Sabtu, 31 Agustus 2019

 ​​Minggu, 1 September 2019
Minggu Biasa XXII
Sir 3:19-21.30-31; Mzm 68:4-5ac.6-7ab.10.11; Ibr 12:18-19.22-24a; Luk 14:1.7-14

Bacaan Injil hari ini setidaknya berisi 3 point penting permenungan. Pertama, Yesus berkenan datang ke perjamuan makan di rumah seorang pemimpin Farisi. Kedua, Yesus menyampaikan kriteria memilih tempat duduk dalam perjamuan. Ketiga, Ia juga memberikan kriteria siapa yang sebaiknya diundang ketika kita mengadakan pesta perjamuan. Kita dalami salah satu, yakni yang pertama. Minggu kemarin, dalam Pekan Biasa XXI, secara berturut-turut, Senin-Selasa-Rabu, kita merenungkan "sabda celaka" Yesus yang ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus mengecam mereka dengan sangat keras: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik (Mat 23,13-16.23-29), ... hai pemimpin-pemimpin buta (Mat 23,16). Hari ini, pada Minggu Biasa XXII, kita merenungkan sikap Yesus yang berkenan hadir ketika diundang ke rumah seorang pemimpin Farisi untuk makan bersama. Meskipun Yesus berulang kali marah dan mengecam orang-orang Farisi, tetapi Ia tetap mau bersahabat dengan mereka. Yang Ia benci dan Ia kecam adalah sikap orang-orang Farisi yang munafik, bukan pribadi-pribadi mereka. Sebaliknya, Yesus tetap mengasihi mereka. Ketika ada kesempatan, Ia tetap mendekati mereka dan memberikan pengajaran-pengajaran yang penting untuk keselamatan mereka. Kali ini Ia mengajar tentang kriteria memilih tempat duduk dalam perjamuan: sikap rendah hati dan mengutamakan orang lain; dan kriteria yang sebaiknya kita undang saat mengadakan pesta perjamuan: mengutamakan semangat berbagi para orang-orang miskin dan memberi tanpa mengharap balasan.
St. Hieronimus mengingatkan bahwa kita pun pasti memiliki sikap-sikap orang Farisi yang dikecam Yesus. Ia mengecam dan membenci dosa-dosa dan kejahatan kita. Namun, Ia tetap mengasihi kita. Ia selalu berkenan hadir dalam hati kita, dalam keluarga kita, dalam komunitas kita. Oleh karena itu, kenyataan dan kesadaran bahwa kita berdosa, jangan sampai menjadi alasan untuk tidak berdoa dan tidak hadir dalan perjamuan Tuhan (Ekaristi). Doa adalah sebuah "perjamuan" yang kita adakan dan pada saat itulah kita mengundang Tuhan untuk hadir dalam hati kita, dalam keluarga kita, dalam komunitas kita. Kepada-Nya, kita menghidangkan pujian, syukur dan permohonan, atau sekedar hening untuk mendengarkan Dia. Sebaliknya, Ekaristi adalah sebuah perjamuan yang diadakan oleh Tuhan sendiri. Kita diundang untuk hadir, berpartisipasi aktif, dan menikmati hidangan yang disediakan-Nya, lebih-lebih santapan sabda dan Tubuh-Nya.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar