Rabu, 31 Juli 2019

*KAMIS, 01 AGUSTUS 2019*

Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XVII
PW S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan Injil
Mat 13:47-53

Ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada orang banyak,
"Hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut,
lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan.
Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai.
Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu,
ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang.
Demikianlah juga pada akhir zaman.
Malaikat-malaikat akan datang
memisahkan orang jahat dari orang benar.
Yang jahat lalu mereka campakkan ke dalam dapur api.
Di sana ada ratapan dan kertak gigi.

Mengertikah kalian akan segala hal ini ?"
Orang-orang menjawab, "Ya, kami mengerti."
Maka berkatalah Yesus kepada mereka,
"Karena itu
setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran hal Kerajaan Allah
seumpama seorang tuan rumah
yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama
dari perbendaharaannya."
Setelah selesai menyampaikan perumpamaan itu,
Yesus pergi dari sana.

Demikianlah Injil Tuhan.
=======================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                  Kamis, 01 Agustus 2019                                                                                                                     RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Jadilah Tangkapan Yang Berguna Bagi Kemuliaan Nama Tuhan!*                              Matius 13:47-52

Saudara-saudari.... Hari ini Yesus menyampaikan satu perumpamaan yang menarik tentang Kerajaan Allah.  Kerajaan Allah seumpama pukat yang dilabuhkan di laut lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Yang menarik dari perumpaan ini adalah soal keterbukaan Allah. Allah lewat para pewartaNya setiap hari mewartakan kerajaan Allah kepada semua pendengar. Sabda Allah yang diwartakan itu diperdengarkan kepada siapa saja. Sabda Allah itu dilihat sebagai pukat yang menangkap setiap pendengar. Yang pasti bahwa para pendengar itu punya sifat dan tingkah lakunya yang berbeda. Ada yang mendengarkan Sabda Tuhan dengan sikap yang sangat baik; mendengarkan, memahami, menghayati dan mengamalkannya dengan baik dalam kehidupan harian. Mereka yang selalu menghayati dan mengamalkan ajaran Tuhan dianggap sebagai hasil pukatan yang baik dan dimanfaatkan oleh pemukat. Mereka adalah pendengar Sabda Tuhan yang bisa menjadi saksi Kristus dalam kehidupan harian mereka. Mereka adalah pribadi-pribadi yang yang sudah memuliakan nama Tuhan lewat kehidupan harian mereka. Pada akhir zaman, mereka ini akan hidup dengan Tuhan dalam kerajaanNya. Sementara mereka yang mendengarkan Sabda Tuhan dan tidak menghayati dan mengamalkan ajaran Tuhan dalam hidup harian, maka mereka akan dibuang. Mereka dibuang karena mereka tidak punya manfaat apa-apa. Dengan tahu dan mau mereka mengabaikan ajaran Tuhan. Tidak menganggap ajaran Tuhan punya makna untuk kehidupan mereka, baik selama hidup di dunia maupun di dunia akhirat kelak.

Saudara-saudari... Sebagai pendengar Sabda Tuhan, apakah kita selalu mendengarnya dengan penuh perhatian, menghayati dan menamalkannya dalam hidup harian kita dengan baik? Apakah pengamalan kita sudah menghasilkan buah berlimpah untuk sesama? Apakah kita sudah memuliakan Tuhan lewat cara hidup kita?
Kalau kita sudah menjadi pendengar yang bertanggungjawab dan mengamalkan isi ajaran-Nya dengan baik, maka pada saat yang sama kita juga sudah menjadi pemukat/pewarta Sabda Tuhan yang sukses. Tetapi kalau kita acuh tak acuh dan menolak ajaran Tuhan, maka akibatnya akan kita tanggung. Menurut pesan Injil hari ini, mereka yang menolak ajaran Tuhan akan dibuang pada pengadilan terakhir.

Saudara-saudari... Pilihan ada pada diri kita masing-masing, entah mau menerima Tuhan atau menolak Tuhan?

Kita berdoa semoga kita selalu menjadi pendengar yang setia dan bertanggungjawab serta selalu memuliakan nama Tuhan lewat cara hidup harian kita.

Kita memohon St. Alfonsus de Liguori dan Bunda Maria untuk selalu mendoakan kita. Amin.

Salam Damai Kristus
Kamis, 1 Agustus 2019, St. Alfonsus Maria de Liguori

*MENGANTISIPASI KERAJAAN ABADI*

*BACAAN*
*Kel 40:16-21.34-38* – “Awan menutupi Kemah Pertemuan dan kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci”
*Mat 13:47-53* – “Ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang. Demikianlah juga pada akhir zaman”

*RENUNGAN*
1. Kristus mengingatkan bahwa semua manusia tak terlepas dari pandangan Allah. Ia melihat apa saja yang kita lakukan, baik maupun buruk (Mz 139:2-3). Apapun yang baik dan yang buruk akan dibawa kepada-Nya. Selama kita masih hidup di dunia ini, Ia memberi kesempatan yang sama kepada semua orang untuk bertobat dan setia kepada-Nya atau menjauh daripada-Nya. Setiap pilihan akan membawa konsekuensi. Pastikan pilihanmu!

2. Nasib orang jahat dan tidak setia sungguh mengerikan: “Yang jahat lalu mereka campakkan ke dalam dapur api. Di sana akan ada ratapan dan kertak gigi.” Kita telah menghukum diri sendiri ketika kita tidak setia dan memisahkan diri dari Allah. Maka kita tidak perlu terus menggenggam dosa dan kita bawa ke mana-mana. Saat sekarang adalah saat kerahiman Allah dibuka untuk kita; saatnya kita bertobat dan merangkul kerahiman Allah.

3. Sabda, doa, dan Ekaristi merupakan antisipasi terhadap Kerajaan Kekal. Lewat sarana-sarana tersebut, Allah memberi makan dan menguatkan kita. Maka tugas perutusan kita adalah: Pertama, berusaha sekuat tenaga membawa orang lain untuk mengalami Allah lewat kesaksian hidup kita. Kedua, menggunakan hidup yang singkat ini untuk berbuat baik, menyebarkan kasih, dan membangun persaudaraan sejati, sehingga mereka dapat mengalami damai dan bahagia sebagai antisipasi Kerajaan Surga yang sudah harus kita alami di dunia ini.
🇮🇩MS🇮🇩

Salam Damai Kristus
Mutiara Iman

YANG BURUK DIBUANG
1 Agustus 2019

“Ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang” (Mat 13:48)

Lectio
Kel 40:16-19,34-38; Mzm 84:3,4,5-6a,8a-11; Mat 11:47-53

Suatu tengah malam Rudi datang ke rumah makan di sebelah tempat kosnya. Setelah memesan sepiring nasi goreng, Rudi membuka HP-nya dan asik menonton. Tanpa disadari, nasi gorengnya selesai dan disajikan oleh Pak Joko. Melihat layar HP Rudi, Pak Joko begitu kaget karena ternyata pemuda itu sedang nonton film porno.
Menyadari kesalahannya, Rudi pun segera mematikannya.
Sambil makan, Pak Joko menyiapkan teh manis dan memberikannya kepada Rudi sambil berkata :
”Mas Rudi, ini teh manis gratis ya. Kalau bisa, jangan lah menonton film yang bisa MENGOTORI tubuh kita. Sayang Mas!”
Dengan perasaan tidak enak, Rudi bertanya :
”Memang mengapa Pak?”
Jawab Pak Joko :
”Karena nanti pada hari penghakiman, Tuhan akan memisahkan yang baik dan tidak baik. Yang tidak baik akan DIBUANG. Artinya, kalau kita merasa ada yang TAK BAIK dalam diri kita, sebaiknya DIBUANG, daripada nanti kitanya yang DIBUANG karena MELAKUKAN dan MENYIMPAN yang TAK BAIK.”
“Wah Pak Joko penjelasannya jelas sekali. Saya akan delete semua video porno di HP saya Pak” kata Rudi.

Hidup KESUCIAN adalah melakukan apa yang diperintahkan Allah dan tidak melakukan yang dilarang oleh-Nya.

Oratio
Ya Tuhan, berilah kami kekuatan untuk selalu hidup dalam kekudusan karena Engkau adalah kudus. Amin

Missio
Marilah kita berani membuang hal yang tak baik, sebelum hal itu membawa kita pada kematian kekal.
Have a Blessed Thursday.
☘🍁Doa pagi🍁☘
Kamis 1 Agustus 2019

Doa mohon kesabaran

Tuhan Yesus,
aku mau bersyukur dan berterima kasih
untuk segala sesuatu yang kuterima
sebagai anugerah dan berkat dari Engkau.
Untuk kesabaran-Mu yang  tak pernah
putus-putusnya terhadap diriku.

Namun,
seringkali kami merasa tidak sabaran
dan mudah tersinggung menghadapi
orang lain, misalnya menunggu istri yang
bila berbelanja lama sekali menawarnya,
suami dan anak yang selalu terlambat
bangun tidur, rekan sekerja yang sering
lamban dan menunda pekerjaannya,
pengemudi mobil yang tidak berhati-hati
hingga genangan air dipinggir jalan
mengenai dan mengotori bajuku,
penjual yang menaikkan harga dua lipat
ketika dilihatnya aku berbeda, pembeli
yang menawar tanpa belas kasihan.
Semua kejadian tersebut sangat tidak
menyenangkan dan sering kami alami
setiap hari sehingga tak luput kami
menjadi kesal, jengkel dan marah.

Tuhan Yesus,
bisikkan kepada kami agar kami mau
belajar bersabar lagi seperti Engkau
bersabar kepada kami.

Janganlah kekesalan, kejengkelan dan
kemarahan kami merasuk ke dalam diri
kami di sepanjang  hari  dan menjadi
suatu kebiasaan emosi yang negatif.

Ajari kami rendah hati seperti Engkau,
dan rela memaafkan orang lain.

Terima kasih ya Yesus.
Amin.

Salam Damai Kristus
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Kamis,_ *01 Agustus 2019*

*St. Alfonsus Maria de Liguori*

Kel 40:16-21,34-38
Mzm 84:3-6,8,11
Mat 13:47-53

*KEMAH SUCI*

_.....seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa.  -- Kel 40:21_

Tuhan bersemayam di tempat yang dibangun dengan kekuatan penuh. Bila kita hidup dengan ketaatan yang penuh kepada Tuhan, maka tidaklah heran jika Tuhan tinggal dalam hidup kita.

Banyak orang berseru-seru kepada Tuhan untuk memuliakan nama-Nya, namun mereka hidup dalam pemberontakan dan ketidaktaatan. Padahal kita tahu satu-satunya yang menarik Tuhan untuk hadir adalah ketaatan.

Seorang _worship leader_ yang tidak hidup dalam ketaatan, maka yang dihasilkan saat memimpin pujian hanyalah _performance_ belaka. Umat yang hadir mungkin menikmati setiap pujian yang dibawakan, tetapi tidak ada perubahan ataupun pertobatan yang terjadi dalam hidup umat. Berbeda jika seorang _worship leader_ hidup dalam ketaatan penuh kepada Tuhan, maka setiap pujian yang dinaikkan akan menjadi penyembahan kepada Tuhan. Umat yang hadirpun akan mengalami kasih Tuhan dan pertobatan yang mengubah hidup mereka.

Demikian juga dengan Musa. Tuhan berkenan akan Kemah Suci yang dibuat Musa, karena dibuat dengan penuh ketaatan sehingga Tuhan hadir dengan kemulian-Nya, menuntun bangsa Israel menuju ke tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. (Al)

_Apakah saya sudah membangun hidup saya dengan ketaatan?_

Salam Damai Kristus
Kencan Dengan Tuhan
Kamis, 1 Agustus 2019

Bacaan: 1 Korintus 15:33 "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."

Renungan:
  Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya adalah peribahasa yang masih sering didengungkan. Makna dari peribahasa ini adalah sifat anak tidak jauh dari sifat orang tuanya. Hal ini membuat orang-orang berpikir bahwa sifat buruk yang dimiliki seorang anak pasti merupakan warisan dari sifat buruk orang tuanya.
  Kalau kita berbicara tentang kelahiran, maka kelahiran itu adalah kehendak Tuhan. Kita tidak bisa memilih siapa yang menjadi orang tua kita. Sedangkan menjadi tanaman yang baru, yang berbeda dari asalnya adalah berbicara tentang kehendak bebas. Jika kita memilih menjadi seorang koruptor karena bapak kita seorang koruptor, maka itu bukan kehendak Tuhan, tetapi kehendak sendiri. Apalagi kemudian kita bergaul dengan para koruptor, semakin mempertegas bahwa kita sendirilah penyebabnya.
  Jadi ada perbedaan besar antara bibit dan relasi. Mungkin kita adalah bibit yang berasal dari seorang yang tidak benar, tetapi jika kita menjalin relasi dengan orang benar, maka kita akan bertumbuh menjadi satu pribadi yang baru, yang berbeda dari orang tua kita. Untuk itu berhentilah menghakimi diri sendiri dan orang lain hanya karena kita berasal dari bibit yang jelek. Dari ayat yang kita baca di atas, dengan jelas sekali dikatakan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Jadi yang merusak segala sesuatu yang baik dari kita adalah pergaulan atau relasi yang buruk, bukan bibit yang buruk. Jika orang tua kita baik, bersyukurlah. Jika tidak, tetaplah bersyukur dan mencari jalan hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk dapat menjalin relasi dengan orang-orang yang benar, supaya aku dapat menjadi pribadi yang benar juga di hadapanMu. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
#renungan

*PILIHAN*

Kamis 01 Agust 2019

_`Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi` (Mat 13:49-50)_

Yesus mau menegaskan bahwa seseorang menjadi baik atau jahat itu bukan nasib yang sudah ditentukan Allah sejak semula yang membuat manusia tidak berdaya untuk mengubahnya. Kitab Kejadian menceritakan bahwa sejak semula semua yang diciptakan Allah baik adanya. Allah yang adalah Sang Sumber Kebaikan selalu menaburkan kebaikan-kebaikan dalam diri anak-anak-Nya. Manusia menjadi tidak baik karena manusia mempunyai kehendak bebas untuk menolak kebaikan-kebaikan yang Tuhan mau berikan kepadanya. Ketika manusia menolak kebaikan Tuhan maka kejahatanlah yang menguasai hidupnya dan akan semakin bertambah parah bila ia terus menolak kebaikan Tuhan.

Kita disadarkan bahwa hidup kita di dunia ini pada saatnya akan berakhir dan kita harus mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan selama hidup di dunia ini kepada Tuhan, Pencipta kita. Di dunia inilah kita mempunyai ke-sempatan untuk memilih, memperjuangkan apa yang sudah kita pilih, memelihara dan melipatgandakannya sehingga pada akhirnya kita memperoleh hasil seperti yang kita ha-rapkan. Semua keputusan ada di tangan kita.

Terimakasih, Tuhan, untuk setiap kebaikan yang Engkau berikan kepadaku. Mampukanlah aku untuk selalu mau menerima, memelihara, melipatgandakan, dan membagikannya kepada sesama.

*_Sr. M. Yohana, P.Karm_*

Kamis 01 Agust 2019
Pw S. Alfonsus Maria de Liquori, UskPujGrj
Kel 40:16-21.34-38; Mzm 84:3-6.8.11; Mat 13:47-53

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
Santo Santa 1 Agustus

 St. Alfonsus Maria de Liguori

Alfonsus dilahirkan dekat Naples, Italia pada tahun 1696. Ia seorang pelajar yang giat belajar. Ia mendapatkan gelar dalam bidang hukum dan menjadi seorang pengacara terkenal. Suatu kesalahan yang dibuatnya di pengadilan membuat Alfonsus yakin akan apa yang telah ada dalam pikirannya: ia harus meninggalkan pekerjaannya dan menjadi seorang imam. Ayahnya berusaha membujuk Alfonsus agar ia mengurungkan niatnya itu. Tetapi, tekad Alfonsus sudah bulat. Ia menjadi seorang imam.

Kehidupan Alfonsus dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan. Ia berkhotbah dan menulis banyak buku. Ia membentuk suatu kongregasi rohani yang disebut “Kongregasi Pater-Pater Redemptoris” (CSsR; Redemptoris artinya Sang Penebus). Alfonsus memberikan pengarahan rohani yang bijaksana dan membawa damai bagi umatnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Ia juga menulis lagu puji-pujian, bermain organ dan melukis. St. Alfonsus menulis enampuluh buah buku. Ini sungguh luar biasa mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang lain amatlah banyak. Ia juga sering menderita sakit. Ia sering sakit kepala, tetapi segera ia akan menempelkan sesuatu yang dingin ke dahinya dan terus tetap bekerja.

Meskipun pada dasarnya ia mempunyai kecenderungan untuk bersikap terburu-buru, Alfonsus berusaha untuk menguasai diri. Ia amat rendah hati, hingga ketika pada tahun 1798 Paus Pius VI ingin mengangkatnya menjadi seorang Uskup, dengan lembut ia mengatakan “tidak”. Ketika para utusan paus telah datang secara pribadi untuk menyampaikan keputusan paus kepadanya, mereka menyapa Alfonsus dengan “Tuan yang Termasyhur”. Alfonsus menjawab, “Tolong, jangan memanggilku seperti itu lagi. Sebutan itu akan membuatku mati.” Paus memberikan pengertian kepada Alfonsus bahwa ia sungguh menghendaki Alfonsus menjadi seorang Uskup.

Alfonsus mengutus banyak pengkhotbah ke seluruh wilayah keuskupannya. Umat perlu diingatkan kembali akan cinta kasih Tuhan dan akan pentingnya iman mereka. Alfonsus berpesan kepada para imam untuk menyampaikan khotbah yang sederhana. “Saya tidak pernah menyampaikan khotbah yang tidak dapat dimengerti bahkan oleh nenek tua yang paling lugu yang ada di gereja,” katanya. Dengan semakin bertambahnya usia, Alfonsus menderita berbagai penyakit. Ia menderita radang sendi yang menyiksanya dan menjadikannya lumpuh. Ia kehilangan pendengarannya serta nyaris buta. Ia juga harus mengalami berbagai kekecewaan dan pencobaan. Namun, Alfonsus memiliki devosi yang amat mendalam kepada Santa Perawan Maria, seperti yang dapat kita ketahui melalui bukunya yang terkenal yang berjudul 'Kemuliaan Maria'. Segala penderitaan dan pencobaan itu berakhir dengan damai dan sukacita serta kematian yang kudus.

Alfonsus wafat pada tahun 1787 pada usia sembilanpuluh satu tahun. Paus Gregorius XVI menyatakannya kudus pada tahun 1839. Paus Pius IX memberinya gelar Doktor Gereja pada tahun 1871.

“Bersama Tuhan, penebusan berlimpah.” ~ St. Alfonsus   

Sumber : yesaya.indocell.net

Selasa, 30 Juli 2019

" Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang ". (Roma 12:17).

Karena Tuhan ingin kita hidup dengan kasih, sebab kasih itu sabar, murah hati, tidak pemarah, tidak menjimpan kesalahan orang lain, dan tidak berbuat jahat terhadap sesama,

Sebab itu kejarlah kasih,

Kita bisa mengasihi, karena kasih Allah telah dicurahkan didalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Salam Damai Kristus
" Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.
Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang ".(Roma 13:13-14)

Karena itu hiduplah oleh Roh, maka kita tidak menuruti keinginan daging,

Dan mintalah pertolongan Roh Kudus yang diam didalam kita yang akan mengajar kita, mengingatkan akan semua yang Dia katakan dan akan memimpin kita kedalam seluruh kebenaran

Sehingga kita bisa nenyalibkan daging dan segala hawa nafsu dan keinginan kita.

Salam Damai Kristus
☘🍁Doa pagi🍁☘
Hari Rabu 31 Juli 2019

Tuhan Yesus,
terima kasih karena Engkau sudah mengatur alam semesta ini dengan sedemikian baik dan sempurna adanya. Engkau mengatur benda-benda penerang di langit, planet-planet termasuk bumi ini berputar dengan keteraturan yang ajaib sehingga tidak saling bertabrakan satu dengan yang lainnya.

Engkau juga yang menciptakan tubuh kami dengan unik dan begitu detail, setiap organ-organ tubuh kami bekerja, bersinergi dengan baik. Ini semua di luar kemampuan kami yang terbatas, sungguh sangat menakjubkan.!

Kami bersyukur dan memujiMu Tuhan atas semua keajaiban dan keindahan ini. Hidup ini menjadi penuh dengan kegairahan, kecerian, penuh tantangan dan harapan karena Engkau Tuhan yang sudah berkarya sejak awal bumi ini belum ada, sampai Engkau menciptakan kami dan berkarya dalam hidup kami kini dan selamanya.

Kami percaya Engkau akan menemani kami di sepanjang hari ini, mulai dari matahari terbit sampai terbenam. Kami percaya Engkau mengirim malaikatMu Tuhan untuk menjaga kami, melindungi kami dari marabahaya.

Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.
Amin.

Salam Damai Kristus
#renungan

*HARTA PALING BERHARGA*

Rabu 31 Jul 2019

_`Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu` (Mat 13:46)_

Sesuatu yang bernilai tinggi pasti kita perjuangkan dengan segenap kemampuan yang ada pada kita. Misalnya, pendidikan sekolah merupakan nilai yang penting dan tinggi dalam kehidupan kita. Maka, kita rela mengorbankan uang dan harta untuk memperolehnya bagi diri kita sendiri atau bagi anak-anak kita. Seringkali kita tidak peduli apakah harus pinjam uang ke sana kemari. Satu hal yang penting adalah pendidikan itu harus tercapai. Tentu kita juga berharap bahwa melalui pendidikan kita mendapatkan hasilnya.

Bagaimana dengan hidup beriman kita? Apakah kepercayaan kita kepada Tuhan sudah menjadi suatu nilai tertinggi dalam hidup kita? Lewat perumpamaan harta yang terpendam dan mutiara yang indah, kita seharusnya menjadikan Yesus harta paling bernilai dalam hidup kita. Segalagalanya kita tinggalkan untuk memperoleh dan mempertahankan Yesus dalam hidup kita.

St. Ignasius Loyola telah memberikan teladan dalam hal ini. Ia meninggalkan kemiliterannya karena terpikat oleh Yesus. Ia menemukan Yesus sebagai nilai tertinggi dalam hidupnya. Ia berjuang dengan seluruh hidupnya untuk mendapatkan `Harta Itu`.

Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Apakah yang paling berharga dan bernilai bagi kita dalam hidup ini?

Ya Bapa, bantulah kami menemukan Harta Terindah dalam hidup kami, yaitu Putera-Mu, Yesus Kristus.

*_Fr. Paschalis Claudius, CSE_*

Rabu 31 Jul 2019
Pw.S. Ignatius dari Loyola, Imam
Kel 34:29-35; Mzm 99:5-7.9; Mat 13:44-46

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
CARILAH HARTA SURGAWI!
Rabu, 31 Juli 2019
Matius 13:44-46

Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.”

Menjadi orang beriman yang baik itu butuh perjuangan. Hari Minggu adalah hari khusus untuk berada bersama Tuhan. Menghadiri perayaan ekaristi adalah kesempatan untuk berada bersama Tuhan. Namun tidak sedikit orang juga yang menggunakan kesempatan di hari Minggu untuk urusan pribadi, bisnis, dan urusan dunawi lainnya. Seharusnya urusan duniawi mesti diimbangi dengan urusan surgawi. Karenanya, kita mesti selalu berjuang untuk tidak terikat pada harta duniawi dan berusaha sebisa mungkin untuk mencari harta surgawi. 

Pada bacaan injil hari ini, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang harta yang terpendam. Harta itu sangat berharga sehingga yang menemukannya rela menjual harta kepunyaannya. Harta yang terpendam itu merupakan harta dari Tuhan. Harta itu tidak bisa dibandingkan dengan harta duniawi. Kalau harta duniawi tidaklah kekal sementara harta surgawi selalu kekal. Karenanya, kita diundang untuk mencari harta surgawi. Kita mencari harta surgawi lewat cara hidup kita di dunia ini.

Saudara/I, semoga kita berjuang untuk mencari harta surgawi dan tidak terikat sepenuhnya pada harta duniawi. (*saotilayad – 117)

Salam Damai Kristus
Rabu, 31 Juli 2019
Pekan Biasa XVII
Kel. 34:29-35; Mzm. 99:5,6,7,9; Mat. 13:44-46

"Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." (Mat 13,45-46)

Yesus berbicara tentang Kerajaan Sorga dengan menggunakan perumpamaan, yaitu perumpamaan tentang harta yang terpendam dan mutiara yang berharga. Keduanya menampilkan sebuah ketegangan bahwa Kerajaan Allah itu di satu sisi sudah hadir di tengah-tengah kita, namun di sisi lain masih harus kita cari dengan sungguh-sungguh disertai pengorbanan. Setiap saat, Allah berkenan hadir dan merajai hidup kita, namun kita mesti membuka diri untuk menerima dan menyadari kehadiran-Nya itu. Kita juga mesti melatih kepekaan kita untuk menemukan kehadiran Allah dalam peristiwa hidup sehari-hari. Kedua perupamaan juga menggunakan konteks jual beli. Hal ini tidak berarti bahwa Kerajaan Allah itu dapat diperjualbelikan. Namun, seperti halnya untuk dapat membeli sesuatu yang kita inginkan, kita harus rela mengorbankan sejumlah uang yang telah kita dapatkan dengan pengorbanan, termasuk dengan menjual barang-barang yang kita miliki, demikian pula untuk mengalami kehadiran Allah juga diperlukan pengorbanan. Kita mesti rela mengorbankan waktu untuk mengalami tinggal bersama-Nya dalam doa dan keheningan. Kita mesti mengorbankan keegoisan kita dan membiarkan diri dibimbing oleh-Nya. Kita mesti membuang kekerasan hati kita agar Allah tinggal di dalam-Nya.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus
Mutiara Iman

MENJUAL SELURUH MILIKNYA
31 Juli 2019

“Setelah ditemukannya mutiara yang berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat 13:44)

Lectio
Kel 34:29-35; Mzm 99:5,6,7,9; Mat 13:44-46

Ali adalah seorang kaya yang selalu bekerja keras untuk mencari uang. Namun ketika anaknya sakit keras, dia menjadi sedih sekali. Hingga suatu ketika temannya mengajak ikut retreat sambil membawa anaknya. Tempat retreat itu sangat jauh dari keramaian.
Setelah mengikuti retreat hari pertama, Ali dan anaknya berkonsultansi dengan Pastor, dan berkata :
”Romo, selama hampir 30 tahun ini saya selalu bekerja keras, karena saya percaya bahwa UANG adalah segalanya. Namun ketika anak saya sakit, timbul KEKUATIRAN dan KETAKUTAN dalam diri saya, karena ternyata semuanya tidak bisa diselesaikan dengan uang. Setelah saya mengikuti retreat di hari pertama ini, saya seperti pernah melihat KEADAAN yang sebenarnya SAYA IMPIKAN. Saya berjanji setelah anak saya sembuh, saya akan TINGGALKAN usaha saya dan akan melayani seperti Thomas teman saya. Hidupnya selalu penuh DAMAI.”
Pastor itu menjawab :
”Pak Ali yang baik hati, TUHAN telah memanggil Bapak dan saya percaya asal Bapak percaya, anak Bapak akan sembuh dalam nama Tuhan Yesus.”
Lalu anak itu menjawab :
”Amin.”

Ketika menemukan KERAJAAN ALLAH, maka kita akan menjual segala milik kita untuk mendapatkannya.

Oratio
Ya Bapa, datanglah KERAJAAN-MU. Amin

Missio
Marilah kita hidup dengan Allah yang merajai kehidupan kita.
Have a Blessed Tuesday.

Renungan Harian *Bahasa Kasih*
_Rabu,_ *31 Juli 2019*

*St. Ignasius dari Loyola*

Kel 34:29-35
Mzm 99:5-7,9
Mat 13:44-46 atau Luk 14:25-33

*HARTA TERBESAR*

_Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.  -- Mat 13:46_

Nampaknya Yesus juga seorang ekonom, karena Ia mengerti arti pertukaran barang berharga. Mungkin saja. Tetapi yang pasti, Yesus sedang mengajarkan kepada kita tentang sebuah nilai. Bahwa pertukaran harus diikuti dengan nilai yang lebih positif. Seperti mengikuti Yesus hanya bisa kita lakukan setelah kita mengetahui berapa besar nilai dari kasih dan keselamatan yang Yesus tunjukkan. Karena itu, tidak heran ada orang yang hanya menjalankan aktivitas agamanya tanpa menjalankan aktivitas imannya.

Kita dapat membedakan uang sejumlah seratus ribu dengan satu juta, karena kita tahu barang yang dapat dibeli dengan uang tersebut. Tetapi kita tidak pernah menilai Tuhan dalam hidup kita. Acapkali kita menghindar  ketika harus berhadapan dengan hal itu. Kita lebih memilih menjalankan aktivitas normal ketimbang mengukur seberapa besar nilai Tuhan dalam hidup kita.

Tentu, nilai tidak hanya diukur dari materi, melainkan dari skala prioritas hidup kita. Memang tidak mudah untuk memutuskan mana yang lebih utama dalam hidup kita. Semoga tulisan ini dapat membantu kita untuk melihat, nilai dari Tuhan Yesus dalam hidup yang kita jalani saat ini.

Mari kita saling mendoakan agar kita dapat melihat harta terbesar dalam hidup yang kita jalani. (An)

_Apa harta terbesar dalam hidup saya?_

Salam Damai Kristus
*RABU, 31 JULI 2019*
Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XVII
PW S. Ignasius dari Loyola, Imam

Bacaan Injil
Mat  13:44-46

Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak,
"Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang,
yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi.
Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya,
lalu membeli ladang itu.

Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang
yang mencari mutiara yang indah.
Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga,
ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."

Demikianlah Injil Tuhan.
=======================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                    Rabu, 31 Juli 2019                                                                                                                             RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Temukanlah Harta dan Mutiara Kasih Tuhan, Maka Kelekatan Pada Harta Duniawi akan Berkurang!* Matius 13:44 - 46

Saudara-saudari... Hari ini kita merayakan peringatan St. Ignatius Loyola, Pendiri Serikat Yesus, yang biasa kita sebut SY. Ignatius lahir di Spayol Utara tahun 1491. Dia anak bungsu dari keluarga bangsawan Don Beltran. Semenjak kecil hingga masa mudanya, Ignatius mengecap kenikmatan hidup mewah di lingkungan istana. Dia dididik dalam tradisi dan kebiasaan hidup istana yang ketat. Pada tahun 1517, Ignatius menjadi tentara kerajaan Spayol. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Mei 1521, Ignatius menderita luka parah terkena peluruh ketika mempertahankan benteng Pamplona dari serangan tentara Perancis. Penderitaan fisik dan mental yang hebat ini ditanggungnya dengan sabar dan berani dalam perawatan selama satu tahun. Masa pemulihan kesehatannya yang begitu lama menjadi baginya satu masa berahmat, di mana ia menemukan ambang pintu bagi kehidupannya sebagai seorang ‘manusia baru’. Selama masa perawatannya, ia mau baca buku-buku heroik, tetapi yang ada di sana hanya buku-buku rohani, buku tentang kehidupan Kristus dan Para Orang Kudus. Demi memuaskan keinginannya, ia terpaksa membaca buku-buku rohani ini.Tanpa disadarinya apa yang dibacanya tertanam dan mulai bersemi dalam lubuknya. Kalbunya serasa sejuk bila menekuni bacaan itu. Lambat laun ia memutuskan untuk menyerahkan seluruh sisa hidupnya bagi Tuhan sebagai Abdi Allah. Kepribadiannya berubah total. Ia sudah menemukan harta dan mutiara kasih yang sangat luar biasa. Kini harta duniawi ditanggalkannya. Ia meletakan pedangnya di bawa altar kapela biara Benediktin Montserrat pada tanggal 24 Maret 1522 pada malam hari. Dari saat itu, ia pusatkan perhatiannya untuk mengabdi Tuhan. Sesudah menyelesaikan sekolahnya dan ditahbiskan imam tanggal 24 Juni 1537, ia mengumpulkan beberapa pemuda yang tertarik pada karya pelayanan kepada Tuhan dan Gereja. Kelompok kecil ini direstui oleh Paus Paulus ketiga pada tanggal 27 September 1540, kemudian dikokohkan menjadi serikat rohaniwan dengan nama Serikat Yesus. Kini, anggota Serikat Yesus ini berada di mana di seluruh dunia, termasuk di negara kita.
Bagi Ignatius, nilai harta dan mutiara kasih dari Tuhan, yang ditemukan dan dialaminya selama sakit sungguh luar biasa. Harta dan mutiara kasih Tuhan itu tidak bisa dibandingkannya dengan harta duniawi. Sadar akan nilai harta kasih Tuhan ini, maka ia dengan senang hati menanggalkan harta duniawinya di bawa kaki altar dan mulai dari saat itu, dia merangkul harta dan mutiara kasih Tuhan sebagai pusat perhatiannya setiap hari. Mengabdi Tuhan dan sesama dinilainya sebagai satu ungkapan kasih sekaligus sebagai satu bentuk memuliakan Tuhan.

Marilah saudara-saudari... Berlomba-lombalah mencari dan menemukan harta dan mutiara kasih Tuhan. Semoga di saat menemukannya, kita menjual segala harta milik kita, yang mungkin selalu memperbudak dan menyengsarakan pertumbuhan jiwa kita, dan beralih perhatian pada harta dan mutiara kasih Tuhan yang menjadi jaminan keselamatan kita.

Kita memohon St. Ignatius Loyola dan Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen!

Salam Damai Kristus
Doa Hari Rabu

31 Juli' 2019

By : Team Moderator DSM

Doa untuk Hidup Sehat dalam
Iman dan Pengharapan 

Ya Bapa,
yang bertahta di surga, bukakanlah mata hati
kami untuk mengetahui, baik jasmani maupun
rohani, akan apa yang dapat kami lakukan
untuk mencegah dan mengalahkan penyakit.

Ya Bapa,
kami menaruh pengharapan hanya kepada
Engkau saja, Allah Penyembuh kami,
Sumber bagi kami dalam membangun
pengharapan dan membukakan hidup kami
kepada kuasa kesembuhan dari Allah yang
bekerja di dalam hidup kami.

Ya Bapa,
bantulah kami di dalam mengambil langkah
untuk melaksanakan cara makan yang sehat,
berolahraga yang ringan, dan mengurangi
berat badan jika memang kami perlukan.

Berikanlah kepada kami dorongan yang kuat
untuk hidup setiap hari dengan iman dan
pengharapan serta melakukan langkah-
langkah positip, baik jasmani maupun rohani
dalam mencegah sakit-penyakit.  Karena
harapan untuk sehat dan sembuh kembali
selalu ada.

Ya Bapa,
ingatkanlah kami selalu akan Firman Tuhan
dalam setiap perkataan kami. Kesehatan
dan kesembuhan diberikan Allah untuk kami,
seperti yang telah Allah nyatakan kepada
para nabi:

„Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan
bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu,
demikianlah Firman TUHAN - Yer. 30:17

Demikianlah juga berlaku bagi kami, jika kami
mau bersungguh-sungguh ingin melawan dan
mencegah sakit penyakit. Kami harus berniat
melakukan perubahan, namun harus kami
lakukan selangkah demi selangkah setiap hari
di dalam bimbingan Tuhan.

Terima kasih, Bapa.
Dalam nama Yesus Kristus,
terimalah doa kami ini.
Amin

Salam Damai Kristus
RUAH

Rabu, 31 Juli 2019
Peringatan Wajib St. Ignatius dari Loyola

“Keberanian untuk berdiri kokoh dalam kebenaran adalah tuntutan yang tak terhindarkan dari mereka yang dikirim Tuhan sebagai domba diantara serigala. “Mereka yang takut akan Tuhan tidak akan takut”, kata kitab Sirakh (34:16). Takut akan Allah membebaskan kita dari takut akan manusia. Ia membebaskan.” – Paus Benediktus XVI
     
Antifon Pembuka (Mzm 81:10-11a)

Dalam nama Yesus hendaknya setiap makhluk di surga, di bumi dan di bawah bumi bertekuk lutut. Dan demi kemuliaan Bapa hendaknya setiap lidah mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

At the name of Jesus, every knee should bend of those in heaven and on earth and under the earth, and every tongue confess that Jesus Christ is Lord, to the glory of God the Father.
   
Doa Pembuka

Allah Bapa Mahamulia, untuk menyebarluaskan kemuliaan nama-Mu, Engkau menampilkan Santo Ignasius di tengah umat. Semoga dengan bantuan dan teladannya kami berjuang di dunia, agar memperoleh mahkota di surga. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
     
Bacaan dari Kitab Keluaran (34:29-45)   
 
"Melihat wajah Musa, orang-orang Israel takut mendekat."
   
Ketika Musa turun dari Gunung Sinai dengan membawa kedua loh hukum Allah, ia tidak tahu bahwa kulit wajahnya bercahaya kareana ia telah berbicara kepada Tuhan. Dan ketika Harun dan semua orang Israel melihat Musa, tampaklah kulit wajahnya bercahaya. Maka mereka takut mendapati dia. Tetapi Musa memanggil mereka. Lalu Harun dan para pemimpin jemaah datang kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka. Sesudah itu mendekatlah semua orang Israel lalu disampaikannyalah kepada mereka segala perintah yang diucapkan Tuhan kepadanya di atas Gunung Sinai. Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah wajahnya. Tetapi apabila Musa masuk menghadap Tuhan untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar. Dan apabila keluar, ia menyampaikan kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya. Apabila orang Israel melihat bahwa kulit wajah Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi wajahnya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Kuduslah Tuhan, Allah kita.
Ayat. (Mzm 99:5.6.7.9)
1. Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduskanlah Ia!
2. Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab mereka.
3. Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya, dan pada ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka.
4. Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah Tuhan, Allah kita!

Bait Pengantar Injil do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (1Yoh 2:5)
Sempurnalah cinta Allah dalam hati orang yang mendengarkan sabda Kristus.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (13:44-46)
 
"Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu."
   
Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Karena sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Pertanyaan ini tentu mudah dijawab. Bila seseorang berdekatan dengan kambing-kambing di kandang kambing, bau orang tersebut bagaimana? Ya pasti berbau kambing, orang jawa bilang: bau prengus. Contoh lain, jikalau seorang anak kecil setiap hari selama berjam-jam bergaul dan berbicara dengan preman, tentulah anak itu akan ikut; ikutan berbicara dan bersikap seperti preman itu: omong kasar. Begitulah seterusnya orang selalu terpengaruh dengan lingkungan sekitar, dengan siapa dan di mana orang itu berada.

Pada bacaan hari ini, setelah Musa berlama-lama tinggal di Gunung Sinai dari berbicara dengan Tuhan, lalu membawa kedua loh hukum Allah, kulit wajah Musa bercahaya. Kitab Keluaran memberikan alasan mengapa kulit wajah Musa bercahaya: Karena ia telah berbicara dengan Tuhan. Ternyata karena berbicara dengan Tuhan, kulit muka Musa bercahaya. Sebegitu menyilaukan cahaya wajah Musa itu sehingga orang-orang takut mendekatinya. Begitulah dinyatakan dalam Kitab Suci ketika orang berlama-lama berbicara dengan Tuhan, konkretnya: orang banyak berdoa di hadapan Tuhan akan mengalami perubahan pada wajahnya, wajahnya bercahaya. tentu bukan cahayanya itu yang penting, sebab cahaya wajah Musa lebih diakibatkan karena kekudusan Tuhan. Kekudusan Tuhan membuat Musa memiliki kedamaian dan kesucian hati yang terpancar melalui cahaya wajahnya.

Hari ini kita memperingati seorang tokoh Gereja, Santo Ignasius dari Loyola. Orang kudus ini adalah pendiri Ordo Jesuit. Dari Santo Ignasius Loyola inilah, begitu banyak orang terbantu dan tertolong hidupnya melalui Latihan Rohani yang disusunnya. Latihan Rohani mengajak orang untuk melakukan pembedaan atau penegasan roh, sehingga dapat menemukan kehendak Allah. Acara pokok penegasan roh tentulah menempatkan kita dalam suasana doa, agar Roh Kudus sendiri memimpin kita. Salah satu tempat doa yang paling indah adalah berdoa di hadapan Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. Dan terkait dengan pengalaman Musa itu, bila kita suka berlama-lama hadir di hadapan Tuhan yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, kita pun akan mengalami kekudusan dan kesucian Tuhan. Dan lihatlah wajah kita pun akan mulai bercahaya, bukan karena kita suci, tetapi karena kedekatan kita dengan Tuhan Yang Mahakudus berefek pada kita secara sadar atau tidak sadar, persis seperti Musa Sendiri yang tidak menyadarinya. Berdoa dan berbicara di hadapan Tuhan dalam Sakramen Mahakudus adalah sikap dan posisi paling indah bila kita sedang berdiskresi iitau mengadakan penegasan roh seperti diajarkan Santo Ignasius dari Loyola. (EM/Inspirasi Batin 2019)

Antifon Komuni (Luk 12:49)
 
Tuhan bersabda: Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan apalagi yang Kuharapkan selain agar api itu menyala?

Salam Damai Kristus
Santo Santa 31 Juli

St. Ignatius dari Loyola

Pendiri Serikat Yesus yang terkenal ini dilahirkan pada tahun 1491. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang laskar yang hebat dan menikah dengan seorang puteri yang cantik. Di kemudian hari, ia sungguh mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran di Pamplona. Tetapi, luka karena peluru meriam di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik.

St. Ignatius harus menderita banyak pencobaan dan penghinaan. Sebelum ia memulai karyanya yang hebat dengan membentuk Serikat Yesus, ia harus bersekolah. Ia belajar tata bahasa Latin. Sebagian besar murid dalam kelasnya adalah anak-anak, sementara Ignatius sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun begitu, Ignatius pergi juga mengikuti pelajaran karena ia tahu bahwa ia memerlukan pengetahuan ini untuk membantunya kelak dalam pewartaannya. Dengan sabar dan  tawa, ia menerima ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. Selama waktu itu, ia mulai mengajar dan mendorong orang lain untuk berdoa. Karena kegiatannya itu, ia dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu! Hal itu tidak menghentikan Ignatius. “Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus,” katanya. 

Ignatius berusia empat puluh tiga tahun ketika ia lulus dari Universitas Paris. Pada tahun 1534, bersama dengan enam orang sahabatnya, ia mengucapkan kaul rohani. Ignatius dan sahabat-sahabatnya, yang pada waktu itu masih belum menjadi imam, ditahbiskan pada tahun 1539. Mereka berikrar untuk melayani Tuhan dengan cara apa pun yang dianggap baik oleh Bapa Suci. Pada tahun 1540 Serikat Yesus secara resmi diakui oleh Paus. Sebelum Ignatius wafat, Serikat Yesus atau Yesuit telah beranggotakan seribu orang. Mereka banyak melakukan perbuatan baik dengan mengajar dan mewartakan Injil. Seringkali Ignatius berdoa, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” St. Ignatius wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV.

Marilah pada hari ini kita berdoa dengan menggunakan kata-kata St. Ignatius dari Loyola, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.”

Sumber : yesaya.indocell.netSanto Santa 31 Juli

St. Ignatius dari Loyola

Pendiri Serikat Yesus yang terkenal ini dilahirkan pada tahun 1491. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang laskar yang hebat dan menikah dengan seorang puteri yang cantik. Di kemudian hari, ia sungguh mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran di Pamplona. Tetapi, luka karena peluru meriam di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik.

St. Ignatius harus menderita banyak pencobaan dan penghinaan. Sebelum ia memulai karyanya yang hebat dengan membentuk Serikat Yesus, ia harus bersekolah. Ia belajar tata bahasa Latin. Sebagian besar murid dalam kelasnya adalah anak-anak, sementara Ignatius sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun begitu, Ignatius pergi juga mengikuti pelajaran karena ia tahu bahwa ia memerlukan pengetahuan ini untuk membantunya kelak dalam pewartaannya. Dengan sabar dan  tawa, ia menerima ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. Selama waktu itu, ia mulai mengajar dan mendorong orang lain untuk berdoa. Karena kegiatannya itu, ia dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu! Hal itu tidak menghentikan Ignatius. “Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus,” katanya. 

Ignatius berusia empat puluh tiga tahun ketika ia lulus dari Universitas Paris. Pada tahun 1534, bersama dengan enam orang sahabatnya, ia mengucapkan kaul rohani. Ignatius dan sahabat-sahabatnya, yang pada waktu itu masih belum menjadi imam, ditahbiskan pada tahun 1539. Mereka berikrar untuk melayani Tuhan dengan cara apa pun yang dianggap baik oleh Bapa Suci. Pada tahun 1540 Serikat Yesus secara resmi diakui oleh Paus. Sebelum Ignatius wafat, Serikat Yesus atau Yesuit telah beranggotakan seribu orang. Mereka banyak melakukan perbuatan baik dengan mengajar dan mewartakan Injil. Seringkali Ignatius berdoa, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” St. Ignatius wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV.

Marilah pada hari ini kita berdoa dengan menggunakan kata-kata St. Ignatius dari Loyola, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.”

Sumber : yesaya.indocell.net

Senin, 29 Juli 2019

Kencan Dengan Tuhan
Selasa, 30 Juli 2019

Bacaan: 1 Korintus 4:16 "Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"

Renungan:
  Membaca sejarah perjalanan hidup Paulus sebelum ia mengalami perjumpaan dengan Yesus hingga ia menjadi salah satu rasul yang besar, membuat kita menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda takjub akan karya Tuhan di dalam hidupnya. Ia yang tadinya seorang penghujat, penganiaya yang kejam dan seorang pembunuh umat Tuhan, telah diubahkan dan berubah menjadi seorang yang radikal di dalam Kristus, seorang yang berani dan gigih menyebarkan Kabar Baik, yang di akhir hidupnya menjadi martir bagi Kerajaan Sorga.
  Perjumpaannya dengan Yesus telah membawanya kepada perubahan hidup yang sungguh luar biasa. Panggilan keselamatan dari Yesus ditanggapinya dengan sangat baik. Disisa hidupnya, Paulus mengenakan 'baju' yang baru dan menanggalkan 'baju' yang lama. Ia tampil sebagai pribadi yang baru di dalam Kristus. Ia berani menjadikan dirinya sebagai teladan bagi umat Tuhan yang lain, tanpa ada tekanan dari mana pun, termasuk tekanan dari dirinya sendiri.
  Bagaimana dengan diri kita? Sudahkah kita menjadi teladan bagi orang lain? Kita sama-sama mengalami perjumpaan pribadi denganNya, kemudian dipanggil dan dipilih oleh Tuhan untuk menjadi teladan bagi dunia ini. Jadi, marilah benahi diri, bertobat dan berkomitmen di dalam mengikutiNya dengan menjalani hidup ini secara benar di dalam Dia. Tuhan memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih telah memanggil dan menjadikanku teladan bagi dunia ini. Mampukan aku, agar hidupku menjadi berkat bagi sesama. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
Selasa, 30 Juli 2019
Pekan Biasa XVII
Kel. 33:7-11; 34:5b-9,28; Mzm. 103:6-7,8-9,10-11,12-13; Mat. 13:36-43.

Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. (Mat 13,36)

Dalam diri kita masing-masing, baik gandum maupun ilalang tumbuh dan berkembang bersama. Kita masing-masing memiliki sekian banyak hal baik, namun juga tidak kurang hal-hal yang tidak baik, yang menjadi penyebab kita melakukan hal-hal yang jahat. Sejauh kita masih hidup, rasanya tidak mungkin kita membebaskan diri dari hal-hal yang tidak baik tersebut. Itulah mengapa, Yesus mengatakan bahwa ilalang dan gandum dibiarkan tumbuh bersama dan baru dipisahkan pada saat akhir dunia. Meskipun demikian, hal ini tentu tidak bisa kita jadikan sebagai alasan untuk membiarkan ilalang-ilalang itu semakin subur dalam diri kita, dan sebaliknya gandung malah semakin sedikit, kerdil dan tidak berbuah. Bagaimana pun juga, tugas kita adalah membuat gandum di ladang hidup kita menjadi semakin subur dan menghasilkan buah melimpah, kendati sering dihimpit oleh ilalang. Hal ini bisa kita upayakan misalnya dengan berniat sungguh-sungguh: setiap hari, aku memperjuangkan dan megembangkan minimal 1 kebaikan; dan sekaligus tidak membiarkan diriku melakukan 1 kejahatan atau 1 hal buruk.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus
Selasa, 30 Juli 2019

*PANEN TERAKHIR*

*BACAAN*
*Kel 33:7-11; 34:5b-9.28* – “Tuhan bersabda kepada Musa dengan berhadapan muka”
*Mat 13:36-43* – “Seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman”

*RENUNGAN*
1.Yesus biasa mengajar para murid-Nya ketika berada di rumah (bacalah Mrk 7:17; 9:28; 10:10). Dalam kesempatan tersebut, Yesus melengkapi pengajaran-Nya dan membentuk mereka.

2.Perbedaan antara yang baik dan yang jahat tidak pernah hilang dari pandangan Allah. Allah tahu bagaimana perjuangan kita untuk membangun hidup yang baik, yang sering kesusupan yang jahat karena kelemahan-kelemahan kita.Dan Allah memberi ganjaran terhadap setiap perbuatan baik yang kita buat. Maka kita harus berjuang untuk selalu menjadikan diri kita tanah yang subur, di mana Allah menanamkan benih-benih kebaikan.

3.Sering kali kita tidak (mau) sadar bahwa kekuatan jahat atau dosa menguasai kita. Harus diingat bahwa Allah menghendaki kejahatan tetap ada, agar kita bisa memurnikan diri. Pada saat panen tiba, kejahatan akan diadili dan tidak lagi memiliki kekuatan. Jika kita menaburkan yang baik dan jika kita hidup dalam rahmat Allah, Ia akan membebaskan kita dari kuasa jahat untuk selama-lamanya. Jadi mulai sekarang kita bisa memilih pada saat panen terakhir nanti: apakah kita ingin berhadapan dengan kerahiman Allah atau berhadapan dengan pengadilan Allah?

4. Kita menuai apa yang kita tabur. Kalau kita ingin berhadapan dengan kerahiman Allah pada saat pengadilan terakhir nanti, maka harus menjadikan hidup kita tidak mabok dosa dan hidup dalam sukacita Allah. Seluruh usaha kita untuk hidup baik tidak pernah akan sia-sia, karena itulah yang dikehendaki Allah dan menyiapkan kita untuk sampai pada tujuan, yaitu hidup dalam kemuliaan Allah. Sudah siapkah aku?
🇮🇩berkat.id🇮🇩

Salam Damai Kristus
☘🍁Doa pagi🍁☘
Hari Selasa 30 Juli 2019

" Kasih itu sabar ; kasih itu murah hati ; ia tidak cemburu..........." 1 Kor 13:4-7.

Tuhan, aku bersyukur kepadaMu.
Orang yang bahagia bukanlah mereka yang mendapatkan keinginannya,
melainkan mereka yang tetap bangkit
ketika mereka jatuh,
entah bagaimana dalam perjalanan dalam kehidupan.

Aku belajar lebih banyak tentang kehidupan ini
aku menyadari bahwa penyesalan
tidak seharusnya ada,
cintaku akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan - pilihan
hidup yang telah kami buat.

Mungkin inilah saatnya,
aku berhenti berhasrat untuk memilikinya
bukan karena tiadanya cinta
namun kesadaran bahwa akan lebih berbahagia
apabila aku melepaskannya.

Yesus, teladan cintaku
Ijinkan aku untuk membasuh perih hatiku
dengan darah bukti kasihMu
agar aku bangkit kembali dan memiliki kekuatan
baru untuk mencintai.
Amin.

(Gubahan dari syair cinta Khalill Gibran.)

Salam Damai Kristus
Mutiara Iman

BERTELINGA
30 Juli 2019

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan” (Mat 13:43)

Lectio
Kel 33:7-11; 34:5b-9, 28; Mzm 103:6-7, 8-9,10-11,12-13; Mat 13:36-43

Dalam pertemuan keluarga besar, tiba-tiba seorang sepupu berkata :
”Kalian tahu apa yang terjadi dengan Benny saudara kita? Setelah ketahuan memakai narkoba, isterinya mau menceraikannya dan sekarang anaknya terbaring di Rumah Sakit karena DBD!
Memang kalau hidupnya salah, maka semua keluarga menanggung.”
Lalu salah satu anggota keluarga lain berkata :
”Iya, kalau sejak kecil bermasalah, maka terbawa hingga tua!”
Namun tiba-tiba salah satu sepupu yang paling kecil berkata :
”Kak, lalu kapan kita menengok Alex yang sedang sakit? Dia tentu memerlukan dukungan kita. Apalagi Ayahnya tidak ada di sana. Dulu waktu kecil, kita selalu menyayangi Alex karena anaknya baik.”
Lalu sepupu yang terbesar berkata :
”Iya benar! Mengapa kita hanya membicarakan AIB saudara sendiri? Sampai melupakan pribadi lain yang perlu KEHADIRAN kita. Ayo habis makan kita jenguk ponakan kita.”

MENDENGARKAN adalah awal dari KASIH.

Oratio
Ya Tuhan, mampukan kami mendengarkan setiap orang yang memerlukan kasih-Mu melalui tangan kami. Amin

Missio
Marilah kita mendengarkan dengan telinga hati kita.
Have a Blessed Tuesday.
Doa Hari Selasa

30 Juli' 2019

By : Team Moderator DSM

Doa untuk penderita sakit jantung

Ya Bapa,
berikanlah kepada kami kemampuan dan
hikmat untuk mempraktekkan apa yang telah
kami pelajari dari buku-buku maupun dari
mengikuti seminar-seminar kesehatan
mengenai hidup sehat berkelimpahan.

Ya Bapa,
kami berdoa khususnya untuk saudara seiman
kami yang sedang menderita sakit jantung,
yaitu yang disebut Arteriosklerosis, yang
terjadi karena pengerasan pembuluh darah
akibat timbunan kolesterol, kalsium dan zat-
zat lemak lain yang menggumpal dengan
jumlah banyak dalam darah. Seperti karat
yang timbul pada pipa, gumpalan-gumpalan
dalam pembuluh arteri ini menyumbat  aliran
darah ke dalam organ-organ penting seperti
jantung dan otak yang dapat menyebabkan
serangan stroke dan jika gangguan aliran
darah ini terjadi pada pembuluh arteri
koroner maka terjadilah serangan jantung.

Ya Bapa,
bantulah kami untuk memperbaiki kualitas
kesehatan jasmani kami dengan berhenti
melakukan kegiatan sehari-hari yang dapat
memicu terjadinya sakit jantung, bahkan
merusak tubuh kami sendiri, misalnya dengan
berhenti merokok, menghindari stress, dan
mengurangi memakan makanan yang
berlemak, tidur tidak terlalu larut malam.
Sebaliknya berikanlah kepada kami semangat
untuk rajin berolah raga berjalan kaki dan
berjemur sinar matahari pagi.

Ya Bapa,
berikanlah kepada kami damai sejahtera-Mu,
jauhkanlah kami dari ketakutan, kegelisahan,
dan kekuatiran karena kepada kehendak-Mu
sajalah kami mau percaya.

Di dalam nama Yesus Kristus,
Penyembuh kami yang Agung dan Ajaib.

Amin.

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga
engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam
segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-
baik saja. (3 Joh.2).

Salam Damai Kristus
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Selasa,_ *30 Juli 2019*

Kel 33:7-11; 34:5b-9,28
Mzm 103:6-13
Mat 13:36-43

*DONALD BEBEK*

_Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.  -- Mat 13:28_

Sewaktu kecil, saya sering tertawa geli ketika menonton film Donald Bebek. Terutama ketika sosok malaikat kecil menyerupai Donald terlihat bertengkar dengan sosok iblis yang juga menyerupainya. Terkadang malaikat terlihat menang, namun kebanyakan si iblislah yang menang. Dan tanpa saya sadari, adegan dalam film itulah yang sering terjadi dalam pikiran kita.

Alam pikiran kita sering menjadi ajang pertempuran sengit antara baik dan jahat. Bahkan, di mana ada pikiran baik,di situ juga biasanya ada pikiran jahat yang menentang. Contoh, ketika saya berpikir hendak berdoa, saat itu juga pemikiran untuk menunda muncul. Entah karena saat itu acara di TV sedang bagus atau mungkin karena merasa malas. Bahkan sampai hari ini, ketika saya berpikir untuk mulai menulis renungan, saya digoda untuk membuka aplikasi Netflix dan menonton film favorit saya.

Perumpamaan tentang benih baik dan lalang juga terjadi dalam pikiran kita. Bila kita renungkan, pada prinsipnya adalah dimana ada hal baik, di situ juga ada hal yang jahat menggoda. Tanpa kita sadari, kita cenderung mengikuti kemauan si jahat. Dengan mengerti tentang perumpamaan ini, harapannya kita menyadari akan adanya persaingan antara baik dan jahat dalam pikiran kita, sehingga kita sadar untuk teguh memilih yang baik. (Al)

_Membaca Kitab Suci dan berdoa setiap hari akan memberikan kepekaan untuk membedakan yang baik dan yang jahat, juga kekuatan untuk memilih yang baik._

Salam Damai Kristus
Santo Santa 30 Juli

St. Petrus Krisologus

Petrus dilahirkan di sebuah kota kecil di Imola, Italia. Ia hidup pada abad kelima. Uskup Kornelius dari Imola membimbingnya dan mentahbiskannya sebagai seorang diakon. Bahkan sejak masih kanak-kanak, Petrus mengerti bahwa seseorang sungguh adalah seorang yang besar hanya jika ia dapat mengendalikan emosinya dan mengenakan semangat Kristus.

Ketika Uskup Agung Ravenna, Italia, wafat, Petrus ditunjuk oleh Paus St Leo Agunguntuk menggantikannya. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 433. Sebagai seorang imam dan uskup, St Petrus berkarya secara efektif. Ia berjuang keras untuk menghapuskan kekafiran yang masih ada dalam keuskupannya. Ia membantu umatnya bertumbuh dalam iman. St Petrus menjadi terkenal sebagai seorang pengkhotbah. Sungguh, “Krisologus” artinya “perkataan emas”. Namun demikian, semua khotbah ataupun homilinya singkat saja. Ia khawatir para pendengarnya menjadi bosan. Di samping itu, khotbah-khotbahnya pun bukanlah sesuatu yang luar biasa istimewa ataupun indah. Namun, pesan-pesan yang disampaikannya jauh lebih berharga daripada emas. Ia berkhotbah dengan semangat begitu rupa hingga mampu menggugah hati para pendengar yang mendengarkannya dengan terpukau. Dalam khotbah-khotbahnya, St Petrus mendesak setiap orang untuk menerima Yesus sesering mungkin dalam Komuni Kudus. Ia ingin agar semua orang menyadari bahwa Tubuh Tuhan haruslah menjadi santapan setiap hari bagi jiwa. Uskup yang baik ini juga berjuang demi persatuan segenap anggota Gereja Katolik. Ia berusaha mengatasi segala kebingungan yang ada dalam umat tentang iman Katolik. Ia juga senantiasa mengusahakan damai. St Petrus Krisologus wafat pada tanggal 2 Desember 450 di kota kelahirannya, Imola, Italia. Oleh karena khotbah-khotbahnya yang mengagumkan, yang begitu kaya akan pengajaran, pada tahun 1729 Paus Benediktus XIII memaklumkan St Petrus sebagai Doktor Gereja.

Bagaimana aku dapat membina sikap mendengarkan sepenuh hati kepada orang yang rindu untuk didengarkan?

Sumber : yesaya.indocell.net
Kencan Dengan Tuhan
Senin, 29 Juli 2019

Bacaan: 1 Timotius 6:17 "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati."

Renungan:
  Ingvar Kamprad, seorang miliarder asal Swedia, termasuk ke dalam jajaran orang-orang terkaya di dunia. Ia membuat furniture yang berhasil merevolusi desain interior dunia, IKEA. Sebagai orang terkaya kelima di dunia, ia bukannya hidup dalam kemegahan dan kemewahan, ia justru menjalani hidup secara sederhana, yaitu tinggal di sebuah bungalow yang sederhana, makan bakso yang dijual di cafe tokonya, dan berbelanja di pasar lokal. Ia bahkan lebih memilih terbang dengan pesawat kelas ekonomi, meskipun bisa saja ia membeli jet pribadi. Kamprad berhasil melipatgandakan sumbangan amal perusahaannya menjadi hampir 100 juta euro. Johan Stenebo, seorang mantan asisten Kamprad mengatakan, "Dia ingin menampilkan sebagai rakyat biasa, salah satu dari kita.
  Rasul Paulus berpesan kepada Timotius agar ia memperingatkan orang-orang kaya di jemaat yang digembalakannya di Efesus untuk tidak bersandar pada uang mereka. Sebab menurut Paulus, uang adalah sesuatu yang tidak pasti. Sebaliknya Paulus menganjurkan agar Timotius mendorong orang-orang kaya tersebut untuk berbagi dengan orang lain, sehingga mereka mengumpulkan harta yang kekal di sorga.
  Hal inilah yang menjadi peringatan bagi setiap pengikut Yesus. Hendaknya kita tidak hidup dalam kemewahan dan foya-foya, tetapi belajar membagikan apa yang kita punyai bagi sesama yang berkekurangan. Tuhan memberkati kita bukan untuk ditumpuk atau untuk dibuat  berfoya-foya, tetapi agar kita berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Tuha  memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk mau hidup sewajarnya dan tidak berfoya-foya, sehingga aku bisa berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus

Minggu, 28 Juli 2019

Senin, 29 Juli 2019, St. Marta

*PERCAYAKAH ENGKAU?*
*BACAAN*
*Kel 32:15-24.30-34* – “Bangsa itu telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas”
*Mat 13:31-35* – “Biji sesawi itu menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang di cabang-cabangnya”

*RENUNGAN*
1.Perumpamaan tentang biji sesawi hendak mengatakan bahwa Kerajaan Allah berada di tengah-tengah kita (Luk 17:21). Kehadirannya seperti biji sesawi: sederhana, kecil, dan hampir tidak terlihat. Ia adalah Yesus. Dalam Yesus, Kerajaan Allah tidak mengikuti kriteria dunia, melainkan memiliki cara berpikir dan berproses yang berbeda. Biji sesawi yang begitu kecil, tetapi tumbuh dan memberi harapan. Biji sesawi tumbuh menjadi pohon. Pohon adalah Komunitas orang beriman yang menerima setiap orang, memberi rasa krasan, dan memberi harapan akan masa depan. Sadarkah aku?

2.Yesus berbicara dengan perumpamaan untuk memenuhi apa yang dikatakan Pemazmur: “Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala” (Mzm 78:2). Dengan perumpamaan pula, Yesus ingin menyesuaikan pesan yang akan disampaikan dengan kemampuan para pendengar (Mrk 4:34). Dengan perumpamaan ini Yesus mengharapkan kepada para pendengar-Nya agar mereka menemukan Allah lewat kehidupan tiap hari, atau menurut Santo Ignatius Loyola: Menemukan Allah dalam segala dan menemukan segala dalam Allah. Apakah aku sudah menemukan Allah?

3.Ada satu hal amat penting, yaitu menjadikan Sabda-sabda-Nya menjadi bagian dari hidup kita setiap hari, bagaikan darah yang mengalir dalam tubuh kita, sehingga kita tak terpisahkan dari Kristus (Rom 8:35-39).
🇮🇩MS🇮🇩

Salam Damai Kristus
*SENIN, 29 JULI 2019*

Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XVII
PW S. Marta

Bacaan Injil
Yoh 11:19-27

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Menjelang Hari Raya Paskah,
banyak orang Yahudi datang kepada Marta dan Maria
untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.
Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang,
ia pergi mendapatkan-Nya.
Tetapi Maria tinggal di rumah.

Maka kata Marta kepada Yesus,
"Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini,
saudaraku pasti tidak mati.
Tetapi sekarang pun aku tahu,
bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu
segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."
Kata Yesus kepada Marta,
"Saudaramu akan bangkit."
Kata Marta kepada-Nya,
"Aku tahu bahwa ia akan bangkit
pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."
Jawab Yesus, "Akulah kebangkitan dan hidup!
Barangsiapa percaya kepada-Ku,
ia akan hidup walaupun sudah mati;
dan setiap orang yang hidup serta percaya kepada-Ku,
tidak akan mati selama-lamanya.
Percayakah engkau akan hal ini?"
Jawab Marta,
"Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah,
Dia yang akan datang ke dalam dunia."

Demikianlah Injil Tuhan.
=======================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                                 Senin, 29 Juni 2019                                                                                                                             RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Tuhan Selalu Mengunjungi Kita Kapan dan Dalam Situasi Apa Saja!*                                    Yohanes 11:19-27

Saudara-saudari.... Barangsiapa yang sudah mengalami kematian dari anggota keluarga, seperti yang diceriterakan dalam Injil hari ini, saya yakin - sungguh sangat gampang merasakan perasaan Marta dan Maria. Marta yang masih dalam situasi duka begitu mendengar Yesus Kristus datang, langsung pergi menemui-Nya. Ia ungkapkan apa yang dirasakannya kepada Yesus.
Secara pribadi, saya bisa memahami dan merasakan apa yang dialami Marta. Sewaktu Bapa saya meninggal, 23 Mei 1980, waktu itu saya masih sangat muda, saya merasa bahwa saya sudah kehilangan pelindung; kehilangan penyandar; kehilangan pribadi yang mendengarkan luapkan isi hati saya; kehilangan figur seorang bapa. Pada waktu itu, saya merasa bahwa masa depanku sangat suram. Pada saat itu, saya sungguh mendambahkan hiburan, kekuatan dan kehadiran fisik dari teman-teman dan keluarga dekat yang bisa memahami perasaan saya. Pada saat yang sama, saya juga berdoa mohon bantuan Tuhan agar apa yang ku-idam-idamkan dapat tercapai. Puji Tuhan bahwa dambahan saya terwujud.
Ssaudara-saudari... Hari ini kita merayakan pesta Santa Marta, murid Yesus.

Beberapa hal menarik yang kita amati dari Marta, yang mungkin baik dijadikan bahan permenungan dan inspirasi hidup kita, adalah sebagai berikut: (1) Dalam situasi duka Marta tetap menunjukkan keunikannya, yaitu seorang pribadi yang selalu aktip. Injil katakan: “Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan Yesus.” Bagaimana dengan sikap kita. Apakah kita tetap mendengar suara Tuhan di saat berada dalam situasi duka? Ke manakah kita lari di saat kita berada dalam situasi duka? (2) Dalam situasi duka, di hadapan Tuhan, ia ungkapkan perasaannya secara terbuka. Injil katakan, bahwa sewaktu Marta bertemu Yesus, dia ungkapkan perasaan dan pikirannya. Katanya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Bagaimana dengan kita? Apakah dalam situasi duka kita selalu ungkapkan perasaan kita secara terbuka kepada Tuhan? (3) Dalam situasi duka Marta tetap berpegang teguh pada imannya. Ia seorang beriman, percaya total pada Yesus. Lewat Injil kita dengar ungkapan imannya: katanya kepada Yesus: “Sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepadaMu segala sesuatu yang Engkau minta kepadaNya.”  Bagaimana sikap iman kita di saat kita alami situasi duka? Apakah kita tetap melihat Tuhan sebagai penguasa tunggal? (4) Agama Marta pada waktu itu adalah agama Yahudi. Ajaran agamanya tetap dihayati dan diamalkannya dalam situasi apapun. Kematian saudaranya, Lazarus dianggapnya sebagai kematian fisik, sementara jiwanya tetap hidup. Marta pecaya bahwa ada kebangkitan di balik kematian. Bagaimana dengan sikap dan penghayatan iman kita dalam menghadapi kematian? Apakah kita selalu percaya bahwa kematian adalah pintu menuju kehidupan baru?  (5) Sesudah bertemu dan mendengarkan apa yang dikatakan Yesus Kristus, Marta mengalami satu perubahan konsep tentang kebangkitan. Kebangkitan bukan lagi dilihat sebagai sesuatu yang abstrak, melainkan sebagai sesuatu yang riil. Marta kini berhadapan dengan Yesus Kristus, yang adalah kebangkitan dan hidup.
Sesudah ia ungkapkan imannya: “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dunia.” Maka Lazarus dibangkitkan oleh Yesus Kristus dari kematiaanya. Apakah kita sungguh percaya bahwa saudara-saudari kita, yang sudah mati secara fisik sungguh bangkit? Apakah kita pernah alami bagaimana jiwa orang mati membantu kita?
Sungguh, Tuhan selalu berserta kita. Ia selalu menepati janji-Nya. Ia selalu mendekati dan mendengarkan kita. Ia selalu merasakan apa yang kita rasakan. Dia selalu datang kepada kita dan dalam situasi apa saja. Bukalah hati kita untuk menyambutnya dan luapkanlah isi hati kita kepadaNya.

Bersama St. Marta dan Bunda Maria, kita berdoa: Tuhan, sadarkanlah kami, bahwa Engkau selalu datang kepada kami kapan dan dalam situasi apa saja. Bersama dan dalam Kristus, kami akan hidup untuk selamanya.  Amen!

Salam Damai Kristus
RUAH

Senin, 29 Juli 2019
Peringatan Wajib Santa Marta
   
Marta menerima Tuhan seperti menerima para peziarah (St. Agustinus)
     
Antifon Pembuka (Luk 10:38)

Yesus memasuki sebuah dusun, dan seorang wanita bernama Marta menyambut-Nya ke dalam rumahnya.
 
Intravit Iesus in quoddam castellum, et mulier quaedam Martha nomine excepit illum in domum suam.

Jesus entered a village, where a woman named Martha welcomed him into her home.
         
Doa Pembuka

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, Putra-Mu telah sudi bertamu di rumah Santa Marta. Semoga berkat doanya kami setia melayani Kristus dalam diri sesama kami, supaya kelak kami pun masuk ke dalam kediaman surgawi. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan Injil diambil dari rumus khusus untuk Peringatan Wajib Santa Marta
   
Bacaan dari Kitab Keluaran (32:15-24.30-34)     
       
"Bangsa itu telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas."
     
Waktu itu Musa dan Yosua turun dari Gunung Sinai. Musa membawa di kedua tangannya kedua loh hukum Allah. Loh-loh itu bertulis pada kedua sisinya sebelah-menyebelah. Kedua loh itu telah dibuat oleh Allah dan tulisannya adalah tulisan Allah, digurat pada loh-loh itu. Ketika Yosua mendengar sorak-sorai bangsa Israel, berkatalah ia kepada Musa, "Kedengaran bunyi sorak peperangan di perkemahan!" Jawab Musa, "Bukan nyanyian kemenangan, bukan pula nyanyian kekalahan, melainkan nyanyian berbalas-balasan, itulah yang kudengar." Ketika sudah dekat perkemahan dan melihat anak lembu serta orang menari-nari, maka bangkitlah amarah Musa. Dibantingnya kedua loh itu dan dihancurkannya pada kaki gunung. Kemudian diambilnya patung anak lembu buatan mereka itu, lalu dibakarnya dalam api, digilingnya sampai halus dan ditaburkannya ke atas air, dan orang Israel disuruh meminumnya. Lalu berkatalah Musa kepada Harun, "Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa sebesar itu kepada mereka?" Jawab Harun, "Janganlah Tuanku marah. Engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata. Mereka berkata kepadaku, 'Buatlah allah bagi kami, yang akan berjalan di depan kami, sebab mengenai Musa, yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir, kami tidak tahu apa yang terjadi dengan dia.' Lalu aku berkata kepada mereka, 'Barangsiapa mempunyai emas, hendaklah menanggalkannya.' Semua emas itu mereka berikan kepadaku; aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini." Keesokan harinya berkatalah Musa kepada bangsa itu, "Kalian telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap Tuhan, mungkin aku dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu." Lalu kembalilah Musa menghadap Tuhan dan berkata, "Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. Tetapi sekarang kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu. Dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis." Maka Tuhan bersabda kepada Musa, "Barangsiapa berdosa terhadap-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku. Tetapi pergilah sekarang, tuntunlah bangsa itu ke tempat yang telah Kusebutkan kepadamu. Di depanmu akan berjalan malaikat-Ku. Tetapi pada hari pembalasan-Ku, Aku akan membalaskan dosa mereka kepada mereka."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do=bes, 2/4, PS 831
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, kar'na baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 106:19–20.21–22.23; R:1a)
1. Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan, mereka menukar Yang Mulia dengan patung sapi jantan yang makan rumput.
2. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal besar di tanah Mesir; yang melakukan karya-karya ajaib di tanah Ham, dan perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.
3. Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Akulah terang dunia. Barangsiapa mengikut Aku, ia tidak berjalan dalam kegelapan, dan ia akan mempunyai terang hidup.     
       
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (11:19-27)

"Akulah kebangkitan dan hidup!"

Menjelang Hari Raya Paskah, banyak orang Yahudi datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus, 'Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.' Kata Yesus kepada Marta, "Saudaramu akan bangkit." Kata Marta kepada-Nya, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Jawab Yesus, "Akulah kebangkitan dan hidup! Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati; dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Jawab Marta, "Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan
   
Dalam konteks Injil hari ini, Tuhan membangkitkan Lazarus dari kematian di hadapan banyak orang yang datang ke tempat itu untuk berduka dengan Maria dan Marta, saudara-saudara perempuannya. Orang-orang yang melihat perbuatan ajaib Tuhan itu bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan atas kasih yang telah ditunjukkan-Nya kepada umat-Nya. Dan itu hanya merupakan pendahuluan dari apa yang Tuhan akan lakukan untuk mereka.

Karena Tuhan benar-benar begitu mencintai dunia sehingga Dia memperluas kasih yang sama dan kasih karunia yang menyelamatkan kepada semua umat-Nya, dengan merangkul penderitaan dan penderitaan Salib. Tuhan Yesus dengan sukarela memikul Salib-Nya dan memikulnya di pundak-Nya sendiri, bersedia untuk menderita demi kita dan menggantikan kita. Dia menanggung luka-luka dan siksaan-Nya, semua penderitaan dan kesakitan sehingga dengan penderitaan-Nya, kita dapat dibebaskan dari kehancuran yang ditakdirkan karena dosa-dosa kita.

Hari ini, kita semua merayakan Peringatan Wajib Santa Marta, Marta yang sama yang merupakan saudara perempuan Lazarus, orang yang dibangkitkan Tuhan Yesus dari kematian. Menurut Injil, St Marta yang sama juga adalah orang yang diingatkan Tuhan Yesus ketika dia dan saudara perempuannya menyambut Dia di rumah mereka, dan St. Marta sibuk mempersiapkan semua hal dan tugas untuk menyambut Tuhan.
 
Sekarang, setelah mendengar tentang apa yang baru saja kita bicarakan tentang kasih Allah dan betapa Dia telah mengasihi kita semua, dan tentang St Marta, yang pernah diingatkan oleh Tuhan untuk tidak berfokus pada hal-hal yang salah dalam hidup, tetapi untuk memfokuskan diri sepenuhnya pada-Nya, marilah kita semua merenungkan kehidupan kita sendiri dan bagaimana kita telah menjalaninya sejauh ini. Sudahkah kita mengasihi Tuhan sebagaimana mestinya, atau malah sibuk dan terlalu sibuk dengan banyak hal dalam kehidupan seperti yang pernah dilakukan St Marta, sehingga kita telah mengesampingkan Tuhan dan bahkan melupakan Dia?

Marilah kita semua mengikuti teladan St Marta dan semua orang kudus, mereka yang telah menjalani hidup dengan setia, dan seperti St. Marta, yang tumbuh dalam iman dan menunjukkan iman serta pengabdiannya kepada Allah dalam percaya dengan sepenuh hati dalam kasih-Nya, dimana Dia telah menyelamatkan dan membebaskan kita semua, umat-Nya yang terkasih. Mari kita semua semakin mencintai Tuhan, setiap hari dalam kehidupan kita mulai sekarang. Semoga Tuhan memberkati kita semua, sekarang dan selamanya. Amin. (RENUNGAN PAGI)
     
Antifon Komuni (Yoh 11:27)

Marta berkata kepada Yesus: "Engkaulah Kristus, Putra Allah yang hidup, yang telah datang ke dunia ini."
   
Dixit Martha ad Iesum: Tu es Christus, Filius Dei vivi, qui in hunc mundum venisti.
 
Martha said to Jesus: You are the Christ, the Son of God, who is coming into this world.

Salam Damai Kristus