PERCIKAN HATI❤
Selasa, 25 Juli 2018
🌟Motivasi Rohani
💫*MUAK, KETIKA ORANG ITU BERKATA-KATA*
Belum lama ini (Kamis, 19 Juli 2018), tatkala berjalan-jalan di Bulungan – Kalimantan Utara, saya berjumpa dengan sahabat lama. Kebetulan sahabat lama saya ini disertai teman yang ganteng seperti Dewa Apollo, tinggi dan tampangnya pun intelek. Tentu orang itu dikagumi banyak gadis dan ibu-ibu muda.
Tetapi kekaguman saya pada si ganteng itu berhenti, ketika kata-kata yang keluar dari mulutnya itu penuh dengan kesombongan dan kebanggaan diri yang berlebihan, bahkan maki-maki. Peribahasa Jawa menulis, _“arum jamban”_ – sifat orang yang biasa mengucapkan kata-kata cemar, aib dan kotor.
Perkataan seseorang memang kadang membawa kesejukan, namun tak jarang sebaliknya membawa rasa muak. Kita muak, mungkin karena yang diomongkan itu kosong, _“Tong kosong berbunyi nyaring.”_ Pada hakikatnya, orang ingin menyaksikan _“facta non verba”_ – karya nyata dan bukan (hanya) kata-kata belaka.
Muak, ketika melihat orang yang menyombongkan dirinya dan berkata bahwa dirinya itu bisa ini dan bisa itu _(all-round)._ Kita simak peribahasa ini, _“A man of words and not of deeds is like a garden full of weeds”_ – orang yang banyak bicara dan sedikit kerja seperti kebun yang penuh rumput.
Maka, orang harus hati-hati, karena apa yang dikatakan itu mungkin akan seperti _“dhalang karubuhan panggung”_ – orang yang mendapat kesulitan karena kata-katanya sendiri. Kita menjadi ingat peribahasa Jawa dalam _Kitab Wulangreh,_ karya Sunan Pakubuwana IV (1768 - 1820), _"Adigang, adigung, adiguna"_ - watak kesombongan.
Akhirnya mau tidak mau, yang kita harapkan adalah kata-kata yang teduh, seperti yang ditulis dalam Mazmur, _“Os iusti meditabitur sapientiam…”_ – Mulut orang benar mengucapkan kata-kata penuh hikmat (Mzm 37: 30).
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar