Selasa, 16 Oktober 2018

Belajar dari Pua dan Sifra:
Perempuan Pejuang Kehidupan
(RD Josep Susanto)

Wah, Romo, kemarin Gehazi, sekarang Pua dan Sifra. Gak pernah dengar lagi Mo namanya. Kok muncul nama-nama ajaib terus nih?

Anggap saja saya sedang mengangkat kisah kisah hidup orang-orang hebat dalam Kitab Suci yang selama ini terkubur oleh tokoh-tokoh hebat lainnya.

Kisah Sifra dan Pua bisa kita temukan dalam Kitab Kel 1:15-22.

Mereka berdua adalah perempuan Mesir. Mereka bekerja sebagai bidan, yang membantu proses para ibu ketika melahirkan.

Firaun Mesir kala itu jengkel sekaligus takut karena orang-orang Israel makin lama makin banyak di Mesir.

Firaun memerintahkan Sifra dan Pua perintah yang sangat tidak masuk akal, apalagi untuk seorang bidan:

"Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki laki, kamu harus MEMBUNUHNYA, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup."

Perintah ini bukan main-main, karena keluar dari Firaun yang dianggap dewa oleh orang Mesir. Titah Firaun adalah titah dewa. HARUS DITAATI.

Sifra dan Pua bergelut dengan perintah yang sangat bertentangan dengan status dan identitas mereka sebagai perempuan, ibu dan bidan.

Seorang perempuan adalah IBU DARI SEGALA YANG HIDUP. Perempuan adalah pembawa hidup ke dunia, BUKAN SEBALIKNYA.

Seorang ibu tugasnya adalah merawat dan menjaga kehidupan, BUKAN SEBALIKNYA.

Seorang bidan tugasnya adalah untuk menolong para ibu untuk membawa kehidupan ke tengah dunia, BUKAN SEBALIKNYA.

Dikatakan Pua dan Sifra lebih takut pada Allah dari pada ikut perintah Firaun. Mereka membiarkan bayi-bayi laki laki Ibrani itu untuk hidup.

Alhasil, mereka berdua dipanggil oleh Firaun, yang jengkel mengapa orang-orang Ibrani bukannya berkurang tapi makin bertambah banyak.

Sifra dan Pua terpaksa BERBOHONG di hadapan Firaun. Mereka berkata:

"Perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; mereka lebih kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin."

Anugerah luar biasa di akhir kisah kedua perempuan Mesir ini sungguh memberi penghiburan buat kita, dikatakan di ay.20-21.

1. Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu. Artinya mereka hidup dalam limpahan kasih karunia.

2. Allah membuat mereka berumah tangga (menikah). Allah memberi mereka kebahagiaan dalam rumah tangga mereka, dengan pasangan hidup dan anak anak mereka.

Berbahagialah mereka yang tidak pernah lelah memperjuangkan kehidupan.

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar