Minggu, 18 November 2018

Senin, 19 November 2018
KatKit (Katekese Sedikit) No. 170

Seri Alkitab
INJIL MARKUS 2:18-20

Syalom aleikhem.
Bacalah ayat 18

Dikisahkan pada waktu itu murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa. Mengenai Farisi, sudah ada penjelasan yang lalu. Yohanes yang disebut di situ adalah Yohanes Sang Pembaptis. Baik para murid Yohanes maupun kaum Farisi adalah orang-orang Yahudi yang saleh dalam beragama. Salah satu cirinya adalah rajin berpuasa. Bagi orang Yahudi, puasa adalah salah satu kewajiban agama sebagai tanda bakti dan setia kepada Allah. Puasa itu tinggi nilainya.

Karena itu, orang-orang mempersoalkan sikap murid-murid Tuhan Yesus. Orang-orang bertanya langsung kepada Tuhan mengapa murid-murid-Nya tak berpuasa.

Pertanyaan orang-orang – ini dapat ditafsirkan “orang-orang Farisi” – itu bersifat retoris. Pertanyaan retoris tak butuh jawaban. Jadi, pertanyaan kepada Tuhan tak perlu jawaban yang sungguh-sungguh. Mereka hanya mau mempersalahkan murid-murid Tuhan dan selanjutnya mempersalahkan Tuhan sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas “gagalnya” para murid-Nya mengikuti salah satu kewajiban agama. Dengan demikian, mereka bisa menggoyahkan wibawa Tuhan Yesus.

Bacalah ayat 19

Ayat berisi jawaban atau tanggapan Tuhan Yesus kepada mereka yang bertanya atau mempersoalkan sikap murid-murid-Nya. Jawaban Tuhan justru berisi pertanyaan. Ini pertanyaan yang mengajak berpikir dengan memakai perumpamaan dari peristiwa perkawinan. Kita tahu, perkawinan adalah pesta. Sebagai umumnya, pesta pastilah ada makan-makannya. Maka, tak mungkinlah orang berpuasa dalam suasana pesta kawin. Selama berpesta, para sahabat mempelai ikut makan-makan, menikmati pesta yang diadakan mempelai. Suasana pesta kawin adalah sukacita. Sulit membayangkan orang berpuasa dalam sukacita yang meriah. Jawaban dengan perumpamaan inilah yang dipakai Tuhan untuk menanggapi persoalan. Ayat berikutnya akan memperjelas perkataan Tuhan.

Bacalah ayat 20

Ayat ini lanjutan jawaban Tuhan. Dijelaskan-Nya bahwa pada suatu hari kelak, pada masa mendatang, mempelai akan diambil dari para sahabat. Apa artinya “diambil”? Dibawa dengan paksa atau ditangkap dengan kekerasan. Dengan kiasan ini, Tuhan mau menampilkan peristiwa kelak yang akan terjadi, yaitu penangkapan-Nya sebelum disalibkan. Kita tahu kisah selanjutnya kelak, Tuhan Yesus dibawa dengan paksa, ditangkap dengan kekerasan. Inilah yang diibaratkan dengan “mempelai diambil”.

Pada saat itu, setelah mempelai diambil, para sahabat akan berpuasa. Maknanya, setelah Tuhan ditangkap dengan paksa lalu disalibkan sampai wafat, para murid-Nya akan berpuasa; dalam arti sedih luar biasa dan menyesal yang dalam. Puasa yang dimaksud ini bukan lagi sebagai bentuk kewajiban agama, melainkan sebagai bentuk dukacita yang parah karena Sang Guru dibunuh.

Dengan jelas dan tegas, Tuhan Yesus memberikan pertanggungjawaban mengapa para murid-Nya kini tak berpuasa. Saatnya akan segera tiba, mereka pun akan berpuasa. Kebersamaan dengan Sang Guru adalah sukacita, maka tak ada puasa. Ketika kelak Sang Guru ditangkap paksa, mereka “kehilangan” sukacita; puasa pun terjadilah.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu A.
Katekis Daring

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar