Kamis, 22 November 2018

*Jumat, 23 November 2018:
Hari Biasa, Pekan Biasa XXXIII, PF S. Kolumbanus, Abas, PF S. Klemens I, Paus dan Martir*
 *Bacaan Injil: Luk 19:45-48*
“Ia berkata, "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!"

 *Refleksi* :
Sikap simbolik Yesus dalam Injil hari ini menegaskan dua hal bagi kehidupan kita: *pertama* , dalam perspektif Perjanjian Lama, sikap Yesus adalah pemenuhan dari nubuat Yesaya:” Rumah-Ku adalah rumah doa “ (56, 7). Gaya profetis Yesus mengajarkan salah satu tugas utama seorang Nabi, yaitu: menguduskan. Artinya, mengembalikan keadaan dari kehancuran /keterpurukan atau dosa kepada keadaan semestinya: benar, baik dan suci.

 *Kedua* , Yesus mewartakan situasi baru sejak kehadiran-Nya. Ia hadir untuk memberkati setiap rumah yang dinodai dosa sejak Perjanjian Lama. Jika cara lama lebih menekankan persembahan dan ritual fisik, maka Yesus lebih menekankan Sabda-Nya sendiri. Karena itu, Injil Lukas menceritakan tentang aktifitas rutin Yesus yaitu, mengajar dan mewartakan SabdaNya setiap hari setelah inaugurasi Rumah tersebut. Kultus  di dalam rumah doa adalah mendengarkan Sabda Yesus. Inilah pusat dari cara baru yang diinisiasi oleh Yesus sendiri. Santo Thomas Aquinas mengekspresikan sikap profetis Yesus ini dalam kalimat: “ *Et antiquum documentum / novo cedat ritui»* (Cara lama telah telah ganti, telah diperbaharui).

Apa yang unik dari rumah yang telah diberkati Yesus ini? Santo Thomas Aquinas sekali lagi menulis: “ *Recumbens cum fratribus... se dat suis manibus* “ (duduk bersama sebagai saudara... memberi dirinya dari tangannya sendiri).

 *pesan* : Rumah adalah hati kita. Ada saat di mana hati terbelah dalam kepingan-kepingan-keinginan tak teratur, ada saat di mana hati utuh tak ternoda oleh tawaran dosa. Ada juga saat di mana hati mendua (cinta vs benci, jujur vs bohong, dll). Adakalahnya hati menua, karena sulit diawetkan dengan kebaikan dan kasih sayang. Ingatlah saja “hati-hatilah dengan hati “.

Untuk itu, mintalah selalu kepada Yesus untuk menguduskan hati kita sehingga kita dapat merasakan dengan hati, berbicara dengan hati, melakukan dengan hati dan mencintai dengan sepenuh hati “. Hati seseorang yang terbuka pada pembaharuan rohani akan dapat menyuplai kebaikan bagi banyak orang. Sedangkan hati yang tertutup rapat pada kebajikan akan lebih suka mengimpor keburukan dan serentak memproduksi kejahatan. Akhirnya hati /rumah yang disucikan Yesus bertujuan untuk semata-mata menyimpan SabdaNya. Hati yang memiliki Firman pasti disertai teladan yang baik. *Verba docent, exempla trahunt* (Kata-kata mengajarkan, contoh mengarahkan). Amin.

 *Selamat pagi dan Tuhan memberkati.*
P. Abdul Ocd
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar