Minggu 08 Juli 2018
Hari Minggu Biasa XIV
Bacaan 1 : Yeh 2:2-5
Mazmur : Mzm 123:1-2a.2bcd.3-4
Bacaan 2 : 2Kor 12:7-10
Injil : Mrk 6:1-6
Bacaan-bacaan Hari Minggu Biasa XIV ini mengajak kita untuk menempatkan diri kita masing-masing sebagai utusan Tuhan. Sebagaimana Tuhan Allah mengutus Nabi Yehezkiel kepada orang Israel (bac I: Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel"), Ia pun mengutus kita di tempat kita berada saat ini. Di antara kita, ada yang diutus sebagai suami/bapak, sebagai istri/ibu, sebagai imam, bruder, suster, sebagai guru, dokter, karyawan, dll. Singkatnya, sebagai apa pun kita, kita adalah utusan Tuhan.
Sebagai utusan, kita tentu memiliki aneka macam kelebihan, potensi, dan prestasi. Namun, kita mesti sadar bahwa semua itu bukan memulu usaha kita melainkan kasih karunia Tuhan. Maka, kita tidak boleh tinggi hati (bac II: supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku). Sebaliknya, kita pun pasti memiliki segudang kelemahan yang membuat kita pernah merasa gagal dan tidak mampu mengerjakan tugas perutusan kita dengan baik. Dalam hal ini, kita tidak perlu kuatir karena Tuhan senantiasa mencukupkan kita dengan kasih karunia-Nya (bac II: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna").
Dalam menjalankan tugas perutusan kita, mungkin kita juga pernah mengalani ditolak seperti Yesus (Injil). Mungkin yang ditolak bukan kehadiran kita tetapi sikap, pemikiran, usulan, proposal, dll. Pengalaman ditolak memang merupakan sesuatu yang menyakitkan. Bisa jadi membuat kita terpuruk dan mandeg karena kehilangan kepercayaan diri ataupun harapan masa depan. Namun, mari kita belajar dari Yesus. Penolakan yang dialami-Nya di Nazaret, tidak menyurutkan apalagi menghentikan misi-Nya. Ia tetap memandang ke depan dengan penuh harapan. Untuk itulah, Ia meninggalkan Nazaret dan pergi ke tempat-tempat lain sambil mengajar. Semoga, pada saat-saat kita mengalami kegagalan, penolakan atau tidak dipercaya, kita pun tidak patah semangat. Tetap mempunyai harapan dan berani untuk pergi ke "tempat lain" (baca: cara lain, usaha lain, ide/gagasan lain, dll), guna mewujudkan apa yang menjadi misi dan tugas perutusan kita. Kalau apa yang kita perjuangkan itu sesuatu yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan, kita yakin meski pada saat tertentu atau di tempat tertentu kita ditolak dan tidak dipercaya, kita harus tetap memperjuangkannya. Kita percaya dan tetap berharap agar suatu saat apa yang kita perjuangkan tersebut dapat berhasil dan berbuah.
Doa: Tuhan, semoga kami mampu menjadi utusan-utusan-Mu yang baik. Amin. -agawpr-
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar