Senin, 30 September 2019

Kencan Dengan Tuhan
Selasa, 1 Oktober 2019

Bacaan: Matius 15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."

Renungan:
  Abraham Lincoln, suatu ketika berada dalam situasi di mana ia ingin menyenangkan seorang politikus. Jadi ia mengeluarkan perintah untuk memindahkan resimen-resimen tertentu. Ketika Sekretaris Perang Edwin Stanton menerima perintah itu, ia menolak untuk melaksanakannya. Ia berkata bahwa presiden adalah orang yang bodoh. Ketika Lincoln diberitahu tentang tanggapan Stanton, ia menjawab, "Kalau Stanton berkata saya adalah orang bodoh, berarti saya pasti bodoh, karena dia selalu hampir benar. Saya akan menemui dia." Saat keduanya berbicara, sang presiden segera menyadari bahwa keputusannya merupakan kesalahan serius. Tanpa ragu-ragu ia menariknya kembali. Kerendahan hati dan sikap yang bisa menahan emosi seringkali merupakan kunci utama dalam penyelesaian konflik.
  Bacaan di atas menceritakan tentang seorang wanita Kanaan yang datang kepada Yesus untuk meminta agar anaknya disembuhkan dari kerasukan setan. Namun Yesus malah menjawab bahwa ia hanya diutus untuk orang-orang Yahudi saja, bukan untuk bangsa Kanaan yang dikenal sebagai bangsa kafir. Bahkan Yesus mengumpamakan si wanita sebagai seekor anjing yang tidak layak menerima berkat dariNya. Bisakah kita bayangkan bagaimana perasaan wanita itu? Ia mungkin tersinggung dengan kata-kata Yesus, tapi ia menahannya. Bahkan dengan rendah hati menjawab bahwa berkat kesembuhan memang hanya untuk orang-orang Yahudi, tetapi dia percaya kalau mujizat itu berlaku juga bagi dirinya sekalipun  hanya berupa remah-remahnya saja.
  Seandainya Lincoln tidak bisa menahan kemarahannya, ia akan terjebak pada kesalahan fatal. Seandainya wanita itu tidak mampu mengendalikan dirinya, anaknya barangkali tidak akan sembuh. Mari kita belajar mengendalikan emosi agar tidak kehilangan banyak hal berarti. Tuhan memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, tambahkanlah kerendahan hatiMu dalam diriku, agar aku mampu menguasai diriku saat orang lain merendahkan diriku, sehingga aku tidak kehilangan berkat-berkatMu melalui sikap orang lain yang merendahkanku. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
Pada akhirnya...
☘🍁Doa pagi🍁☘
Selasa 1 Oktober 2019

Bapa yang penuh kasih,
Engkau menciptakan kemuliaan di atas kesakitan dan penderitaan. Engkau senantiasa membawa berkat di atas kesedihan dan kesengsaraan.

Bapa, Engkau tak tahan melihat anak-anakMu mengalami aneka macam derita di dunia ini. SukacitaMu hanyalah supaya mereka hidup layak dan beroleh selamat.

Engkau menebarkan kasih kemanusiaan  yang nyata dengan uluran tanganMu melalui sesama yang tulus dan ikhlas, menolong dengan sukacita. Bentuklah hati kami menjadi lembut dan murah hati bagi yang kecil dan miskin, sebagai tempat tumpangan serta curahan isi hati  yang pedih. Semoga kami mempunyai hati kebapaan dan keibuan,serta mau peduli dan melayani saudara-saudari yang amat membutuhkannya.

Bapa yang penuh kasih,
Tolonglah agar kami peka mendengarkan keluh kesah  anak-anakMu dan setia meringankan beban derita mereka.

Semoga setiap doa, kurban, derma, dan  kesaksian kami berkenan padaMu dan mendatangkan keselamatan  bagi jiwa yang merindukan.

Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. 
Amin.

Salam Damai Kristus
Selasa, 1 Oktober 2019
Pesta St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus
Yes. 66:10-14c; Mzm. 131:1,2,3; Mat. 18:1-5.

"Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."

Bacaan Injil hari ini kurang lebih sama dengan kemarin, yakni perihal pertanyaan para murid tentang "Siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga" (Mat 18:1-5). Figur seorang anak kecil dipilih Yesus untuk menyatakan siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Ada banyak hal positif yang dapat kita pelajari dari anak-anak kecil. Anak kecil itu jujur, lugu dan polos. Juga mudah sekali mengampuni dan berdamai. Mudah pula untuk berbagi. Kalau dikaitkan dengan syarat masuk dalam Kerajaan Sorga, di mana kita harus menjadi seperti anak kecil, saya rasa sifat anak kecil yang pas dalam konteks ini adalah bahwa anak kecil itu selalu merasa aman dan nyaman berada di dekat orangtuanya, apalagi dalam pangkuan dan pelukannya. Kalau tidur, anak-anak juga masih bersama orangtuanya. Kalau pergi ke mana-mana, mereka biasanya juga minta diantar atau ditemani oleh orangtuanya. Inilah yang dikehendaki Tuhan, yang adalah orangtua kita yang sesungguhnya. Ia menghendaki agar kita seperti anak kecil yang selalu merasa aman dan nyaman dekat dengan Tuhan, berada dalam pelukan kasih-Nya. Dalam perjalanan hidup kita, di mana pun kita berada, hendaknya kita juga senantiasa bersama Tuhan yang selalu siap sedia menyertai, mengantar dan menemani kita. Ia selalu menunjukkan jalan yang tepat bagi kita, bahkan Ia sendiri adalah jalan yang benar dan yang membawa kepada kehidupan sejati. Maka, kita jangan mencari jalan sendiri sehingga malah tersesat dan akhirnya hilang. Sikap seperti anak kecil inilah yang akan menghantar kita masuk ke dalam Kerajaan Sorga, bukan karena usaha kita sendiri, tetapi karena kita selalu bersama dengan Tuhan.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus
#renungan

*MENJADI ANAK KECIL KESAYANGAN ALLAH*

Selasa 01 Okt 2019

_`Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga` (Mat 18:4)_

Karena nakal, seorang anak TK dimarahi gurunya. Seusai sekolah, si anak mendatangi si guru. `Bu guru,` katanya. `Apa?` tanya si guru dengan nada agak naik dan penuh kecurigaan. `Mau apa lagi anak ini?` pikirnya. `Bu, coba Ibu buka tangan Ibu,` kata si anak pula. Dengan agak ragu, si guru membuka telapak tangannya. Lalu, anak itu menaruh sebuah boneka kecil dari malam (lilin) sambil berkata, `Ini untuk Ibu. Bagus, tidak? Saya membuatnya saat istirahat tadi. Kemarin ayah membelikan saya malam ini.`

Yesus menghendaki kita menjadi seperti anak kecil untuk bisa masuk Kerajaan Surga. Anak kecil itu rendah hati, polos, tidak penuh siasat licik, sederhana, penuh kasih, tidak pendendam, ceria, pasrah dan mudah percaya, apalagi kepada orang tuanya. Si anak dalam kisah di atas tidak sakit hati, walau baru saja dimarahi si guru. Ia bisa terima teguran atau `apa yang tidak enak` itu tanpa meragukan kasih si guru sehingga dengan segera ia bisa datang kepada si guru tanpa curiga atau ragu-ragu apakah ia akan diterima atau tidak. Ia pun datang dengan niat baik yang polos: ingin memberi sesuatu yang bagus menurutnya.

Bagi Theresia Lisieux, Allah adalah Bapa Mahakasih. Walaupun dalam hidupnya ia menerima banyak hal yang `tidak enak`, seperti sakit, ditinggal orang-orang yang dia cintai, dll., ia tetap datang kepada Bapa tanpa meragukan kasih dan niat baik-Nya. Ia yakin Bapa selalu menerimanya.

*_Sr. M. Aileen, P.Karm_*

Selasa 01 Okt 2019
Pesta S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, PrwPujG, Pld-Misi (CSE/PKarm)
Yes 66:10-14; Mzm 131:1-3; Mat 18:1-5
PKarm/CSE: Yes 66:10-14 at 1Yoh 4:7-16; Mzm 102(103): 1-2.8-9.17-18 at Mzm 130(131):1-3; Mat 11:25-30

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
RUAH

Selasa, 01 Oktober 2019
Pesta St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan-Pujangga Gereja, Pelindung Karya Misi

“Kegembiraan kita temukan tidak dalam hal-hal yang mengelilingi kita, melainkan dalam pusat jiwa.” (St. Teresia dari Lisieux)

Antifon Pembuka (bdk. Ul 32:10-12)

Tuhan membimbing dan mengajar Teresia, menjaganya laksana biji mata. Tuhan membentangkan sayap sebagai rajawali dan membawanya serta dengan aman sentosa. Hanya Tuhanlah pemimpinnya.

The Lord led her and taught her, and kept her as the apple of his eye. Like an eagle spreading its wings he took her up and bore her on his shoulders. The Lord alone was her guide.
 
Pada Misa hari ini ada Kemuliaan/Gloria 
 
Doa Pembuka

Allah, Bapa kami, Engkau membuka Kerajaan-Mu bagi orang kecil dan rendah hati. Semoga dengan tabah kami menempuh jalan kecil Santa Teresia, dan semoga berkat doanya kemuliaan-Mu yang abadi Kaunyatakan kepada kami. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
   
Bacaan dari Kitab Yesaya (66:10-14c)
   
"Aku mengalirkan kepadanya keselamatan dari sungai."
       
Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-sorailah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya! Hendaknya kamu minum susu yang menyegarkan dan menjadi kenyang, hendaknya kamu menghirup dan menikmati susu yang bernas. Sebab beginilah firman Tuhan: Sungguh, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir. Kamu akan menyusu, akan digendong, dan akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah kamu akan Kuhibur; kamu akan dihibur di Yerusalem. Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh lebat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
atau
 
Kasih mengarahkan kita kepada Tuhan, sedangkan iman dan pengharapan mengarahkan kepada kesempurnaan diri kita. Iman memberikan kita kesempunaan akal budi (iman adalah kegiatan akal budi) dan pengharapan menyempurnakan keinginan kita (harapan adalah kegiatan keinginan) akan kehidupan kekal di surga. Atau dengan kata lain, Kasih adalah tujuan akhir, namun iman dan pengharapan merupakan cara. Sama seperti cara melayani tujuan akhir, maka iman dan pengharapan melayani kasih. Harapan tanpa kasih kepada Tuhan adalah sia-sia (1 Kor 13:3). Kasih kita kepada Tuhanlah yang menyebabkan kita terus berharap akan persatuan dengan Tuhan di tengah-tengah setiap penderitaan dan kesulitan yang kita alami. Harapan yang mati hanya berharap demi kesenangan pribadi, namun harapan yang dilandasi kasih membuat kita bersedia berkurban untuk orang yang kita kasihi, demi kasih kita kepada Tuhan. Dan ini yang menyebabkan kita turut bersukacita dalam setiap penderitaan dan kesulitan karena kita berpartisipasi dalam penderitaan Kristus.
   
 Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (12:31-13:13)

"Sekarang tinggal iman, harapan, dan kasih, namun yang paling besar diantaranya adalah kasih."

Saudara-saudara, berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia bernubuat dan mengetahui segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan; sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati dan tidak cemburu. Kasih tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan. Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih tidak bersukacita atas ketidakadilan, tetapi atas apa yang benar. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, dan pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap, dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi bila yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna. Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula. Tetapi sekarang setelah menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Sekarang kita melihat gambar yang samar-samar seperti dalam cermin, tetapi nanti dari muka ke muka. Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, pengharapan dan kasih. Namun yang paling besar di antaranya adalah kasih.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan
Ref. Sinarilah hamba-Mu, ya Tuhan, dengan wajah-Mu.
Ayat. (Mzm 119:66.71.75.91.125.130)
1. Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya pada perintah-perintah-Mu.
2. Memang baik bahwa aku tertindas, supaya aku belajar memahami ketetapan-ketetapan-Mu.
3. Aku tahu, ya Tuhan, bahwa hukum-hukum-Mu adil; dan memang tepat bahwa Engkau telah menyiksa aku.
4. Menurut hukum-hukum-Mu sekarang semuanya itu ada, sebab segala sesuatu melayani Engkau.
5. Hamba-Mulah aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku paham akan peringatan-peringatan-Mu.
6. Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 11:25)
Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan-Mu Kaunyatakan kepada orang kecil. 
 
  Anak kecil tidak bisa hidup tanpa orangtuanya. Ia tergantung sepenuhnya pada belas kasih orangtuanya. Demikian juga manusia yang memiliki sikap tobat. Dia akan menggantungkan seluruh hidupnya pada belas kasih Allah. Ia tergantung sepenuhnya pada Allah. Dengan rendah hati ia mengakui segala kelemahan dan dosanya dan senantiasa mengharapkan belas kasih dan kerahiman Allah. Ia pasrah kepada Allah.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (18:1-5)

"Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga."

Sekali peristiwa datanglah murid-murid kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Maria Francoise Therese Martin lahir di Alencon, Prancis pada tanggal 2 Januari 1873. Theresia adalah puteri bungsu dari keluarga saleh Louis Martin dan Azelie Guerin. Ayahnya seorang pembuat arloji di kota Alencon. Sepeninggal isterinya, ia bersama anak-anaknya pindah ke Lisieux. Kematian ibunya menimbulkan shock besar pada Theresia sebagai puteri bungsu. Terpaksa kakaknya, Pauline, menggantikan kedudukan ibunya untuk merawat dan memperhatikan perkembangannya.

Theresia sangat dikasihi ayahnya. Ia diberi macam-macam julukan: 'Theresia Kecil', 'Bungsu Kecil' dan 'Ratu Kecil'. Pada tahun 1881 sampai 1885, ia belajar di sekolah Suster-suster Benediktin. Ia sangat perasa dan cepat menangis sehingga teman-temannya tidak akrab dengannya. Ia semakin menjadi perasa sewaktu kakaknya Pauline masuk biara Karmelit di Lisieux pada bulan Oktober 1882. Theresia jatuh sakit karena keberangkatan Pauline itu. Theresia disembuhkan secara ajaib. Sementra kakak-kakaknya berlutut disamping tempat tidurnya untuk berdoa bagi kesembuhannya, patung Bunda Maria yang berada di depannya tiba-tiba tersenyum padanya. Penyakit itu hilang seketika meskipun sifat perasa masih tetap ada. Sifat itu baru mulai hilang karena nasehat ayahnya ketika mereka menghadiri upacara malam Natal tahun 1886. Semenjak itu, ia mulai semakin sadar akan keburukan dari sifatnya yang manja dan lekas tersinggung itu. Ia sadar bahwa ia sudah mulai remaja dan lebih dari itu bahwa sifat kekanak-kanakan itu tidak cocok bagi seorang wanita yang bercita-cita menjadi suster. Saat kesadarannya ini - kemudian dalam autobiografinya - disebutnya sebagai saat ber-rahmat yang mengawali kehidupannya yang baru. Katanya dalam buku itu: "Yesuslah yang merubah diriku."
 
Semenjak itu ia mulai sadar bahwa dirinya dipenuhi karunia Roh Kudus. Ia sadar pula bahwa dia harus mengabdikan seluruh-hidupnya kepada Tuhan. Kerinduannya untuk bersatu dengan Kanak-kanak Yesus sangatlah besar, dan karena itu di kemudian hari setelah ia digelari 'kudus', ia dinamai 'Theresia dari Kanak-kanak Yesus' dan Theresia dari Lisieux'. Kepada Yesus ia berjanji tidak akan pernah segan melakukan apa saja yang dikehendaki Tuhan dari padanya.
 
Kerinduannya itu terungkap dalam salah satu doanya berikut ini: "Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu! Anggap saja saya ini mainanMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silakan!' Dan kalau hendak Kautinggalkan di pojok kamar lantaran bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bola-Mu. . .O, Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu!" Inilah doa Theresia Martin kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya tetapi belum bisa disambutnya karena umurnya baru 7 tahun.
 
Orangtua Theresia baik sekali terhadapnya bersama saudara-saudaranya yang lain. Mereka semua - ada lima orang - menjadi suster. Betapa bahagia hati Theresia, ketika pada umur 12 tahun boleh menyambut Tubuh Yesus untuk pertama kalinya. Di hadapan sebuah salib, ia berjanji: "Yesus di kayu salib yang haus, saya akan 'memberikan air kepadaMu. Saya bersedia menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat." Pendosa pertama yang bertobat berkat doa Theresia ialah seorang penjahat kakap yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesal, namun akhirnya ia bertobat juga di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukuman.

Kerinduan Theresia yang begitu besar pada Yesus mendesak dia untuk menjalani kehidupan khusus sebagai seorang biarawati, mengikuti teladan 4 orang saudaranya yang sudah lebih dahulu menjadi suster. Tetapi ia belum bisa diterima karena umurnya baru 14 tahun. Ia tidak putus asa. Ia. berziarah ke Roma bersama orangtuanya. Dalam audiensi umum dengan Bapa Suci, ia dengan berani meminta izin khusus dari Bapa Suci untuk menjadi suster. Permintaannya itu dikabulkan dan dia boleh masuk biara pada umur 15 tahun. Ia diterima dalam biara Suster-suster Karmelit di Lisieux, Prancis. Kedua kakaknya sudah lebih dahulu di biara itu. Sembilan tahun lamanya, ia hidup sebagai suster biasa. Sebagaimana suster muda lainnya, ia melaksanakan tugas dan doa harian, harus mengatasi perasaan tersinggung, marah, rasa iri hati dan memerangi kebosanan serta bermacam ragam godaan lahir maupun batin. Untuk mencapai kesempurnaan hidup, ia memilih 'jalan sederhana' berdasarkan ajaran Kitab Suci: hidup selaku seorang anak kecil, penuh cinta dan iman kepercayaan akan Allah dan penyerahan diri yang total dengan perasaan gembira. Demi cita-cita itu, ia melakukan hal-hal kecil dan kewajiban-kewajiban sehari-hari dengan penuh tanggungjawab karena cinta kasihnya yang besar kepada Allah Bapa di surga.
 
Ia sedih sekali melihat banyak orang menyakiti hati Yesus dengan berbuat dosa dan tidak mau bertobat. Untuk mempertobatkan orangorang berdosa itu, ia mempersembahkan dirinya sebagai korban penyilih dosa-dosa. Ia rajin berdoa dan melakukan tapa bagi semua orang berdosa. Ia juga berdoa bagi para misionaris dan kemajuan Kerajaan Allah di seluruh dunia.

Theresia akhirnya menderita sakit paru-paru yang parah. Selama dua tahun lamanya ia menanggung beban penderitaan itu dengan gembira. Penyakit ini kemudian merengut nyawanya pada tanggal 30 September 1897 di biara Lisieux. Sebelum menghembuskan nafasnya, ia berjanji untuk menurunkan hujan mawar ke dunia. Janji ini benar terpenuhi karena banyak karunia Allah diberikan kepada semua orang yang berdoa dengan perantaraannya.

Theresia meninggal dunia dalam usia yang sangat muda, 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadinya yang ditulis atas permintaan ibu biara: "Kisah suatu Jiwa." Di dalamnya ia menunjukkan bahwa kesucian hidup dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa orang itu. Caranya ialah melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cintakasih yang murni kepada Tuhan. Theresia adalah seorang Suster Karmelit yang terkenal di Prancis pada abad 20. Pada tahun 1925, ia digelari sebagai 'santa' oleh Paus Pius XI (1922-1939) dan diangkat sebagai 'Pelindung Karya Misi Gereja'. Kemudian oleh Paus Pius XII (1939-1958), Theresia diangkat sebagai 'Pelindung Prancis'.     (imankatolik.or.id)
 
Antifon Komuni (lih. Mat 18:3)

Tuhan bersabda, "Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga."

Thus says the Lord: Unless you turn and become like children, you will not enter the Kingdom of Heaven.

Salam Damai Kristus
Selasa, 1 Oktober 2019, *St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus*

*BERTOBAT DAN MENJADI SEPERTI ANAK KECIL*

*BACAAN*
*Yes 66:10-14b* – “Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai”
*Mat 18:1-5* – “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”

*RENUNGAN*
1.Ketika Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk menyongsong kematian-Nya, para murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Pertanyaan yang salah, egois dan mau menampilkan kesombongan. Tentu tidak berkenan di hati Tuhan.  Kerajaan Allah dapat dibandingkan dengan sebuah Keluarga. Maka pertanyaan yang kiranya dikehendaki TUhan adalah: “Bagaimana aku menjadi anggota keluarga yang baik dan bertanggungjawab?”

2.Anak kecil menjadi model orang yang layak dalam Kerajaan Allah, karena sikapnya yang sederhana, tidak sombong, tidak ada tipu daya dan apa adanya, selalu percaya, menerima apa saja yang datang dari orang yang mencintainya. Pribadi seperti inilah yang akan mampu memandang Kristus. Kriteria seperti tersebut tidak terjadi begitu saja dalam diri setiap pengikut Kristus. Maka kita dituntut untuk selalu bertobat. Bertobat yang menghasilkan perubahan. Artinya: berbalik sama sekali atau berhenti total dari segala sesuatu yang berdosa, membangun relasi baru dengan Allah dan orang lain. Pertobatan merupakan syarat dasar untuk memiliki sikap seperti dikehendaki Tuhan agar kita memperoleh keselamatan.

3.Ketika semua orang berkompetisi untuk semakin menjadi besar, memiliki pengaruh dan semua fasilitas yang membuatnya aman dan tidak bergantung kepada yang lain, Gereja justru menyerukan semangat solidaritas sosial untuk membangun kebersamaan dan persekutuan kristiani. Seruan Gereja ini hanya bisa terwujud jika ada pertobatan di antara kita dan menganggap sesama sebagai anugerah.
🇮🇩MS,berkat.id🇮🇩
 ====================
*OKTOBER DISEBUT BULAN ROSARIO*

*Jawablah 2 pertanyaan di bawah ini:*
1. Mengapa bulan Oktober disebut *BULAN ROSARIO?*
2. Mengapa orang-orang Protestan *TIDAK* menghormati Bunda Maria seperti orang-orang Katolik?

Salam Damai Kristus
Mei dan Oktober sebagai bulan Maria

Secara tradisi, Gereja Katolik mendedikasikan bulan- bulan tertentu untuk devosi tertentu. Bulan Mei yang sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara- negara empat musim mengalami musim semi atau musim kembang. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa yang Baru. Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20). Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja.
Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria semakin dikenal, dan ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/ Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja universal.
Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1)
Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 3 abad sebelumnya, yaitu ketika terjadi pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.
Demikianlah sekilas mengenai mengapa bulan Mei dan Oktober dikhususkan sebagai bulan Maria. Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman.

Sumber : katolisitas.org
Doa Selasa
01 Oct 2019
By : Team Moderator DSM

Doa untuk Orang Muda

Tuhan Yesus,
kami bersyukur bahwa Engkau menghargai
dan mengasihi anak-anak di saat orang-
orang berpikir bahwa mereka tidak bernilai.
Terima kasih Kepada-Mu sebab hari ini sikap
orang terhadap anak-anak telah berubah.

Kami bersyukur untuk anak-anak dan orang-
orang muda dalam hidup kami dan keingin-
tahuan, energi dan imajinasi mereka yang
tiada terbatas. Terima kasih untuk
kejelasan di mana mereka melihat
ketidak-adilan di dalam dunia.

Kami berdoa untuk sebuah dunia di waktu
yang akan datang di mana semua anak-anak
dan orang-orang muda merasa aman,
berharga dan diperhitungkan. Kami berdoa
agar suara mereka didengarkan oleh
orang-orang dewasa.

Kami berdoa untuk anak-anak dan orang
muda yang sudah tidak tahan tekanan yang
mereka terima di rumah dan melarikan diri
dari rumah mereka, supaya Tuhan melindungi
mereka dari segala mara-bahaya. Juga semoga
mereka dapat menemukan penyelesaian
untuk masalah-masalah yang mereka hadapi.

Kami berdoa untuk para pekerja sosial yang
berusaha membantu anak-anak dan orang-
orang muda ini, agar Tuhan mengaruniakan
kesabaran dan cinta kasih serta hikmat dalam
mendampingi mereka.

Berikanlah kekuatan dan penghiburan kepada
mereka, di saat mereka butuhkan.

Dalam nama Yesus kami berdoa.
Amin.

„Dan barangsiapa menyambut seorang anak
seperti ini dalam nama-Ku, Ia menyambut
Aku.“
– *Mat. 18:5*

Salam Damai Kristus
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Selasa,_ *01 Oktober 2019*

*Pesta St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus*

Yes 66:10-14c
Mzm 131:1-3
Mat 18:1-5

*MELEKAT PADA CINTA TUHAN*

_....sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  -- Mat 18:3_

Ketika anak saya berusia dua tahun, ia membuat suatu kesalahan tetapi ia menyadarinya. Iapun langsung meminta maaf dan memohon supaya tidak dihukum. Saya memaklumi dan memaafkannya. Iapun tidak berpikir untuk melakukannya lagi. Saya yakin, tak ada pikiran bahwa tidak apa-apa ia mengulangi kesalahannya, karena saya pasti tetap menyayanginya.

Berbeda dengan orang dewasa yang telah mampu berpikir lebih kompleks, termasuk "bernegosiasi" dengan Tuhan. Saat melakukan sesuatu yang salah di mata Tuhan, bersikap seolah tidak apa-apa karena Tuhan pasti mengampuni. Toh, nanti akan ada waktu untuk mengaku dosa jadi santai saja. Berdosa dulu, bertobat belakangan. Ini adalah ciri-ciri yang hanya ada pada orang dewasa.

Anak kecil tidak punya pemikiran seperti itu. Anak kecil cenderung lebih memikirkan hubungannya dengan orang tua daripada bernegosiasi melakukan kesalahan lagi. Ia tahu orang tuanya tidak suka dengan kesalahan yang dilakukannya. Anak kecil yang sangat bergantung pada cinta kasih orang tua tidak akan mau lepas dari cinta kasih tersebut demi dosa. Sekalipun anak yang nakal, ia tetap tidak bisa lepas dari kebutuhan tersebut.

Seperti anak kecil yang selalu ingin melekat pada orang tuanya, marilah kita yang telah dewasa juga tidak "bernegosiasi" dengan Tuhan tentang dosa. Sungguh-sungguhlah bertobat. Kita membutuhkan cinta Tuhan dan sangat bergantung kepada rahmat-Nya bagi kehidupan kita sehari-hari. (Aw)

_Apakah dosa seringkali membuat saya melepaskan cinta Tuhan?_

Salam Damai Kristus
Santo Santa 01 Oktober.

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus,

 Perawan dan Pelindung Karya Misi

Maria Francoise Therese Martin lahir di Alencon, Prancis pada tanggal 2 Januari 1873. Theresia adalah puteri bungsu dari keluarga saleh Louis Martin dan Azelie Guerin. Ayahnya seorang pembuat arloji di kota Alencon. Sepeninggal isterinya, ia bersama anak-anaknya pindah ke Lisieux. Kematian ibunya menimbulkan shock besar pada Theresia sebagai puteri bungsu. Terpaksa kakaknya, Pauline, menggantikan kedudukan ibunya untuk merawat dan memperhatikan perkembangannya.
Theresia sangat dikasihi ayahnya. Ia diberi macam-macam julukan: 'Theresia Kecil', 'Bungsu Kecil' dan 'Ratu Kecil'. Pada tahun 1881 sampai 1885, ia belajar di sekolah Suster-suster Benediktin. Ia sangat perasa dan cepat menangis sehingga teman-temannya tidak akrab dengannya. Ia semakin menjadi perasa sewaktu kakaknya Pauline masuk biara Karmelit di Lisieux pada bulan Oktober 1882. Theresia jatuh sakit karena keberangkatan Pauline itu. Theresia disembuhkan secara ajaib. Sementra kakak-kakaknya berlutut disamping tempat tidurnya untuk berdoa bagi kesembuhannya, patung Bunda Maria yang berada di depannya tiba-tiba tersenyum padanya. Penyakit itu hilang seketika meskipun sifat perasa masih tetap ada. Sifat itu baru mulai hilang karena nasehat ayahnya ketika mereka menghadiri upacara malam Natal tahun 1886. Semenjak itu, ia mulai semakin sadar akan keburukan dari sifatnya yang manja dan lekas tersinggung itu. Ia sadar bahwa ia sudah mulai remaja dan lebih dari itu bahwa sifat kekanak-kanakan itu tidak cocok bagi seorang wanita yang bercita-cita menjadi suster. Saat kesadarannya ini - kemudian dalam autobiografinya - disebutnya sebagai saat ber-rahmat yang mengawali kehidupannya yang baru. Katanya dalam buku itu: "Yesuslah yang merubah diriku."
Semenjak itu ia mulai sadar bahwa dirinya dipenuhi karunia Roh Kudus. Ia sadar pula bahwa dia harus mengabdikan seluruh-hidupnya kepada Tuhan. Kerinduannya untuk bersatu dengan Kanak-kanak Yesus sangatlah besar, dan karena itu di kemudian hari setelah ia digelari 'kudus', ia dinamai 'Theresia dari Kanak-kanak Yesus' dan Theresia dari Lisieux'. Kepada Yesus ia berjanji tidak akan pernah segan melakukan apa saja yang dikehendaki Tuhan dari padanya.
Kerinduannya itu terungkap dalam salah satu doanya berikut ini: "Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu! Anggap saja saya ini mainanMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silakan!' Dan kalau hendak Kautinggalkan di pojok kamar lantaran bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bolaMu. . .O, Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu!" Inilah doa Theresia Martin kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya tetapi belum bisa disambutnya karena umurnya baru 7 tahun.
Orangtua Theresia baik sekali terhadapnya bersama saudara-saudaranya yang lain. Mereka semua - ada lima orang - menjadi suster. Betapa bahagia hati Theresia, ketika pada umur 12 tahun boleh menyambut Tubuh Yesus untuk pertama kalinya. Di hadapan sebuah salib, ia berjanji: "Yesus di kayu salib yang haus, saya akan 'memberikan air kepadaMu. Saya bersedia menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat." Pendosa pertama yang bertobat berkat doa Theresia ialah seorang penjahat kakap yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesal, namun akhirnya ia bertobat juga di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukuman.
Kerinduan Theresia yang begitu besar pada Yesus mendesak dia untuk menjalani kehidupan khusus sebagai seorang biarawati, mengikuti teladan 4 orang saudaranya yang sudah lebih dahulu menjadi suster. Tetapi ia belum bisa diterima karena umurnya baru 14 tahun. Ia tidak putus asa. Ia. berziarah ke Roma bersama orangtuanya. Dalam audiensi umum dengan Bapa Suci, ia dengan berani meminta izin khusus dari Bapa Suci untuk menjadi suster. Permintaannya itu dikabulkan dan dia boleh masuk biara pada umur 15 tahun. Ia diterima dalam biara Suster-suster Karmelit di Lisieux, Prancis. Kedua kakaknya sudah lebih dahulu di biara itu. Sembilan tahun lamanya, ia hidup sebagai suster biasa. Sebagaimana suster muda lainnya, ia melaksanakan tugas dan doa harian, harus mengatasi perasaan tersinggung, marah, rasa iri hati dan memerangi kebosanan serta bermacam ragam godaan lahir maupun batin. Untuk mencapai kesempurnaan hidup, ia memilih 'jalan sederhana' berdasarkan ajaran Kitab Suci: hidup selaku seorang anak kecil, penuh cinta dan iman kepercayaan akan Allah dan penyerahan diri yang total dengan perasaan gembira. Demi cita-cita itu, ia melakukan hal-hal kecil dan kewajiban-kewajiban sehari-hari dengan penuh tanggungjawab karena cinta kasihnya yang besar kepada Allah Bapa di surga.
Ia sedih sekali melihat banyak orang menyakiti hati Yesus dengan berbuat dosa dan tidak mau bertobat. Untuk mempertobatkan orangorang berdosa itu, ia mempersembahkan dirinya sebagai korban penyilih dosa-dosa. Ia rajin berdoa dan melakukan tapa bagi semua orang berdosa. Ia juga berdoa bagi para misionaris dan kemajuan Kerajaan Allah di seluruh dunia.
Theresia akhirnya menderita sakit paru-paru yang parah. Selama dua tahun lamanya ia menanggung beban penderitaan itu dengan gembira. Penyakit ini kemudian merengut nyawanya pada tanggal 30 September 1897 di biara Lisieux. Sebelum menghembuskan nafasnya, ia berjanji untuk menurunkan hujan mawar ke dunia. Janji ini benar terpenuhi karena banyak karunia Allah diberikan kepada semua orang yang berdoa dengan perantaraannya.
Theresia meninggal dunia dalam usia yang sangat muda, 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadinya yang ditulis atas permintaan ibu biara: "Kisah suatu Jiwa." Di dalamnya ia menunjukkan bahwa kesucian hidup dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa orang itu. Caranya ialah melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cintakasih yang murni kepada Tuhan. Theresia adalah seorang Suster Karmelit yang terkenal di Prancis pada abad 20. Pada tahun 1925, ia digelari sebagai 'santa' oleh Paus Pius XI (1922-1939) dan diangkat sebagai 'Pelindung Karya Misi Gereja'. Kemudian oleh Paus Pius XII (1939-1958), Theresia diangkat sebagai 'Pelindung Prancis'.

Sumber : www.imankatolik.or.id

Minggu, 29 September 2019

Kencan Dengan Tuhan
Senin, 30 September 2019

Bacaan: Yehezkiel 44:30 "Dan yang terbaik dari buah sulung apa pun dan segala persembahan khusus dari apa pun, dari segala persembahan khususmu adalah bagian imam-imam; juga yang terbaik dari tepung jelaimu harus kamu berikan kepada imam supaya rumah-rumahmu mendapat berkat."

Renungan:
  Ketika Dr. Ironside masih anak-anak, hari libur dan sepulang sekolah ia gunakan untuk bekerja membantu ibunya yang hidup menjanda. Ia bekerja pada seorang pembuat sepatu yang mengasihi Tuhan. Pekerjaan Ironside di toko itu adalah mengukur kulit dengan teliti, memotong serta merendam di dalam air kemudian memukul-mukulnya sampai kulit tersebut menjadi keras dan kering. Proses pembuatan sol sepatu ini cukup melelahkan, namun ia tetap melakukan pekerjaannya dengan baik.
  Suatu hari, ia memerhatikan seorang pekerja yang tidak mengikuti prosedur pembuatan sol sepatu tersebut. Agar lebih mudah dan mempercepat pekerjaannya, pekerja itu langsung saja memaku sol sepatu padahal belum kering. Pekerja itu berkata, "Lagi pula kalau sol sepatu ini cepat rusak, dengan sendirinya mereka akan cepat kembali lagi ke toko kita." Mendengar itu, pemilik toko menjelaskan, "Saya tidak bekerja hanya sekadar untuk mendapatkan 50 atau 75 sen dari para pelanggan. Saya hanya melakukan pekerjaan ini untuk kemuliaan nama Tuhan. Di sorga nanti saya tidak ingin Tuhan berkata, "Sungguh pekerjaan yang buruk, engkau tidak melakukan yang terbaik."
  Marilah kita kembali belajar mempersembahkan seluruh hidup kita hanya yang terbaik bagi Tuhan, sehingga pada saat kita bertemu dengan Tuhan nanti, Dia akan menyanjung dan memuji perbuatan baik kita. Tuhan memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, berilah aku hikmat untuk dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang telah Kau percayakan padaku dengan baik. Sadarkanlah aku bahwa pertama-tama aku harus bertanggung jawab di hadapanMu untuk setiap pekerjaan yang aku lakukan. Oleh karena itu mampukan aku untuk menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik demi kemuliaan namaMu. Amin. (Dod)

Salam Damai Kristus
Doa Senin
30 Sept 2019
By : Team Moderator

Doa untuk Dunia

Allah yang Maha Kuasa, Pencipta dan
Pengatur alam semesta. Kami datang kepada-
Mu untuk membawakan keadaan dunia di
mana kami berada dan berharap terjadi
pemulihan bumi milik-Mu.

Kami berdoa untuk kelumpuhan resolusi
politik, ekonomi dan sosial dan ketidakpastian
yang mempengaruhi Inggris dan Eropa karena
isu Brexit.

Kami berdoa untuk penduduk Bahamas, yang
memerlukan jalan yang panjang untuk
pemulihan kehidupan setelah diporak-
porandakan oleh badai Dorian dan kebutuhan
pertolongan yang tiada akhirnya.

Kami juga mengangkat hati kami dalam doa
untuk Bermuda yang menghancurkan 80%
pulau tersebut.

Kami juga berdoa untuk tempat-tempat di
dunia yang sedang terbakar, termasuk Brasil,
Bolivia dan Indonesia.

Juga berdoa bagi gerakan demonstrasi untuk
perubahan iklim global di berbagai belahan
dunia agar pemerintah-pemerintah dunia
dapat menghasilkan keputusan-keputusan
politik yang menghambat kerusakan
lingkungan yang lebih lanjut.

Kami juga mengingat untuk serangan ladang
minyak di Arab Saudi agar tidak terjadi
eskalasi dengan Iran sehingga terjadi
peperangan.

Kami ingat juga serangan-serangan terhadap
warga sipil di Afghanistan dan Syria.
Kami berdoa untuk perlindungan dan
pemeliharaan bagi orang-orang yang
berusaha menolong mereka yang
terluka dan rentan.

Dengarkanlah seruan kami ya, Tuhan!
Amin.

„Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap;
Engkaulah yang menjawab, ya Tuhan,
Allahku.“.
– *Mzm. 38:16*

Salam Damai Kristus
Saat semua...
IA akan menghapus...
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Senin,_ *30 September 2019*

*St. Hieronimus*

Za 8:1-8
Mzm 102: 16-21,29,22-23
Luk 9:46-50

*HATI ANAK KECIL*

_Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.  -- Luk 9:48_

Membesarkan anak merupakan hal yang cukup menantang bagi saya. Bukan karena saya tidak mau repot, melainkan karena saya dibesarkan tanpa diajari ilmu tentang _parenting,_ sehingga saya harus belajar dan mempraktekkannya sendiri. Mereka yang ikut aktif membesarkan adik mereka, pasti lebih mengerti tentang perkembangan seorang anak.

Dalam mendidik anak, saya menemukan perbedaan yang sangat jauh antara orang dewasa dengan anak kecil. Anak kecil itu polos, rendah hati, mudah diajari sesuatu, dan sangat tergantung kepada  orang tuanya. Anak kecil suka disayang. Tak heran jika Yesus mengambil seorang anak sebagai teladan.

Yesus sendiri pernah melewati proses sebagai seorang anak, sehingga Ia tahu betul seorang anak itu seperti apa. Ia sering mengatakan agar kita menjadi seperti anak kecil, yang artinya Yesus meminta kita untuk bersikap rendah hati seperti seorang anak kecil, yang selalu bisa diajari, diingatkan, tidak sombong, dan selalu bergantung kepada Bapa.

Orang dewasa yang sudah mandiri secara otomatis tidak lagi bergantung kepada orang tuanya. Seperti itulah diri kita yang tidak lagi bergantung kepada Bapa, bebal dan tidak bisa diajari, merasa diri paling benar, tidak bisa ditegur, dan sombong. Karena itulah Yesus meminta kita meneladani hati anak kecil dan merefleksikannya dalam hidup kita. (Aw)

_Apakah hidup saya sungguh bergantung kepada Bapa sepenuhnya?_

Salam Damai Kristus
Berhenti tidak percaya...
Senin, 30 September 2019, *St. Hieronimus*

(RENDAH HATI, TOLERAN, DAN TERUS MELAYANI*

*BACAAN*
*Zakaria 8:1-8* – “Aku akan menyelamatkan umat-Ku dari timur sampai ke barat”
*Mzm 102:17* – “Tuhan sudah membangun Sion dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya”
*Luk 9:46-50* – “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar”

*RENUNGAN*
1.Berebut siapa yang paling besar, paling hebat, dan paling berjasa merupakan hal yang biasa dan manusiawi, bahkan di antara umat Allah sendiri. Kita, seringkali, merasa diri sebagai sekelompok umat yang dipilih Tuhan dan menganggap diri lebih baik atau lebih suci dibanding dengan orang-orang yang beragama lain. Sikap sombong demikian sungguh tidak dikehendaki Tuhan. Kalau para murid memperhatikan Sang Guru, pastilah mereka, dan kita, tahu bahwa mewartakan Kabar Baik bukanlah usaha untuk meraih prestise dan pengakuan dari orang lain atau para pemimpin Gereja. Menjadi murid Kristus berarti memiliki sikap rendah hati dan melayani.

2.Para murid tidak mendengarkan dan menanggapi apa yang dikatakan Yesus, malah melaporkan kepada-Nya karena terganggu dengan orang lain yang bukan kelompok mereka tetapi mengusir setan demi nama Yesus. Merasa diri sebagai kelompok eksklusif, sebagai kelompok yang dipilih khusus oleh Yesus, mereka tidak terbuka dan tidak toleran. Bagi Yesus, yang penting adalah buah yang dihasilkan (Mat 7:16), bukan siapa yang melakukan, dan kita harus bisa melihat nilai-nilai positip dan buah-buah yang dihasilkan oleh orang lain. Ini yang sulit.

3.Dalam diri kita selalu saja ada kecenderungan untuk menjadi yang paling besar dan paling baik. Namun sekarang, kita harus memandangnya dengan kaca mata iman, yang berarti menjadi besar di dalam rencana Allah. Untuk itulah Yesus menghadirkan anak kecil dan meminta para murid menyambut mereka yang kecil. Tuhan berkata: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Penginjil Matius menulis: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk AKu” (Mat 25:40). Menjadi besar dalam rencana Allah dimulai dengan sikap terbuka dan toleran kepada sesama, dengan kepedulian dan kemurahan hati.
🇮🇩MS🇮🇩

Salam Damai Kristus
#renungan

*LIHAT! PERCAYA! BERTOBAT!*

Senin 30 Sep 2019

_`Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung` (Mat 11:21)_

Yesus telah melakukan banyak mujizat sambil berkeliling di daerah orang Yahudi, umat pilihan Allah sendiri. Betapa Dia berharap agar lewat mujizat-mujizat, umat pilihan ini membuka mata, melihat mujizat-mujizat-Nya, dan bertobat menjadi anak-anak kerajaan Allah yang sejati.

Yesus sendiri tidak membutuhkan mujizat apa-apa karena Dia Anak Allah dan Dia percaya 100% kepada Allah dan Kerajaan-Nya. Dia datang untuk mewartakan Kerajaan Allah. A.l. dengan melakukan mujizat-mujizat untuk manusia dan mengundang umat pilihan-Nya untuk bertobat. Sayang sekali, mujizat Yesus yang banyak dan dahsyat tetap tidak membuka mata mereka untuk melihat kehadiran Allah dan Kerajaan-Nya, bertobat, dan membuat pilihan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menjadi anak-anak Allah. Mereka tetap memilih untuk hidup menurut cara lama, di luar Kerajaan Allah. Tidak heranlah Yesus merasa sedih, kesal, dan berkata, `Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung` (Mat 11:21c).

Apakah Yesus juga merasa sedih dan kesal terhadap kita karena kita `buta` dan tetap tidak peka terhadap mujizat-mujizat kasih-Nya dalam hidup kita? Apakah kita sudah serius dalam penghayatan kita sebagai anak Kerajaan Allah?

Yesus, celikkanlah mata hatiku untuk melihat mujizatmujizat-Mu dalam hidupku.

*_Sr. Maximilliane S., P.Karm_*

Senin 30 Sep 2019
Pw S. Hieronimus,Imam dan Pujangga Gereja
Kej 19:15-29; Mzm 26:2-3.9-12; Mat 8:23-27

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
Santo Santa 30 September

St. Hieronimus

St. Hieronimus adalah seorang Kristen Romawi yang hidup pada abad keempat. Ayahnya mengajarkan agama dengan baik kepadanya, tetapi mengirim Hieronimus ke sebuah sekolah kafir yang terkenal. Di sekolah tersebut, Hieronimus mulai menyukai tulisan-tulisan kafir dan cintanya kepada Tuhan mulai luntur. Namun demikian, persahabatannya dengan sekelompok orang-orang Kristiani yang kudus, yang menjadi sahabat-sahabat dekatnya, membuatnya berbalik kembali sepenuhnya kepada Tuhan.

Kemudian, anak muda yang cerdas ini memutuskan untuk tinggal menyendiri di padang gurun. Hieronimus khawatir kalau-kalau kesenangannya akan tulisan-tulisan kafir akan menjauhkannya dari cinta Tuhan. Hieronimus melakukan laku silih yang keras dan membiarkan dirinya terbakar panas terik padang gurun. Meskipun begitu, di sana pun Hieronimus mengalami pencobaan-pencobaan yang hebat. Hiburan-hiburan tak sehat yang diselenggarakan di Roma senantiasa segar dalam bayangan serta pikirannya. Walaupun demikian, Hieronimus pantang menyerah. Ia memperberat laku silihnya serta menangisi dosa-dosanya. Ia juga belajar bahasa Ibrani dengan seorang rahib sebagai gurunya. Hal tersebut dilakukannya untuk menghindarkan diri dari pikiran-pikiran kotor yang menghantui pikirannya. Hieronimus menjadi seorang sarjana Ibrani yang hebat sehingga kelak ia dapat menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. Oleh karena karyanya itu, banyak orang dapat membaca serta mencintai Kitab Suci.

St. Hieronimus menghabiskan berpuluh tahun hidupnya di sebuah gua kecil di Betlehem, di mana Yesus dilahirkan. Di sana ia berdoa, mempelajari Kitab Suci, serta mengajar banyak orang bagaimana melayani Tuhan. St. Hieronimus menulis banyak surat yang mengagumkan dan bahkan juga buku-buku untuk mempertahankan iman Kristiani dari serangan kaum bidaah.   

Perangainya yang cepat marah dan lidahnya yang tajam membuat St. Hieronimus mempunyai banyak musuh. Namun demikian, ia seorang yang amat kudus yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani Yesus dengan cara terbaik yang mampu ia lakukan. Jadi, meskipun pemarah, ia menjadi seorang kudus yang besar. St. Hieronimus wafat pada tahun 419 atau 420.

“Menjadi seorang Kristen adalah hal yang luar biasa, bukan hanya seolah-olah tampak luar biasa. Dan oleh karena satu dan lain hal, mereka yang paling menyenangkan bagi dunia adalah mereka yang paling sedikit menyenangkan Kristus …. Kekristenan dibentuk, dan bukan bakat yang diwariskan.”
St. Hieronimus.

Sumber : yesaya.indocell.net
Santo Santa 30 September

St. Hieronimus

St. Hieronimus adalah seorang Kristen Romawi yang hidup pada abad keempat. Ayahnya mengajarkan agama dengan baik kepadanya, tetapi mengirim Hieronimus ke sebuah sekolah kafir yang terkenal. Di sekolah tersebut, Hieronimus mulai menyukai tulisan-tulisan kafir dan cintanya kepada Tuhan mulai luntur. Namun demikian, persahabatannya dengan sekelompok orang-orang Kristiani yang kudus, yang menjadi sahabat-sahabat dekatnya, membuatnya berbalik kembali sepenuhnya kepada Tuhan.

Kemudian, anak muda yang cerdas ini memutuskan untuk tinggal menyendiri di padang gurun. Hieronimus khawatir kalau-kalau kesenangannya akan tulisan-tulisan kafir akan menjauhkannya dari cinta Tuhan. Hieronimus melakukan laku silih yang keras dan membiarkan dirinya terbakar panas terik padang gurun. Meskipun begitu, di sana pun Hieronimus mengalami pencobaan-pencobaan yang hebat. Hiburan-hiburan tak sehat yang diselenggarakan di Roma senantiasa segar dalam bayangan serta pikirannya. Walaupun demikian, Hieronimus pantang menyerah. Ia memperberat laku silihnya serta menangisi dosa-dosanya. Ia juga belajar bahasa Ibrani dengan seorang rahib sebagai gurunya. Hal tersebut dilakukannya untuk menghindarkan diri dari pikiran-pikiran kotor yang menghantui pikirannya. Hieronimus menjadi seorang sarjana Ibrani yang hebat sehingga kelak ia dapat menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. Oleh karena karyanya itu, banyak orang dapat membaca serta mencintai Kitab Suci.

St. Hieronimus menghabiskan berpuluh tahun hidupnya di sebuah gua kecil di Betlehem, di mana Yesus dilahirkan. Di sana ia berdoa, mempelajari Kitab Suci, serta mengajar banyak orang bagaimana melayani Tuhan. St. Hieronimus menulis banyak surat yang mengagumkan dan bahkan juga buku-buku untuk mempertahankan iman Kristiani dari serangan kaum bidaah.   

Perangainya yang cepat marah dan lidahnya yang tajam membuat St. Hieronimus mempunyai banyak musuh. Namun demikian, ia seorang yang amat kudus yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani Yesus dengan cara terbaik yang mampu ia lakukan. Jadi, meskipun pemarah, ia menjadi seorang kudus yang besar. St. Hieronimus wafat pada tahun 419 atau 420.

“Menjadi seorang Kristen adalah hal yang luar biasa, bukan hanya seolah-olah tampak luar biasa. Dan oleh karena satu dan lain hal, mereka yang paling menyenangkan bagi dunia adalah mereka yang paling sedikit menyenangkan Kristus …. Kekristenan dibentuk, dan bukan bakat yang diwariskan.”
St. Hieronimus.

Sumber : yesaya.indocell.net

Sabtu, 28 September 2019

#renungan

*KEPEDULIAN*

Minggu 29 Sep 2019

_`Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita` (Luk 16:25)_

Perjanjian Lama menggambarkan Allah sebagai pencipta dan pemberi segala sesuatu. Semua pemberian Allah (bdk. Kej 1:31). Kitab Suci menggambarkan kekayaan sebagai hasil dari usaha yang diberkati (bdk. Ams 10:22) atau usaha serius dari seseorang (bdk. Ams 10:4). Di lain pihak, juga disebutkan bahwa kekayaan material bukanlah sesuatu yang kekal, bukan pula kemuliaan, tetapi sesuatu yang diciptakan Allah dan berasal dari Allah.

Penggunaan kekayaan tanpa cintakasih kepada sesama tentu merupakan sebuah kekeliruan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Tuhan kepada mereka yang menjadi penikmat kekayaan, yaitu hidup dalam kemewahan, tanpa memedulikan rakyatnya atau sesama. Mereka yang hidup dengan cara demikian akan memetik hukuman (bdk. Am 16:1a.4-7). Tidaklah mengherankan peristiwa yang menimpa orang kaya dalam Injil Lukas. Setelah meninggal, ia mengalami kesengsaraan abadi. Keadaan itu dialaminya tidak karena ia kaya, tetapi karena memakai kekayaannya secara egois, tanpa mempedulikan orang lain.

Untuk itu, kita perlu belajar menggunakan kekayaan secara benar. Sikap pembelajaran ini dapat dilakukan dengan mendengarkan Sabda Allah dan Ajaran Gereja. Di dalamnya orang memperoleh petunjuk untuk berperilaku secara baik terhadap harta yang dimilikinya.

*_Rm. Hubertus Maria, CSE_*

Minggu 29 Sep 2019
Hari Minggu Biasa XXVI
Am 6:1.4-7; Mzm 146:7-10 .1Tim 6:11-16; Luk 16:19-31

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
Minggu, 29 September 2019
Hari Minggu Biasa XXVI
Am. 6:1a,4-7; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31.

Bacaan Injil hari ini menampilkan tiga tokoh: si miskin, si kaya, dan Bapa Abraham. Si miskin memiliki nama, yakni Lazarus (bukan Lazarus saudara Martha dan Maria), tetapi tidak memiliki suara. Dalam seluruh kisah Injil, ia diam, sama sekali tidak berbicara. Ia juga tidak punya sahabat. Satu-satunya sahabat hanyalah anjing-anjing yang selalu datang untuk menjilati boroknya. Sebaliknya, si kaya tidak memiliki nama, tetapi banyak bicara. Dalam diskusinya dengan Abraham, ia selalu berusaha untuk beragumen dan membenarkan diri. Sementara Abraham adalah bapa dari keduanya, baik si miskin maupun si kaya. Setelah hidup keduanya di dunia ini berakhir, Bapa Abraham merengkuh si miskin Lazarus dalam pangkuannya. Terhadap si kaya yang harus menderita di alam maut, Bapa Abraham sebenarnya merasa kasihan. Ia tetap memanggilnya "anak", namun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
Sekarang kita fokuskan permenungan kita pada si miskin dan si kaya. Si miskin diberi nama Lazarus. Nama ini memiliki arti: "Allah menolong". Dengan demikian, perumpamaan ini mengajarkan kepada kita bahwa melalui orang miskin (Lazarus), Allah menolong orang kaya untuk mendapatkan keselamatan. Sebagaimana telah disampaikan, dalam perumpamaan ini si kaya tersebut tidak diberi nama. Bisa jadi, nama kita masing-masing, cocok untuk dikenakan pada si kaya itu. Pesannya lalu menjadi sangat jelas: pada saat kita masih hidup seperti sekarang ini, kita diajak untuk belajar dari kisah perumpamaan ini. Meskipun Allah mendatangkan pertolongan kepada si kaya untuk mendapatkan keselamatan, namun pada akhirnya ia gagal mendapatkannya. Mengapa? Karena ia menutup pintu hatinya terhadap si miskin. Kita tentunya tidak mau mengalami nasib yang sama dengan si kaya tersebut. Oleh karena itu, marilah kita meningkatkan kepedulian dan solidaritas kita, terutapa pada saudara/saudari kita yang kurang beruntung dan berkekurangan. Meskipun mungkin kita bukan termasuk orang yang kaya dalam arti berkelimpahan, tetapi pasti ada sesuatu yang kita miliki, yang dapat kita bagikan kepada saudara/saudari kita itu. Kita ingat, Tuhan Yesus sendiri menegaskan: "Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat 25,40).

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus
*MINGGU, 29 SEPTEMBER 2019*

Bacaan Liturgi

Hari Minggu Biasa XXVIÊ

Bacaan Injil
Luk 16:19-31

Engkau telah menerima segala yang baik,
sedangkan Lazarus segala yang buruk. 
Sekarang ia mendapat penghiburan dan engkau sangat menderita.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Sekali peristiwa
Yesus berkata kepada orang-orang Farisi,
"Ada seorang kaya
yang selalu berpakaian jubah ungu dari kain halus,
dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus,
badannya penuh dengan borok.
Ia berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
dan ingin menghilangkan laparnya
dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.
Malahan anjing-anjing datang dan menjilati boroknya.

Kemudian matilah orang miskin itu,
lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur.
Sementara menderita sengsara di alam maut,
ia memandang ke atas,
dan dari jauh dilihatnya Abraham,
dan Lazarus duduk di pangkuannya.
Lalu ia berseru, 'Bapa Abraham, kasihanilah aku.
Suruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air
dan menyejukkan lidahku,
sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.'

Tetapi Abraham berkata, 'Anakku, ingatlah!
Engkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu,
sedangkan Lazarus segala yang buruk.
Sekarang ia mendapat penghiburan dan engkau sangat menderita.
Selain daripada itu,
di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi,
sehingga mereka yang mau pergi dari sini kepadamu
ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami
tidak dapat menyeberang!'
Kata orang itu,
'Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapa,
supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
sebab masih ada lima orang saudaraku,
supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh,
agar mereka kelak jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini.'
Tetapi kata Abraham,
'Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi;
baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu!'
Jawab orang itu, 'Tidak, Bapa Abraham!
Tetapi jika ada seorang
yang datang dari antara orang mati kepada mereka,
mereka akan bertobat.'
Kata Abraham kepadanya,
'Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi,
mereka tidak juga akan mau diyakinkan,
sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati'."

Demikianlah Injil Tuhan.
=======================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                                          Minggu, 29 September 2019                                                                                                              RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Sikap Ingat Diri Akan Menghantar Jiwa Kita Ke Neraka!*                                                                 Lukas 16: 19 - 31

Saudara-saudari… Kalau kita ikuti secara sepintas kehidupan orang kaya dan Lazarus yang miskin dalam ceritera Injil hari ini, ada kesan bahwa si kaya ini baik-baik saja. Dia tidak pernah marah atau mengusir Lazarus dari pintu rumahnya. Dia membiarkan Lazarus baring di pintu rumahnya. Dari sudut agama, dia pun tetap menghayati hukum agamanya, yaitu menjauhkan diri dari orang miskin dan sakit parah, apalagi kalau badannya penuh borok dan berbau agar jangan tercemar oleh dosa. Karena menurut konsep dan tradisi agama Yahudi, bahwa mereka yang sakit dan miskin dikutuk Allah karena dosa yang dibuatnya. Jadi orang kaya ini tidak mau berkomunikasi dan membantu Lazarus karena takut akan tercemar oleh dosanya. Tetapi Injil berkata lain. Pada pengadilan terakhir, orang kaya ini dibuang ke dalam Neraka.
Apa sesungguhnya dosa yang sudah dibuat oleh orang kaya ini, sampai ia dibuang ke dalam Neraka di hari akhirat? Dosa yang dibuatnya adalah dosa ingat diri dan tidak peduli dengan penderitaan orang lain. Injil katakan bahwa dia selalu berpakaian ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan, sementara Lazarus yang miskin itu menderita kelaparan dan kesakitan. Ketidak pedulian terhadap sesama adalah dosa. Itulah dosa orang kaya menurut Yesus. 

Satu ajaran untuk kita semua, supaya selalu sensitip terhadap orang yang menderita. Kalau ada orang sakit di depan mata kita, jangan biarkan orang itu menderita sendirian, tetapi coba dekatilah dia dan berilah dia sedikit bantuan. Ingat St. Theresia dari Kalkuta, ia selalu memungut orang yang menderita di jalan dan membawanya ke rumah dan merawatnya sampai sembuh atau menguburnya kalau orangnya mati.

Pada suatu waktu saya mendapat satu video clip, yang dikirim oleh teman. Dalam video clip itu seorang pemuda duduk makan di dalam restoran. Selagi ia makan, terlihat seorang ibu miskin dengan anaknya berjalan mendekati restoran itu. Mereka berjalan pelan-pelan mendekati restoran itu. Pemuda itu memandang mereka dengan penuh perhatian. Wajah kedua insan miskin ini pucat dan kurus. Ada kesan, bahwa keduanya sangat lapar. Sang pemuda langsung memesan dua piring makanan dan menyimpan dua piring itu di meja makanya. Kemudian dia keluar, mengajak keduanya masuk dan persilahkan duduk di kursi satu meja makan dengannya. Kedua insan ini terheran-heran dan saling memandang. Selagi mereka makan, sang pemuda meminta diri pamit karena jam kantor sudah semakin dekat. Keduanya ucapkan terima kasih sambil gugurkan air mata sebagai tanda sukacita. Mereka diperhatikan dan dilayani dengan penuh kasih.

Marilah saudara saudari, hayatilah apa yang sudah diajarkan Kristus kepada kita. “Sewaktu Aku lapar, kamu beri Aku makan; sewaktu Aku sakit, kamu melawati Aku dst.” Pada pengadilan terakhir karya amal kita akan diputar ulang. Kalau kita rajin menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan, pasti kita akan disambutNya dengan penuh sukacita dan mempersilahkan kita masuk ke dalam RumahNya. Tetapi kalau kita selalu mengingat diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain, walaupun kita tidak marah atau mencaci maki mereka, kita akan diarahkanNya ke Neraka, ke tempat yang penuh dukacita untuk selamanya. Sikap ingat diri kita akan menghantar jiwa kita ke Neraka.

Bersama Bunda Maria kita berdoa: Tuhan sadarkanlah kami selalu, bahwa dengan membantu yang lemah secara tidak langsung kami menyelamatkan jiwa dari api Neraka untuk selamanya. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amen.

Salam Damai Kristus
SABDA KASIH:
Kesempatan untuk Berbuat Baik.
Minggu, 29 September 2019 (Minggu Biasa XXVI)
Lukas 16:19-31

Kata orang itu, “Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh agar mereka kelak jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini.”

Keberhasilan kita pada masa sekarang ini tidak terlepas dari cara hidup kita di masa lampau. Siapa diri kita di masa yang akan datang bergantung pada cara hidup kita sekarang ini. Hal ini mengingatkan kita untuk menghargai waktu dan menggunakan setiap kesempatan hidup secara bertanggung jawab. Penghargaan pada setiap waktu dan kesempatan di saat sekarang akan menentukan diri kita di waktu yang akan datang.

Bacaan injil hari Minggu ini berkisah tentang situasi orang kaya dan Lazarus setelah kematian. Setelah kematian, orang kaya mengalami kemalangan. Kemalangan orang kaya ini berhubungan dengan perlakuannya pada Lazarus sewaktu hidup. Dia mempunyai kesempatan untuk berbuat baik kepada Lazarus tetapi tidak melakukannya. Padahal kesempatan itu merupakan jaminan bagi si kaya dalam menghadapi hidup setelah kematian. Pengalaman si kaya ini mengingatkan kita untuk menggunakan setiap kesempatan untuk berbuat baik. Kesempatan itu adalah jaminan bagi kita di hadapan Tuhan.

Saudara/I, ada banyak kesempatan bagi kita untuk berbuat baik. Gunakanlah setiap kesempatan itu demi menjadi berharga di mata Tuhan. (*saotilayad)
(Pastor Gobin DD, SVD - Filipina)

Salam Damai Kristus
☘🍁Doa pagi🍁☘
Minggu 29 September 2019

Tuhan Yesus,
Engkaulah terang hidupku. Engkau menerangi jalanku, dan aku akan mengikuti kemanapun Engkau menuntunku. Lindungi aku agar aku tidak dibutakan oleh terang yang membingungkan.

Tolonglah aku untuk selalu menyadari kesalahanku. Aku bersandar kepadaMu, kiranya Engkau mengarahkan wajahMu kepadaku.

Terimakasih Tuhan, karena Engkau tidak pernah berubah, terangMu juga selalu ada di dalam hidupku, ditengah apa pun  yang terjadi di sekelilingku.

Pancarkanlah terangMu melalui aku dalam aku berjalan dengan berpegangan pada tanganMu. Kuserahkan hari ini kepadaMu, dan aku percaya bahwa terang yang Engkau berikan kepadaku itu cukuplah untuk menerangi langkahku.
Amin.

Salam Damai Kristus
RUAH

Minggu, 29 September 2019
Hari Minggu Biasa XXVI
 
Jika seorang politikus secara aktif mendukung dan memajukan budaya kematian, ia tidak hanya menyebabkan skandal; ia berbuat dosa. Demikian pula, ketika seorang politisi melakukan tindakan (seperti voting) yang memungkinkan untuk aborsi dan bahkan mempromosikan aborsi, atau mandat bahwa distribusi kontrasepsi oleh apoteker dan lain-lain, sehingga politisi secara material bekerjasama dalam dosa besar, - Mgr. Thomas J. Olmsted, Uskup Phoenix
     
Antifon Pembuka (Dan 3:31.29.30.42.43)

Segala sesuatu yang Engkau perbuat atas kami, ya Tuhan, telah Engkau putuskan dengan benar. Sebab, kami telah berdosa terhadap-Mu dan tidak mematuhi perintah-perintah-Mu. Tetapi, muliakanlah nama-Mu, dan perlakukanlah kami seturut besarnya belaskasih-Mu.

All that you have done to us, O Lord you have done with true judgment, for we have sinned against you and not obeyed your commandments. But give glory to your name and deal with us according to the bounty of your mercy.

Doa Pembuka
 
Ya Allah, Engkau menyatakan kuasa-Mu yang tak terhingga terutama dengan menyayangi dan mengasihani kami. Lipat gandakanlah rahmat-Mu atas kami agar kami mengejar hidup yang Engkau janjikan dan kelak mendapat bagian dalam sukacita surgawi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Amos (6:1a.4-7)
                     
"Yang duduk berjuntai dan bernyanyi akan pergi sebagai orang buangan."
                   
Beginilah firman Tuhan, Allah semesta alam, “Celakalah orang-orang yang merasa aman di Sion, yang merasa tenteram di gunung Samaria! Celakalah orang yang berbaring di tempat tidur dari gading, dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak lembu dari tengah kawanan binatang yang tambun; yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya! Celakalah orang yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! Sebab sekarang mereka akan pergi sebagai orang buangan di kepala barisan, dan berlalulah hiruk pikuk pesta orang-orang yang duduk berjuntai itu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 838.
Ref. Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku.
Ayat. (Mzm 146:7.8-9a.9b-10; R: 1b)
1. Dialah yang menegakkan keadilan bagi orang yang diperas, Tuhan memberi roti kepada orang-orang yang lapar, dan membebaskan orang-orang yang terkurung.
2. Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar. Tuhan menjaga orang-orang asing.
3. Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-menurun.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (6:11-16)
 
"Taatilah perintah ini hingga pada saat Tuhan menyatakan diri."
     
Hai engkau, manusia Allah, jauhilah semua kejahatan, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar, dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil, untuk itulah engkau telah mengikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang memberikan kesaksian yang benar di hadapan Pontius Pilatus, aku memperingatkan engkau: Taatilah perintah ini tanpa cacat dan tanpa cela hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Saat itu akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, dan bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Tak seorang pun pernah melihat Dia, dan tak seorang manusia pun dapat melihat Dia. Bagi Dialah hormat dan kuasa yang kekal. Amin.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963.
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2Kor 8:9)
Yesus Kristus menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya oleh karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (16:19-31)
 
"Engkau telah menerima segala yang baik, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita."
 
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dari kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok. Ia berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilati boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara menderita sengsara di alam maut, ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, ‘Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini’. Tetapi Abraham berkata, ‘Anakku, ingatlah! Engkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat penghiburan dan engkau sangat menderita. Selain daripada itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, sehingga mereka yang mau pergi dari sini kepadamu atau pun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang!’ Kata orang itu, ‘Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapa, supaya Engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka kelak jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini’. Tetapi kata Abraham, ‘Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu!’ Jawab orang itu, ‘Tidak, Bapa Abraham! Tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat’. Kata Abraham kepadanya, ‘Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Kehidupan itu menyiapkan kematian. Ungkapan tersebut ada benarnya. Ken dupan menjadi kesempatan untuk melakukan segala yang baik bagi diri sendiri dan bermanfaat serta berkah bagi sesama. Kisah orang kaya dan Lazarus mengajarkan bahwa melakukan yang baik kepada sesama untuk memuliakan Tuhan adalah pada masa seseorang hidup, bukan sesudah mati. Orang kaya mempunyai kesempatan yang baik se-masa hidupnya, tetapi ia tidak melakukannya. Ia memiliki kekayaan melimpah untuk digunakan demi kemuliaan Allah, tetapi ia mengabaikannya. Ia mendapat kesempatan untuk membantu sesama yang membutuhkan tetapi ia tidak melakukannya.

Kisah orang kaya dan Lazarus mengingatkan kepada kita untuk melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Nah...selama masih bisa menghirup dan menghembus udara untuk bernafas dan memiliki kesempatan melalui panggilan kita, mari mewartakan kabar baik kepada setiap orang. (ISM/Renungan Harian Mutiara Iman 2019) 

“Kalau kita mengakui iman untuk pertama kalinya dan dibersihkan dalam Pembaptisan suci, diberikanlah kepada kita pengampunan yang begitu berlimpah ruah, sehingga tidak ada satu kesalahan pun – baik yang melekat pada kita oleh turunan, maupun sesuatu yang kita lalaikan atau lakukan dengan kehendak sendiri – yang tidak dihapuskan dan tidak ada siksa yang masih perlu disilih. Namun orang tidak dibebaskan dari semua kelemahan kodrat oleh rahmat Pembaptisan; sebaliknya setiap orang harus berjuang melawan rangsangan hawa nafsu yang tanpa henti-hentinya mengajak kita untuk berbuat dosa” (Catech. R. 1, 11,3). (Katekismus Gereja Katolik, 978)

Antifon Komuni (Mzm 119:49-50)

Ingatlah, ya Tuhan, firman yang Engkau sampaikan kepada hamba-Mu, dengannya Engkau telah memberi harapan kepadaku. Itulah penghiburanku di saat aku terpukul.

Remember your word to your servant, O Lord, by which you have given me hope. This is my comfort when I am brought low.

Memento verbi tui servo tuo, Domine in quo mihi spem dedisti: haec me consolata est in humilitate mea

Salam Damai Kristus
Minggu, 29 September 2019, HMB XXVI

*JALAN MENUJU SURGA HANYALAH MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA*

*BACAAN*
*Amos 6:1a.4-7* – “Yang duduk berjuntai dan bernyanyi akan pergi sebagai orang buangan”
*Mzm 146:1b* – “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!”
*1Tim 6:11-16*  - “Taatilah perintah ini hingga pada saat Tuhan menyatakan diri”
*2Kor 8:9* – “Yesus Kristus menjadi miskin, sekali pun Ia kaya, supaya oleh karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya”
*Luk 16:19-31* – “Engkau telah menerima segala yang baik, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat penghiburan dan engkau sangat menderita.

*RENUNGAN*
1.”Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal” (1Tim 6:12). Orang kaya, seperti dalam Injil hari ini, mengejar kemewahan untuk dirinya sendiri, tidak pernah menyakiti orang lain, dan tidak mengkritik Lazarus karena seorang miskin, dan tidak mengusir dia dari depan pintu rumahnya. Apa dosa orang kaya ini? Ia gagal berbuat untuk Lazarus dan tidak memberi ruang untuk Tuhan. Lazarus, dan orang-orang miskin pada umumnya, hanyalah bagian dari sebuah pemandangan yang biasa yang tiap hari ada di mana-mana. Sekarang ini suara orang miskin memanggil kita minta tolong. Suara mereka adalah suara Kristus.

2.Setelah mati, orang kaya tersebut menunjukkan perhatian terhadap lima saudaranya. Ia minta-kepada Abraham untuk bertindak bagi kelima saudaranya. Tetapi terlambat sudah.  Jika perhatian tersebut ia lakukan sewaktu masih hidup di dunia ini, maka akan memiliki efek positip. Memberi perhatian terhadap anggota keluarga, membantu mereka untuk mencapai surga, merupakan perbuatan cinta yang harus kita buat bagi mereka. Segala sesuatu tidak memiliki arti jika kita menghalangi orang lain untuk mendapatkan keselamatan.

3.Kita diingatkan untuk keluar dari penjara egoisme kita dan membuka hati dan budi kepada Tuhan dan sesama. Kita hendaknya menghayati keyakinan bahwa hidup yang sementara dan pendek ini merupakan kesempatan untuk berbuat kasih dan kebaikan sebagai bekal memasuki kehidupan abadi di surga.
🇮🇩www.berkat.id🇮🇩

Salam Damai Kristus
Mutiara Iman

MENDENGARKAN KESAKSIAN
29 September 2019

“Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang BANGKIT dari antara orang mati” (Luk 16:31)

Lectio
Am 6:1ab, 4-7; Mzm 146:7,8-9a, 9bc-10; Tim 6:11-16; Luk 19;19-31

Toni anak orang kaya diajak sahabatnya mendatangi Panti Asuhan anak-anak seusianya. Ketika masuk ke dalam, anak-anak Panti menyambutnya; ada yang memberi mereka makanan dan ada yang membuatkan minuman.
Toni bertanya :
“Mengapa mereka begitu rajin ya Luk? Padahal mereka tidak memiliki uang?”
Jawab Lukas :
”Mereka menjalani kehidupan dengan IMAN akan kasih Tuhan. Kamu lihat banyak foto? Itu adalah orang-orang sukses yang berasal dari sini: ada yang menjadi Lawyer, Akuntan, Dokter, Pastor dsb. Di sinilah mereka memiliki HARAPAN akan masa depan dengan memberi KASIH pada sesama.”
Melihat apa yang terjadi, Toni berkata :
“Sungguh KESAKSIAN Hidup yang LUAR BIASA. Aku mau mengenal Yesus Kas.”

Kesaksian akan Yesus benar-benar MENGHIDUPKAN.

Oratio
Ya Tuhan, jadikanlah kami saksi kebangkitan-Mu. Amin

Missio
Marilah kita hidup dengan menjadi saksi Kristus.
Have a Blessed Sunday.