Senin, 10 Desember 2018
KatKit (Katekese Sedikit) No. 179
Seri Alkitab
INJIL MARKUS 2:26-28
Syalom aleikhem.
Bacalah ayat 26
bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?”
Jawaban Tuhan Yesus berlanjut pada ayat ini. Ayat 25 dan 26 itu satu kesatuan yang berisi pertanyaan retoris Tuhan kepada kaum Farisi yang mempermasalahkan perbuatan para murid.
Pada ayat ini, Tuhan berkisah mengenai Daud yang masuk ke Rumah Allah ketika ia dan para pengikutnya kekurangan makanan. Apa yang dimaksud “Rumah Allah”? Pada zaman Daud – waktu itu ia belum menjadi raja – Rumah Allah alias Bait Allah di Yerusalem belum didirikan. Bait Allah di Yerusalem dibangun pada zaman Salomo alias Sulaiman, yaitu anak Daud alias David. Rumah Allah di sini juga bukan berarti surga, kediaman Allah.
Rumah Allah pada ayat ini berarti “Kemah Suci”. Apa itu? Kemah Suci adalah bangunan semipermanen berwujud tenda yang di dalamnya ada Tabut Perjanjian. Sebelum Bait Allah berbentuk gedung dibangun, orang Israel beribadat di Kemah Suci yang pertama kalinya dibuat pada waktu mereka berkeliling di padang gurun sekeluar dari negeri Mesir menuju tanah terjanji. Rumah Allah di sini artinya “tenda tempat berdoa”.
Abyatar itu imam besar Perjanjian Lama; disebut pada 1Sam. 21:1-6. Persisnya yang menjadi imam besar atau imam agung waktu Daud belum menjadi raja adalah Ahimelekh, ayah Abyatar. Ketika Daud menjadi raja, barulah imam besarnya Abyatar. Karena itu, nama Abyatar sebagai imam besar zaman Daud lebih terkenal (karena rajanya, Daud, juga terkenal).
Imam agung adalah jabatan tertinggi dalam susunan jabatan para imam Perjanjian Lama. Ia pemimpin puncak seluruh imam Israel. Satu-satunya orang yang dapat masuk Ruang Mahakudus hanyalah imam besar. Setahun sekali ia masuk ke sana untuk menyampaikan persembahan demi pengampunan dosa umat.
Roti sajian adalah roti yang dipersembahkan kepada Allah. Nasnya ada pada Im. 24:5-9. Ada dua belas roti yang dipersembahkan setiap pekan. Roti-roti itu dianggap kudus, hanya boleh dimakan oleh para imam. Nah, Daud dan para pengikutnya bukanlah imam, namun mereka makan roti sajian. Dalam hukum agama Yahudi, itu salah. Tuhan Yesus membuat perbandingan kejadian Daud makan roti sajian dan para murid memetik bulir gandum pada hari Sabat.
Bacalah ayat 27
Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,
Tuhan Yesus menjawab perihal yang diperkarakan kaum Farisi dengan singkat dan lugas. Tuhan kita mengajar orang-orang mengenai tujuan dan kegunaan adanya hari Sabat. Jangan sampai hukum membebani orang. Kalau hukum membuat orang tidak sejahtera lahir dan batinnya, maka hukum itu tidak berlaku. Tuhan menegaskan bahwa “Allah mengadakan hari Sabat untuk kepentingan manusia, bukannya menciptakan manusia untuk adanya hari Sabat.”
Bacalah ayat 28
jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”
Ayat ini mengajarkan keilahian Kristus. Ia adalah Tuhan, berkuasa atas segala sesuatu termasuk hari Sabat. “Anak Manusia” adalah istilah yang dipakai Tuhan Yesus untuk menyebut diri-Nya.
Rev. D. Y. Istimoer Bayu A.
Katekis Daring
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar