Selasa, 14 Agustus 2018

*PERCIKAN HATI* ❤
Rabu, 15 Agustus 2018
🌟 Kebijaksanaan Hidup

💫KEGELISAHAN PARA REFORMATOR

Kadang kala kita terjerembab dengan kegelisahan sesaat,  tatkala melihat sesuatu yang tidak beres. Misalnya, hendak mengadakan rapat atau  _meeting,_ tetapi para penentu kebijakan belum juga datang.

Lantas karena punya wewenang, mereka bertindak sewenang-wenang. Rasanya ingin segera “membenahi” sikap para “pemainnya” itu. Itulah _embrio_ reformasi yang sudah ada, meskipun kecil. Inilah kegelisahan yang – tentu – pernah kita alami.

Kegelisahan juga  yang dialami oleh para pembaru maupun reformator dan di sana  energinya menjadi  _powerful._  Mereka gelisah dengan situasi kehidupan menggereja pada zaman itu. Mereka gelisah   menyaksikan  tatanan hidup  bermasyarakat yang  kacau-balau  atau _chaos._  Mereka gelisah, hidup dalam suasana yang penuh korup. Kegelisahan mereka tidak hanya berhenti di situ, melainkan diimbangi dengan _take action._

Harga “kegelisahan” mereka amat mahal, bahkan terkadang harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Fransiskus Asisi (1182 – 1226) meninggalkan harta kekayaan ayahnya (1206) karena dipanggil oleh Kristus, “Ayo, pulihkan rumah-Ku!”  Teresa dari Avila (1515 – 1582) mengalami  penampakan dan ekstase: Hatinya merasa ditembus oleh cinta ilahi bagaikan oleh sebatang tombak.

Pengalaman ini sebagai titik tolak  baginya untuk mendirikan sebuah biara yang berpegang teguh pada anggaran dasar Karmelit yang asli (tak berkasut) yaitu Biara St. Yosef di Avila. Sejak  1562, ia mengelilingi Spanyol dan mendirikan biara-biara baru untuk kaum wanita maupun untuk pria dengan bantuan St. Yohanes dari Salib (1542 – 1491). 

Inilah  beberapa contoh para “Reformator yang gelisah.”  Buku tulisan,  Jost Kokoh  Pr yang berjudul, _“XXI Interupsi – Tokoh-tokoh Katolik Pengguncang dunia,”_  hendak memperlihatkan kepada kita, bahwa mereka adalah orang-orang yang “gelisah”. 

Dunia sedang “sakit” dan ini perlu diobati dan pada waktu itu muncul istilah unik yakni “penyakit zaman” (Bdk.  hlm. 35 – 42)  seperti apa yang dikatakan oleh Jules Chevalier (1824 - 1907).

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar