Ziarah batin,
Jumat, 10 Agustus 2018.
Bacaan I : 2Kor 9:6-10.
Mazmur : 112:1-2.5-9; R: 5a.
Bacaan Injil : Yoh 12:24-26.
Renungan :
Sebuah ungkapan klasik mengatakan, "mati satu tumbuh seribu", sebuah ungkapan yang hendak menegaskan makna kematian yang tak melulu berarti penghabisan, tetapi juga bermakna harapan. Dari kematian yang penuh makna, akan lahir harapan-harapan baru. Hal yang sama juga diungkapkan dalam Injil hari ini, biji yang mati dan jatuh ke tanah, kelak akan tumbuh dan menghasilkan buah yang lebih banyak lagi.
Pada hari ini, Gereja universal merayakan pesta Santo Laurensius, seorang diakon dan martir. Ia mati demi mempertahankan imannya akan Yesus Kristus. Dengan kesaksian dan kematiannya itu, iman akan Yesus Kristus tak lekas dimusnahkan. Justru sebaliknya, kematian dan darah sang martir menyuburkan iman akan Kristus. Santo Laurensius sudah meninggal, namun ia tak pernah mati. Kesaksian hidupnya telah menghasilkan buah berlimpah bagi Gereja.
Panggilan menjadi martir Kristus masih bergema bagi para pengikut Kristus zaman ini. Kemartiran yang tak melulu berarti menyerahkan diri dan mati. Hal yang lebih mendesak adalah kesaksian hidup yang menyata dalam tutur kata dan tindakan. Hidup para pengikut Kristus harus menampakkan imannya akan Yesus Kristus, Sang Penyelamat.
Doa :
(Bunda Maria, Ratu para imam, doakanlah dan lindungilah para imam kami.
Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar