Sabtu 6 Okt 2018
Pekan biasa XXVI
Ayb. 42:1-3,5-6,12-17; Mzm. 119:66,71,75,91,125,130; Luk. 10:17-24.
Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
"Iman timbul dari pendengaran", kata St. Paulus (Rm 10,17). Benar. Kita mengenal iman kristiani berkat pewartaan orang lain: orangtua, guru agama, katekis, para imam, dll. Saya sendiri dibaptis saat masih bayi. Namun, iman itu terus-menerus dipupuk, selah satunya melalui berbagai macam pengajaran yang saya dengarkan dari orangtua, para guru Sekolah Minggu, para katekis yang mendampingi persiapan komuni pertama dan krisma, para Rama, dan tentu saja para guru serta para dosen. Mereka mengajarkan banyak hal tentang Tuhan, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit dan jlimet. Namun demikian, beriman hanya berdasarkan pengajaran-pengajaran yang kita dengarkan tentunya tidak cukup. Bagaimana pun juga, kita mesti mempunyai pengalaman personal tentang dan dengan Tuhan. Kita mesti melihat dan mengalami sendiri: bagaimana Tuhan menyapa, mengasihi, mengampuni, menegur, membimbing, dan sebagainya. Ayub sebenarnya sudah mempunyai pengalaman personal tentang Tuhan Allah, namun ketika mengalami ujian hidup, imannya sempat goncang, justru karena ia mendengarkan teman-temannya. Oleh karena itu, kendati mendengarkan pengajaran dari orang lain itu penting, namun kita mesti sampai pada pengalaman personal dengan Tuhan. Hal ini dapat kita alami melalui doa, yakni dialog dengan Tuhan sebagaimana dilakukan oleh Ayub.
Doa: Tuhan, berilah kami kepekaan agar kami semakin mampu melihat dan merasakan bagaimana Engkau menyapa, mengasihi, mengampuni, menegur, dan membimbing kami. Amin. -agawpr-
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar