Rabu 12 Sep 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIII
Bacaan 1 : 1Kor 7:25-31
Mazmur : Mzm 45:11-12.14-17
Injil : Luk 6:20-26
Berbahagialah .....
Setiap orang pasti menginginkan hidup yang bahagia. Bahkan, Aristoteles (384-322 sM), seorang filsosof Yunani kuno, mengatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan tertinggi dari hidup manusia. Namun, apa yang menjadi ukuran kebahagiaan yang sesungguhnya atau yang sejati? Bagi orang beriman, sesuai dengan ajaran Yesus, sumber kebahagiaan sejati tidak terletak pada kekayaan, kepuasan duniawi, kesuksesan, pujian; namun pada relasi yang mendalam dengan Allah sehingga sungguh merasa dicintai oleh-Nya. Hidup kita tidak pernah terlepas dari berbagai macam permasalahan: kemiskinan, kelaparan, dibenci, dicela, ditolak dan menderita. Bahkan, kita mempunyai masalah yang begitu besar, yakni dosa-dosa kita. Namun, itu semua tidak boleh menghalangi kita untuk bahagia karena bagaimana pun juga, Allah tetap mencintai kita. Keadaan buruk dan dosa-dosa kita sama sekali tidak mengurangi dan membatalkan cinta Allah kepada kita. Memang, hal ini tidak boleh membuat kita lantas berkesimpulan bahwa kita boleh tetap bertekun dalam dosa yang menyebabkan penderitaan diri sendiri dan orang lain (bdk. Rom 6). Allah memang membenci dosa, tetapi Ia sangat menyayangi orang berdosa agar bertobat. Bahkan, Allah sendiri kemudian mengutus Yesus Kristus, Putra-Nya, untuk menebus manusia berdosa. Ia hadir sebagai tabib yang menyembuhkan (Luk 5,31). Oleh karena itu, cinta Allah itu sudah semestinya membuat kita sungguh merasa sebagai orang yang bahagia dan dengan demikian berusaha untuk terus-menerus bertobat, memperbaiki diri dan mencintai semua orang yang dicintai-Nya.
Doa: Tuhan, bantulah kami untuk semakin menyadari betapa besar cinta-Mu kepada kami, agar kami dapat merasa bahagia dalam situasi apapun, serta dapat terus-menerus bertobat, memperbaiki diri dan mencintai semua orang yang Kaucintai. Amin. -agawpr-
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar