninggi krn marah atau emosi, dia bisa menasehati shg kita bisa turun..menjadi orang yg sabar dan pemaaf.._
⚜. _Ketika kita bicara sombong dia menyentuh kita agar rendah hati.._
*Sahabat setia itu bisa dan ikhlas mendampingi dalam suka dan duka hingga akhir nanti..*
Salam Damai Kristus
#renungan
*SANG GEMBALA BAIK*
Jumat 28 Jun 2019
_`Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan` (Yeh 34:12)_
Gambar Yesus menggendong seekor domba adalah gambar yang menyenangkan dan menenangkan hati. Sebetulnya gambar ini mempunyai makna mendalam, ya belaskasih atau kerahiman Allah yang tak terbatas.
Figur gembala yang baik mengungkapkan kerahiman Allah. A.l. : gembala yang baik mencari domba yang hilang. Yesuslah Sang Gembala yang baik. `Kerahiman menjadi hidup dan kasad mata dalam Yesus dari Nazareth, mencapai puncak dalam diri-Nya` (Paus Fransiskus). Seperti kata St. Paulus, ` waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka ` (Rm 5:6), demikianlah kerahiman Allah. Allah tidak menunggu orang berdosa datang menemukan Dia, tetapi Dia sendiri pergi mencari. `Dan kalau Ia telah menemukannya, Ia meletakkannya di atas bahu-Nya dengan gembira` (Luk 15:5).
Dari hati-Nya yang Mahakudus Yesus memancarkan kerahiman Allah yang tak terhingga. `Kita semua adalah orang-orang berdosa yang membutuhkan belaskasihan Allah. Hanya Dia yang memiliki kekuatan untuk mengubah kita dan memberi kita harapan setiap hari` (Paus Fransiskus). Setiap orang dari kita pasti mengalami kerahiman Allah setiap hari, bahkan setiap saat, namun sadarkah kita? Bersyukurkah kita?
*_Sr. M. Valentina, P.Karm_*
Jumat 28 Jun 2019
Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus
Yeh 34:11-16; Mzm 23:1-6; Rm 5:5-11; Luk 15:3-7
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus
*SANG GEMBALA BAIK*
Jumat 28 Jun 2019
_`Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan` (Yeh 34:12)_
Gambar Yesus menggendong seekor domba adalah gambar yang menyenangkan dan menenangkan hati. Sebetulnya gambar ini mempunyai makna mendalam, ya belaskasih atau kerahiman Allah yang tak terbatas.
Figur gembala yang baik mengungkapkan kerahiman Allah. A.l. : gembala yang baik mencari domba yang hilang. Yesuslah Sang Gembala yang baik. `Kerahiman menjadi hidup dan kasad mata dalam Yesus dari Nazareth, mencapai puncak dalam diri-Nya` (Paus Fransiskus). Seperti kata St. Paulus, ` waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka ` (Rm 5:6), demikianlah kerahiman Allah. Allah tidak menunggu orang berdosa datang menemukan Dia, tetapi Dia sendiri pergi mencari. `Dan kalau Ia telah menemukannya, Ia meletakkannya di atas bahu-Nya dengan gembira` (Luk 15:5).
Dari hati-Nya yang Mahakudus Yesus memancarkan kerahiman Allah yang tak terhingga. `Kita semua adalah orang-orang berdosa yang membutuhkan belaskasihan Allah. Hanya Dia yang memiliki kekuatan untuk mengubah kita dan memberi kita harapan setiap hari` (Paus Fransiskus). Setiap orang dari kita pasti mengalami kerahiman Allah setiap hari, bahkan setiap saat, namun sadarkah kita? Bersyukurkah kita?
*_Sr. M. Valentina, P.Karm_*
Jumat 28 Jun 2019
Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus
Yeh 34:11-16; Mzm 23:1-6; Rm 5:5-11; Luk 15:3-7
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus
☘🍁Doa pagi🍁☘
Hari Jumat 28 Juni 2019
Bapa di surga, terima kasih,
Engkau telah memberikan kepada kami, rakyat Indonesia, sebuah negara yang amat indah.
Kami mohon, ya Bapa, doronglah para pemimpin negara kami, pemerintah dan para wakil rakyat, agar mereka berani bertindak dan melakukan yang terbaik bagi bangsa ini.
Semoga mereka dapat bekerja bersama-sama dengan sebaik-baiknya, untuk mengatur dengan benar, menegakkan dan menyelenggarakan negeri ini dengan semestinya, dengan senantiasa mengutamakan kepentingan umum, mengupayakan terciptanya keamanan, kemakmuran dan keadilan yang merata.
Ya Bapa,
yang berbelas kasih, dengan rendah hati kami ingin menyampaikan keluhan umatMu ini. Setelah beberapa waktu yang lalu mengalami gangguan akan persatuan, terjadinya bibit - bibit perpecahan, meningkatnya kurang pemahaman akan perbedaan, dapat segera teratasi dan segera pulih kembali seperti sediakala, yaitu hidup rukun, damai dan gotong royong.
Ya Bapa,
hindarkanlah negara dan bangsa kami dari setiap pertikaian, permusuhan, perpecahan, kerusuhan dan peperangan. Anugerahi negara kami damai sejahtera, keamanan dan ketentraman, yang didambakan bangsa dan masyarakat kami.
Amin.
Salam Damai Kristus
Hari Jumat 28 Juni 2019
Bapa di surga, terima kasih,
Engkau telah memberikan kepada kami, rakyat Indonesia, sebuah negara yang amat indah.
Kami mohon, ya Bapa, doronglah para pemimpin negara kami, pemerintah dan para wakil rakyat, agar mereka berani bertindak dan melakukan yang terbaik bagi bangsa ini.
Semoga mereka dapat bekerja bersama-sama dengan sebaik-baiknya, untuk mengatur dengan benar, menegakkan dan menyelenggarakan negeri ini dengan semestinya, dengan senantiasa mengutamakan kepentingan umum, mengupayakan terciptanya keamanan, kemakmuran dan keadilan yang merata.
Ya Bapa,
yang berbelas kasih, dengan rendah hati kami ingin menyampaikan keluhan umatMu ini. Setelah beberapa waktu yang lalu mengalami gangguan akan persatuan, terjadinya bibit - bibit perpecahan, meningkatnya kurang pemahaman akan perbedaan, dapat segera teratasi dan segera pulih kembali seperti sediakala, yaitu hidup rukun, damai dan gotong royong.
Ya Bapa,
hindarkanlah negara dan bangsa kami dari setiap pertikaian, permusuhan, perpecahan, kerusuhan dan peperangan. Anugerahi negara kami damai sejahtera, keamanan dan ketentraman, yang didambakan bangsa dan masyarakat kami.
Amin.
Salam Damai Kristus
Mutiara Iman
BERSUKACITA
28 Juni 2019
“Demikianlah juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15:7)
Lectio
Yeh 34:11-16; Mzm 23:1-3a, 3b-4,5,6; Rom 5:5b-11; Luk 15:3-7
Seorang guru SMA berkata kepada rekan guru yang lain :
”Pak, kalau dilihat anak-anak kita ada banyak yah, namun saya melihat hanya sekitar 10 saja dari 300 anak yang berdoa di Kapel. Apakah ada yang hilang?”
Guru lain menjawab :
”Iya Pak, kita kehilangan nilai2 penting yaitu : BERARTI, KEBERANIAN dan TANGGUNG JAWAB, yang merupakan terjemahan dari KEADILAN.
Kita terlalu mengajarkan KEMURAHAN HATI, sehingga merekapun dengan sebebasnya “menggunakan “ dirinya. Jadi kita harus mengajarkan pada mereka KEMURAHAN dan KEADILAN, karena itu adalah KASIH, sehingga mereka mau BERTANGGUNG-JAWAB atas dirinya, dan dengan setia melakukan perintah TUHAN.”
Kehilangan jiwa seringkali terjadi karena kita mengajarkan untuk membiarkannya bukan MEMBENTUKNYA.
Oratio
Ya Tuhan Yesus, ajarkanlah kami KASIH-MU. Amin
Missio
Marilah kita mengajarkan kasih dengan kemurahan dan keadilan.
Have a Blessed Sacred Heart of Jesus Day.
BERSUKACITA
28 Juni 2019
“Demikianlah juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15:7)
Lectio
Yeh 34:11-16; Mzm 23:1-3a, 3b-4,5,6; Rom 5:5b-11; Luk 15:3-7
Seorang guru SMA berkata kepada rekan guru yang lain :
”Pak, kalau dilihat anak-anak kita ada banyak yah, namun saya melihat hanya sekitar 10 saja dari 300 anak yang berdoa di Kapel. Apakah ada yang hilang?”
Guru lain menjawab :
”Iya Pak, kita kehilangan nilai2 penting yaitu : BERARTI, KEBERANIAN dan TANGGUNG JAWAB, yang merupakan terjemahan dari KEADILAN.
Kita terlalu mengajarkan KEMURAHAN HATI, sehingga merekapun dengan sebebasnya “menggunakan “ dirinya. Jadi kita harus mengajarkan pada mereka KEMURAHAN dan KEADILAN, karena itu adalah KASIH, sehingga mereka mau BERTANGGUNG-JAWAB atas dirinya, dan dengan setia melakukan perintah TUHAN.”
Kehilangan jiwa seringkali terjadi karena kita mengajarkan untuk membiarkannya bukan MEMBENTUKNYA.
Oratio
Ya Tuhan Yesus, ajarkanlah kami KASIH-MU. Amin
Missio
Marilah kita mengajarkan kasih dengan kemurahan dan keadilan.
Have a Blessed Sacred Heart of Jesus Day.
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Jumat,_ *28 Juni 2019*
*Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus*
Yeh 34:11-16
Mzm 23:1-6
Rm 5:5b-11
Luk 15:3-7
*SUKACITA*
_Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. -- Luk 15:7_
Sudah berulang kali saya memperingatkan anak-anak untuk tidak jauh dari kami jika sedang bepergian. Namun tetap saja ada kalanya mereka tidak mendengarkan nasehat kami.
Pernah sekali waktu kami pergi bermain di pantai. Tiba-tiba saya menyadari si sulung tidak bersama kami. Padahal baru sebentar ia ada di samping saya. Panik dan cemas, semua menjadi satu. Kami mencari di tengah kerumunan orang. Puji Tuhan, akhirnya kami menemukannya. Ada rasa sukacita besar ketika saya melihatnya. Semua rasa marah dan kesal hilang diganti dengan ucapan syukur.
Membaca Injil hari ini mengingatkan saya kembali akan peristiwa kehilangan tersebut. Saya membayangkan bagaimana paniknya saya ketika itu. Berteriak memanggil namanya di tengah padatnya kerumunan orang. Di saat yang bersamaan, berdoa dalam hati semoga tidak ada hal buruk yang terjadi atasnya.
Jika saya sebagai manusia yang tidak sempurna begitu mengkhawatirkan anak saya, apalagi Tuhan Yesus. Hati-Nya yang Maha Kudus selalu mencari mereka yang terhilang. Dan Ia sangat bersukacita ketika ada satu orang yang bertobat. (Dn)
_Apakah saya salah satu anak yang hilang yang dinantikan Tuhan?_
Salam Damai Kristus
_Jumat,_ *28 Juni 2019*
*Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus*
Yeh 34:11-16
Mzm 23:1-6
Rm 5:5b-11
Luk 15:3-7
*SUKACITA*
_Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. -- Luk 15:7_
Sudah berulang kali saya memperingatkan anak-anak untuk tidak jauh dari kami jika sedang bepergian. Namun tetap saja ada kalanya mereka tidak mendengarkan nasehat kami.
Pernah sekali waktu kami pergi bermain di pantai. Tiba-tiba saya menyadari si sulung tidak bersama kami. Padahal baru sebentar ia ada di samping saya. Panik dan cemas, semua menjadi satu. Kami mencari di tengah kerumunan orang. Puji Tuhan, akhirnya kami menemukannya. Ada rasa sukacita besar ketika saya melihatnya. Semua rasa marah dan kesal hilang diganti dengan ucapan syukur.
Membaca Injil hari ini mengingatkan saya kembali akan peristiwa kehilangan tersebut. Saya membayangkan bagaimana paniknya saya ketika itu. Berteriak memanggil namanya di tengah padatnya kerumunan orang. Di saat yang bersamaan, berdoa dalam hati semoga tidak ada hal buruk yang terjadi atasnya.
Jika saya sebagai manusia yang tidak sempurna begitu mengkhawatirkan anak saya, apalagi Tuhan Yesus. Hati-Nya yang Maha Kudus selalu mencari mereka yang terhilang. Dan Ia sangat bersukacita ketika ada satu orang yang bertobat. (Dn)
_Apakah saya salah satu anak yang hilang yang dinantikan Tuhan?_
Salam Damai Kristus
Jumat, 28 Juni 2019 HR Hati Yesus Yang Mahakudus
*HATI YANG MENGASIHI*
*BACAAN*
*Yeh 34:11-16* – “Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan AKu akan membiarkan mereka berbaring tenang”
*Rom 5:5b-11* – “Allah melimpahkan kasih-Nya atas kita”
*Luk 15:3-7* – “Bergembiralah bersama dengan daku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan”
*RENUNGAN*
1.Hari ini kita merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus. Penghormatan kepada Hati Yesus Yang Mahakudus berdasarkan tradisi yang sudah mulai berkembang sejak abad VII dan semakin tersebar luas setelah penampakan Yesus kepada Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Pada tahun 1856, Paus Pius IX memasukkan Pesta Hati Kudus Yesus dalam penanggalan liturgi.
2.Hati Yesus mencurahkan kasih-Nya kepada kita. Ia datang ke dunia ini untuk mengasihi kita lebih dari pada siapa pun. Ia mengikuti kita agar kita kembali kepada-Nya. Kristus membandingkan diri dengan seorang gembala, pekerja rendahan yang banyak melakukan pengorbanan dan mempertaruhkan diri untuk keselamatan kawanan domba. Seorang gembala mempertaruhkan hidupnya bagi kawanan dombanya daripada hidupnya sendiri. Kristus, Sang Gembala Baik, mempertaruhkann hidup-Nya bagi domba-domba-Nya. Kawanan domba, bagaimana pun juga lebih berharga daripada seorang gembala. Allah Bapa menghendaki domba-domba diselamatkan, berkembang, tumbuh dan kuat. Kristus mati agar kita hidup. Tak ada satu pun yang membuat seorang gembala lebih berbahagia daripada memberikan hidupnya bagi domba-dombanya.
3.Kita merayakan Gembala Kita dan cinta-Nya kepada kita. Ia mengasihi kita dengan cinta yang tanpa batas. Kristus dekat dengan kita sebagai seorang gembala. Ia tidak sendirian dan jauh dari kita, tetapi Ia ingin datang dalam kegersangan hidup kita untuk menyelamatkan ketika kita tersesat dan hilang. Hidup Sang Gembala tidak memilih hidup yang mewah, melainkan mendirikan tenda di antara kawanan domba-Nya, dan mengalami hidup sama seperti kita. Ia telah membuat diri-Nya sebagai saudara kita.
4.Kristus ingin menggendong kita di pundak-Nya untuk membawa kita kembali kepada Bapa. Ia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya, tetapi mengikuti kita sampai kita siap untuk menyerah kepada-Nya. Devosi kita kepada Hati Kudus Yesus merupakan devosi cinta. Kita melihat sebuah hati yang sedemikian mengasihi dunia, walaupun cinta tersebut tanpa balas. Tanggapan umat beriman begitu dingin dan tanpa perasaan. Namun Kristus memanggil kita untuk membantu-Nya membawa domba-domba yang hilang kepada-Nya. Di atas semuanya, kita dapat menghibur Kristus dengan memberi cinta kita kepada-Nya.
🇮🇩MS,www.berkat.id🇮🇩
Salam Damai Kristus
*HATI YANG MENGASIHI*
*BACAAN*
*Yeh 34:11-16* – “Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan AKu akan membiarkan mereka berbaring tenang”
*Rom 5:5b-11* – “Allah melimpahkan kasih-Nya atas kita”
*Luk 15:3-7* – “Bergembiralah bersama dengan daku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan”
*RENUNGAN*
1.Hari ini kita merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus. Penghormatan kepada Hati Yesus Yang Mahakudus berdasarkan tradisi yang sudah mulai berkembang sejak abad VII dan semakin tersebar luas setelah penampakan Yesus kepada Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Pada tahun 1856, Paus Pius IX memasukkan Pesta Hati Kudus Yesus dalam penanggalan liturgi.
2.Hati Yesus mencurahkan kasih-Nya kepada kita. Ia datang ke dunia ini untuk mengasihi kita lebih dari pada siapa pun. Ia mengikuti kita agar kita kembali kepada-Nya. Kristus membandingkan diri dengan seorang gembala, pekerja rendahan yang banyak melakukan pengorbanan dan mempertaruhkan diri untuk keselamatan kawanan domba. Seorang gembala mempertaruhkan hidupnya bagi kawanan dombanya daripada hidupnya sendiri. Kristus, Sang Gembala Baik, mempertaruhkann hidup-Nya bagi domba-domba-Nya. Kawanan domba, bagaimana pun juga lebih berharga daripada seorang gembala. Allah Bapa menghendaki domba-domba diselamatkan, berkembang, tumbuh dan kuat. Kristus mati agar kita hidup. Tak ada satu pun yang membuat seorang gembala lebih berbahagia daripada memberikan hidupnya bagi domba-dombanya.
3.Kita merayakan Gembala Kita dan cinta-Nya kepada kita. Ia mengasihi kita dengan cinta yang tanpa batas. Kristus dekat dengan kita sebagai seorang gembala. Ia tidak sendirian dan jauh dari kita, tetapi Ia ingin datang dalam kegersangan hidup kita untuk menyelamatkan ketika kita tersesat dan hilang. Hidup Sang Gembala tidak memilih hidup yang mewah, melainkan mendirikan tenda di antara kawanan domba-Nya, dan mengalami hidup sama seperti kita. Ia telah membuat diri-Nya sebagai saudara kita.
4.Kristus ingin menggendong kita di pundak-Nya untuk membawa kita kembali kepada Bapa. Ia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya, tetapi mengikuti kita sampai kita siap untuk menyerah kepada-Nya. Devosi kita kepada Hati Kudus Yesus merupakan devosi cinta. Kita melihat sebuah hati yang sedemikian mengasihi dunia, walaupun cinta tersebut tanpa balas. Tanggapan umat beriman begitu dingin dan tanpa perasaan. Namun Kristus memanggil kita untuk membantu-Nya membawa domba-domba yang hilang kepada-Nya. Di atas semuanya, kita dapat menghibur Kristus dengan memberi cinta kita kepada-Nya.
🇮🇩MS,www.berkat.id🇮🇩
Salam Damai Kristus
RUAH
Jumat, 28 Juni 2019
Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus
Hati Yesus yang Mahakudus sebagai perapian cinta kasih yang bernyala-nyala adalah lambang dan ungkapan nyata dari kasih abadi Allah ---- Paus Paulus VI
Antifon Pembuka (Mzm 33 (32): 11, 19)
Rancangan Hati-Nya dari angkatan ke angkatan untuk melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
The designs of his Heart are from age to age, to rescue their souls from death and to keep them alive in famine.
Cogitationes Cordis eius in generatione et generationem: ut eruat a morte animas eorum et alat eos in fame.
S. Exsultate iusti in Domino
U. Rectos decet collaudatio.
Gloria Patri et Filio et Spiritui Sancto, sicut erat in principio, et nunc et semper; et in saecula saeculorum. Amen.
Pada misa ini ada Madah Kemuliaan dan Syahadat
Doa Pembuka
Ya Allah, dalam Hati Putra-Mu yang dilukai oleh dosa kami, Engkau berkenan menganugerahi kami harta cinta kasih yang tak terhingga. Bantulah kami menyatakan bukti yang tulus kepada-Nya dan memberikan pemulihan yang pantas bagi dosa kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.
Bacaan dari Nubuat Yehezkiel (34:11-16)
"Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring tenang."
Beginilah firman Tuhan, "Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel , di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel . Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan Allah. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = d, 3/2, 2/4, PS 849
Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ayat. (Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Ul: 1)
1. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: 'ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. 'Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
2. Sekalipun aku harus berjalan, di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
3. Kausiapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku. Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.
4. Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi mengiringi langkahku selalu sepanjang umur hidupku. Aku akan diam di rumah Tuhan sekarang dan senantiasa.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (5:5b-11)
"Allah melimpahkan kasih-Nya atas kita."
Saudara-saudara terkasih, kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 961
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 10:14)
Akulah gembala yang baik, sabda Tuhan. Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (15:3-7)
"Bergembiralah bersama dengan daku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan."
Sekali peristiwa Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, lalu kehilangan seekor, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau telah menemukannya, ia lalu meletakkannya di atas bahu dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Harus kjta akui bahwa hal yang paling sulit dari kebanyakan orang termasuk kita adalah tetap mengasihi dan bahkan mengampuni orang yan g membenci kita, orang yang telah memfitnah kita, orang yang melawan kita. Kita tahu dan paham bahwa Tuhan meminta kita untuk saling mengasihi dan juga mengampuni, tetapi nyatanya dalam praktik: aduh sulitya. Tetapi itu bukan lalu perkara yang mustahil, asalkan apa? Asalkan kita memohon agar Hati Allah sendiri semakin dominan dan menguasai hati kita, sehingga hati-Nya memimpin dan merasuki seluruh sudut hati kita.
Hari ini Gereja merayakan Hati Kudus Tuhan Yesus. Manakah inti terdalam dari hati Tuhan? Jawabnya terungkap dalam bacaan-bacaan hari ini. Bacaan pertama menunjuk hati Allah yang berhati gembala agung: mencari yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang luka, menguatkan yang sakit, melindungi Yang kuat dan gemuk. Hal im' dipertegas dan dinyatakan secara lebih gamblang dalam perumpamaan dari Tuhan Yesus bagaimana seorang gembala rela meninggalkan 99 ekor domba, hanya untuk mencari satu domba yang tersesaL Bukan berarti yang 99 ekor tidak penting! Tetapi, mau mengatakan bahwa Sang Gembala yaitu Tuhan sendin‘ tidak pernah mau kehilangan seeker pun, tidak mau kehilangan satu orang atau satu umat-Nya pun. Kasih sayang dan belas kasih Allah yang begitu agung juga digemakan Santo Paulus pada bacaan kedua hari ini: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, apalagi sekarang, di saat kita telah diperdamaikan pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya." Ini penting sekali: saat kita masih menjadi pendosa dan bahkan belum bertobat.... Kristus Sang Putra Allah telah rela wafat untuk mendamaikan kita yang masih berdosa dam belum bertobat itu dengan Allah. Ini perlu digarisbawahi: saat kita masih berdosa dan belum bertobat, kita sudah diperdamaikan berkat wafat Tuhan kita Yesus Kristus.
Pada hari raya ini, kita tidak harus merenungkan bagaimana sikap dan tingkah laku kita, karena kiranya cukup mudah ditebak bahwa kita masih susah mengasihi dan mengampuni orang yang membenci dan yang tidak baik kepada kita. Marilah kita cukup memandang kemudian bersujud di hadapan Sakramen Mahakudus yang menghadirkan Hati Kudus Tuhan Yesus sendiri. Sakramen Mahakudus menghadirkan seluruh diri Tuhan Yesus Krislus yang telah mengampuni dan memperdamaikan kita, bahkan saat kita belum sadar dan belum bertobat..., Dia telah mengampuni kita. Betapa agung Hati Tuhan kita Yesus Kristus.
Antifon Komuni (Yoh 7:37-38)
Tuhan bersabda, "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, dari dalam hatinya akan mengalir air hidup."
Thus says the Lord: Let whoever is thirsty come to me and drink. Streams of living water will flow from within the one who believes in me.
atau (Yoh 19:34)
Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
One of the soldiers with a spear opened His side, and immediately there came out blood and water.
Unus mílitumláncea látus éjus apéruit,et contínuo exívit sánguis et áqua.
Salam Damai Kristus
Jumat, 28 Juni 2019
Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus
Hati Yesus yang Mahakudus sebagai perapian cinta kasih yang bernyala-nyala adalah lambang dan ungkapan nyata dari kasih abadi Allah ---- Paus Paulus VI
Antifon Pembuka (Mzm 33 (32): 11, 19)
Rancangan Hati-Nya dari angkatan ke angkatan untuk melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
The designs of his Heart are from age to age, to rescue their souls from death and to keep them alive in famine.
Cogitationes Cordis eius in generatione et generationem: ut eruat a morte animas eorum et alat eos in fame.
S. Exsultate iusti in Domino
U. Rectos decet collaudatio.
Gloria Patri et Filio et Spiritui Sancto, sicut erat in principio, et nunc et semper; et in saecula saeculorum. Amen.
Pada misa ini ada Madah Kemuliaan dan Syahadat
Doa Pembuka
Ya Allah, dalam Hati Putra-Mu yang dilukai oleh dosa kami, Engkau berkenan menganugerahi kami harta cinta kasih yang tak terhingga. Bantulah kami menyatakan bukti yang tulus kepada-Nya dan memberikan pemulihan yang pantas bagi dosa kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.
Bacaan dari Nubuat Yehezkiel (34:11-16)
"Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring tenang."
Beginilah firman Tuhan, "Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel , di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel . Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan Allah. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = d, 3/2, 2/4, PS 849
Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ayat. (Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Ul: 1)
1. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: 'ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. 'Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
2. Sekalipun aku harus berjalan, di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
3. Kausiapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku. Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.
4. Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi mengiringi langkahku selalu sepanjang umur hidupku. Aku akan diam di rumah Tuhan sekarang dan senantiasa.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (5:5b-11)
"Allah melimpahkan kasih-Nya atas kita."
Saudara-saudara terkasih, kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 961
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 10:14)
Akulah gembala yang baik, sabda Tuhan. Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (15:3-7)
"Bergembiralah bersama dengan daku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan."
Sekali peristiwa Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, lalu kehilangan seekor, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau telah menemukannya, ia lalu meletakkannya di atas bahu dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Harus kjta akui bahwa hal yang paling sulit dari kebanyakan orang termasuk kita adalah tetap mengasihi dan bahkan mengampuni orang yan g membenci kita, orang yang telah memfitnah kita, orang yang melawan kita. Kita tahu dan paham bahwa Tuhan meminta kita untuk saling mengasihi dan juga mengampuni, tetapi nyatanya dalam praktik: aduh sulitya. Tetapi itu bukan lalu perkara yang mustahil, asalkan apa? Asalkan kita memohon agar Hati Allah sendiri semakin dominan dan menguasai hati kita, sehingga hati-Nya memimpin dan merasuki seluruh sudut hati kita.
Hari ini Gereja merayakan Hati Kudus Tuhan Yesus. Manakah inti terdalam dari hati Tuhan? Jawabnya terungkap dalam bacaan-bacaan hari ini. Bacaan pertama menunjuk hati Allah yang berhati gembala agung: mencari yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang luka, menguatkan yang sakit, melindungi Yang kuat dan gemuk. Hal im' dipertegas dan dinyatakan secara lebih gamblang dalam perumpamaan dari Tuhan Yesus bagaimana seorang gembala rela meninggalkan 99 ekor domba, hanya untuk mencari satu domba yang tersesaL Bukan berarti yang 99 ekor tidak penting! Tetapi, mau mengatakan bahwa Sang Gembala yaitu Tuhan sendin‘ tidak pernah mau kehilangan seeker pun, tidak mau kehilangan satu orang atau satu umat-Nya pun. Kasih sayang dan belas kasih Allah yang begitu agung juga digemakan Santo Paulus pada bacaan kedua hari ini: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, apalagi sekarang, di saat kita telah diperdamaikan pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya." Ini penting sekali: saat kita masih menjadi pendosa dan bahkan belum bertobat.... Kristus Sang Putra Allah telah rela wafat untuk mendamaikan kita yang masih berdosa dam belum bertobat itu dengan Allah. Ini perlu digarisbawahi: saat kita masih berdosa dan belum bertobat, kita sudah diperdamaikan berkat wafat Tuhan kita Yesus Kristus.
Pada hari raya ini, kita tidak harus merenungkan bagaimana sikap dan tingkah laku kita, karena kiranya cukup mudah ditebak bahwa kita masih susah mengasihi dan mengampuni orang yang membenci dan yang tidak baik kepada kita. Marilah kita cukup memandang kemudian bersujud di hadapan Sakramen Mahakudus yang menghadirkan Hati Kudus Tuhan Yesus sendiri. Sakramen Mahakudus menghadirkan seluruh diri Tuhan Yesus Krislus yang telah mengampuni dan memperdamaikan kita, bahkan saat kita belum sadar dan belum bertobat..., Dia telah mengampuni kita. Betapa agung Hati Tuhan kita Yesus Kristus.
Antifon Komuni (Yoh 7:37-38)
Tuhan bersabda, "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, dari dalam hatinya akan mengalir air hidup."
Thus says the Lord: Let whoever is thirsty come to me and drink. Streams of living water will flow from within the one who believes in me.
atau (Yoh 19:34)
Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
One of the soldiers with a spear opened His side, and immediately there came out blood and water.
Unus mílitumláncea látus éjus apéruit,et contínuo exívit sánguis et áqua.
Salam Damai Kristus
Langganan:
Postingan (Atom)































