Minggu, 18 November 2018

Senin, 19 Nov 2018
Pekan Biasa XXXIII
Why. 1:1-4; 2:1-5a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 18:35-43.

"Tuhan, supaya aku dapat melihat!"

Melihat merupakan salah satu anugerah Tuhan yang luar biasa. Dengan diberi anugerah kemampuan untuk melihat, kita bisa berbuat dan menikmati banyak hal. Namun, meskipun kita dapat melihat dengan mata indrawi, kiranya kita perlu rendah hati untuk menyadari "kebutaan" kita. Sebab, sekali lagi, meskipun kita bisa melihat, namun mungkin ada banyak hal yang selama ini tidak dapat kita lihat. Mungkin kita kurang dapat melihat kebaikan Tuhan sehingga lebih banyak mengeluh dan kurang bersyukur. Mungkin kita juga kurang bisa melihat kebaikan orang lain sehingga lebih sering menyalahkan dan membicarakan kejelekan mereka. Mungkin, ketika menghadapi sesuatu kita tidak mampu melihat persoalan secara luas dan menyeluruh tetapi hanya terfokus pada sebagian kecil saja sehingga kita menjadi oportunis dan terlalu berpikiran sempit. Atau mungkin juga kita tidak mampu (tidak mau?) melihat dosa dan kesalahan kita tetapi justru selalu menutup-nutupi sehingga tidak mampu juga untuk memperbaiki diri. Bacaan I mengingatkan kita: "sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh!". Oleh karena itu, apa yang dilakukan si buta dalam bacaan Injil kiranya mendorong kita untuk melakukan hal yang sama, yakni berseru kepada Yesus: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku ... supaya aku dapat melihat!"
Sebagai catatan tambahan: Berbeda dengan Markus yang menyebut bahwa si buta yang disembuhkan Yesus bernama Bartimeus, Lukas tidak menyebut nama. Lukas memberi kesempatan kepada kita untuk memberikan nama kita masing-masing kepada si buta itu. Artinya, kitalah si buta yang membutuhkan Yesus untuk dijadikan melihat.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar