#renungan
*HIDUP DALAM KEKUDUSAN*
Jumat 30 Agust 2019
_`Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus` (1Tes 4:7)_
Kita semua diciptakan secitra dengan Allah. Allah adalah kudus, oleh karena itu kita pun dipanggil untuk menjadi kudus sama seperti Allah, `sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus` (1Ptr 1:16).
Menjadi kudus! Kata-kata ini terdengar seakan-akan mustahil bagi kita. Memang, ini mustahil apabila kita mau menjadi kudus dengan kekuatan kita sendiri, namun bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil. Apabila Tuhan menghendaki, bahkan memerintahkan kita untuk menjadi kudus, berarti Tuhan yakin bahwa kita `bisa` menjadi kudus. Tentu, Tuhan tidak buta terhadap segala kerapuhan kita. Dia tahu kita ini debu, namun apa yang mustahil bagi kita akan dibuat-Nya menjadi mungkin berkat rahmat-Nya, asalkan kita mau, percaya, dan bekerja sama dengan rahmat-Nya. Buktinya sudah jelas: para santo dan santa. Mereka orang rapuh yang menjadi kudus karena bekerja sama dengan rahmat Tuhan. Mengapa kita tidak meniru mereka?
Apabila kita beranggapan bahwa mustahil untuk hidup kudus, maka kita akan cenderung `memanjakan` diri sendiri dalam hal dosa dan berkata, `Ah, ini hanya dosa kecil, tidak apa-apa.` Sikap seperti ini akhirnya membuat kita terbiasa melakukan dosa. Namun, apabila kita memiliki target menjadi kudus, maka dosa sekecil apa pun tidak kita tolerir. Apabila melakukan dosa, pasti kita akan cepat-cepat melakukan Pengakuan Dosa.
Ya Tuhan, bantulah kami untuk selalu hidup dalam kekudusan, sama seperti Engkau yang kudus adanya.
*_Laurentia Vonny_*
Jumat 30 Agust 2019
1Tes 4:1-8; Mzm 97:1-2.5-6.10-12; Mat 25:1-13
Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar