Senin, 24 September 2018

Bunda Maria Yang Taat

September 25, 2018Webmaster

Renungan Selasa 25 September 2018

Bacaan: Ams. 21:1-6,10-13; Mzm. 119:1,27,30,34,35,44; Luk. 8:19-21

BUNDA MARIA YANG TAAT

Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk. 8:21)

Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban. Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa. (Ams. 21:2-4)

Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. (Mzm. 119:1)

Kita heran mengapa Yesus sepertinya mengabaikan Ibu dan saudara-saudara-Nya ketika mereka datang menjumpai-Nya. Mereka berada di luar karena sulit menuju dan bertemu dengan Yesus kerena begitu banyak orang di sekeliling-Nya. Ketika ada yang mengetahui ibu Yesus datang, orang memberitahukan kepada Yesus bahwa ibu-Nya di luar bersama saudara-saudaranya ingin bertemu dengan Dia. Tetapi jawaban Yesus seperti dalam Lukas 8:21: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Secara kekeluargaan kehidupan manusia umumnya di negara manapun, hal ini tidak wajar terlebih  Yesus sebagai guru yang mengajar kebenaran bagi kehidupan manusia. Terutama Yesus sebagai manusia, anak yang tidak menghormati ibu dan juga saudara-saudara-Nya. Tetapi apa yang tersirat dalam kata-kata pengajaran-Nya ini?

Sebagai seorang Kristen Katolik kita mengenal Yesus adalah jalan dan kebenaran bagi kehidupan  manusia saat di bumi ini. Maka Ia akan mengajar dan memberi tahu kita tentang apa yang perlu kita lakukan untuk mendapat perkenan Allah. Alkitab mengatakan bahwa kita bisa mendapat perkenan Allah dengan terus memperoleh pengetahuan tentang Dia dan menaati perintah-Nya (bds. Yoh. 17:3)

Sedangkan orang-orang mendengar dan kita sebagai orang Kristen membaca kata-kata Yesus, seolah-olah Dia mengabaikan dan tidak menghormati ibu-Nya sendiri. Tetapi kita jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, tetapi mata hati kita mau terbuka dan melihat dan mendengar arti yang tersirat di dalam kata-kata Yesus. “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Yesus bukan mengabaikan bunda-Nya, tetapi Yesus menghargai bahkan memberikan sebagai contoh pengajaran bahwa ibu-Nya nyata sebagai manusia yang mengenal dan mengasihi Allah, dan Bunda Maria yang telah menuruti dan menjalankan segala perintah-perintah Allah. 

Betapa seringnya kita menganggap pendirian pandangan kita yang paling benar, sehingga betapa seringnya kita tidak sependapat dengan orang lain. Baik tehadap orang tua, saudara, suami, istri, teman kerja maupun atasan kita terlebih pada orang yang lebih lemah dan kita anggap rendah. Telinga kita cepat tertutup, tidak mau mendengar orang lain, hal ini membuat mata hati kita juga ikut tertutup. Kita anggap pandangan atau pendirian kita yang paling benar sendiri, tanpa mau melihat permasalahan ataupun maksud orang lain.

Seperti dikatakan Amsal 21:4-5: Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.   

Ketika menulis renungan ini saya baru menyadari dan memahami arti yang tersirat dari kata-kata Yesus. Mata hatiku sendiri tertutup atas misteri yang hidup dalam firman pengajaran Yesus yang memiliki arti yang mendalam dan penting bagi kita murid-Nya orang Kristen. Betapa sering telinga kita tertutup rapat atas kehendak Allah kita dalam firman Tuhan karena kita anggap dan kita terima pahami dengan pikiran kita yang  sebenarnya picik dan pendek.

Di kitab Mazmur, Raja Daud sangat membutuhkan Yahweh, supaya dia dapat mengerti pada kebenaran.

Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya. Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya. (Mzm 119:27.30.34.35.44)

Saya melihat, betapa seorang Raja Daud benar-benar merasakan membutuhkan Tuhan untuk menetapkan hukum, jalan hidup sesuai petunjuk perintah-perintah Tuhan, sehingga dia dapat berjalan dalam masalah kehidupannya sehari-hari dengan mengikuti petunjuk Tuhan dengan tetap merasakan nikmatnya bersama Tuhan.

Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah anggota keluarga-Nya dalam kerajaan Allah. Yang Yesus ajarkan adalah keutamaan agar seseorang melakukan kehendak Allah. Dengan demikian ungkapan ini bahkan dapat bermaksud Yesus sebagai pujian kepada Bunda Maria, sebab Yesus mengakui bahwa Bunda Maria pertama-tama adalah seseorang yang melakukan kehendak Allah Bapa. Perhatikanlah juga bahwa pada saat menjelaskan, Yesus menggunakan kata “ibu” dalam bentuk tunggal bukan “ibu-ibu”, sehingga artinya ialah Yesus justru memuji ibu-Nya sendiri sebagal pelaku Firman. Memang ibu Yesus hanya satu, yaitu Bunda Maria, dan ia menjadi ibu Yesus, pertama- tama karena ia mendengarkan firman Allah dan taat melaksanakannya.

Ketaatan Maria kepada kehendak Bapa inilah yang menyatukannya dengan Kristus melebihi dari hubungan darah. Maka ayat di atas tidak untuk diartikan bahwa Yesus menyangkal ibu-Nya, melainkan untuk mengatakan bahwa Bunda Maria layak untuk dihormati bukan saja karena ia telah melahirkan Yesus tetapi karena ia pertama-tama menaati kehendak Allah.

Semoga teladan ketaatan Maria memberikan kita kekuatan untuk melangkah bersama Tuhan Yesus dan senantiasa menaati seluruh kehendak-Nya dalam hidup kita. Amin. (WYN)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar