Minggu, 26 Agustus 2018.
Minggu biasa XXI.
Yos. 24:1-2a,15-17,18b; Mzm. 34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef. 5:21-32; Yoh 6:60-69.
"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal"
Orangtua yang baik, bagitu pula seorang guru yang baik, yang tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, tentunya tidak hanya menyampaikan hal-hal yang mudah dan menyenangkan bagi anak-anak atau murid-murid-Nya. Ada kalanya, dia harus menyampaikan sesuatu yang sulit. Tidak hanya sulit dimengerti tetapi juga sulit untuk diaplikasikan atau dilaksanakan. Tidak jarang pula, untuk membuat anak atau muridnya sungguh memperhatikan, ia menggunakan metode yang agak keras, termasuk intonasi suaranya. Apalagi kalau hal yang harus disampaikan tersebut merupakan sesuatu yang penting sehingga mau tidak mau, anak atau muridnya harus mengerti dan bisa bisa menerapkan atau melaksanakannya, sering dia harus mengulang sampai beberapa kali. Biasanya, pada pengulangan yang kedua, ketiga, apalagi yang keempat dan seterusnya, nada suara dan gestur tubuh sudah lain. Bagi anak yang ingin maju dan berkualitas, hal ini justru memacu untuk semakin memperhatikan, sementara bagi yang tidak ingin maju tentu saja malah mengabaikan, bahkan meninggakan kelas. Hal yang sama dipakai oleh Yesus dalam mengajar dan mendidik murid-murid-Nya. Ia tidak hanya memberi mereka makan dengan melipat-gandakan roti tetapi juga menuntut mereka untuk mengerti apa makna sesungguhnya dari penggandaan roti yang telah Dia lakukan sampai pada pengertian dan pengakuan (iman) mengenai siapakah Dia. Bagi yang hanya ingin cari enak (dapat roti gratis), tentu tuntutan Yesus itu berat sehingga mereka memilih mundur. Namun, bagi para murid yang yakin bahwa dalam diri Yesus, dalam sabda dan karya-Nya, ada hidup sejati yang dialirkan dan dibagikan, maka sesulit apa pun, mereka tetap mengikuti-Nya. Bahkan, ketika kelak para murid ini harus menyerahkan nyawa mereka demi iman kepada Yesus, mereka pun pantang mundur. Semoga, kita pun menjadi murid-murid Kristus di zaman sekarang yang mempunyai kualitas semacam itu. Dengan mengikuti Yesus, tentu ada banyak rahmat dan kemudahan yang kita terima. Namun, ada kalanya kita mengalami sesuatu yang sulit, pengalaman pahit, ujian hidup, penderitaan, dll. Di saat-saat semacam itu, kualitas iman kita sungguh diuji. Apakah kita tetap setia dan percaya kepada Tuhan? Atau kita meragukan Dia, marah kepada-Nya dan bahkan meninggalkan-Nya?
Doa: Tuhan, berilah kami iman yang mendalam dan tangguh agar kami tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan kesulitan dan penderitaan. Amin. -agawpr-
====
Jesus told his disciples that his words were "spirit and life" (John 6:63) - his words came from the heavenly Father who is the Author of life and the One who breathes his Spirit into those who believe in him. Through the gift of faith Peter was able to receive spiritual revelation of who Jesus truly is - the Holy One of God, the eternal Son sent from the Father in heaven to redeem a fallen human race and reconcile them with God.
How does God help us grow in faith and trust in his word, even the hard sayings which are difficult to understand? Faith is a gift which God freely gives to those who listen to his word and who put their trust in him. Faith is a personal response to God's revelation of himself. Faith is neither blind nor ignorant. It is based on the truth and reliability of God's word. True faith seeks understanding. Saint Augustine of Hippo (354-430 AD) said, "I believe in order to understand, and I understand the better to believe." The Lord Jesus offers all of his followers his life-giving word and Spirit to help us grow in our knowledge and understanding of God.
"Lord Jesus, you have the words of everlasting life. Help me to cast aside all doubt and fear so that I may freely embrace your word with complete trust and joy. I surrender all to you. Be the Lord of my life and the Ruler of my heart. May there be nothing which hinders me from trusting in your love and following your will."
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar