Sabtu, 31 Agustus 2019

 ​​Minggu, 1 September 2019
Minggu Biasa XXII
Sir 3:19-21.30-31; Mzm 68:4-5ac.6-7ab.10.11; Ibr 12:18-19.22-24a; Luk 14:1.7-14

Bacaan Injil hari ini setidaknya berisi 3 point penting permenungan. Pertama, Yesus berkenan datang ke perjamuan makan di rumah seorang pemimpin Farisi. Kedua, Yesus menyampaikan kriteria memilih tempat duduk dalam perjamuan. Ketiga, Ia juga memberikan kriteria siapa yang sebaiknya diundang ketika kita mengadakan pesta perjamuan. Kita dalami salah satu, yakni yang pertama. Minggu kemarin, dalam Pekan Biasa XXI, secara berturut-turut, Senin-Selasa-Rabu, kita merenungkan "sabda celaka" Yesus yang ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus mengecam mereka dengan sangat keras: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik (Mat 23,13-16.23-29), ... hai pemimpin-pemimpin buta (Mat 23,16). Hari ini, pada Minggu Biasa XXII, kita merenungkan sikap Yesus yang berkenan hadir ketika diundang ke rumah seorang pemimpin Farisi untuk makan bersama. Meskipun Yesus berulang kali marah dan mengecam orang-orang Farisi, tetapi Ia tetap mau bersahabat dengan mereka. Yang Ia benci dan Ia kecam adalah sikap orang-orang Farisi yang munafik, bukan pribadi-pribadi mereka. Sebaliknya, Yesus tetap mengasihi mereka. Ketika ada kesempatan, Ia tetap mendekati mereka dan memberikan pengajaran-pengajaran yang penting untuk keselamatan mereka. Kali ini Ia mengajar tentang kriteria memilih tempat duduk dalam perjamuan: sikap rendah hati dan mengutamakan orang lain; dan kriteria yang sebaiknya kita undang saat mengadakan pesta perjamuan: mengutamakan semangat berbagi para orang-orang miskin dan memberi tanpa mengharap balasan.
St. Hieronimus mengingatkan bahwa kita pun pasti memiliki sikap-sikap orang Farisi yang dikecam Yesus. Ia mengecam dan membenci dosa-dosa dan kejahatan kita. Namun, Ia tetap mengasihi kita. Ia selalu berkenan hadir dalam hati kita, dalam keluarga kita, dalam komunitas kita. Oleh karena itu, kenyataan dan kesadaran bahwa kita berdosa, jangan sampai menjadi alasan untuk tidak berdoa dan tidak hadir dalan perjamuan Tuhan (Ekaristi). Doa adalah sebuah "perjamuan" yang kita adakan dan pada saat itulah kita mengundang Tuhan untuk hadir dalam hati kita, dalam keluarga kita, dalam komunitas kita. Kepada-Nya, kita menghidangkan pujian, syukur dan permohonan, atau sekedar hening untuk mendengarkan Dia. Sebaliknya, Ekaristi adalah sebuah perjamuan yang diadakan oleh Tuhan sendiri. Kita diundang untuk hadir, berpartisipasi aktif, dan menikmati hidangan yang disediakan-Nya, lebih-lebih santapan sabda dan Tubuh-Nya.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus
#renungan

*KETULUSAN HATI*

Minggu 01 Sep 2019

_`Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan` (Luk 14:11)_

Beberapa pejabat dan tokoh masyarakat dewasa ini menjadi sorotan karena tingkah laku dan perbuatannya. Mereka melakukan korupsi, saling debat, saling menjatuhkan, dll. Tampaknya, mereka menghalalkan segala cara demi kekuasaan dan jabatan.

Dalam Injil diceritakan bahwa tamu-tamu saling berlomba untuk duduk di tempat-tempat kehormatan. Mereka berlomba untuk menjadi yang paling utama, menjadi nomor satu dan terdepan. Mereka ingin mendapatkan pujian dan penghormatan di depan banyak orang. Yesus mengetahui motivasi yang tersembunyi di dalam hati mereka ini dan mengingatkan para murid-Nya agar waspada untuk tidak jatuh dalam sikap demikian.

Mungkin, kita sudah pernah jatuh dan bersikap seperti para pejabat dan orang berkuasa itu. Kita memposisikan diri berada di paling depan mungkin dengan harapan terselubung dalam hati supaya terlihat paling suci, paling baik, paling penting, paling terhormat, paling berkuasa, dll. di antara yang lainnya. Kita diajak untuk mengingat kembali akan pentingnya menjaga ketulusan hati. Kita sedang ditempa, diubah agar semakin berguna dan bermanfaat. Tanpa Kristus kita tidak ada artinya. Menjadi pengikut Kristus yang setia dimulai dari kerendahan hati dan ketulusan. Selebihnya Tuhan sendiri yang akan memimpin dan menempatkan kita sesuai tugas yang diberikan-Nya kepada kita.

*_Rm. Marsinus, CSE_*

Minggu 01 Sep 2019
Hari Minggu Biasa XXII
Hari Minggu Kitab Suci nasional
Sir 3:17-18.20.28-29; Mzm 68:4-7.10-11; Ibr 12:18-19.22-24; Luk 14:1.7-14

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
Kencan Dengan Tuhan
Minggu, 1 September 2019

Bacaan: Ibrani 10:25   "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

Renungan:
  Tommy adalah sejenis anjing gembala Jerman. Pemiliknya bernama Maria Margherita Lochi. Lochi sebelumnya selalu membawa anjingnya tersebut menghadiri misa di gereja Santa Maria Assumpta di San Donaci, Italia. Suatu hari Lochi meninggal dunia . Di hari pemakaman, Tommy ikut dalam misa pemakaman. Tommy sepertinya merindukan tuannya. Setiap lonceng gereja berbunyi yang menandakan misa akan dimulai, Tommy langsung berlari ke gereja dan duduk di bagian depan altar. "Saya tidak mendengar satu gonggongan pun selama dia mengikuti misa. Dia menunggu dengan sabar sampai misa selesai. Saya tidak sampai hati mengusirnya. Saya sendiri juga pernah kehilangan anjing, jadi saya biarkan dia di sana sampai misa selesai, baru kemudian saya keluarkan dia," kata Pastor Donato Panna.
  Tommy mungkin tidak mengerti apa yang dilakukannya di gereja. Ia hanya mengingat bahwa tuannya selalu pergi ke sana setiap kali lonceng gereja berbunyi. Ia begitu mencintai tuannya dan menjadikan gereja tersebut sebagai pengingat akan kasih sayang tuannya.
  Yesus telah menunjukkan cinta-Nya kepada kita dengan mati di kayu salib agar kita tidak binasa. Apakah kita sudah merespon kasih sayang Tuhan tersebut? Mari kita rajin beribadah di gereja bukan karena tradisi,  kewajiban atau sekadar mengisi waktu luang, namun karena kita betul-betul mengasihi dan merespon cinta Tuhan. Jadikanlah ibadah sebagai salah satu prioritas kita, selain hubungan pribadi kita dengan-Nya melalui doa harian kita. Tuhan memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, bukalah hatiku agar aku tergerak  datang ke rumahMu untuk beribadah sebagai tanda aku mengasihiMu. Jangan   biarkan godaan dunia membuat aku perhitungan waktu untuk datang ke rumahMu, karena Engkau tidak pernah perhitungan berkat untukku. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
Minggu, 1 September 2019, Hari Minggu Kitab Suci Nasional

*KRISTUS, TAMU YANG MENUNTUT*

*BACAAN*
*Putra Sirakh 3:17-18.20.28-29* – “Rendahkanlah dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan”
*Luk 14:1.7-14* – “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan”

*RENUNGAN*
1.Yesus diundang makan malam di sebuah rumah orang Parisi, dengan tujuan untuk mengamati dan menyelidiki Dia secara cermat, dengan harapan mereka menemukan kesalahan dalam diri Yesus. Namun Yesus juga mengamati para tamu yang berusaha duduk di tempat yang paling terhormat. Dari sini Yesus membalikkan arti dihormati dan ditinggikan. Mengundang Yesus masuk dalam kehidupan kita selalu berarti berani membuka diri terhadap tantangan-Nya, yaitu berani mengubah diri menuju kepada hidup  suci dan rendah hati. Kepada kita, Tuhan akan menyatakan kelemahan-kelemahan kita dan menantang kita untuk menjadi lebih baik.

2.Hidup suci dan rendah hati sungguh tidak mudah, karena kecenderungan kita yang egois dan sombong. Namun demikian, Yesus mengajarkan bahwa rendah hati merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan. Kalau kita hanya terpaku pada “mencari tempat terhormat,” justru kita akan kecewa. Allah tidak pernah memberi ganjaran kepada orang yang cinta diri. Orang yang cinta diri hanya mengharapkan ganjaran dari dunia ini yang berupa kehormatan, kekayaan, kekuasaan, kesenangan, yang tidak memuaskan jiwa yang merindukan Allah. Allah akan mengangkat kita kepada kepenuhan hidup dalam diri-Nya, jika kita berani turun dari singgasana egoisme dan kesombongan kita.

3.Jika kita rendah hati dan melayani Tuhan, maka tentang ganjaran kita serahkan kepada Tuhan: Ia akan memberikan tempat terbaik bagi kita sesuai dengan rencana-Nya. Ganjaran dari Allah selalu lebih baik daripada apa yang diberikan oleh dunia, karena Ia menjanjikan kehidupan kekal dan sukacita di surga. Memang kita tidak tahu persis ganjaran itu konkretnya seperti apa, namun kita tetap harus berjuang bukan semata-mata demi ganjaran di dunia ini. Kalau kehidupan ini seperti perjamuan pesta, maka waktu kita selama di dunia ini merupakan pembangkit selera makan (appetizer). “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9). 🇮🇩MaSRI,berkat.id🇮🇩

Salam Damai Kristus
*MINGGU, 01 SEPTEMBER 2019*

Bacaan Liturgi

Hari Minggu Biasa XXII

Bacaan Injil
Luk 14:1.7-14

Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan,
dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu hari Sabat
Yesus masuk ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi
untuk makan di situ.
Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Melihat tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan,
Yesus lalu mengatakan perumpamaan ini,
"Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan,
janganlah duduk di tempat kehormatan.
Sebab mungkin undangan yang lebih terhormat daripadamu.
Jangan-jangan orang yang mengundang engkau dan tamu itu
datang dan berkata kepadamu,
'Berilah tempat itu kepada orang ini.'
Lalu dengan malu engkau harus pergi
pindah ke tempat yang paling rendah.
Tetapi, apabila engkau diundang,
duduklah di tempat yang paling rendah.
Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu,
'Sahabat, silakan duduk di depan.
Dengan demikian
engkau akan mendapat kehormatan di depan semua tamu yang lain.
Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan,
dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan."

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang-Nya,
"Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau malam,
janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu,
kaum keluargamu, atau tetangga-tetanggamu yang kaya,
karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula,
dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan,
undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta.
Dan engkau akan berbahagia,
karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau.
Sebab engkau akan mendapat balasnya
pada hari kebangkitan orang-orang benar."

Demikianlah Injil Tuhan.
======================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                Minggu, 01 September 2019                                                                                                                RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Layanilah Orang Miskin!*                                                                                  (Lukas 14: 1. 7 - 14)

Saudara-saudari... Pada suatu hari saya mendapat satu video klip dari seorang teman. Dalam video itu saya melihat seorang bapa miskin yang hari-harinya selalu mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa dijual kembali. Selagi dia berjalan memikul hasil kumpulan barang pada hari itu, lewatlah seorang anak muda dengan mobilnya. Anak muda ini menepi dan berhenti sebentar dan mengamati sang Bapa. Dia membiarkannya jalan, kemudian anak muda menyusulnya pelan-pelan. Setibanya di satu tempat, sang Bapa masuk ke satu rumah reyot yang tidak terawat. Anak muda turun dari mobil dan mengikuti sang Bapa. Dia mengetuk pintu rumahnya. Sang Bapa begitu kaget. Anak muda memberinya uang dan berjanji akan datang lagi bertemu dia. Awalnya sang Bapa menolak pemberian itu, tetapi pemuda itu tetap menyakinkannya untuk menerima sedikit bantuannya. Pada hari berikutnya, anak muda ini datang membawa kasur dan kain selimut. Selanjutnya ia memperbaiki rumahnya sehingga rumah itu layak dihuni.
Perbuatan kasih ini sungguh keluar dari rasa kasih. Dengan melakukan karya kasih ini, anak muda ini sungguh merasa bahagia. Dia tidak mengharapkan apa-apa dari orangtua ini, selain ingin membuatnya bahagia di hari tuanya.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana relasi kita dengan orangtua kita yang sudah berumur 70-an, yang hidupnya hanya bergantung pada orang lain? Apakah kita selalu membuatnya bahagia dan hidup damai di masa tuanya?  Atau kita merasa bahwa orangtua yang sudah tidak berdaya itu dianggap beban keluarga kita? Saudara-saudari.... hormatilah orangtua kita agar kita selalu hidup bahagia.

Hari ini Yesus berkata: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau keluarga-keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan bahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”
Apa yang dikatakan Yesus ini, sudah menjadi kenyataan bagi mereka yang punya hati membantu orang-orang miskin. Saya sendiri pernah mendengar pernyataan dari seorang donatur yang murah hati. Katanya: semakin saya memberi sedekah kepada yang miskin, panti asuhan dan kepada gereja, usahaku selalu diberkati Tuhan. Selain itu, secara pribadi saya alami kebahagian. Sebaliknya kalau memberi pinjaman kepada orang yang berada dan dia berjanji untuk mengembalikan pinjaman itu pada tanggal tertentu, tetapi kalau pada saat yang ditentukan tidak dibayar  maka timbullah rasa tidak percaya dan rasa curiga yang membuat kita tidak bahagia. Karena itu lebih baik memberi dengan tulus kepada orang miskin yang membuat mereka bahagia, maka kita pun turut bahagia.

Marilah saudara-saudari... Layanilah orang miskin dengan tulus maka kita akan diberkati Tuhan.

Bersama Bunda Maria kita berdoa: Tuhan, gerakkanlah hati dan pikiran kami untuk menjalani dengan sepenuh hati. Semoga dengan memberi kami boleh mengalami kebahagiaan dan berkat-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amen!

Salam Damai Kristus
SABDA KASIH:
"Belajar Rendah Hati dari Orang-Orang Miskin!"
Minggu, 1 September 2019 (Minggu Biasa XXII)
Lukas 14:1. 7-14

“Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Tidak jarang kita mungkin menjumpai inisial “NN” dalam daftar penyumbang kegiatan dan hal-hal tertentu. Tentunya, orang mempunyai alasan tersendiri untuk tidak memberikan nama yang sebenarnya. Hemat saya, ini adalah bahasa kerendahan hati. Pemberian tidak boleh dinilai sebagai wadah untuk menjadi popular di mata orang lain. Namun tidak sedikit pula yang tersinggung kalau nama mereka tidak dan lupa dicantumkan dalam daftar pemberi. Bahkan ada yang protes karena namanya ditulis salah atau gelar tertentu tidak dicantumkan. Ini adalah bahasa keangkuhan diri.

Pada bacaan injil hari Minggu ini, Tuhan Yesus meminta kita untuk berlaku rendah hati. Kerendahan hati itu hadir lewat tidak menunjukkan diri sebagai yang tertinggi karena status dan posisi tertentu. Kerendahan hati juga ditunjukkan dalam seni memberi. Kita memberi bukan untuk dinilai mampu/hebat, tetapi  memberi adalah bahasa kasih Tuhan. Dengan kata lain, kita tidak menuntut apa-apa dari pemberian itu.

Saudara/I, kita belajar rendah hati dari bagaimana kita memperlakukan orang-orang kecil dan sederhana. Salah satu bahasa kerendahan hati kita nampak saat kita merasa diri kita sederajat dengan orang susah, kecil dan sederhana. (*saotilayad)

Salam Damai Kristus
Doa Minggu
01 Sept 2019
By : Team Moderator

Bapa di surga,

Tolonglah aku untuk bersyukur atas
semua sukacita yang timbul ketika aku melewati ujian. rohani
Aku tahu sesungguhnya ketika Engkau menguji imanku,
itu bukan untuk membunuhku atau untuk membuangku ke neraka,
melainkan ujianMu akan menghasilkan
hal yang lebih baik bagiku.

Roh Kudus,
senantiasalah memberikanku kepercayaan
dan keyakinan bahwa karena Engkau,
dan semua yang telah Engkau perbuat
dan yang sedang Engkau lakukan dalam hidupku,
aku akan selalu berkecukupan dan tidak kekurangan apapun.

Tolonglah aku untuk tidak gagal
dalam ujian ketaatan, iman, dan kasihku kepadaMu.
Aku ingin disempurnakan dalam segala hal
yang Engkau anggap perlu,
karena aku tahu itu akan mendatangkan kebaikan bagiku.
Aku memuji Engkau atas semua hal yang
Kau ijinkan terjadi dalan hidupku ya Tuhan Allahku.
Amin.

Salam Damai Kristus
*DO WITH LOVE*

Seorang anak lelaki kurus berjalan sambil *MENGGENDONG* adiknya yang lumpuh di punggungnya

Melihat itu, seseorang berkomentar prihatin ;
_"Kasihan kau nak.... *BEBANMU* pasti berat!"_
Lalu anak itu menjawab secara spontan :

_"Dia BUKAN BEBAN, pak, dia ini saudaraku!"...._

Itulah ilustrasi di balik lirik lagu pop karangan *Bobby Scott* dan *Bob Russel* :
🎶 _*"He Ain't Heavy, He's My Brother."*_

Suatu perbuatan yang DIPANDANG sebagai BEBAN oleh seseorang, ternyata tidak bagi yang lain, kenapa bisa demikian??

Semua itu *TERGANTUNG ALASAN* untuk apa ia melakukannya.
Jika ia melakukannya karena *_KASIH_*, pastinya akan berbeda.

APA KEKUATAN TERBESAR di hidup ini??
Jawabannya adalah :
_*LOVE  ( KASIH )*_

BANYAK HAL yang tampak menjengkelkan, melelahkan dan dihindari orang lain ternyata *dapat dilakukan dengan setia* oleh pelakunya....

Mengapa... ???

Karena  *_KASIH_*  membuat cara pandang mereka berbeda..

◆ MERAWAT suami atau istri, anak atau orang tua atau anggota keluarga yang sakit ;
bukanlah suatu beban karena dilakukan dengan  *_KASIH_*

◆ MENDAMPINGI pasangan hidup walaupun suami/istri menyakiti dan tidak menghargai apa yang kita lakukan ;
bukanlah sebuah beban karena dilakukan dengan  *_KASIH_*

◆ MENDAMPINGI anak belajar meski lelah ;
bukanlah suatu beban karena dilakukan dengan  *_KASIH_*

◆ MENGANTAR orang tua berobat rutin atau teman yang sakit;
bukanlah sebuah beban karena dilakukan dengan  _*KASIH*_

◆ MENGERJAKAN pekerjaan kantor yang menumpuk-numpuk dan harus lembur ;
bukanlah sebuah beban karena dilakukan dengan  *_KASIH_*

◆ MERAPIKAN rumah yang selalu berantakan, dll ;
bukanlah sebuah beban karena dilakukan dengan  *_KASIH_*

Ya...
Semua hal di atas akan terasa sebagai beban berat, namun akan terasa berbeda jika dilakukan,
_DENGAN *PENUH KASIH* dan TANPA ADANYA PAMRIH_

Mari, jalani kehidupan mulai hari ini dengan  *CINTA KASIH*,
agar kita mampu melakukan tugas² hari ini dan ke depan dengan penuh gairah....

*Kasih itu SABAR; kasih itu MURAH HATI;*
*_Ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain._*
*_Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran._*
*_Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu._*

Salam Damai Kristus
Santo-Santa
1 September

Santo Pedro Armengol (1238-1304)

Pedro dikenal sebagai perampok ulung. Namun tiba-tiba ia bertobat dan masuk biara. Pedro menawarkan diri sebagai sandera untuk ditukar dengan 18 anak Kristen yang ditahan oleh orang muslim di Aljazair. Karena giat merasul di kawasan Islam ini, ia dihukum mati; akan tetapi secara ajaib, Pedro terbebas dari maut.

Sumber : www.imankatolik.or.id
" Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah ". (2Kor 7:1)

Janji Tuhan akan diberikan kalau kita baik2 mendengarkan suara Tuhan dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang Dia sampaikan kepada kita pada hari ini, maka segala berkat akan datang kepada kita dan menjadi bagian kita, kita akan menjadi kepala bukan ekor, kita akan tetap naik dan bukan turun apabila kita mau melakukan perintah-Nya dengan setia,

Oleh sebab itu, kita harus takut akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia,

Sehingga kesetiaan kita membuat Tuhan mau memelihara jalan kita.

Salam Damai Kristus

Jumat, 30 Agustus 2019

Kencan Dengan Tuhan
Sabtu, 31 Agustus 2019

Bacaan: Matius 23:28 "Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan."

Renungan:
  Ada seorang pria yang membeli 9 potong ayam goreng di sebuah restoran. Ia membawa ayam goreng tersebut ke sebuah taman untuk dinikmati bersama kekasihnya. Ketika membuka bungkusan ayam goreng tersebut, ternyata isinya uang hasil penjualan ayam goreng sebesar 10 juta rupiah. Pemuda itu kemudian mengembalikan uang tersebut dan meminta ayam gorengnya sebagai gantinya. Pemilik restoran kagum atas kejujuran pria tersebut. Lalu ia menanyakan nama pria tersebut dan akan memanggil wartawan surat kabar dan stasiun televisi agar membuat cerita tentang pria jujur tersebut. Namun pemuda itu menolaknya dan berkata, "Kekasihku sedang menunggu. Aku hanya ingin ayam gorengku." Pemilik restoran tersebut bertambah kagum dengan pria itu, "Saya mohon beritahukanlah nama anda dan juga nama kekasih anda. Apakah dia istrimu?"  "Itulah masalahnya. Istriku sedang ada di rumah. Wanita yang bersamaku saat ini adalah kekasih gelapku. Sekarang berikan ayam gorengku agar aku segera dapat pergi dari sini dan menghindari publikasi yang tidak penting yang hendak kau buat itu."
  Mungkin kita tersenyum membaca kisah tersebut. Bukankah begitu mudah untuk terlihat baik di depan orang-orang yang tidak mengenal kita. Banyak di antara kita yang melakukan perbuatan baik di sana sini, pergi ke tempat ibadah, melayani Tuhan, berkata benar, bertindak baik dan semua orang mengira kita adalah sosok yang ideal, padahal jauh di lubuk hati kita terdalam, kita tidaklah sebenar dan sebaik yang orang katakan. Ada dosa yang masih kita simpan dan mungkin kita lakukan secara terus menerus. Yang terpenting adalah bukan yang tampak dari luar, karena bagian luar bisa dipoles agar tampak indah, namun yang jauh lebih penting adalah di dalam hati kita, yaitu kebenaran yang ada di dalam lubuk hati kita. Apakah hati nurani kita bersih, bebas, dan tidak menuduh kita?
  Marilah kita melakukan sesuatu bukan supaya orang lain kagum dan menyukai kita, lakukan segala sesuatu sesuai dengan kebenaran firman Tuhan supaya kita menjadi orang yang benar luar dan dalam. Tuhan memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku karena aku hanya melakukan hal baik di hadapan sesamaku supaya aku dipuji dan disenangi banyak orang, padahal ada dosa besar di dalam hatiku yang aku sembunyikan selama ini yang membuat aku menderita karena suara hatiku selalu menuduh aku. Yesus, ampunilah aku lepaskan aku dari dosa .... aku ingin bebas dan merdeka. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
Sabtu,31 Agustus 2019 
Pekan Biasa XXI
1Tes 4:9-11; Mzm 98:1.7-8.9; Mat 25:14-30

Deus caritas est: Allah adalah kasih (1Yoh 4,8.16). Kasih Allah itu telah dinyatakan kepada kita. Puncaknya adalah dengan memberikan Putra-Nya Yang Tunggal untuk menebus kita: "Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal." (Yoh 3,16). Namun, kasih Allah juga dinyatakan kepada kita masing-masing dalam peristiwa penciptaan kita masing-masing. Dimulai dari saat Tuhan menanamkan, mengembangkan, dan memberkati cinta kasih kedua orangtua kita. Lalu berkat ungkapan kasih kedua orangtua kita yang menyatu, terciptalah kita di dunia ini. Oleh karena itu, setiap orang pasti memiliki kasih dalam dirinya. Inilah talenta yang dimiliki setiap orang sejak penciptaan-Nya. Sayangnya, talenta kasih yang ada dalam diri kita itu kadangkala tidak berkembang, bahkan menjadi kerdil karena terhimpit oleh kebencian dan kekerasan hati, ketidakmauan untuk mengampuni serta kuatnya hasrat untuk membalas dendam. Atau, kasih kita tidak berkembang karena hanya kita pendam sehingga berhenti pada cinta diri dan kurang mau mengasihi orang lain. Hari ini, Tuhan mengajak kita untuk belajar dari-Nya sendiri dalam mengembangkan talenta kasih yang telah Tuhan berikan kepada kita. Allah mengasihi kita tanpa syarat. Allah mengasihi kita dengan memberikan Putera Tunggal-Nya. Allah mengasihi kita dengan mengampuni. Allah mengasihi kita secara abadi. Allah tidak mengurangi, apalagi membatalkan kasih-Nya kepada kita meski kita berdosa dan tidak setia. Marilah kita belajar mengasihi dari Allah agar kita juga mampu mengasihi seperti Allah mengasihi kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus
☘🍁Doa pagi🍁☘
Hari Sabtu 31 Agustus 2019

Ya Roh Kudus,
Engkau yang memecahkan persoalan,
yang menerangi semua jalan
sehingga kami mencapai tujuan.

Engkau yang memberi kami
anugerah surgawi untuk memaafkan
dan melupakan semua kesalahan
terhadap kami dalam seluruh hidup kami
Engkau melimpahi kami semua dengan cinta kasih.

Dengan doa pendek ini
kami mengucapkan terima kasih padaMu.
Kami tak mau berpisah dariMu
walaupun dengan godaan materi.

Kami ingin bersamaMu
dalam kegembiraan abadi.
Terima kasih untuk kebaikanMu
kepada kami semua.
Amin.

Salam Damai Kristus
#renungan

*TALENTA DARI TUHAN*

Sabtu 31 Agust 2019

_`Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hambahambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka` (Mat 25:14)_


Mari kita membawa diri kita masuk dalam perikop ini. Kita adalah hamba-hamba, kepada siapa harta itu dipercayakan, dan orang yang mempercayakannya adalah Tuhan. Harta itu berupa talenta/kemampuan yang memang di-berikan Tuhan kepada kita masing-masing, meski tidak sama bentuk dan jumlahnya. Semuanya itu diberikan berdasarkan kebijaksanaan-Nya dan karena Allah tahu batas kesanggupan kita dalam memanfaatkannya (bdk. ay. 15).

Kita tidak perlu iri hati jika kepada sesama kita dipercayakan talenta yang lebih banyak. Tidakkah seringkali kita belum secara maksimal mengembangkan semua talenta yang sudah Tuhan berikan kepada kita sendiri?

Kita pun tidak perlu menyombongkan diri jika kepada kita dipercayakan banyak talenta oleh Tuhan, namun mari kita senantiasa bersyukur dan bersikap rendah hati. Talenta itu diberikan tidak karena jasa kita dan sesungguhnya setiap saat jika Tuhan mau mengambilnya dari kita dan memberikannya kepada orang lain, Ia bisa melakukannya.

Yang terpenting adalah berapa pun talenta kita, kita harus berusaha mengembangkan dan menggunakannya untuk kemuliaan Allah, karena untuk itulah Tuhan mempercayakannya kepada kita.

`Ya Tuhan, kami bersyukur untuk apa yang telah Kau percayakan kepada kami. Biarlah dengan rahmat-Mu kami dapat menggunakannya untuk kemuliaan-Mu.`

*_Sr. M. Vincentia, P.Karm_*

Sabtu 31 Agust 2019
1Tes 4:9-11; Mzm 98:1.7-9; Mat 25:14-30

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
Renungan Harian Katolik Sabtu 31 Agustus 2019

Bacaan Liturgi Sabtu 31 Agustus 2019
Bacaan Pertama  1Tes 4:9-11

Saudara-saudara,  tentang kasih persaudaraan, kiranya tidak perlu aku menulis kepadamu. Sebab kalian sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah.  Hal itu kalian amalkan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kalian, saudara-saudara, agar kalian lebih sungguh-sungguh lagi mengamalkannya.  Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan,  sebagaimana telah kami pesankan kepada kalian.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 98:1.7-8.9
Tuhan akan datang menghakimi para bangsa dengan adil.
*Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya,
oleh lengan-Nya yang kudus.
*Biarlah gemuruh laut dan segala isinya, dunia dan semua yang diam di dalamnya!  Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama  di hadapan Tuhan.
*Sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.

Bait Pengantar Injil  Yoh 13:34
Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;  yaitu supaya kalian saling menaruh cinta kasih, sebagaimana Aku telah menaruh cinta kasih kepadamu.

Bacaan Injil  Mat 25:14-30
Pada suatu hari  Yesus mengemukakan perumpamaan berikut  kepada murid-murid-Nya,  “Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.  Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua, dan yang seorang lain lagi satu,  masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu dan memperoleh laba lima talenta.  Hamba yang menerima dua talenta pun berbuat demikian, dan mendapat laba dua talenta.  Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di tanah, lalu menyembunyikan uang tuannya.  Lama kemudian pulanglah tuan hamba – hamba itu, lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.Hamba  yang menerima lima talenta datang dan membawa laba lima talenta.  Ia berkata, ‘Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku.   Lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.’  Maka kata tuannya kepadanya, ‘Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia;  engkau telah setia dalam perkara kecil!   Aku akan memberikan kepadamu   tanggung jawab dalam perkara yang besar.  Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.  Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta, katanya,  ‘Tuan, dua talenta Tuan percayakan kepadaku. Lihat, aku telah mendapat laba dua talenta.’  Maka kata tuan itu kepadanya, ‘Baik sekali perbuatanmu hamba yang baik dan setia!   Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.  Kini datang juga hamba yang menerima satu talenta dan berkata, ‘Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam, yang menuai di tempat Tuan tidak menabur, dan memungut di tempat Tuan tidak menanam.  Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah. Ini, terimalah milik Tuan!’  Maka tuannya menjawab, ‘Hai engkau, hamba yang jahat dan malas!  Engkau tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur, dan memungut di tempat aku tidak menanam.  Seharusnya  uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerima uang itu serta dengan bunganya.  Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya, dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, akan diberi sampai ia berkelimpahan,  tetapi siapa yang tidak punya, apa pun yang ada padanya akan diambil.   Dan buanglah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan ada ratap dan kertak gigi’.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.
Mungkin kita bertanya tanya apa maksud dari perumpamaan yang diutarakan Yesus hari ini? Tiga orang hamba yang dititipkan kepercayaan oleh tuannya adalah gambaran tentang diri kita. Itu bukan soal besar kecilnya talenta yang diberikan oleh sang tuan kepada hambanya, tetapi ini berkaitan dengan kualitas dan tanggung jawab ketiga hamba itu terhadap kepercayaan yang mereka terima. Hamba pertama dan kedua berbuat hal yang sama, yaitu menjalankan uang yang mereka terima sehingga memperoleh laba. Sementara hamba yang ketiga menyembunyikan uang tersebut didalam tanah sehingga ia tidak memperoleh laba atau keuntungan . Dan perlu kita ingat disini bahwa mereka diberi talenta dengan jumlah yang berbeda sudah sesuai dengan kemampuan masing masing.  Kita pun diberikan kepercayaan oleh Tuhan . Sejak kita lahir dan bertumbuh sebagai manusia , Tuhan memberi kita kepercayaan  sesuai dengan kemampuan kita. Dan bagaimana tanggapan kita terhadap kepercayaan yang diberikan Tuhan itu? Hanya kita sendiri yang bisa menjawab pertanyaan ini. Ada saatnya nanti Tuhan akan membuat perhitungan yang sama dengan kita. Apakah kita menumbuh-kembangkan kepercayaan Tuhan kepada kita atau tidak, tergantung pada bagaimana kualitas hidup kita didunia ini. Kualitas kemuridan kita sebagai pengikut Kristus terletak pada bagaimana kita mempertanggung jawabkannya. Apakah kita bertindak sebagai murid yang bertanggung jawab ataukah kita malah menyalahkan Tuhan karena kita lalai pada kepercayaan yang diberikan-Nya?   Semoga pada hari perhitungan nanti kita didapati oleh Tuhan sebagai murid –Nya yang berkualitas dan bertanggung jawab.

Butir permenungan.
Terkadang heran rasanya , karena dijaman yang secanggih ini , masih ada saja orang orang yang merasa dirinya tidak mempunyai kemampuan apa apa. Entah karena jaman yang semakin maju sehingga mampu menciptakan begitu banyak teknologi yang tanpa sadar membuat manusia menjadi “malas” atau justru manusianya yang menjadi minder terhadap teknologi yang terus berkembang dengan pesat.  Pernahkah kita melihat kedalam diri kita untuk menemukan potensi yang Tuhan berikan ? Mungkin selama ini kita sibuk melihat kekanan kiri , mengagumi kemampuan orang lain, bahkan mungkin bisa menimbulkan rasa iri hati juga. Tapi sudahkah kita melihat dan mencari kemampuan yang ada dalam diri kira ? Jika kita tidak pernah menyadari hal itu, bisa jadi kita tidak atau belum bersyukur atas potensi yang kita miliki .   Selanjutnya , sudahkah kita menggunakan potensi kita untuk menjadi berkat bagi diri kita dan orang  lain?  Teman , ambillah waktu sekarang untuk menemukan dan mengenali talenta yang Tuhan percayakan pada diri kita masig masing . Setelah itu , pikirkanlah bagaimana cara mengembangkannya agar bermanfaat bagi hidup kita dan orang lain, serta bagi dunia.  Talenta apa yang saya miliki?

Doa.
Ya Tuhan , mampukan kami untuk bertanggung jawab atas apa yang telah kami peroleh dari -Mu sehingga kami layak sebagai murid murid –  Mu. Amin.

Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;  yaitu supaya kalian saling menaruh cinta kasih, sebagaimana Aku telah menaruh cinta kasih kepadamu.

Salam Damai Kristus
Mutiara Iman

DIBERI SAMPAI IA BERKELIMPAHAN
31 Agustus 2019

“Karena setiap orang yang mempunyai akan diberi sampai ia berkelimpahan, tetapi siapa yang tidak punya, apapun yang ada padanya akan diambil” (Mat 25:29)

Lectio
1 Tes 4:9-11; Mzm 98:1,7-8,9; Mat 25:14-30

Setelah belajar Kitab Suci selama 3 tahun, Rudi bertanya pada Arman, teman pulangnya bersama :
”Man, habis selesai kursus apa yang akan kita lakukan untuk Paroki kita? Kalau saya ingin jadi Fasilitator di lingkungan.”
“Kalau saya sih, sementara berhenti dulu. Santai saja. Kalau nanti Tuhan kasih arahan saya baru bergerak.” jawab Arman.
Tiga tahun kemudian, Rudi datang menjadi fasilitator di lingkungan Arman, dan berkata :
”Pak Arman adalah sahabat saya ketika kita belajar Kitab Suci.”
Semua umat tersenyum memandang Arman.
Setelah selesai, isteri Arman berkata pada Rudy :
”Rud harusnya ajak Arman jadi pewarta. Sekarang kelamaan berhenti akhirnya benar-benar tidak BERBUAH seperti kamu. Bahkan sekarang Rudi yang kasih renungan di lingkungan Arman.”

Menanggapi setiap Kerajaan Allah yang telah kita terima adalah dengan MENGEMBANGKANNYA.

Oratio
Ya Tuhan, mampukan kami mengembangkan talenta yang telah Engkau berikan. Amin

Missio
Marilah kita mengembangkan setiap Karunia yang Tuhan berikan.
Have a Blessed Saturday.
Sabtu, 31 Agustus 2019

*BISA MEMPERTANGGUNG JAWABKAN*

*BACAAN*
*1Tes 4:9-11* – “Kamu belajar kasih mengasihi dari Allah”
*Mat 25:14-30* – “Engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”

*RENUNGAN*
1.Dari Firman hari ini, Allah memberikan talenta kepada kita menurut apa yang Ia kehendaki, dan Ia mempercayakannya kepada kita dengan sebuah perutusan. Allah memberikan apa yang kita perlukan untuk menghasilkan buah-buah Kerajaan Allah, dan Ia mengharapkan kita menggunakannya dengan rajin dan penuh tanggungjawab. Tidak ada dua orang yang persis sama, dan Allah memperlakukan masing-masing pribadi secara individual karena ia adalah ciptaan dan gambar-Nya. Apakah aku telah menggunakan semua talenta yang diberikan Allah, atau tidak menaruh perhatian sama sekali; yang penting aku senang?

2.Para hamba yang telah menggandakan talenta dan mengembalikannya kepada tuannya, telah memahami tujuan hidup mereka dan tidak  menyia-nyiakan waktu yang ada. Para hamba ini memberikan hasil ganda atas talenta yang diberikan kepadanya, dan mereka menerima dari tuannya ganjaran yang lebih besar. Masing-masing dari kita diberi waktu yang terbatas dalam kehidupan ini untuk menggunakan bermacam pemberian dari Allah untuk memuliakan nama-Nya dan membantu menyelamatkan jiwa-jiwa lain. Setelah kita bekerja setiap hari, seharusnya mendengarkan kata-kata ini: “Baik sekali perbuatanmu hamba yang baik dan setia!.”

3.Betapa sering kita dilumpuhkan oleh ketakutan, sehingga kita tidak berbuat sesuatu demi melindungi diri sendiri. Bahkan seringkali berpikir, kita diberi terlalu sedikit bila dibanding orang lain, sehingga menjadi alasan untuk marah kepada Allah, dan membenarkan diri sendiri untuk tidak berbuat sesuatu bagi kemuliaan Allah. Kita mudah menyalahkan keadaan atau orang lain atas nasib kita, tetapi kenyataan sebenarnya adalah kita mengabaikan untuk menghasilkan buah seperti dikehendaki  Allah. Tuan tadi tidak menuntut laba 5 talenta kepada hamba yang diberi 1 talenta. Si tuan akan sangat bahagia, jika hamba tersebut bisa mengembalikan lebih dari 1 talenta. Tapi dasar hamba pemalas, ia lebih mementingkan egoismenya sendiri, cinta diri, dan malaaaaasss. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan talenta pemberian Allah dengan pengembalian yang berarti.
*(MaSRI,berkat.id)*

Salam Damai Kristus
RUAH

Sabtu, 31 Agustus 2019
Hari Biasa Pekan XXI

“Hiaslah rumahmu sebaik-baiknya, tetapi ingatlah juga si miskin.” (St. Yohanes Krisostomus)

Antifon Pembuka (Yoh 13:34)

Perintah baru Kuberikan kepadamu, yaitu supaya kamu saling menaruh cinta kasih, sebagaimana Aku menaruh cinta kasih kepadamu.

Doa Pembuka

Allah Bapa Maha Pengaish, semua orang Kauberi kesempatan untuk menaruh cinta kasih. Kami mohon, semoga anugerah itu dapat berkembang dengan suburnya pada kami, sehingga dengan demikian dunia ini menjadi tempat penuh dengan cinta kasih. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepan-jang masa. Amin.
 
Kita harus terus belajar mengasihi Allah secara sungguh-sungguh. Caranya, bukan hanya lewat kata-kata tetapi dalam setiap langkah kehidupan kita.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (1Tes 4:9-11)

"Kalian belajar kasih mengasihi dari Allah."
 
Saudara-saudara, tentang kasih persaudaraan, kiranya tidak perlu aku menulis kepadamu. Sebab kalian sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Hal itu kalian amalkan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kalian, Saudara-saudara, agar kalian lebih sungguh-sungguh lagi mengamalkannya. Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, sebagaimana telah kami pesankan kepada kalian.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan akan datang menghakimi para bangsa dengan adil.
Ayat. (Mzm 98:1.7-8.9)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
2. Biarlah gemuruh laut dan segala isinya, dunia dan semua yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gemunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan Tuhan.
3. Sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Setelah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2Kor 8:9)
Yesus Kristus menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya.

Tuhan mempercayakan banyak hal yang baik dalam diri setiap orang sesuai dengan kemampuannya. Tuhan hanya minta agar rahmat itu kita bagikan dan kembangkan, bukan pertama-tama berapa banyak hasilnya tetapi berapa besar usaha kita membagikan dan mengembangkan rahmat Tuhan itu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (25:14-30)
 
"Karena engkau setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu."

Pada suatu hari Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan memercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberinya lima talenta, yang seorang lagi dua, dan seorang yang lain lagi satu, masing-masing menurut kemampuannya. Lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu dan memperoleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta pun berbuat demikian, dan mendapat laba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di tanah, lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama kemudian pulanglah tuan hamba-hamba itu, lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta datang dan membawa laba lima talenta. Ia berkata, ‘Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku. Lihat, aku telah memperoleh laba lima talenta’. Maka kata tuannya kepadanya, ‘Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil! Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu’. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta, katanya, ‘Tuan, dua talenta Tuan percayakan kepadaku. Lihat, aku telah mendapat laba dua talenta’. Maka kata tuan itu kepadanya, “Baik sekali perbuatanmu hamba yang baik dan setia! Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu’. Kini datang juga hamba yang menerima satu talenta dan berkata, ‘Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam, yang menuai di tempat Tuan tidak menabur, dan memungut di tempat Tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah. Ini, terimalah milik Tuan!’ Maka tuannya menjawab, ‘Hai engkau, hamba yang jahat dan malas! Engkau tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur, dan memungut di tempat aku tidak menanam. Seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerima uang itu serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu daripadanya, dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, akan diberi sampai ia berkelimpahan, tetapi siapa yang tidak punya, apa pun yang ada padanya akan diambil. Dan buanglah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sana akan ada ratap dan kertak gigi.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan

Orang yang layak untuk Kerajaan Surga adalah mereka yang "tahu bersyukur". Rasa syukuritu terungkap lewat menghargai segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan dalam hidup. Orang yang bersyukur tahu bahwa segala sesuatu itu hanya dapat terjadi karena penyelenggaraan Tuhan, bukan karena kuat dan hebatnya orang itu. Hal-hal ini sulit dilakukan oleh orang yang tidak tahu atau bahkan malas bersyukur, mereka hanya menyimpan rahmat bagi dirinya sendiri.

Antifon Komuni (Mat 25:16)

Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta. Ia menjalankan uang itu lalu memperoleh laba lima talenta.

Doa Malam
   
Allah Bapa Maha Pengasih, kami menerima bakat agar kami gunakan untuk memperoleh kedamaian. Berkenanlah membantu kami dengan perantaraan Roh Kudus agar kami dapat melaksanakan semuanya itu dan menjadi orang yang berkenan di hati-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Salam Damai Kristus
Doa Sabtu
31 Agst 2019
By : Team Moderator DSM

Bapa kami yang Maha Kuasa,

sebagai pewaris keselamatanMu,
kami telah ditebus oleh darah suci Yesus putraMu.
Ia mengorbankan diriNya demi menebus dosa kami
dan nama kami tertulis di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba.
Kami terberkati dengan penebusan dosa
dan diselamatkan demi kekekalan hidup di surga.
Terima kasih atas kasihMu yang begitu ajaib
dan anugrahMu yang sungguh besar.

Bapa,
penghiburan yang Engkau berikan kepada kami
melalui Injil adalah seperti jaring yang
mengamankan kami dari suka dukanya kehidupan.
Engkau tidak menghindarkan kami dari
kejadian yang dialami manusia yang belum percaya kepadaMu,
namun kekuatanMu sempurna di dalam kelemahan kami.
Engkau bukan hanya menganugrahkan kami
rahmat dan memenuhi semua kebutuhan kami.
namun Engkau telah menyediakan tempat
bagi kami di mana yang terbaik akan tiba,
yaitu suatu tempat yang indah di mana
kami tidak lagi merasa ditinggalkan,
kesakitan, dan kesedihan.
Buatlah kami tetap setia melangkah bersamaMu
sampai tiba saatnya Engkau memanggil kami tinggal di rumahMu.
Amin.

Salam Damai Kristus
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Sabtu,_ *31 Agustus 2019*

1Tes 4:9-11
Mzm 98:1,7-9
Mat 25:14-30

*3 S (SETIA SETIAP SAAT)*

_Engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.  -- Mat 25:23_

Membaca bacaan hari ini, saya sangat diberkati. Saya jadi ingat ketika mulai bergabung dalam persekutuan doa di kampus dua puluh tahun lalu. Dari hanya bertugas melayani sebagai petugas OHP dan menuliskan lagu yang akan ditayangkan, lalu dipercaya menjadi _singer,_ hingga akhirnya menjadi _worship leader_ (pemimpin pujian).

Tidak sampai di situ saja. Beberapa tahun kemudian saya berdoa agar kesaksian hidup saya tidak hanya sebatas kota Palembang, tetapi dapat lebih luas lagi. Pada tahun yang sama, Bahasa Kasih mencari orang-orang yang bersedia menjadi penulis. Saya mencoba mengirimkan tulisan saya, dan Puji Tuhan, tulisan saya diterima. Sampai sekarang saya bisa bergabung menjadi salah satu penulis renungan Bahasa Kasih.

Tuhan juga menambahkan talenta bagi saya untuk menjadi pewarta. Saya sadar bahwa semua talenta yang saya miliki bukan membawa saya kepada kesombongan, tetapi semua itu karena saya belajar setia dalam perkara-perkara kecil terlebih dulu. Saya hanyalah alat Tuhan. Kapanpun Tuhan mau memakai saya, saya harus siap.

Tuhan kembali menyadarkan kita, apapun dan seberapapun talenta yang Tuhan berikan kepada kita, marilah kita belajar untuk setia mengembangkan talenta itu. Percayalah, ketika kita setia, Tuhan akan menambahkan talenta kepada kita. Dan semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan. (Ar)

_Sudahkah saya mengembangkan talenta yang saya miliki?_

Salam Damai Kristus
*SABTU, 31 AGUSTUS 2019*
Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XXI

Bacaan Injil
Mat 25:14-30

Karena engkau setia memikul tanggung-jawab dalam perkara kecil,
masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada suatu hari
Yesus mengemukakan perumpamaan berikut
kepada murid-murid-Nya,
"Hal Kerajaan Surga itu
seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri,
yang memanggil hamba-hambanya
dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

Yang seorang diberikannya lima talenta,
yang seorang lagi dua, dan yang seorang lain lagi satu,
masing-masing menurut kesanggupannya,
lalu ia berangkat.

Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu.
Ia menjalankan uang itu dan memperoleh laba lima talenta.
Hamba yang menerima dua talenta pun berbuat demikian,
dan mendapat laba dua talenta.
Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi
dan menggali lubang di tanah,
lalu menyembunyikan uang tuannya.

Lama kemudian pulanglah tuan hamba-hamba itu,
lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
Hamba yang menerima lima talenta datang
dan membawa laba lima talenta.
Ia berkata, 'Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku.
Lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.'
Maka kata tuannya kepadanya,
'Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia;
engkau telah setia dalam perkara kecil!
Aku akan memberikan kepadamu
tanggung jawab dalam perkara yang besar.
Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta, katanya,
'Tuan, dua talenta Tuan percayakan kepadaku.
Lihat, aku telah mendapat laba dua talenta.'
Maka kata tuan itu kepadanya,
'Baik sekali perbuatanmu hamba yang baik dan setia!
Karena engkau telah setia
memikul tanggung jawab dalam perkara kecil,
maka aku akan memberikan kepadamu
tanggung jawab dalam perkara yang besar.
Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Kini datang juga hamba yang menerima satu talenta dan berkata,
'Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam,
yang menuai di tempat Tuan tidak menabur,
dan memungut di tempat Tuan tidak menanam.
Karena itu aku takut
dan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah.
Ini, terimalah milik Tuan!'

Maka tuannya menjawab,
'Hai engkau, hamba yang jahat dan malas!
Engkau tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur,
dan memungut di tempat aku tidak menanam.
Seharusnya
uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang,
supaya sekembaliku aku menerima uang itu serta dengan bunganya.
Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya,
dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
Karena setiap orang yang mempunyai,
akan diberi sampai ia berkelimpahan,
tetapi siapa yang tidak punya,
apa pun yang ada padanya akan diambil.
Dan buanglah hamba yang tidak berguna itu
ke dalam kegelapan yang paling gelap.
Di sanalah akan ada ratap dan kertak gigi'."

Demikianlah Injil Tuhan.
=====================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                   Sabtu, 31 Agustus 2019                                                                                                                     RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Bertanggungjawablah Akan Talenta Yang Diberikan Tuhan!*                                                                                  (Matius 25: 14 - 30)

Saudara-saudara... Perumpaman tentang pemberian harta kepada tiga hamba dalam Injil hari ini sesungguhnya mau mengingatkan kita akan karunia yang diberikan Tuhan kepada masing-masing kita, sejak kita diciptakan. Masing-masing kita diberi karunia yang berbeda-beda sesuai dengan rencana Tuhan. Tuhan sendiri tahu kemampuan setiap pribadi. Perbedaan itu sesungguhnya bukan soal kekurangan atau kelebihan, tetapi itulah keadilan Tuhan yang diberikannya kepada masing-masing kita. Tetapi yang paling penting adalah apakah kita bertanggungjawab akan karunia yang diberikan Tuhan itu? Apakah kita berusaha untuk mengolah harta yang kita terima dari Tuhan dan menghasilkan buah?

Saya ingat seorang anak seminari. Sewaktu dia masuk Postulansi, dia tidak tahu main musik. Sewaktu tatap muka untuk pertama kali dengan saya, saya sempat tanya: “Apa saja hobi anda?”  Dengan polos dia menjawab: “ Saya senang berolah-raga, bercocok tanam.”  Sewaktu saya tanya tentang musik, jawabnya: “Saya senang dengar musik tetapi tidak tahu main musik.” Kemudian saya memberinya dorongan. Saya masih ingat apa yang pernah saya katakan padanya: “Kalau engkau senang mendengar musik, itu berarti dalam diri dan pikiranmu sudah ada kerinduan untuk sendiri bermain musik. Ayo...mulailah belajar musik ....katakan pada dirimu bahwa engkau bisa. Ayo, pelan-pelan...nanti engkau bisa.”  Dengan senyum di wajahnya dia berkata: “Baik Pater...mulai hari ini saya latih.”  Sesudah 9 tahun lewat, dia kini sudah bisa main guitar dan organ.  Talenta yang pada awalnya sangat sedikit, tetapi karena dia tekun mengolahnya, maka kini talentanya berkembang menjadi besar dan bermanfaat bagi banyak orang.
Saudara-saudari... Sebagai orang beriman, kita harus selalu percaya bahwa talenta yang kita miliki saat ini adalah pemberian Tuhan. Sebagai tanggapan atas kebaikan Tuhan, kita harus selalu bersyukur kepadaNya. Kita harus beryukur karena Tuhan sudah mempercayakan kita untuk mengolah harta-Nya. Yang pasti Tuhan selalu mengharapkan agar hartanya memperoleh untung.  Di saat kita mengolah harta itu dan menghasilkan untung itu berarti secara tidak langsung kita sudah menghayati dan mengamalkan iman kepercayaan kita kepada-Nya. Lewat pekerjaan itu kita mau tunjukkan kepada Tuhan, bahwa kita sungguh menghargai Dia, percaya kepada-Nya dan mengasihi Dia. Kita tidak mau mengecewakan Tuhan; Dengan melakukan hal itu, secara tidak langsung kita mau tanamkan dalam diri Allah bahwa kita adalah hamba-Nya, yang setia, yang patut dipercayai. Kalau kita selalu setia dan bertanggungjawab menjalankan pekerjaan Tuhan, maka kepada kita akan diberinya tanggungjawab yang lebih besar. Dalam Injil tuan berkata kepada hambanya: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggungjawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberi kepadamu tanggungjab dalam perkara yang besar!”  Sebaliknya, kalau pekerjaan Tuhan tidak dijalankan dengan baik, maka kehidupan orangnya akan berantakan. Dalam Injil tuan berkata: “Campakanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Marilah saudara-saudari...  kita berdoa semoga harta yang Tuhan sudah berikan kepada kita, kita kerjakan dengan penuh tanggungjawab sampai menghasilkan buah.

Kita mohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen!

Salam Damai Kristus
" Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-2 diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-2 Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk se-lama2nya ". (Maz 133:1-3)

Agar kita bisa hidup rukun, buanglah dari dalam hidup kita : segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, irihati dan segala kejahatan, tetapi hendaklah kita ramah, penuh kasih dan saling mengampuni, sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kita,

Dan jangan lupa, hiduplah sebagai anak-2 terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran.

Salam Damai Kristus
Santo-Santa
31 Agustus

Santo Raymundus Nonnatus, Pengaku Iman

Julukan ‘Nonnatus’ yang berarti ‘Yang tidak dilahirkan’ sertamerta menunjukkan kepada kita bahwa ada suatu keanehan seputar kelahiran Raymundus. Memang Raymundus tidak lahir seperti biasanya. Ibunya meninggal dunia karena sakit keras selagi Raymundus masih ada dalam kandungan. Demi menyelamatkan dia, dokter terpkasa melakukan operasi terhadap ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi. Dokter berhasil mengeluarkan dia dari rahim ibunya. Karena itulah, ia dijuluki ‘Nonnatus’.

Raymundus lahir di Portello Katalonia, Spanyol pada tahun 1204. Ayahnya seorang bangsawan dari keluarga Sarrois yang disebut juga keluarga Segers. Meskipun berdarah bangsawan, namun keluarganya hidup miskin dan serba berkekurangan. Raymundus mengalami kegetiran hidup selama masa mudanya. Meskipun terlilit kemiskinan, ia tetap riang. Dalam doa dan imannya yang teguh, ia menyerahkan hidupnya kepada penyelenggaraan ilahi Allah. Dalam situasi sulit ini, ia mengatakan keinginannya untuk menjadi seorang biarawan. Ayahnya tidak merestui dan menyuruh dia mengusahakan kebun mereka yang terletak jauh dari kampung halaman dengan maksud agar dia melupakan cita-citanya itu. Namun usaha sang ayah tidak berhasil. Sebaliknya Raymundus lebih mempunyai waktu untuk berdoa dan merenung.

Setelah mengalami banyak kesulitan, ia diterima oleh Santo Petrus Nilaskus dalam tarekat Marcederian. Ordo ini didirikan pada tahun 1256 dengan tujuan pokok ialah membebaskan para budak dan tawanan yang beragama Kristen dari tangan-tangan orang Islam. Mula-mula Raymundus bekerja di Barcelona selama 3 tahun. Kemudian ia diutus ke Aljair, Afrika Utara untuk menebus para budak dan tawanan Kristen dari tangan orang-orang Islam. Ia membawa banyak uang untuk menebus mereka. Namun uang itu ternyata tidak mencukupi. Karena itu ia dengan sukarela menyerahkan diri sebagai pengganti para budak dan tawanan itu. Ia bekerja keras sambil mewartakan Injil Kristus dan mengajar agama. Kegiatannya ini menimbulkan amarah besar di kalangan para majikan dan mandor, karena ajarannya dianggap sangat merugikan mereka.

Raymundus dipenjarakan selama 8 bulan dengan siksaan yang berat. Bibirnya dilubangkan dan dikunci sehingga tidak bisa lagi mengajar orang banyak. Untunglah bahwa uang tebusan baginya segera tiba, sehingga ia dapat segera dibebaskan dan bisa kembali ke Spanyol. Disana ia mendapat kabar bahwa Paus Gregorius IX sangat terharu dan kagum akan ketabahan dan keberaniannya mewartakan injil Kristus kepada orang-orang Islam. Paus mengangkatnya menjadi Kardinal dan mengundangnya datang ke Roma. Tetapi rupanya Tuhan sudah puas dengan jasa-jasanya. Sementara ditengah perjalanan, ia jatuh sakit dan menghembuskan nafasnya di Cardona, dekat Barcelona. Raymundus meninggal dunia pada tahun 1240. Ia dihormati sebagai pelindung para ibu yang akan melahirkan.

Sumber : www.imankatolik.or.id

Kamis, 29 Agustus 2019

#renungan

*HIDUP DALAM KEKUDUSAN*

Jumat 30 Agust 2019

_`Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus` (1Tes 4:7)_

Kita semua diciptakan secitra dengan Allah. Allah adalah kudus, oleh karena itu kita pun dipanggil untuk menjadi kudus sama seperti Allah, `sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus` (1Ptr 1:16).

Menjadi kudus! Kata-kata ini terdengar seakan-akan mustahil bagi kita. Memang, ini mustahil apabila kita mau menjadi kudus dengan kekuatan kita sendiri, namun bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil. Apabila Tuhan menghendaki, bahkan memerintahkan kita untuk menjadi kudus, berarti Tuhan yakin bahwa kita `bisa` menjadi kudus. Tentu, Tuhan tidak buta terhadap segala kerapuhan kita. Dia tahu kita ini debu, namun apa yang mustahil bagi kita akan dibuat-Nya menjadi mungkin berkat rahmat-Nya, asalkan kita mau, percaya, dan bekerja sama dengan rahmat-Nya. Buktinya sudah jelas: para santo dan santa. Mereka orang rapuh yang menjadi kudus karena bekerja sama dengan rahmat Tuhan. Mengapa kita tidak meniru mereka?

Apabila kita beranggapan bahwa mustahil untuk hidup kudus, maka kita akan cenderung `memanjakan` diri sendiri dalam hal dosa dan berkata, `Ah, ini hanya dosa kecil, tidak apa-apa.` Sikap seperti ini akhirnya membuat kita terbiasa melakukan dosa. Namun, apabila kita memiliki target menjadi kudus, maka dosa sekecil apa pun tidak kita tolerir. Apabila melakukan dosa, pasti kita akan cepat-cepat melakukan Pengakuan Dosa.

Ya Tuhan, bantulah kami untuk selalu hidup dalam kekudusan, sama seperti Engkau yang kudus adanya.

*_Laurentia Vonny_*

Jumat 30 Agust 2019
1Tes 4:1-8; Mzm 97:1-2.5-6.10-12; Mat 25:1-13

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
Jumat, 30 Agustus 2019

*SIAP ATAU TIDAK!*

*BACAAN*
*1Tes 4:1-8* – “Inilah kehendak Allah, yaitu supaya kamu semua kudus”
*Mat 25:1-13* – “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya”

*RENUNGAN*
1.Firman Tuhan hari ini mengundang kita agar memiliki minyak untuk lampu kita, yaitu selalu siap bagi kedatangan-Nya. Ia datang pada saat dan dengan cara yang kita tidak tahu. Para gadis yang bodoh gagal mengantisipasi kapan dan bagaimana Tuhan akan datang, dan mereka tidak siap. Hal demikian bisa terjadi dalam hidup kita, ketika kita dicemaskan oleh ribuan masalah, pekerjaan, masa depan dan kita tidak memperhatikan yang paling esensial dalam hidup ini. Kita melewatkan kehadiran Kristus dalam diri orang-orang di sekitar kita dan lingkungan di mana kita hidup. Kadangkala, Kristus datang kepada kita melalui pengorbanan dan penderitaan, tetapi kita tidak mengenali Dia dalam keadaan tersebut, dan kita acuh-tak-acuh saja. Seruan Kristus lewat Santa Faustina: “Engkau akan menyiapkan dunia untuk kedatangan-Ku yang terakhir” (BCH 429) pun kita anggap sepi. Siapa yang peduli?

2.Dari Firman hari ini, dengan jelas menyatakan bahwa ada banyak orang, karena pilihan mereka sendiri, tidak diselamatkan. Kata-kata mengerikan yang akan mereka dengar dari Tuhan adalah: “Sungguh, aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu.” Tuhan mengharapkan kita, dengan kebebasan yang ada pada kita, memilih dengan sangat serius. Ia menawarkan undangan kepada kita untuk menanggapi dengan penuh cinta dan ketaatan atas Kasih-Nya. Allah tidak bisa menyelamatkan kita tanpa kerjasama dari pihak kita. Pertanyaan yang harus dijawab dengan tegas: 1) Di luar Gereja-gereja Kristus tidak ada keselamatan (Jawaban: benar/salah). 2) Di luar Kristus tidak ada keselamatan (Jawaban: benar/salah). Dan bagaimana menjelaskannya?

3.Dari Firman hari ini kita diingatkan bahwa rahmat Allah bisa berlalu dan tidak pernah akan kembali. Oleh karena itu kita perlu merasakan kehadiran Allah di dalam hal-hal kecil dalam keseharian hidup kita dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mencintai dan melayani Dia. Iman kita harus selalu siap dan fokus pada Tuhan. Jika kita menganggap pasti diselamatkan secara otomatis karena baptisan atau menganggap bahwa kita sudah diselamatkan, kita bisa kehilangan kesempatan untuk berada bersama Dia.
🇮🇩MaSRI🇮🇩

Salam Damai Kristus
Kencan Dengan Tuhan
Jumat, 30 Agustus 2019

 Bacaan:  Pkh 9:10
"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi."

Renungan:
  Ada 2 orang pemuda bernama Erick dan Alvaro yang mendapatkan pekerjaan di sebuah kontraktor bangunan. Keduanya mendapatkan pekerjaan yang berbeda. Erick mendapatkan tugas untuk mengerjakan kusen kayu dan daun pintu. Sedangkan Alvaro mendapat tugas untuk mengaduk pasir dan semen serta memasang bata. Dalam pikiran Erick, pekerjaannya sebagai tukang kayu lebih ringan dan mudah dibandingkan Alvaro. Namun ternyata rumah yang akan dibangun adalah rumah dengan desain antik dan banyak ukiran kayunya. Setelah diajari berkali-kali oleh tukang senior di perusahaan itu dan tidak bisa juga, Erick akhirnya putus asa. Ia pun mendatangi Alvaro yang sedang giat bekerja tanpa lelah. Akhirnya mereka berdua bertukar pekerjaan. Alvaro mengerjakan bagian pekerjaan Erick, tentunya dengan dilatih lebih dahulu. Setelah beberapa waktu sang mandor memeriksa pekerjaan kedua anak baru itu. Mandor itu terpana dengan hasil kusen dan pintu yang dikerjakan dengan begitu baik. Sang mandor pun bertanya kepada Alvaro bagaimana ia bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Alvaro menjawab, "Bagi saya sederhana saja, Pak. Lakukan semuanya dengan tulus dan jangan pernah meremehkan apapun. Dengan begitu saya lebih mengerti saat diajarkan dan bersungguh-sungguh mengerjakannya."
  Itulah rahasia keberhasilan Alvaro. Dia tidak cepat meremehkan pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Hal yang sama berlaku juga dengan hidup kita. Dalam kehidupan ini kita akan diperhadapkan dengan banyaknya tantangan dan seringkali berbagai tantangan yang datang justru menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk melangkah maju ke tingkat keberhasilan. Kuncinya adalah bagaimana kita menyikapi tantangan itu. Jangan pernah meremehkan ataupun sebaliknya merasa tidak mampu dan menolaknya. Cobalah belajar dengan sungguh-sungguh, lalu bekerjalah dengan segenap hati, maka kerja keras kita tidak akan sia-sia.
  Jadi, segala sesuatu yang djumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sebaik-baiknya. Tuhan memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, berilah aku hikmat agar aku dapat mengerjakan setiap tugas dan pekerjaanku dengan baik. Jangan biarkan kemalasan menguasaiku, tapi berkatilah setiap usaha dan jerih payahku agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapanku dan kehendakMu. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
*JUMAT, 30 AGUSTUS 2019*

Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XXI

Bacaan Injil
Mat 25:1-13

Lihatlah pengantin datang, pergilah menyongsong dia!

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada suatu hari
Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya,
"Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis,
yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin.
Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
Yang bodoh membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak.
Sedangkan yang bijaksana,
selain pelita juga membawa minyak dalam buli-bulinya.
Tetapi karena pengantin itu lama tidak datang-datang,
mengantuklah mereka semua, lalu tertidur.

Tengah malam terdengarlah suara orang berseru,
'Pengantin datang! Songsonglah dia!'
Gadis-gadis itu pun bangun semuanya
lalu membereskan pelita mereka.
Yang bodoh berkata kepada yang bijaksana,
'Berilah kami minyakmu sedikit, sebab pelita kami mau padam.'
Tetapi yang bijaksana menjawab,
'Tidak, jangan-jangan nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kalian.
Lebih baik kalian pergi membelinya pada penjual minyak.'

Tetapi sementara mereka pergi membelinya, datanglah pengantin,
dan yang sudah siap sedia
masuk bersama dia ke dalam ruang perjamuan nikah.
Lalu pintu ditutup.
Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata,
'Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!'
Tetapi tuan itu menjawab,
'Sungguh, aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kalian.'

Karena itu, berjaga-jagalah,
sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya."

Demikianlah Injil Tuhan.
=====================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                Jumat, 30 Agustus 2019                                                                                                                      RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Biarkanlah Pelita Kita Bernyala Setiap Saat!*                                                                                   (Matius 25: 1 - 13)

Saudara-saudari .... Merenungkan Injil hari ini, saya membayangkan ke-10 gadis cantik yang sudah berdandan, berpakaian bagus dengan tata rias yang cantik. Masing-masing sudah menyiapkan pelita bernyala. Saya bayangkan sukacita mereka dalam menanti mempelai laki-laki; saya juga bayangkan sukacita mereka di saat mereka akan mendampingi pengantin laki-laki ke tempat perjamuan; saya bayangkan juga pergulatan mereka melawan ngantuk dan kecapaian menantikan kedatangan pengantin laki-laki yang waktu kedatangannya tidak menentu, apalagi waktu itu tidak ada celpon untuk mencari tahu posisi pengantin sudah di mana. Singkatnya kesepuluh gadis cantik ini masing-masing sudah mempersiapkan diri untuk mengapiti pengantin laki-laki, dan juga sudah menahan sakit dan berperang lawan ngantuk. Jadi semua sudah siap untuk menjalankan tugas, dan sudah membayangkan sukacita berjalan mengapiti penganti masuk ke dalam ruang perjamuan. Tetapi sayangnya, di saat pengantin laki-laki datang di tengah malam, minyak pelita milik kelima gadis cantik ini sudah habis. Pelitanya sudah tidak bernyala lagi. Tata rias bisa diatur kembali, pakaian bagus bisa dirapihkan kembali, pelita tetap ada, tetapi sayang, minyak, sebagai bahan bakar dari dalam sudah habis. Segala persiapan dan pengurbanan dari awal sampai tibanya sang pengantin laki-laki kini tidak punya arti hanya karena zat pembakar dari dalam tidak ada. Sementara kelima gadis cantik yang menyiapkan cadangan minyak, bahan bakar, bersukacita mengapiti pengantin laki-laki, dengan pelita bernyala menerangi sang pengantin laki-laki masuk ke dalam tempat perjamuan yang penuh sukacita.

Saudara-saudari .... Kisah ini mau mengingatkan kita untuk selalu siap sedia menantikan kedatangan Tuhan kita. Dalam rangka persiapan menantikan kedatangan Tuhan kita, kita butuh persiapkan yang paling utama dan sangat penting adalah ‘bahan bakar’. Apakah bahan bakar itu? Bahan bakar itu adalah roh yang selalu mendorong kita untuk berlangkah maju; semangat perjuangan yang berasal dari dalam diri kita untuk bertemu Tuhan; semangat yang selalu menghidupkan harapan kita untuk mau bertemu Tuhan. Semangat atau bahan bakar itu tidak boleh habis. Bahan bakar itu diperoleh lewat doa harian entah pribadi atau kelompok, membaca Kitab Suci, berdiskusi dalam kelompok doa atau Kitab Suci, membaca buku-buku rohani, mendengar renungan-renungan rohani, mendengar lagu-lagu rohani, ikut rekoleksi atau retreat, pengakuan dosa, mengikuti Misa dan menerima Tubuh dan darah Kristus. Kalau semua ini selalu diperhatikan setiap waktu, maka Pelita iman kita pasti selalu bernyala sehingga di saat Tuhan datang kita selalu siap menyambutnya dengan Pelita yang bernyala. Segala barang lahiriah yang lain seperti tata rias, pakaian yang indah dan pengorbanan kita akan turut mendukung sukacita dalam rangka menanti kedatangan Tuhan kalau semangat iman kita tetap ada, tetapi kalau semangat iman kita sudah tidak ada, maka semua barang lahiriah yang sudah kita siapkan itu sudah tidak punya arti.

Marilah saudara-saudari...  Kita berdoa, semoga Tuhan selalu menggerakkan hati kita untuk selalu aktip berdoa, membaca Kitab Suci, menghadiri kegiatan rohani, mengakui dosa, selalu menerima Tubuh dan darah Kristus agar dengan demikian pelita iman kita tetap bernyala sampai pada kedatangan Tuhan kita.

Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen!

Salam Damai Kristus
Jumat, 30 Agustus 2019
Hari Biasa XXI
1Tes. 4:1-8; Mzm. 97:1-2b,5-6,10,11-12 ; Mat. 25:1-13

"Gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka" (Mat 25,4)

Nyala sebuah pelita sangat tergantung pada persediaan minyak yang dimiliki. Sebuah pelita yang masih memiliki minya cukup akan dapat terus menyala dan menjadi penerang. Sebaliknya, pelita yang kehabisan minyak akan semakin meredup, dan akhirnya mati sehingga tidak bisa menjadi penerang. Kita masing-masing diberi tanggung jawab untuk memelihara nyala pelita kehidupan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Dan nyala pelita itu sangat kita butuhkan supaya kita tidak hidup dalam kegelapan. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk menjadi seperti gadis-gadis bijaksana yang selalu siap dengan persediaan minyak bagi pelita kehidupan kita. Dari mana dan bagaimana kita mendapatkan minyak tersebut? Tuhan selalu menyedikan minyak yang membuat hidup kita terus bernyala terang dan mampu menerangi lingkungan sekitar. Maka, dapatkan selalu stock minyak itu melalui doa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, pertemuan bersama untuk pendalaman iman (gunakan kesempatan Bulan Kitab Suci bulan September nanti), Ekaristi, devosi, adorasi, dll.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus
SABDA KASIH
"SELALU MEMPERSIAPKAN DIRI!"
Jumat, 30 Agustus 2019
Matius 25:1-13

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”

Salah satu hal yang paling menantang sewaktu bersekolah adalah adanya ujian tiba-tiba. Sang guru membuat ujian tanpa menginformasikannya terlebih dahulu kepada para siswa. Tentunya, metode seperti ini mencemaskan para siswa terlebih untuk mereka yang kurang belajar dan yang tidak belajar sama sekali. Tetapi kalau para siswa yang sudah siap, ujian tiba-tiba tidak dilihat sebagai sesuatu yang dicemaskan. Malahan itu dipandang sebagai sebuah test untuk melihat sejauh mana mereka belajar.

Bacaan injil hari ini berkisah tentang perumpamaan sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin. Lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Kelima gadis menjadi bijaksana karena mereka mengantisipasi kemungkinan yang terjadi saat mereka menanti pengantin. Sementara kelima gadis dinilai bodoh karena mereka tidak melihat situasi dan kemungkinan lain yang tiba-tiba terjadi saat menanti pengantin itu. Perumpamaan ini mengingatkan kita tentang bagaimana kita menghadapi Kerajaan Allah. Sebagai umat yang sedang bersiarah, hidup kita di dunia ini adalah sebuah persiapan untuk terlibat dalam Kerajaan Tuhan. Persiapan itu hadir lewat tingkah laku dan batin kita yang penuh kasih dan kebaikan.

Saudara/I, marilah kita berlaku seperti para gadis bijaksana. Kita selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di dalam hidup kita. (*saotilayad)

Salam Damai Kristus