Minggu, 14 Oktober 2018

Senin, 15 Oktober 2018
KatKit (Katekese Sedikit) No. 155

Seri Alkitab
INJIL MARKUS 1:42-45

Syalom aleikhem.
Bacalah ayat 42

Ungkapan pada awal ayat ini sering muncul dalam Injil Markus. Harafiahnya berbunyi “dan segera” yang di sini diterjemahkan “seketika itu juga”. Ini sama dengan ungkapan yang dipakai pada ayat 10, 12, 18 dsb. Boleh dikata inilah salah satu ciri khas Injil Markus, gaya bahasa Injil ini.

Kalimat “lenyaplah penyakit kusta orang itu” harafiahnya “kusta pergi dari orang itu”. Bahasa Yunaninya puitik. Seakan-akan penyakit itu sosok yang dapat diusir pergi. Ini mengingatkan kita akan pengusiran roh jahat pada ayat-ayat terdahulu.

Bacalah ayat 43

Ayat ini mudah dipahami. Tuhan Yesus menyuruh orang itu pergi. Untuk apa? Ayat berikutnya menjelaskan tujuannya.

Bacalah ayat 44

Perkataan Tuhan kepada si kusta yang telah sembuh termuat lengkap pada ayat ini. Awal kalimatnya “ingatlah”. Agak ganjil terjemahannya. Aslinya bermakna “perhatikanlah”. Orang itu diminta melaksanakan sungguh-sungguh apa yang dikatakan Tuhan selanjutnya, yaitu “jangan menceritakan kejadian baru saja kepada siapapun juga”. Orang itu tak boleh bercerita mengenai kisah penyembuhannya. Ini hal pertama yang perlu dilakukannya. Tutup mulut rapat-rapat.

Ayat ini tak menjelaskan apa maksud Tuhan melarang begitu. Mungkin Tuhan tak mau pamer kebolehan. Juga, Tuhan Yesus tak ingin dikenal sebelum waktunya tiba. Lagipula, kalau cepat terkenal, nanti Tuhan Yesus cepat menarik perhatian para pemuka umat Yahudi dan para pemimpin masyarakat. Bisa muncul kehebohan yang tak perlu. Kira-kira demikian tafsiran yang dapat kita pikirkan.

Selanjutnya, orang itu disuruh pergi kepada imam. Itu langkah yang harus ditempuh oleh seorang yang sembuh dari kusta agar ia dinyatakan bersih dari kenajisannya dan diperbolehkan ikut serta lagi dalam peribadatan, juga diperkenankan bergaul secara leluasa dengan orang lain. Tata cara diatur dalam Imamat 14:1-32. Menghadap imam perlu sekali untuk memastikan kesembuhan dan mengembalikan orang itu kepada martabat sosial dan ritualnya.

Pernyataan sembuh dari kenajisan perlu disertai kurban. Menurut Imamat 14:1-7, kurban untuk kepentingan itu terdiri atas dua ekor burung: satu disembelih, satu dilepas. Begitulah bukti yang harus dikemukakan agar orang-orang yakin bahwa si kusta sudah sembuh. Menghadap imam, dipastikan tahir, lalu berkurban, dan bebaslah ia dari aib karena sakitnya.

Bacalah ayat 45

Orang itu malah tak patuh. Ia tak melaksanakan petunjuk Tuhan, ia justru pergi kepada orang-orang, alih-alih kepada imam. Ia memviralkan – demikian istilahnya sekarang – kejadian yang dialaminya. Ayat ini harafiahnya berbunyi “ia mulai memberitakan banyak dan menyebarkan perkataan”. Maknanya, orang itu bercerita kepada siapa saja yang ia temui tentang penyembuhannya oleh Tuhan Yesus. Terus-terusan ia melakukan itu, lagi dan lagi.

Akibatnya, Tuhan tak bisa terang-terangan masuk kota. Kenapa? Ia akan segera menarik perhatian bak selebritas, langsung dikerubungi orang. Berita yang tersebar cepat dan meluas membuat orang-orang Galilea begitu bersemangat berjumpa dengan Tuhan Yesus.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu A.
Katekis Daring

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar