Senin, 5 Nov 2018
Pekan Biasa XXXI
Flp. 2:1-4; Mzm. 131:1,2,3; Luk. 14:12-14.
Sejauh kita membaca kisah-kisah Yesus dalam Injil, Ia tidak pernah menolak undangan untuk makan bersama. Ia berkenan hadir di rumah orang Farisi, di rumah Lewi, di rumah pemungut cukai, dll. Tentu saja, kalau kita mengundang-Nya, Ia juga berkenan untuk hadir. Masalahnya, kehadiran Tuhan itu tidak hanya sebatas dalam doa tetapi juga secara konkret dalam diri sanak-saudari kita, terutama yang miskin dan menderita. Ia sendiri telah mengatakan, "Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat 25,40). Itu berarti, selain berjumpa dan bersatu dengan Yesus dalam doa, Ekaristi, adorasi dan kegiatan rohani lainnya, kita juga perlu untuk berjumpa dengan-Nya dalam diri saudara-saudari kita yang menderita, atau yang oleh Yesus disebut dalam Injil: "Orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta". Kehadiran dan pengorbanan kita kepada mereka ini akan menguji ketulusan pelayanan kita. Kita seringkali jatuh pada mentalitas orang upahan, selalu mengharapkan upah atau imbalan atas hal-hal yang kita lakukan, meskipun hanya dalam bentuk ucapan terimakasih dan pujian. Bahkan, kadang kita mencari pujian atas hal baik dan pelayanan yang kita buat. Kalau hal itu tidak kita dapatkan, kadang kita marah dan tersinggung. Oleh karena itu, sekali lagi, Yesus mengajak kita untuk memurnikan motivasi dan ketulusan kita dalam setiap pelayanan dan perbuatan baik yang kita lakukan.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar