Selasa, 14 Agustus 2018

Rabu, 15 Agustus 2018
Hari Biasa XIX
Yeh. 9:1-7; 10:18-22; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:15-20.

"Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tetapi selalu membutuhkan kebersamaan dengan orang lain. Injil hari ini amat bagus untuk membantu kita dalam mewujudkan hidup besama yang baik. Bagian pertama (ay.15-17) menyadarkan kita bahwa kita ini amat rapuh sehingga mudah sekali jatuh dalam dosa dan kesalahan. Namun, kita bersyukur karena ada orang lain yang membantu kita untuk memperbaiki diri, entah dengan teguran, nasihat atau bimbingan. Yesus pun memberikan langkah-langkah yang sangat jelas dan eksplisit bagaimana sebaiknya kita menyampaikan teguran atau nasihat kepada orang lain dan secara implisit juga menegaskan pentingnya kita mendengarkan nasihat orang lain. Bagian kedua (ay.18-20) menegaskan pentingnya kita hidup bersama dengan orang lain dalam nama Tuhan. Hal ini tidak berarti sekedar memulai dan mengakhiri acara dengan doa, tetapi lebih dari itu adalah menciptakan kebersamaan tersebut dalam suasana kasih dan pengampunan, sebagaimana Tuhan itu maha pengasih dan maha pengampun. Tidak ada gunanya acara yang diawali dengan doa tetapi kemudian isinya membicarakan kejelekan orang lain. Sangatlah buruk pula, misalnya, sementara kita mengantar anak-anak untuk ikut kekiatan PIA atau Bina Iman, sementara para ibu malah asyik bergosip ria. Ini bukan orang yang berkumpul dalam nama Tuhan. Paus Fransiskus dalam bulla Misericordiae Vultus (Wajah yang berbelas kasih) dalam rangka Tahun Suci luar biasa 2016 menekankan bahwa "Tuhan meminta kita terutama tidak menghakimi dan tidak menghukum (bdk. Luk 6,37-38). Jika ada orang yang ingin menghindari penghakiman Allah, ia seharusnya tidak membuat dirinya hakim atas saudara atau saudarinya. Manusia, setiap kali mereka menghakimi, melihat tidak lebih jauh dari permukaan, sedangkan Bapa melihat ke dalam kedalaman jiwa. Berapa banyak kata-kata membahayakan dilakukan ketika mereka termotivasi oleh rasa cemburu dan iri hati! Menjelekkan orang lain menempatkan mereka dalam sebuah terang yang buruk, merusak reputasi mereka dan menjadikan mereka mangsa keinginan bergosip." (MV 14)

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar dalam setiap kebersamaan dengan orang lain, kami mampu menciptakan kebersamaan di dalam Engkau, yakni kebersamaan yang dibangun dalam kasih dan pengampunan. Amin. -agawpr-

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar