*Jumat, 28 Desember 2018: Pesta Para Kanak-Kanak Suci, Martir*
*Bacaan Injil: Mat 2:13-18*
“... Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, sangat marahlah ia. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu... “
*Refleksi* :
Hari ini, Gereja kembali merayakan kisah kemartiran kanak-kanak Suci. Kisah horor ini dilakoni oleh seorang Raja bernama Herodes dan kanak-kanak Suci yang menjadi korban kejahatan kemanusiaan. Mengapa Herodes melakukan holocaust itu?
Injil menceritakan tragedi kemanusiaan ini terjadi setelah Herodes mendapat kabar dari para Majus tentang Kelahiran Yesus, Sang Juruselamat, Raja Dunia. Berita ini sangat tidak menggembirakan bagi seorang raja dalam sistem “monarkisme “ dengan mentalitas ‘status quo “ untuk memberi kesempatan berkuasa bagi orang-orang bukan dari kalangan bangsawan atau ningrat. Karena itu, satu-satunya cara agar kekuasaannya langgeng adalah holocaust bukan dengan api melainkan dengan pedang terhadap Anak-anak yang berpotensi menggantikannya. Apa yang dilakukan Herodes adalah bukti bahwa moralitas dan spiritualitas kekuasaan itu tak berlaku bagi penguasa yang otoriter.
Untuk dapat merenungkan secara mendalam makna Pesta hari ini marilah kita kutib gagasan santo Quodvultdeus (Sermo 2 de Symbolo: PL 40, 655):
*Pertama* , Herodes terusik karena Kelahiran seorang Raja baru. Mengapa ia mau membunuh Yesus, satu-satunya jawaban adalah karena ia percaya bahwa Yesus adalah Raja.
*Kedua* , kisah horor ini terjadi karena Herodes sangat ketakutan dengan takthanya yang akan diambil alih oleh Yesus. Herodes juga tidak paham dengan tujuan dari kehadiran Yesus. Untuk mengatasi rasa takut dan tidak paham biasanya seorang penguasa otoriter akan menunjukkan kekejaman terhadap siapapun sampai pada kematian orang-orang yang dianggap musuh.
*Ketiga* , kekejaman Herodes menunjukkan betapa tertutup suara hatinya terhadap tangisan bayi dan orang tua dari anak-anak tak berdosa itu. Dari sini, terlihat bahwa Herodes membunuh anak-anak dengan terlebih dahulu membunuh suara hatinya.
*Keempat* , Anak-anak yang mati terbunuh, adalah korban dari sebuah rezim yang tak punya hati nurani yang terbuka pada rahmat kehidupan. Anak-anak ini mati untuk Tuhan sekalipun mereka tak bersuara dan tak melakukan perlawanan apapun.
*Kelima* , betapa besarnya rahmat yang dapat kita terima dari kemartiran kanak-kanak Suci tersebut bagi hidup dan kesaksian iman kita. Mereka tidak bicara, tetapi kesaksian mereka tentang Kristus sungguh agung. Kemartiran mereka adalah kemenangan telak akan kekuasaan dan kekejaman manusia.
*Pesan* : Apakah kita sering bersikap brutal terhadap anak-anak kita? Seringkali ego kita orang dewasa mengabaikan pertumbuhan jiwa dan raga Anak-anak kita sendiri. Ingatlah saja: setiap kali bersikap kasar ataupun kejam terhadap anak-anak, ataupun terhadap sesama kita, itu karena kita sudah membunuh suara hati kita.
“holocaust “ berasal dari bahasa Yunani artinya: berkorban dengan api. Nyala api kematian bisa terjadi dalam kehidupan kita ketika mencederai dan mengorbankan orang lain dengan kata-kata gossip penuh kemarahan, ketika kita mempersekusi sesama dengan hujatan dan makian. Lebih buruk lagi ketika dari mulut kita keluar ujaran-ujaran intoleransi terhadap orang lain karena konsep teologi berbeda. Orang-orang semacam ini bukan saja sedang ketakutan dan kurang paham terhadap spiritualitas hidup setiap agama atau kelompok tetapi terpesona pada pedang (ala Herodes) dan kekerasan. Semoga Anda tidak. Amin.
*Selamat pagi dan Tuhan memberkati.*
P. Abdul Ocd
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar