Minggu, 31 Maret 2019

Percayalah...
Bukan seberapa banyak FIRMAN...
Hidup bersama TUHAN...
Didalam kasih...
Tidak perlu...
Tetap sabar...
Kencan Dengan Tuhan
Senin, 1 April 2019

Bacaan: Amsal 16:32   "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota."

Renungan:
  Dwight D. Eisenhower adalah komandan tertinggi pasukan sekutu amfibi terbesar yang dipersiapkan untuk membebaskan benua Eropa dari cengkeraman Nazi pada Juni 1944. Ia dapat memimpin pasukan yang sangat besar itu karena kemampuannya bekerja sama dengan berbagai macam orang.
  Pada waktu kecil Eisenhower tidak dapat bergaul karib dengan orang lain. Ia sering berkelahi di sekolah dan pemarah. Syukurlah ia memunyai seorang ibu yang penuh kasih dan mengajarkan firman Tuhan. Suatu kali ketika sedang membalut tangan Eisenhower yang terluka akibat kemarahannya yang meledak-ledak, sang ibu mengutip Amsal 16:32, "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." Bertahun-tahun kemudian ia menulis, "Aku selalu mengingat kembali percakapan itu sebagai salah satu peristiwa paling berharga di dalam hidupku." Tidak diragukan lagi, dengan belajar mengendalikan kemarahannya, Eisenhower dapat bekerjasama secara efektif dengan orang lain.
  Setiap kita pernah dicobai hingga kemarahan kita mudah tersulut. Namun melalui karya Allah di dalam hidup ini , kita dapat belajar untuk mengendalikannya. Tidak ada cara yang lebih baik dalam memengaruhi orang lain selain melalui sikap yang tenang dan lembut. Apakah anda seorang pemarah? Belajarlah dari Eisenhower, maka hidup anda akan diberkati. Tuhan memberkati.

Doa:
Yesus, ada banyak luka hati dan kekecewaan yang mengikat diriku. Itulah akar kepahitan yang membuat aku mudah tersinggung dan mudah emosi. Aku tidak tahu, sudah berapa banyak orang yang terluka karena perkataan dan sikapku ini. Siram hatiku dengan darahMu Yesus dan bantu aku untuk dapat mengampuni siapapun yang pernah menyakiti hatiku agar hidupku dapat menjadi berkat bagi orang lain. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
*AYAH, CINTAILAH IBU.....*

Kisah nyata yg terjadi di aparteman New York tahun 2017, seorang anak bernama Pihu berusia 2 tahun harus survive seorang diri dikarenakan ibunya (Puja) meninggal bunuh diri.
Di sebuah cermin, Puja menulis menggunakan lipstiknya "Gaurav, aku bertengkar dg keluargaku demi menikahimu, namun apa yg kudapat. Aku pamit, tadinya aku ingin mengajak Pihu, tetapi aku tak kuasa.." Pihu tidak menyadari bahwa ibunya telah meninggal dan menganggap ibunya tidur nyenyak. Ia mengajak ngobrol, menyelimuti, bahkan tidur di atas jenazah ibunya.

Pagi itu, suami istri bertengkar hebat, banyak kalimat2 kasar yg terlontar dari mulut Gaurav, seperti "Dasar malas, dasar istri tidak berguna, kau mati pun aku tidak peduli", itu semua merupakan kekerasan verbal yg membuat hati Puja hancur ber-keping2.

Pertengkaran ibarat sebuah bensin yg dituangkan ke atas api. Meledak, seakan-akan tidak dapat dibendung lagi, seakan-akan dalam pandangan mata Puja semuanya sudah berakhir, gelap, dan suaminya tidak menyayanginya lagi.
Ketika Gaurav pulang, menemukan Puja sudah tidak bernyawa, teriakan Gaurav yg penuh sesal sambil terus-menerus meminta maaf kepada istrinya sudah tidak ada artinya lagi. *Apakah kado termahal yg bisa diberikan seorang ayah kepada anaknya? Jawabannya adalah "Cintailah ibu dengan sepenuh hati, ayah"*

Salam Damai Kristus
" Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu hai semua orang yang berharap kepada Tuhan ".(Mazmur 31:25).

Kita berharap kepada Tuhan, sebab Dia itu penolong kita dan Allah kita,

Dia juga Allah kita yang setia, Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melampui kekuatan kita, pada waktu kita dicobai, Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar, sehingga kita dapat menanggungnya,

Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan.

Salam Damai Kristus
#renungan

*MEMINTA KEHIDUPAN*

Senin 01 Apr 2019

_`Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: `Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.` (Yoh 4:49)_


Pernahkah Anda mengalami suatu kejadian yang paling memberatkan batin,
yaitu ketika orang yang Anda kasihi sedang berada di puncak penderitaannya?

Pastilah Anda akan mengusahakan jalan yang terbaik bagi orang yang Anda kasihi itu, bukan?

Itulah yang sedang dialami oleh si pegawai istana.

Kasihnya kepada anaknya itu menghantar dia untuk segera datang kepada Yesus dan meminta, `Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.`

Inilah ungkapan terdalam hati si pegawai istana.

Dia datang, meminta, dan mengundang Yesus untuk segera datang ke rumahnya.

Jawaban Yesus adalah hal yang sangat diharapkan oleh sang pegawai istana, namun membutuhkan iman yang besar: `Pergilah, anakmu hidup.`

Mari kita perhatikan tindakan iman dari si pegawai istana tersebut.

`Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.`

Kepercayaan yang mutlak, tanpa pikir panjang langsung bertindak.

Iman inilah yang menjadi modal bagi kita untuk bisa bertumbuh dalam pengharapan yang menghasilkan buah kasih kepada Tuhan dan sesama.

Pernahkah kita datang dan mengundang Yesus untuk segera datang di dalam hidup kita,
ketika kita diperhadapkan pada persoalan yang sangat menyesakkan? Masihkah kita mencari Yesus dan percaya dalam segala sesuatunya?

Mari kita mulai saat ini juga!

Maka, Sang Kehidupan akan berada dalam hidup kita.

*_Sr. M. Brigitta, P.Karm_*

Senin 01 Apr 2019
Yes 65:17-21; Mzm 30:2.4-6.11-13; Yoh 4:43-54

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
Jangan tawar hati...
TUHAN menghakimi...
Pencobaan terbesar adalah...
Tetaplah berbuat kebaikan...
Kencan Dengan Tuhan
Senin, 1 April 2019

Bacaan: Amsal 16:32   "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota."

Renungan:
  Dwight D. Eisenhower adalah komandan tertinggi pasukan sekutu amfibi terbesar yang dipersiapkan untuk membebaskan benua Eropa dari cengkeraman Nazi pada Juni 1944. Ia dapat memimpin pasukan yang sangat besar itu karena kemampuannya bekerja sama dengan berbagai macam orang.
  Pada waktu kecil Eisenhower tidak dapat bergaul karib dengan orang lain. Ia sering berkelahi di sekolah dan pemarah. Syukurlah ia memunyai seorang ibu yang penuh kasih dan mengajarkan firman Tuhan. Suatu kali ketika sedang membalut tangan Eisenhower yang terluka akibat kemarahannya yang meledak-ledak, sang ibu mengutip Amsal 16:32, "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." Bertahun-tahun kemudian ia menulis, "Aku selalu mengingat kembali percakapan itu sebagai salah satu peristiwa paling berharga di dalam hidupku." Tidak diragukan lagi, dengan belajar mengendalikan kemarahannya, Eisenhower dapat bekerjasama secara efektif dengan orang lain.
  Setiap kita pernah dicobai hingga kemarahan kita mudah tersulut. Namun melalui karya Allah di dalam hidup ini , kita dapat belajar untuk mengendalikannya. Tidak ada cara yang lebih baik dalam memengaruhi orang lain selain melalui sikap yang tenang dan lembut. Apakah anda seorang pemarah? Belajarlah dari Eisenhower, maka hidup anda akan diberkati. Tuhan memberkati.

Doa:
Yesus, ada banyak luka hati dan kekecewaan yang mengikat diriku. Itulah akar kepahitan yang membuat aku mudah tersinggung dan mudah emosi. Aku tidak tahu, sudah berapa banyak orang yang terluka karena perkataan dan sikapku ini. Siram hatiku dengan darahMu Yesus dan bantu aku untuk dapat mengampuni siapapun yang pernah menyakiti hatiku agar hidupku dapat menjadi berkat bagi orang lain. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
Senin, 1 April 2019
Pekan Prapaskah IV
Yes. 65:17-21; Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b; Yoh. 4:43-54.

“Orang-orang Galilea menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya” (Yoh 4,45).

Dalam Injil Yohanes ini, kata Galilea muncul 6x. Bagi Yesus, Galilea merupakan tempat yang penting. Di situlah Ia tinggal “menetap” setelah meninggalkan Nazaret (Mat 4,12-16). Dari situ pulalah, Ia memulai karya publik-Nya dengan mewartakan Kerajaan Allah dan ajakan pertobatan, kemudian mengajar dan menyembuhkan banyak orang (Mat 4,17.17-19). Di Galilea pula Ia memanggil murid-murid yang pertama (Mat 4,18-22). Dua mukjizat-Nya yang pertama pun Ia kerjakan di Galilea, yaitu di Kana (Yoh 4,46; bdk. Yoh2,1-11) dan di Kapernaum (Yoh 4,46-54). Nanti, setelah menderita sengsara, wafat dan bangkit, Yesus pun menemui para murid untuk pertama kalinya juga di Galilea (Mat 28,20.16-17) dan di situ pulalah Ia menyampaikan perintah agung untuk mewartakan Injil (Mat 18,18-20). Galilea. Mengapa kota ini amat penting bagi Yesus? Karena “orang-orang Galilea menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya” (Yoh 4,45). Semoga, hati kita, keluarga kita, komunitas kita dan tempat kerja kita pun menjadi “Galilea”, di mana Yesus kita sambut, kita beri tempat, kita dengarkan dan kita imani.   

​NB. Tanggal 17 April yang akan datang, kita akan memilih presiden. ​Saya mengajak saudara/i untuk berdoa secara khusus selama 17 hari ini: 1) kita bersyukur karena selama 5 tahun ini telah dianugerahi seorang Presiden yang baik; 2) mohon agar Pemilu mendatang berjalan dengan baik, aman, dan damai; 3) mohon agar 5 tahun kedepan, kiga kembali dianugerahi Presiden yang baik. Saya sendiri, dalam Perayaan Ekaristi setiap hari, akan berdoa untuk kemenangan (calon) presiden pilihan saya.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus
☘🍁Doa Pagi🍁☘
Senin 1 April 2019

Tuhan, Engkau baik dan kebaikan-Mu turun-temurun untuk selama-lamanya. Di dalam kebaikan-Mu Engkau telah menebus diriku dari dosa dan hukuman dosa. Di dalam kemurahan-Mu Engkau menghapuskan masa laluku dan membentangkan masa depan yang indah bagi hidupku. Di dalam kesetiaan-Mu Engkau menjamin hari esok yang penuh bahagia bagi orang yang percaya kepada-Mu.

Kalaupun semua yang ada di dunia ini tidak dapat diandalkan, namun kasih dan kesetiaan-Mu tetap untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu aku bersyukur kepada-Mu dan mempersembahkan seluruh hidupku ke dalam tangan-Mu. Karena sesungguhnya hidupku ini adalah milik-Mu dan masa depanku ada di dalam genggaman tangan-Mu.

Aku berterima kasih selama tiga bulan yang pertama di tahun ini Engkau telah menyertai diriku. Masih panjang waktu yang ada di hadapanku, namun aku tidak merasa kuatir ataupun bimbang sebab Engkau bersedia menuntun hidupku. Di saat aku hilang jalan dan tidak tahu arah mana yang harus kutempuh Engkau senantiasa mengarahkan langkah kakiku di jalan-Mu yang benar. Di saat aku melewati lembah kekelaman Engkau tidak pernah meninggalkan diriku.

Kehadiran-Mu yang menyertai diriku menghiburkan jiwaku. Aku menyerahkan hari-hari yang ada di hadapanku ke dalam tangan-Mu. Kalaupun aku tidak mengetahui apa yang akan kuhadapi namun aku mengenal siapa yang memegang hidupku. Kepada-Mu aku berharap. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Gembalaku.
Amin.

Salam Damai Kristus
Percikan Nas
Senin, 01 April 2019
Hari biasa Pekan IV Prapaskah
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan
Yes. 65:17-21; Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b; Yoh. 4:43-54., BcO Ibr. 7:11-28.

Bacaan Injil:
43 Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, 44 sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. 45 Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu. 46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. 47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 48 Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." 49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." 50 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." 53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. 54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Memetik Inspirasi
Hari ini tanggal 1 April yang biasa menjadi hari april mop. Pada hari ini orang bisa bercanda dengan sesamanya dengan boong memboongi. Dan mereka yang tertipu tidak boleh marah. Sering terasa lucu saat melihat orang tertipu di April mop.
Namun bacaan Injil hari ini tidak memberikan kisah boong. Yesus sungguh menyembuhkan anak pegawai istana dengan perkataan-Nya. Kata-kata Yesus, “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh 4:50), sungguh dipercaya oleh pegawai istana. Ia yang berharap pada Yesus, ia percaya pada perkataan Yesus. Ia pun menerima mukjijat Tuhan.
Memang lucu-lucuan di april mop itu menyenangkan. Tetapi jauh lebih menyenangkan kala kata yang kita katakan adalah sebuah kebenaran. Kebohongan sedikit banyak bisa menimbulkan luka pada yang dibohongi. Sebaliknya kebenaran kata kita meneguhkan keyakinan yang mendengarkan. Kala bisa jujur kenapa mesti bohong.

Refleksi
Apakah kata-kata yang kulontarkan berisi kebenaran?

Doa
Tuhan kata-Mu selalu benar. Apa yang Kaukatakan selalu terjadi. Semoga kami pun hidup dalam kebenaran dan mampu terus menyampaikan kebenaran. Amin

Bohong dan Kehenaran
MoGoeng
Wates

Salam Damai Kristus
Mutiara Iman

ITULAH DIA
1 April 2019

“Engkau bukan saja melihat Dia! Dia yang sedang berbicara dengan engkau, itulah Dia!” (Yoh 9:38)

Lectio
Mi 7:7-9; Mzm 27:1,7-8,9,13-14; Yoh 9:1-41

Setelah hampir 10 tahun tidak bertemu, akhirnya Toni dan Rudi berjumpa dan makan siang bersama. Setelah makanan datang, Rudi berkata :
”Marilah kita mengucap syukur dulu kepada Tuhan.”
Setelah berdoa, Toni bertanya :
”Rud, sejak kapan elu jadi religius begini. Kalau gua yang ada sekarang malah jarang ke gereja.”
Rudi berkata :
”Sejak aku terkena sakit Kanker dan kemudian sembuh karena Tuhan menyelamatkanku. Sejak saat itu, aku tidak bisa hidup tanpa DIA, tanpa kasih-Nya. Setiap saat bertemu orang, aku selalu membagikan PENGALAMAN KASIH yang kualami secara pribadi kepada orang lain, agar mereka juga mengalaminya.”
Perlahan air mata pun menetes dari mata Rudi.

PENGALAMAN akan KASIH ALLAH, membuat kita MELIHAT KEBENARAN.

Oratio
Ya Tuhan, sentuh hatiku dan ubah hatiku menjadi yang baru. Amin

Missio
Marilah kita alami kasih Allah secara pribadi dan membagikannya kepada sesama.
Have a Blessed Monday.
RUAH

Senin, 01 April 2019
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

Jikalau Tuhan itu cinta, maka cinta itu tidak ada batasnya, sebab Tuhan tidak dapat diukur dengan batas-batas. (St. Leo Agung)
 
Antifon Pembuka (Mzm 31(30):7-8)

Aku berharap pada-Mu, ya Tuhan. Aku hendak bersorak dan bergirang atas kerahiman-Mu, sebab Engkau mengindahkan kehinaanku

As for me, I trust in the Lord. Let me be glad and rejoice in your mercy, for you have seen my affliction.

Doa Pembuka

Ya Allah, dunia Kauperbarui dengan karya penebusan-Mu yang mengagunkam. Semoga umat-Mu Kaulimpahi bantuan-Mu untuk menghadapi tugas-tugasnya di dunia dan mempersiapkan diri akan kebahagiaan surgawi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (65:17-21) 

"Tidak ada kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erang."
 
Beginilah firman Allah, "Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru! Hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi di dalam hati. Bergiranglah dan bersorak-sorai untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan. Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorai, dan penduduknya penuh kegirangan. Aku akan bersorak-sorai karena Yerusalem dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan, dan bunyi erang pun tidak. Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk. Sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk. Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 838
Ref. Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku
atau: Aku akan memuji Engkau, ya Tuhan, sebab Engkau telah menarik aku ke atas.
Ayat. (Mzm 30:2.4.5-6.11-12a.13b; R: 2a)
1. Aku akan memuji Engkau, ya Tuhan, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak membiarkan musuh-musuhku bersukacita atas diriku. Tuhan, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.
2. Nyanyikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihani oleh-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan menjelang pagi ada sorak-sorai.
3. Dengarlah, Tuhan, dan kasihanilah aku! Tuhan, jadilah penolongku! Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari. Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Am 5:14)
Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian Allah akan menyertai kamu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (4:43-54)

"Lihat anakmu hidup."
 
Sekali peristiwa, Yesus berangkat dari Samaria dan pergi ke Galilea. Sebab Ia sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Yesus tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan Yesus di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, yang anaknya sedang sakit. Ketika pegawai itu mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya, lalu meminta supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya, "Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya, "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
   
Pada masa kini kiranya cukup banyak orang yang suka mencemarkan nama baik orang lain yaitu dengan 'ngrumpi atau ngrasani', bahkan mengaduk-aduk aib keluarga orang lain menjadi tontonan menarik. Misalnya, acara di TV infotainment. Banyak yang suka, padahal itu sering tidak mendidik.

Apa yang dibicarakan? Pada umumnya orang membicarakan kekurangan, kelemahan dan dosa orang lain. Orang yang berbuat demikian berarti merendahkan orang lain. Kita sering mendengar bisik kurang sedap, baik itu tentang suaminya, istrinya, mertua, kepala sekolah, pimpinan komunitas bahkan sampai pastornya dipergunjingkan.

"Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati" (Yes 65:17). Tuhan tidak akan mengingat-ingat lagi kesalahan dan dosa-dosa kita masa lalu, maka sebagai orang beriman kita dipanggil juga untuk tidak mengingat-ingat kesalahan, dosa dan kekurangan orang lain maupun diri kita sendiri, dengan kata lain di dalam hidup sehari-hari hendaknya kita senantiasa berpikiran positif. Semoga kebiasaan berpikir positif ini sedini mungkin ditanamkan atau diajarkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja antara lain dengan teladan konkret dari orang tua atau bapak dan ibu. Apa yang telah dibiasakan di dalam keluarga tersebut hendaknya kemudian diperdalam dan diteguhkan di dalam sekolah-sekolah dan lingkungan-lingkungan Anda.     (RENUNGAN PAGI).
 
Antifon Komuni (Yeh 36:27)

Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

I will place my spirit within you and make you walk according to my laws;
and my judgments you shall keep and observe, says the Lord.
   
Percayalah! Orang yang sungguh-sungguh rendah hati akan diberi Tuhan hati yang damai dan pasrah, yang membuat mereka lebih bahagia dari orang yang diberi kenikmatan rohani. Sebab seringkali, Tuhan memperuntukkan kemanisan ini bagi jiwa-jiwa yang paling lemah. (Sta. Theresia dari Avila, Puri Batin, ruang ketiga I, 9)

Salam Damai Kristus
KATKIT (Katekese Sedikit) No. 213

Seri Katekismus
TIGA PENGERTIAN GEREJA

Syalom aleikhem.
Kristus adalah terang bangsa-bangsa. Kristus adalah Kepala Gereja, dan Gereja adalah Tubuh Mistik-Nya. Karena itu, Gereja tidak punya terang selain terang Kristus. Para bapa Gereja suka menggambarkan keadaan itu dengan bulan yang terangnya adalah pantulan cahaya matahari.

Selain bergantung kepada Kristus, Gereja juga bergantung kepada Roh Kudus, sumber dan pemberi segala kekudusan. Gereja itu kudus karena dianugerahi kekudusan, dikuduskan oleh Roh Kudus. Karena itu, kepercayaan bahwa Gereja adalah satu, kudus, katolik, dan apostolik tak dapat dipisahkan dari kepercayaan akan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Kata “gereja” berakar pada kata Yunani ekklesia (dari kata kerja ekkalein yang artinya ‘memanggil keluar’), kata ini pula yang biasa dipakai dalam Alkitab. Harafiah ekklesia berarti ‘pertemuan rakyat, terutama yang bersifat religius. Dalam Alkitab Perjanjian Lama bahasa Yunani (LXX), kata ini sering dikenakan bagi bangsa terpilih yang berkumpul di hadapan Allah, terutama dalam pertemuan di Sinai ketika umat Allah Perjanjian Lama, umat Israel, menerima hukum dan dijadikan bangsa kudus oleh Allah. Umat Kristen perdana, yaitu zaman Para Rasul, memandang diri pengganti pertemuan itu, dan karena itu menamakan diri “Gereja” (Ekklesia).

Dalam tradisi Kristen, kata “Gereja” bermakna ‘pertemuan liturgis’, juga ‘jemaat setempat’ atau ‘seluruh persekutuan kaum beriman’. Gereja dalam arti pertemuan liturgis dapat ditemukan pada 1Kor. 11:18. Rasul Paulus menyebutkan adanya pertemuan peribadatan zaman itu yang kini kita kenal dengan sebutan Misa. Gereja dalam arti jemaat setempat dalam dilihat pada 1Kor. 1:2. Rasul Paulus menyapa umat setempat, yaitu umat di kota Korintus, yang zaman sekarang dapat kita samakan (bandingkan) dengan suatu keuskupan. Gereja dalam arti seluruh persekutuan kaum beriman tercatat pada 1Kor. 15:9; pada masa sekarang dapat dibandingkan dengan Gereja Universal (Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik yang mencakup seluruh dunia).

Ketiga pengertian di atas tak terpisah satu dengan yang lain. Gereja adalah umat beriman di seluruh yang dihimpun oleh Allah (baca: umat Katolik seluruh dunia), yaitu umat yang terdiri atas jemaat-jemaat setempat (baca secara analogis: keuskupan-keuskupan) dan menjadi nyata wujudnya dalam pertemuan liturgis (baca: Misa dan perayaan sakramen-sakramen). Itulah Gereja.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 748 – 752

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring

Salam Damai Kristus
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Senin,_ *01 April 2019*

Yes 65:17-21
Mzm 30:2,4-6,11-12a,13b
Yoh 4:43-54

*KETEKUNAN*

_Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.  -- Yoh 4:50_

Jika kita membaca perikop hari ini secara lengkap, diceritakan bahwa anak yang sedang sakit berada di lokasi yang berbeda ketika orang tuanya menemui Yesus untuk meminta kesembuhan. Dan tanpa Yesus menyentuh secara langsung, anak itu sembuh pada waktu yang bersamaan ketika Yesus berkata kepada orang tuanya, _"Pergilah, anakmu sembuh!"_

Sekitar sepuluh tahun lalu, saya datang ke sebuah misa penyembuhan. Ketika pastor berkeliling memberkati umat dengan membawa monstran yang berisi Sakramen Maha Kudus, hati saya tersentuh dan percaya bahwa saya sedang menerima kesembuhan dari-Nya untuk mata kaki saya yang sudah dua tahun tidak kunjung sembuh akibat jatuh dari motor.

Kesembuhan tidak saya alami seketika itu juga, namun dalam benak saya, sangat mempercayai bahwa proses penyembuhan sedang terjadi. Setiap hari setelah misa itu, saya selalu mengucapkan syukur kepada-Nya karena sedang menyembuhkan kaki saya. Setelah satu bulan berlalu, kaki saya benar-benar sembuh.

Ketika kita meminta kesembuhan, percayalah bahwa Tuhan akan memberikannya. Namun yang perlu diingat adalah waktu bagi setiap orang berbeda. Dari pengalaman pribadi, saya belajar tentang ketekunan dalam berserah dengan terus-menerus menaruh percaya kepada Tuhan, meski apa yang kita minta belum terwujud sesuai keinginan. Yang harus kita sadari dan imani adalah bahwa Tuhan sudah menyelesaikan semua permasalahan kita, dan bagian kita adalah bertekun menunggu waktu-Nya. Apapun jawabannya, jika itu berasal dari-Nya, pasti untuk kebaikan kita. (In)

Apakah saya setia dalam ketekunan ketika apa yang saya doakan tidak dijawab sesuai keinginan?

Salam Damai Kristus
Santo Santa 1 April

 S. Hugo dari Grenoble

St. Hugo dilahirkan pada tahun 1052 di Perancis. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang tinggi dan tampan, lemah lembut serta penuh sopan santun. Meskipun ia senantiasa mendambakan untuk hidup bagi Tuhan sebagai seorang rahib, ia diberi kedudukan penting yang lain. Ia ditahbiskan sebagai imam dan kemudian sebagai uskup.

Sebagai seorang uskup, Hugo segera meluruskan kebiasaan-kebiasaan dosa sebagian orang dalam keuskupannya. Ia menetapkan rencana-rencana yang bijak, namun bukan itu saja yang ia lakukan. Guna memperoleh belas kasihan Tuhan bagi umatnya, St. Hugo berdoa dengan segenap hati. Ia melakukan mati raga yang keras. Dalam waktu singkat, banyak orang berbalik menjadi saleh dan taat. Hanya sebagian orang dari kaum bangsawan saja yang masih terus menentangnya.

Uskup Hugo masih berangan-angan menjadi seorang rahib. Itulah yang sungguh ia dambakan. Maka, ia mengundurkan diri sebagai Uskup Grenoble dan masuk biara. Pada akhirnya, ia merasakan damai. Namun demikian, bukanlah kehendak Tuhan bahwa St. Hugo menjadi seorang rahib. Setelah setahun lewat, Paus memerintahkannya untuk kembali ke Grenoble. St. Hugo taat. Ia tahu bahwa jauh lebih penting menyenangkan Tuhan daripada menyenangkan diri sendiri.

Selama empatpuluh tahun, bapa uskup hampir selalu sakit. Ia menderita sakit kepala hebat dan juga gangguan pencernaan. Namun demikian, ia memaksakan diri untuk tetap bekerja. Ia mencintai umatnya dan begitu banyak yang harus dilakukan bagi mereka. St. Hugo mengalami pencobaan dan godaan-godaan juga. Tetapi, ia berdoa dengan tekun sehingga tidak jatuh dalam dosa.

St. Hugo wafat pada tanggal 1 April 1132, dua bulan sebelum ulang tahunnya yang kedelapan puluh. Ia menjadi seorang uskup yang murah hati serta kudus selama lima puluh dua tahun.

Pada hari ini, marilah mohon kepada Tuhan untuk membantu kita mengetahui apa yang Ia kehendaki bagi kita.

Sumber : yesaya.indocell.net
Perhatikanlah aku...
Tidak ada kemenangan...

Sabtu, 30 Maret 2019

*MENDIDIK ANAK ALA MARK CUBAN*

Ada banyak orang yg berpandangan bahwa anak2 orang kaya akan tumbuh menjadi anak yg manja, hal itu tidak selalu benar. Mark Cuban, pemilik klub bola basket NBA Dallas Mavericks mengatakan bahwa dia selalu melatih anaknya untuk mandiri dan tidak mengandalkan kemewahan. "Saya bukan tipe ayah yg akan membawa ribuan hadiah untuk anak2 saat pulang ke rumah. Saya adalah ayah yg akan sibuk menyuruh anak saya merapikan ini dan itu, serta memintanya melakukan apa2 sendiri" ujarnya.
Mark Cuban hanyalah salah satu dari antara banyak miliarder yg mendidik anak2nya agar mandiri, kuat, serta mengerti tentang kerasnya perjuangan hidup.

Tantangan dunia ini begitu berat, kerasnya kehidupan dapat menghancurkan iman seseorang, dan menenggelamkannya dalam dosa. *Oleh karena itu, kita harus bersyukur karena Tuhan mendidik kita untuk menjadi pribadi yg rajin, mandiri, dan kuat, sehingga kita dapat menghadapi kerasnya kehidupan di dunia ini*

Salam Damai Kristus
*AKU MASIH SEPERTI YG DULU*

Biasanya dalam kehidupan berumah tangga diawali dg kemesraan, kemanisan, keserasian, saling pengertian, dan saling memaafkan.

Tetapi seiring dg berjalannya waktu, bulan demi bulan, tahun berganti tahun, semua yg indah2 itu mulai luntur dg timbulnya hal2 yg tidak mengenakkan... Ketika kehidupan berjalan lancar tanpa hambatan yg berarti, sangatlah mudah kita menyatakan Kasih dan Kesetiaan, tetapi apa yg terjadi, manakala kesulitan hidup dan badai  menghadang?

Ketika pasangan kita tidak lagi sejaya dulu, ketika ia sakit, ketika ia kehilangan pekerjaan, atau ketika ia menghadapi kesulitan yg lainnya, masih adakah Kasih dan Kesetiaan itu? Masihkah kit seperti yg dulu? *Hendaknya kita selalu menggunakan Kasih dan Kesetiaan sebagai pengikat yg mempersatukan, sehingga kebahagiaan berumah-tangga tetap dipertahankan dan tetap harmonis dalam keadaan apa pun juga*

Salam Damai Kristus
Selamat pagi...
Minggu, 31 Maret 19 – HM Prapapskah IV

*PENGAMPUNAN ALLAH MELEBIHI YANG KITA HARAPKAN*

*BACAAN*
*Yos 5:9a.10-12* – “Umat Allah memasuki tanah yang dijanjikan, dan merayakan Paskah”
*2Kor 5:17-21* – “Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya lewat Kristus”
*Luk 15:1-3.11-32* – “Adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali”

*RENUNGAN*
1.Dengan minta warisan ketika ayahnya masih hidup, berarti si bungsu telah mengabaikan perintah “hormatilah ayah-ibumu” (Kel 20:12). Orang tua seolah-olah sudah mati baginya. Ia juga menghilangkan tanah warisan keluarga. Ia melanggar perintah Allah, “berdosa terhadap surga.” Ia hidup berfoya-foya. Ia menghamburkan harta milik ayahnya, harta yang seharusnya tetap menghidupi keluarga besar ayahnya.

2.Dari bacaan nampak jelas bahwa si anak tersebut  dalam keadaan tidak selamat dan tidak tertolong. Ia menyadari dan mengakui kesalahannya, dan pulang dengan rendah hati, tanpa menuntut hak apa pun. Sebelum menyatakan penyesalannya, ayahnya sudah menjemput, merangkul, mencium, dan berpesta karena anaknya yang mati hidup kembali.

3.Sebelum orang berdosa mengakui kesalahannya, belas kasihan Bapa sudah tersedia terlebih dahulu. Bapa menerima kembali orang yang bertobat dengan memulihkan statusnya sebagai anak yang dikasihi, melebihi harapan orang yang bertobat. Dari kisah anak sulung, pengampunan Bapa terhadap orang berdosa kurang menjadi berita gembira bagi orang yang taat beragama. Mereka menjadi iri hati, cemburu dan sangat tidak suka bila ada orang yang maju dalam hidup rohani. Hidup keagamaan mereka hanya sebagai kewajiban, bukan kasih akan Allah, dan merasa paling baik. Dia orang upahan, bukan anak Bapa. Ia adalah anak sulung.
*(MS,www.berkat.id)*

Salam Damai Kristus
Kencan Dengan Tuhan
Minggu, 31 Maret 2019

Bacaan: Amsal 13:10   "Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat."

Renungan:
  Mengapa dikatakan bahwa keangkuhan mendatangkan penderitaan bagi manusia? Orang yang angkuh tidak bisa bersabar jika ada orang yang menghalangi keinginannya. Ia mudah tersinggung, mudah sakit hati dan menyimpan dendam kepada sesama. Orang yang angkuh tidak bisa menerima penghinaan dari orang lain. Ia tidak memiliki damai sejahtera di hatinya karena selalu ingin dihargai, diutamakan, dipuja dan dibanggakan.
   Sebaliknya orang yang rendah hati tidak memiliki gejolak dan tekanan di dalam hatinya. Ia menjalani segala sesuatunya apa adanya. Ia tidak peduli orang lain akan merendahkan dan menghina dia. Ia tampil apa adanya tanpa dibuat-buat sehingga ia bisa menikmati hidup ini dengan bebas. Hatinya damai dan bebas dari rasa frustasi karena ia tidak menuntut banyak hal untuk orang lain lakukan bagi dia. Ia tidak mengharapkan penghargaan yang berlebihan dari orang lain sehingga ia bebas dari rasa sakit hati ketika orang lain tidak menghormatinya.
  Marilah kita berdiam diri sejenak di hadapan Tuhan. Apakah saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang angkuh di dunia ini? Keangkuhan akan merampas habis damai sejahtera yang seharusnya kita miliki. Belajarlah pada Yesus yang rendah hati, karena dengan demikian kita akan mendapatkan ketenangan jiwa. Tuhan memberkati.

Doa:
Yesus, hancurkanlah ambisi dalam diriku yang ingin dipuji, dihormati dan dinomorsatukan, karena semua itu adalah hakMu bukan hakku. Berikan damaiMu saja Yesus, itu sudah cukup bagiku. Karena damaiMu menjadikan senyumku indah, seindah pancaran kasihMu. Amin. (Dod).

Salam Damai Kristus
#renungan

*SUKACITA MENGAMPUNI*

Minggu 31 Mar 2019

_`Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali` (Luk 15:32)_


Tidak ada sukacita sejati dalam batin mereka yang tidak mengampuni.

Salah satu gambaran sukacita yang dipakai dalam Kitab Suci adalah pesta.

Mereka yang tidak mau mengampuni tidak mau berpesta dengan orang yang dinilai bersalah.

Kalaupun berpesta, mereka tidak mau bercengkerama atau berelasi baik dengan orang yang dianggap bersalah.

Keadaan ini bagaikan anak sulung dalam kisah anak yang hilang (bdk. Luk 15:11-32).

Anak sulung berada di luar pesta.

Artinya, dia tidak mengalami sukacita karena tidak mau mengampuni adiknya yang dipestakan karena bertobat dan kembali ke rumah mereka.

Keadaan anak sulung ini bertolak belakang dengan keadaan Sang Bapa.

Ia begitu bersukacita ketika anaknya yang hilang kembali.

Anaknya yang hilang itu dipulihkan kembali martabatnya dan dipestakan (bdk. Luk 15:20.24).

Inilah sukacita surgawi (bdk. Luk 15:10).

Matius adalah seorang yang dinilai sebagai pendosa karena ia adalah pemungut cukai, tetapi setelah diterima oleh Yesus, ia juga mengadakan pesta dengan yang lain.


Sukacitanya dibagikan kepada yang lain juga (bdk. Mat 9:9-13).

Sukacita Allah akan kita alami bila kita mengaku dosa.

Sakramen Pengakuan Dosa bisa menjadi sarana bagi kita untuk mengalami sukacita.

Sukacita inilah yang akan membuat kita mampu membagikan pengampunan kepada orang lain.

*_Rm. Klimakus de Jesu, CSE_*

Minggu 31 Mar 2019
Hari Minggu Prapaskah IV
Yos 5:9-12; Mzm 34:2-7; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3.11-32

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*

Salam Damai Kristus
☘🍁Doa pagi🍁☘
Minggu 31 Maret 2019

Tuhan Yesus,
saat kami dapat menyembahMu,
kami mohon sucikan dan kuduskanlah hati
dan pikiran kami ya Tuhan.
Arahkanlah diri kami hanya kepadaMu
Allah yang Maha Suci, Maha Besar,
dan Maha Kuasa.

Janganlah biarkan ada kekuatiran di dalam diri kami, atau apapun yang dapat menggangalkan hati kami
saat kami datang beribadah kepadaMu.
Tuntun kami untuk melepaskan segala kepenatan, dan pergumulan hidup kami, menyerahkan semuanya kepadaMu agar jiwa kami sepenuhnya bebas untuk
masuk dalam hadiratMu.

Ingatkan kami bahwa kekuatiran dan beban hidup tak akan menjadi berkurang walaupun kami pikirkan terus, malah akan membelenggu hidup kami jika tidak kami lepaskan.

Bawalah kami Tuhan kepada indahnya hadiratMu, berilah kami kedamaian dan ketenangan, dan biarlah kami duduk dekat kakiMu untuk mendengarkan sabdaMu yang memenuhi dahaga jiwa kami, memberi kesegaran dan kekuatan bagi kami.

KepadaMu Tuhan Yesus, kami panjatkan doa ini, dan terpujilah namaMu kini dan selamanya.
Amin.

Salam Damai Kristus
KATKIT (Katekese Sedikit) No. 212

Seri Alkitab
INJIL MARKUS 3:32-25

Syalom aleikhem.
Mrk. 3:32
Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”
Et sedebat circa eum turba, et dicunt ei: “ Ecce mater tua et fratres tui et sorores tuae foris quaerunt te ”.

Karena begitu banyak orang di sekitar Tuhan Yesus mendengarkan pengajaran-Nya, Bunda Maria dan para kerabat-Nya sulit bertemu langsung dengan-Nya. Orang-orang di sekitar Tuhan itulah yang memberi tahu-Nya bahwa ibu dan para kerabat-Nya ada di luar, maksudnya di luar rumah tempat Tuhan mengajar. Ayat ini bicara mengenai keadaan nyata waktu itu, tidak lebih.

Terjemahan lain yang mungkin untuk ayat ini: “Pada waktu itu, banyak orang sedang duduk mengelilingi Yesus. Mereka berkata kepada-Nya, “Ibu dan saudara-saudara-Mu berada di luar rumah. Mereka ingin bertemu dengan-Mu.”

Mrk. 3:33
Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”
Et respondens eis ait: “ Quae est mater mea et fratres mei? ”.

Jawaban Tuhan malah berupa pertanyaan. Jangan heran, Tuhan Yesus bukan sedang bingung mengenai siapa mama-Nya dan para kerabat-Nya, Tuhan tak lupa ingatan. (Hehehe.) Sekilas membaca, orang bisa keliru mengartikan seperti itu, seakan-akan Tuhan Yesus tak kenal siapa ibu-Nya dan siapa para kerabat-Nya. Pertanyaan Tuhan ini justru memuat pengajaran. Kesempatan itu dimanfaatkan Tuhan Yesus untuk mengajarkan seperti apakah dan bagaimanakah orang-orang yang merupakan ibu-Nya dan para kerabat-Nya yang sejati.

Tuhan Yesus mengajarkan kesejatian keibuan dan kekerabatan bagi-Nya, bahwa hubungan rohani jauh melebihi hubungan lahiriah belaka. Ayat selanjutnya akan memperjelaskan hal ini.

Mrk. 3:34
Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
Et circumspiciens eos, qui in circuitu eius sedebant, ait: “ Ecce mater mea et fratres mei.

Setelah bertanya, Tuhan Yesus memandang sekeliling, memandangi orang-orang yang mengerubungi. Kemudian, Tuhan menyatakan bahwa “ini” ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. “Ini” di situ artinya “kalian”, yaitu mereka yang waktu itu duduk mengelilingi-Nya.

Mrk. 3:35
Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Qui enim fecerit voluntatem Dei, hic frater meus et soror mea et mater est ”.

Ayat ini memperjelas ayat 34. Jelaslah bahwa orang yang melakukan kehendak Allah adalah ibu dan saudara Yesus. Ayat ini bukan ayat yang mengecualikan Bunda Maria, seakan-akan ia “tak diakui” oleh Tuhan Yesus. Justru menegaskan. Bunda Maria melakukan kehendak Allah? Ya, bahkan lebih baik daripada kita. Makin jelaslah bahwa keibuan Maria atas Yesus bukan “hanya” lahiriah, melainkan rohaniah juga. Itu yang lebih penting.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring

Salam Damai Kristus
Mutiara Iman

BAPA AKU TELAH BERDOSA
31 Maret 2019

“Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa” (Luk 15:18)

Lectio
Yos 5:9a, 10-12; Mzm 34:2-7; 2 Kor 5:17-21; Luk 15:1-3, 11-32

Setelah terkena PHK, Herman pun sibuk mencari pekerjaan. Setelah mencari sekian lama, akhirnya dia dikenalkan dengan perusahaan yang sedang membuka lowongan.
”Tapi atasanmu adalah Dedi yang pernah kamu PHK.” kata Vani.
Maka terdiamlah Herman mendengar penjelasan temannya itu.
“Kamu harus berbesar hati. Yang dulu itu kan memang sudah tugasmu. Saya sih percaya Dedi tidak ada dendam apa-apa padamu. Kamu harus memikirkan keluargamu.”
Keesokan harinya Herman datang ke kantor itu. Dedi yang menyambut segera memeluk Herman dan memperkenalkannya pada pak Petrus pemilik perusahaan.
”Pak Petrus, ini atasan saya yang saya ceritakan. Dia sangat cocok untuk jadi CEO di anak perusahaan kita. Saya sangat percaya akan kemampuannya.”
Mendengar pujian itu, meneteslah air mata Herman karena tidak menyangka bahwa Dedi, mantan stafnya, yang pernah dipecat justru mempromosikannya.

Ketika ada PENGAMPUNAN, ada KEHIDUPAN.

Oratio
Ya Bapa, aku telah berdosa kepada Bapa dan surga. Amin

Missio
Marilah kita selalu berekonsiliasi dengan Allah dan sesama.
Have a Blessed Forth Sunday of Lent.
Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Minggu,_ *31 Maret 2019*

*Hari Minggu Prapaskah IV*

Yos 5:9a,10-12
Mzm 34:2-7
2Kor 5:17-21
Luk 15:1-3,11-32

*ANAK YANG HILANG*

_Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.  -- Luk 15:32_

Seorang teman yang keluarganya bisa dibilang sangat berkecukupan, terbiasa menghabiskan uang hanya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Ketika uangnya habis, iapun menjadi bandar narkoba. Oh ya, teman saya ini seorang wanita. Karena hidupnya yang semakin tidak jelas, keluarganya mengusirnya dari rumah.

Suatu ketika, ia bertemu dengan seorang pendeta yang mengajaknya tinggal bersama dengan keluarganya. Bertahun-tahun ia tinggal dalam lingkungan yang sehat. Iapun dibiayai oleh pendeta ini untuk sekolah Teologi. Setelah menyelesaikan studinya, ia mulai aktif dalam pelayanan. Namun setelah beberapa tahun, ia kembali jatuh dalam dosa yang sama.

Pendeta itu merangkulnya kembali. Diajaknya teman saya ini kembali ke rumahnya. Hingga akhirnya teman saya mengalami lahir baru.

Setelah siap, ia pulang ke kampung halamannya untuk kembali kepada keluarganya. Namun selama bertahun-tahun ia merasakan dan mengalami perlakuan yang berbeda dari kakak dan adiknya yang masih memandang masa lalunya. Mereka tidak yakin kalau teman saya sudah bertobat. Selama itu pula ia tetap sabar dan berdoa agar pemulihan dalam keluarga dapat terjadi. Ketika ibu mereka meninggal, barulah pemulihan terjadi. Bahkan setelah itu, kakak dan adiknya pun ikut dalam pelayanan.

Teman, betapapun besarnya kesalahan yang kita perbuat, kembalilah kepada Tuhan. Sekalipun kita menjauh dari Tuhan, tetapi Tuhan selalu mempunyai cara untuk menarik kita kembali ke dalam pelukan kasih-Nya. (Ar)

Sudahkah saya menyadari kasih Tuhan lebih besar dari dosa-dosa saya?

Salam Damai Kristus
RUAH

Minggu, 31 Maret 2019
Hari Minggu Prapaskah IV

Selama Masa Prapaskah, organ dan alat musik lainnya hanya boleh dimainkan untuk menopang nyanyian, kecuali pada Minggu Laetare (Minggu Prapaskah IV) dan hari raya serta pesta yang terjadi dalam masa ini. (Pedoman Umum Misale Romawi, 313 D)
   
Antifon Pembuka (Yes 66:10-11)

Bersukacitalah bersama Yerusalem, dan berhimpunlah, kamu semua yang mencintainya; bergembiralah dengan sukacita, hai kamu yang dulu berdukacita, agar kamu bersorak-sorai dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu.

Lætare Ierusalem: et conventum facite omnes qui diligitis eam: gaudete cum lætitia, qui in tristitia fuistis: ut exsultetis, et satiemini ab uberibus consolationis vestræ.
   
Doa Pembuka

Ya Allah, dengan pengantaraan Sabda-Mu Engkau telah memulihkan hubungan damai dengan umat manusia secara mengagumkan. Kami mohon, berilah agar umat kristiani, dengan cinta bakti yang penuh semangat dan iman yang hidup, bergegas menyongsong hari-hari raya yang akan datang. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yosua (5:9a.10-12)
 
"Umat Allah memasuki tanah yang dijanjikan, dan merayakan Paskah."
 
Sekali peristiwa, setelah Yosua selesai menyunatkan seluruh bangsa, berfirmanlah Tuhan kepada Yosua, “Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir dari padamu.” Sementara berkemah di Gilgal, orang Israel itu merayakan Paskah pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu petang, di dataran Yerikho. Lalu pada hari sesudah Paskah mereka makan hasil negeri itu, yakni roti yang tidak beragi dan bertih gandum, pada hari itu juga. Pada keesokan harinya, setelah mereka makan hasil negeri itu, manna tidak turun lagi. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 3/4, PS 857
Ref. Kecaplah betapa sedapnya Tuhan. Kecaplah betapa sedapnya Tuhan.
Ayat. (Mzm 89:2-3.4-5.27.29; Ul:9a)
1. Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu; puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.
2. Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.
3. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (5:17-21)
 
"Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya lewat Kristus."
 
Saudara-saudara, barangsiapa ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama telah berlalu, dan sungguh, yang baru sudah datang. Semuanya ini datang dari Allah yang telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dengan perantaraan Kristus dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya lewat Kristus tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Kristus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Luk 15:18)
Baiklah aku kembali kepada bapaku dan berkata, "Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan bapa."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (15:1-3.11-32)
 
"Adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali."
 
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Maka Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya, ‘Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku’. Lalu ayahnya membagi-bagi harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu, lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya harta miliknya, timbullah bencana kelaparan di negeri itu, dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya, ‘Betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebut anak Bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan Bapa.’ Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya, ‘Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebut anak Bapa.’ Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, kenakanlah kepadanya; pasanglah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung sedang berada di ladang. Ketika pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu, ‘Adikmu telah kembali, dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatkan kembali anak itu dengan selamat.’ Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya, “Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa, dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama dengan pelacur-pelacur, maka Bapa menyembelih anak lembu tambun untuk dia.’ Kata ayahnya kepadanya, ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali’.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan
 
Dalam banyak kesempatan, saya sering (melihat ketika bertemu, mereka ada yang melambaikan tangan, atau memanggil nama, kemudian cipika-cipiki atau tepika-tepiki (tempel pipi kanan, tempel pipi kiri). Ada kalanya disertai senyum lebar, dan berlanjut dengan cerita sambil berjalan menuju ke tempat tertentu. Pada saat yang demikian itu, dialami kegembiraan, ketenangan, kepercayaan, kedekatan, atau bisa juga saat itu merupakan penemuan kembali seorang sahabat yang telah lama tidak berjumpa. Pertemuan/perjumpaan itu sering begitu berarti, sehingga duduk sambil bercerita meskipun sudah sekian jam, rasanya baru sekejap saja. Mereka tidak ingin segera berpisah atau pulang meninggalkan rekan/sahabat yang baru saja dijumpai itu. Situasi seperti itu diungkapkan melalui syair “kemesraan ini janganlah cepat berlalu”, dalam lagu “kemesraan”. Mereka merasa aman, damai dan penuh dengan persaudaraan. Mereka mengalami kemesraan.

Dalam bacaan Injil, kita menemukan keputusan si bungsu untuk berdamai. ia kembali ke rumah bapanya, karena dia rindu untuk mengalami “kemesraan” (aman, damai, dan penuh kasih persaudaraan). Dia mau didamaikan dengan Allah. Ayahnya pun sudah tidak sabar “lagi untuk menjemput dan menemukan anak itu. Dia berlari mendapatkan anak itu, lalu merangkul dan mencium dia. Ada kegembiraan dan sukacita. (Mgr. NAS/RENUNGAN HARIAN MUTIARA IMAN 2019)

 
LAMPIRAN BACAAN TAHUN A

Bacaan Injil tentang perempuan Samaria, orang yang lahir buta dan pembangkitan Lazarus yang disediakan untuk Minggu Prapaskah ke-3, ke-4, ke-5 Tahun A, juga dapat dibawakan pada Tahun B dan C, karena amat bermakna bagi inisiasi ke dalam Gereja, terutama di mana ada pelamar baptis. (Missale Romanum, Ordo lectionum Missae, ed altera, Praenotanda, n.97) [Perayaan Paskah dan Persiapannya, No. 24, diberikan di Roma di kedudukan Kongregasi Ibadat Ilahi 16 Januari 1988]

 
Bacaan dari Kitab Pertama Samuel (16:1b.6-7.10-13a)
 
"Daud diurapi menjadi raja Israel."
 
Setelah Raja Saul ditolak, berfirmanlah Tuhan kepada Samuel, “Isilah tabung tandukmu dengan minyak, dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” Ketika anak-anak Isai itu masuk, dan ketika melihat Eliab, Samuel berpikir, “Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel, “Janganlah berpancang pada paras atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai, “Semuanya ini tidak dipilih Tuhan.” Lalu Samuel berkata kepada Isai, “Inikah semua anakmu?” Jawab Isai, “Masih tinggal yang bungsu, tetapi ia sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai, “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.” Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Kulitnya kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu Tuhan berfirman, “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Samuel mengambil tabung tanduknya yang berisi minyak itu, dan mengurapi Daud di tengah saudara-saudaranya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 3/2, 2/4, PS 849
Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ayat. (Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6, Ul: lih. 1)
1. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: 'ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. 'Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
2. Sekalipun aku harus berjalan berjalan di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
3. Kau siapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku, Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.
4. Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi, mengiringi langkahku selalu, sepanjang umur hidupku, aku akan diam di rumah Tuhan, sekarang dan senantiasa.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (5:8-14)
 
"Bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu."
 
Saudara-saudara, memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang. Karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya, telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebut saja apa yang mereka buat di tempat-tempat yang tersembunyi sudah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan, “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yoh 8:12b)
Akulah cahaya dunia; siapa yang mengikuti Aku akan hidup dalam cahaya abadi.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (9:1-41) (Singkat: Yoh 9:1.6-9.13-17.34-38).
 
"Orang buta itu pergi, membasuh diri, dan dapat melihat."
   
Sekali peristiwa, ketika Yesus sedang berjalan lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahir. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus, “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang. Akan datang malam, di mana tak seorang pun dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” Sesudah mengatakan semua itu, Yesus meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya, “Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam.” Siloam artinya “Yang Diutus”. Maka pergilah orang itu. Ia membasuh dirinya, lalu kembali dengan matanya sudah melek. Maka tetangga-tetangganya, dan mereka yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata, “Bukankah dia ini yang selalu mengemis?” Ada yang berkata, “Benar, dialah ini!” Ada pula yang berkata, “Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata, “Benar, akulah dia.” Kata mereka kepadanya, “Bagaimana matamu menjadi melek?” Jawabnya, “Orang yang disebut Kristus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku, dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi, dan setelah membasuh diri, aku dapat melihat.” Lalu mereka berkata kepadanya, “Di manakah Dia?” Jawabnya, “Aku tidak tahu.” Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya, “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.” Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu, “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata, “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mukjizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula kepada orang yang tadinya buta itu, “Dan engkau, karena Ia telah memelekkan matamu, apakah katamu tentang Dia?” Jawabnya, “Ia seorang nabi!” Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru sekarang dapat melihat. Maka mereka memanggil orangtuanya dan bertanya kepada mereka, “Inikah anakmu yang kamu katakan lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?” Jawab orang tua itu, “Yang kami tahu, dia ini anak kami, dan ia memang lahir buta. Tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu; dan siapa yang memelekkan matanya, kami juga tidak tahu. Tanyakanlah kepadanya sendiri,sebab ia sudah dewasa; ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.” Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengakui Yesus sebagai Mesias akan dikucilkan. Itulah sebabnya maka orang tua itu berkata, “Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.” Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu, dan berkata kepadanya, “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah: Kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” Jawabnya, “Apakah Dia itu orang berdosa, aku tidak tahu! Tetapi satu hal yang aku tahu, yaitu: Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.” Kata mereka kepadanya, “Apakah yang diperbuat-Nya kepadamu? Bagaimana Ia dapat memelekkan matamu?” Jawabnya, “Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya. Mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?” Sambil mengejek, orang-orang Farisi berkata kepadanya, “Engkau saja murid orang itu, tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu, kami tidak tahu dari mana Ia datang.” Jawab orang itu kepada mereka, “Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, padahal Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.” Jawab mereka, “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa, dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar. Yesus mendengar bahwa orang itu telah diusir oleh orang-orang Farisi. Maka ketika bertemu dengan dia, Yesus berkata, “Pecayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya, “Siapakah Dia, Tuhan, supaya aku percaya kepada-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Engkau bukan saja melihat Dia! Dia yang sedang berbicara dengan engkau, Dialah itu!” Kata orang itu, “Aku percaya, Tuhan!” lalu ia sujud menyembah Yesus. Kata Yesus, “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa tidak melihat dapat melihat, dan supaya yang dapat melihat menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ, dan mereka berkata kepada Yesus, “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” jawab Yesus kepada mereka, “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa. Tetapi karena kamu berkata, ‘Kami melihat’, maka tetaplah dosamu.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Salam Damai Kristus
Doa Hari Minggu

31 Mar' 2019

By : Team Moderator DSM

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Allah yang Maha Kuasa,
yang karena kasihNya telah mengirimkan
anaknya Yesus Kristus ke dunia
menjadi terang kasih sempurna,
anugerahkanlah kami hadiah terbaikMu,
kekuatan untuk berbagi kasih.

Isilah hati kami dengan kasih Kristus,
dan tolonglah kami untuk dapat membagikan
kasih itu kepada sesama.
Bebaskan kami dari rasa ingin menang sendiri,
agar kami mempunyai waktu untuk berbagi
dan memikirkan mereka yang memerlukan uluran kasih.

Anugerahkanlah kami keinginan untuk berbagi kasih,
dan keselarasan antara pikiran dan tubuh.
Biarlah kami selalu ingat
bahwa memikirkan diri sendiri
akan menjauhkan kasih,
dan hindarkanlah kami dari cemburu
yang dapat menghancurkan kasih itu sendiri.

Dengarlah doa kami ini, ya Allahku. Tuhan Yesus,
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus
Amin

Salam Damai Kristus
PERCIKAN HATI ❤
Minggu, 31 Maret 2019

🌟 RENUNGAN
Yos. 5:9a.10-12; Mzm. 34:2-3.4-5.6-7; 2Kor 5:17-21; Luk. 15:1-3.11-32.

HIDUP BERFOYA-FOYA

🙂 Hidup berfoya-foya seolah menjadi tren bahkan menjadi dambaan orang masa modern karena di sana ada uang, kekayaan, fasilitas, menyusul kesenangan, kenikmatan, kemudahan, pesta pora dan pemenuhan semua keinginan. Namun tren semacam itu menjadi penghancur seseorang. Orang  larut dalam dunianya sendiri dan lupa akan keluarga, sesama, apalagi membantu orang miskin. Kerap itu semua lenyap karena tren hidup berfoya-foya. Hal yang dipandang kesenangan kerap membawa petaka, kemalangn, bahkan kehancuran.

🙂 Lihatlah kemalangan hidup seorang yang hilang. Harta orang tuanya berlimpah ruah. Apa yang diinginkannya semuanya serba terpenuhi. Tak ada yang kurang sedikitpun dalam kehidupannya namun ketidakpuasan merongrong hatinya, karena ia ingin hidup berfoya-foya. Maka dimintanya semua hak kekayaannya. Tak sedikit pun tertinggal. Semuanya dibawa serta. Pikirannya hanya untuk bersenang-senang. Hatinya terpukau dengan kenikmatan jasmani dan duniawi. Hidup berfoya-foya menggerogoti pikirannya. Setelah semua itu dirasakannya ia pun kehabisan segalanya. Maka mendaratlah ia di kandang babi, ampas babi menjadi santapan hariannya. Itulah kemalangan dan kehancurannya.
Kendati pun sadar dan bertobat lalu kembali ke rumah  bapanya beruntunglah ia karena ia masih diterima dan tidak ditolak. Jika diusir dari rumahnya maka tambatlah riwayatnya.

🙂 Sahabat, hindarilah hidup berfoya-foya, jauhilah naluri kesenangan dan kenikamtan duniawi, yang berprotensi menghancurkan diri dan keluarga kita. Sukacita kita bukan dalam materi duniawi tetapi hidup dalam Allah dan keharmonisan hidup dalam keluarga. Cintailah keluarga, syukurilah apa yang kita miliki dan pergunakanlah itu dengan bijaksana agar itu tidak mempersulit kita tetapi sebaliknya membawa kita dengan dengan Allah. Layanilah Tuhan, dan sesama yang membutuhkan. Dengan demikian gaya hidup kita bukan berfoya-foya tetapi menggunakan apa yang diberikan Allah pada kita, menurut hidup kehendak-Nya.
 
Salam Damai Kristus

Jumat, 29 Maret 2019

Percikan Nas
Sabtu, 30 Maret 2019
Hari biasa Pekan III Prapaskah
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan
Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4,18-19,20-21ab; Luk. 18:9-14. BcO Ibr. 6:9-20.

Bacaan Injil:
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Memetik Inspirasi
Ada orang yang mengaku diri sebagai keturunan bangsawan atau karena merasa sudah punya banyak harta lalu mencari aura atau menyejajarkan diri sebagai bangsawan. Dalam diri mereka bangsawan adalah orang terhormat dan harus dihormati. Maka mereka pun pingin bahkan minta untuk dihormati.  Namun seringkali mereka tidak mampu menunjukkan citra kebangsawanan tersebut karena citra bawaannya. Maunya dihormati malah menjadi tidak terhormat.
Orang Farisi mencitrakan diri sebagai orang suci. Sebenernya kesucian itu paling tampak dalam kemurnian doanya. Ternyata orang Farisi dalam berdoa pun merendahkan orang lain. Doa digunakan untuk memuji diri sendiri dan merendahkan yang lain (bdk. Luk 18: 11-12). Kesucian yang dicitrakan pun hancur oleh kata-katanya di dalam doanya. Doa, tanda kesucian, sudah dia lunturkan.
Rasanya kita perlu selalu mensyukuri rahmat yang kita terima dan mengakui kekurangan dan kesalahan yang sering kita buat. Kita tidak perlu merasa diri sebagai bangsawan yang perlu dihormati. Syukur atas diri dan sadar akan kesalahan pun akan menghantar kita pada kebangsawanan kerajaan Kristus. Hidup yang tulus di hadapan Allah jauh menghantar kita pada penghormatan.

Refleksi
Bagaimana agar menjadi bagian kebangsawanan kerajaan Allah?

Doa
Tuhan, Engkau tidak memerlukan laporan kesombongan kami. Yang Kaubutuhkan adalah ketulusan hati menerima rahmat-Mu dan kerendahan hati mengakui kekurangan. Semoga kami selalu ada dalam garis harapan-Mu. Amin

Sikap Bangsawan
MoGoeng
Wates

Salam Damai Kristus
☘🍁Doa pagi🍁☘
Sabtu 30 Maret 2019

Allah Bapa di surga,
kini Kau anugerahkan hari baru,
yang kami sambut dengan penuh haru.

Terima kasih atas kesehatan badan dan jiwa,
terima  kasih atas anugerah kasih dan sejahtera.

Matahari memancarkan cahaya kebenaranMu,
Angin dan mega memancarkan keperkasaanMu.

Kini kami siapkan seluruh hati,
kini kami kerahkan akal budi,
untuk hidup tulus seperti merpati.

( hening sejenak, ......haturkan niat dan rencana )

Tuntunlah setiap langkah kami,
amankanlah, setiap tindakan kami,
berkatilah setiap usaha kami.

Bapa kami....dst.
Amin.

Salam Damai Kristus
Sabtu, 30 Mar 2019
Hari Biasa Pekan Prapaskah III

Bacaan 1 : Hos 6:1-6
Mazmur : Mzm 51:3-4.18-19.20-21ab
Injil : Luk 18:9-14

“Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Luk 18,14.

Yesus mengalamatkan perumpaan tentang doa orang farisi dan doa pemungut cukai ini “kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain” (ay.9). Mungkin, kita juga termasuk dari “beberapa orang ini”. Dengan demikian, kata-kata Yesus ini juga dialamatkan kepada kita, yang kadang merasa diri paling benar dan bersamaan dengan itu, entah sadar atau tidak, juga merendahkan atau meremehkan orang lain. Bahkan, ketika hati nurani kita sudah sadar bahwa kita bersalah, tidak jarang kita masih membela diri dan membenarkan diri di hadapan orang lain. Oleh karena itu, sabda Tuhan ini kiranya baik untuk menjadi salah satu bahan instropeksi diri di masa prapaskah ini sehingga dengan bantuan rahmat-Nya kita dapat memperbaiki relasi kita baik dengan Tuhan maupun dengan sesama, baik secara lahir maupun batin.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus