Minggu, 16 Desember 2018

Senin, 17 Desember 2018
KatKit (Katekese Sedikit) No. 182

Seri Alkitab
INJIL MARKUS 3:1-5

Syalom aleikhem.
Mrk. 3:1
Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.

Peristiwa ini terjadi pada hari Sabat yang lain. Keterangan mengenai hari Sabat dan rumah ibadat sudah diberikan melalui penjelasan terdahulu. Di dalam rumah ibadat itu, Tuhan Yesus melihat ada orang yang mati sebelah tangannya. Sebelah tangan di sini berarti salah satu tangan. Tak disebut tangan kiri atau kanan yang mati. Arti mati di sini adalah lumpuh, tak dapat digerakkan. Kita kini mengenalnya sebagai “strok”. Mungkin saja itu strok. Apapun nama sakitnya, yang jelas orang itu salah satu tangannya tak dapat digerakkan alias layu alias lemas; lumpuh tangan.

Mrk. 3:2
Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.

Siapa mereka yang dimaksud ayat ini? Mereka adalah orang-orang Farisi. Keterangan tentang itu kita dapati pada ayat 6. Tentu saja tidak berarti bahwa rumah ibadat itu hanya berisi orang Farisi. Tentulah orang Yahudi dari aneka golongan juga ada di sana, namun yang jelas-jelas mengamati Tuhan untuk dapat mempersalahkan-Nya adalah orang-orang Farisi.

Pengamatan yang mereka lakukan jelas tujuannya, agar Tuhan dapat didakwa dengan kesalahan. Kesalahan macam apa? Menyembuhkan. Sudah dibahas di depan, penyembuhan adalah tindakan bekerja. Pada hari Sabat, bekerja dilarang. Maka, menyembuhkan orang dilarang pada hari Sabat. Kalau Tuhan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, Ia salah. Itulah yang ditunggu-tunggu kaum Farisi. Mereka menanti-nanti Tuhan berbuat “salah”.

Mrk. 3:3
Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Mari, berdirilah di tengah!”

Tuhan Yesus memanggil orang yang lumpuh satu tangan itu. Ia menyuruh si sakit maju. Dengan demikian, semua orang dapat melihat apa yang segera terjadi.

Mrk. 3:4
Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja.

Setelah si sakit berada di depan dan terlihat oleh semua orang, Tuhan Yesus bertanya kepada khalayak, khususnya kepada kaum Farisi. Pertanyaan-Nya lugas dan jelas. Tak ada orang menjawab pertanyaan-Nya. Semua diam. Mereka kesulitan menjawab. Tentu saja jawabannya adalah “berbuat baik” dan “menyelamatkan nyawa orang”. Masakan berbuat jahat dan membunuh orang? Mereka semua bungkam karena jawaban atas pertanyaan Tuhan sudah jelas dengan sendirinya.

Mrk. 3:5
Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.

Degil artinya “keras hati”. Di sini dikatakan Tuhan Yesus sedih sekaligus marah. Mengapa? Sebab, orang-orang di situ picik dan tak berperasaan belas kasih kepada orang sakit.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu A.
Katekis Daring

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar