Jumat, 02 November 2018

Sabtu, 3 Nov 2018
Hari Biasa XXX
Flp. 1:18b-26; Mzm. 42:2,3,5bcd; Luk. 14:1,7-11.

"Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Hari-hari ini kita beberapa kali diajak merenungkan tentang paradoks dalam mengukuti Kristus. Hari Kamis yang lalu paradoks tentang Kerajaan Allah, yang di satu sisi terbuka untuk semua orang tetapi hanya sedikit yang bisa masuk ke dalam-Nya. Kemudian hari Rabu, kita merenungkan paradoks tentang kebahagiaan. Ketika dunia menjadikan kekayaan, kegembiraan, kemuliaan sebagai ukuran kebahagiaan, Yesus justru menawarkan kemiskinan, dukacita, pengorbanan sebagai ukuran kebahagiaan yang sejati. Hari ini, kita diajak merenungkan paradoks kerendahan hati. Injil menggunakan kata "merendahkan diri". Pada hemat saya, yang dimaksudkan adalah sikap rendah hati, bukan rendah diri dalam arti negatif. Sikap rendah hati ini merupakan prasarat untuk mengambil bagian dalam perjamuan, atau dalam Kerajaan Allah (Kerajaan Allah seringkali digambarkan dengan suasana perjamuan). Mengapa kerendahan hati penting? Kerendahan hati, bahasa latinnya humilitas. Erat berkatian dengan kata humus. Humus adalah lapisan tanah yang subur sehingga tanaman yang ditanam di situ akan tumbuh dengan baik. Demikian pula, kalau hati kita merupakan hati yang berhumus, bukan yang berbatu dan bersemak duri, maka berbagai macam keutamaan akan tumbuh dengan subur. Itulah makanya, kerendahan hati merupakan prasayat untuk hidup bersama Tuhan dalam Kerajaan-Nya. Kerendahan hati juga amat penting untuk menciptakan suarana Kerajaan Allah dalam hidup kita sehari-hari. Sebab, kerendahan hati akan memampukan kita untuk menyadari kelemahan dan kekurangan, untuk mendengarkan orang lain, untuk menghormati dan menghargai sesama, dll. Dengan demikian, terciptalah damai sejahtera dalam hidup bersama kita. Dan damai sejahtera itulah kehadiran nyata Kerajaan Surga di tengah-tengah kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar