Selasa, 06 November 2018

*Rabu, 07 November 2018: Hari Biasa, Pekan Biasa XXXI*
 *Bacaan Injil: Luk 14:25-33*
 "... Jika seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”

 *Refleksi* :
Injil hari ini, jika kita membaca secara utuh dan tidak melepaskan dari konteks hukum utama:mencintai Tuhan dan sesama. maka kita tidak perlu ragu dengan ajaran Yesus di atas sebab orang tua dan saudara-saudara termasuk sesama yang harus cintai. Lalu, dalam konteks apa kita harus membenci mereka?

 *Pertama* , Di akhir Injil Yesus berfirman:” Demikianlah setiap orang di antaramu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridku “. Artinya, jika kita tidak melepaskan diri dari kepemilikan dan keterikatan akan sesuatu maka kita sulit mencapai level tertinggi dalam penyerahan diri kepada Tuhan. Memiliki sesuatu itu bukanlah hal buruk, menjadi buruk ketika sesuatu yang kita miliki itu mengontrol hidup kita sekaligus menjadi penghambat pertumbuhan rohani kita dengan Tuhan. Di sini, tantangan terbesar untuk melepaskan sesuatu itu terjadi saat sesuatu yang paling lekat dengan diri kita harus diberikan kepada orang lain yang sangat membutuhkan. Cirikhas orang yang sulit melepaskan sesuatu itu terlihat saat ia sangat gugup kehilangan hartanya.

 *Kedua* , kita dipanggil untuk mengalahkan kehendak kita sendiri. Kalau kita sudah mampu melepaskan sesuatu yang mengikat diri kita, akan mudah juga bagi Kita melepaskan ego dan kesombongan. Jalan pemurnian terhadap ego dan kesombongan yang ditawarkan santo Yohanes dari Salib adalah: “dengan melihat Tuhan, kita mencintaiNya “.

 *Ketiga* , hal tersulit dari panggilan kita adalah melepaskan diri dari orang-orang yang kita kasihi. Konteks Injil demikian: “Jika seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku “. Apa artinya membenci? Yesus tidak sedang berbicara secara literal arti kata benci, melainkan sikap yang tepat untuk tidak terlibat pada relasi yang tidak sehat dengan keluarga, saudara-saudara, anak-anaknya, istri dan dirinya sendiri. Di mana karena cinta terhadap orang-orang yang dikasihi ini melegalkan segala cara dengan mengabaikan hukum Tuhan. Jadi, kata benci itu lebih pada sikap tidak kompromis dengan sesuatu yang sesat dan salah dalam relasi dan sikap untuk tidak menempatkan keluarga jauh lebih penting dari melakukan kehendak Allah.

 *Pesan* : hanya tiga hal ini yang perlu kita hidupi: kelepasan, kerendahan hati dan cinta. Sebisanya kita berjuang memraktekan ketiganya agar kita tidak terjebak pada tiga hal yang sering juga kita lakukan: mengikat sesuatu, melekat pada sesuatu,dan memuja sesuatu. Amin.

 *Selamat pagi dan Tuhan memberkati.*
P Abdul Ocd

Tidak ada komentar:

Posting Komentar