Jumat 10 Agustus 2018
Pesta St. Laurensius
2Kor 9:6-10; Mzm 112: 1-2,5-6,7-8,9; Yoh 12: 24,26
"Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh 12,24)
Saya tidak tahu persis bagaimana cara menanam gandum. Namun, saya tahu persis bagaimana menanam jagung karena dulu sering membantu bapak simbok. Pada musim penghujan, kami mempersiapkan lahan, entah dengan mencangkul atau sekedar membersihkan rumput. Kalau lahan sudah siap, lalu dibuat lubang-lubang dengan jarak sekitar selangkah. Pada setiap lubang kemudian diberi pupuk kandang, kotoran sapi atau kambing, lalu ditimbun dengan sedikit tanah. Benih jagung yang sudah disiapkan kemudian ditabur pada lubang-lubang itu, setiap lubang 4-5 biji, kemudian ditimbun dengan tanah. Selang beberapa hari, benih itu mulai tumbuh dan terus berkembang sampai akhirnya menghasilkan buah berkali-kali lipat. Begitulah, "kematian" benih-benih jagung yang tertimbun di dalam tanah itu menghasilkan tanaman baru dan buah yang lebih banyak. Demikian pula, kematian Yesus di salib mendatangkan hidup baru bagi sekian banyak orang yang percaya kepada-Nya di sepanjang zaman dan di seluruh penjuru dunia. Kematian para martir, salah satunya St. Laurensius yang kita rayakan pestanya hari ini, juga telah menyuburkan iman kristiani, baik secara kualitas maupun kuantitas seperti dikatakan Tertullianus bahwa "darah para martir adalah benih Gereja". Kita pun diharapkan menghayati iman kita secara demikian: sekecil dan sesedikit apa pun pengorbanan kita untuk mewujudkan kasih, tentu akan melahirkan tindakan-tindakan kasih lain yang semakin banyak.
Doa: Ya Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami rela berkorban untuk mewujudkan kasih, baik kepada-Mu maupun kepada sesama kami. Amin. -agawpr-
=====
The image of the grain of wheat dying in the earth in order to grow and bear a harvest can be seen as a metaphor of Jesus' own death and burial in the tomb and his resurrection. Jesus knew that the only way to victory over the power of sin and death was through the cross. Jesus reversed the curse of our first parents' [Adam and Eve] disobedience through his obedience to the Father's will - his willingness to go to the cross to pay the just penalty for our sins and to defeat death once and for all. His obedience and death on the cross obtain for us freedom and new life in the Holy Spirit. His cross frees us from the tyranny of sin and death and shows us the way of perfect love. There is a great paradox here. Death leads to life. When we "die" to our selves, we "rise" to new life in Jesus Christ.
"Lord Jesus, let me be wheat sown in the earth, to be harvested for you. I want to follow wherever you lead me. Give me fresh hope and joy in serving you all the days of my life."
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar