Selasa, 01 Januari 2019

Gerimis Tahun Baru
OPTIMISME HIDUP DALAM SOSOK PARA GEMBALA
(RD Josep Susanto)

Sejak tadi malam pergantian tahun, bumi Jakarta dibasahi oleh rinai hujan semilir.

Maka tidak heran ketika aku bangun dari tidur lelapku, hawa dingin langsung menyergap. Padahal AC kamar dalam keadaan mati.

Kulirik jam ku, oh sudah jam 4.30 pagi. Kubuka tahun ini dengan sebuah doa, semoga Tuhan senantiasa memberkati langkah hidupku dan pelayananku sebagai imam.

Kumulai Tahun 2019 ini dengan secercah rasa optimis dalam hidupku.

Pertolongan Tuhan yang tidak pernah terlambat selama inilah yang membuat aku berani berharap bahwa hidupku akan selalu dijaga oleh Tuhan.

Pagi ini saya akan mengajak Saudara saudari untuk merenungkan sejenak RASA OPTIMIS dalam hidup.

Semoga renungan tentang RASA OPTIMIMISME HIDUP ini memperbaiki kualitas hidup kita, termasuk RELASI RELASI TANPA MAKNA, entah itu dalam keluarga, dalam persahabatan, termasuk dalam panggilan.

Hari ini, mengawali Tahun 2019, Gereja merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, yang juga menjadi Hari Perdamaian sedunia.

Bacaan-bacaan yang ditawarkan memiliki nuansa optimisme terhadap hidup manusia di dunia dalam menyambut kelahiran Sang Penyelamat dunia.

Hal itu bisa kita dapatkan dalam tokoh para gembala, karakter sederhana dalam dunia Timur Tengah kuno, yang berasal dari golongan terendah dalam tataran
masyarakat saat itu.

Mereka adalah masyarakat yang selama ini ditindas, diasingkan dan dianggap remeh oleh orang-orang sebangsanya.

Justru dalam diri orang-orang sederhana ini, kabar suka cita mulai menyebar ke tengah-tengah dunia.

Dalam bacaan Injil dikisahkan betapa para gembala melihat dengan mata kepala sendiri apa yang telah diwartakan oleh para malaikat kepada mereka di padang gembala Betlehem.

Optimisme tentang hidup tampak ketika para gembala memberitahukan apa yang telah
dikatakan kepada mereka tentang kelahiran bayi Yesus. Di sini para gembala menjadi pewarta kabar baik bahkan kepada Yusuf dan Maria yang dikatakan terheran-heran mendengar kabar yang mereka sampaikan.

Dikatakan Maria, Sang Ibu penebus, yang baru saja dilahirkan ke tengah dunia, menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Rupanya kabar baik, optimisme hidup, tidak pernah berhenti untuk dinikmati sendiri atau hanya untuk kelompok-kelompok kecil saja. Injil Lukas secara luar biasa menggambarkan betapa para gembala kembali ke tempat mereka masing-masing sambil terus memuji dan memuliakan Allah.

Merekalah pewarta kabar baik yang sejati, sebab peristiwa di seputar kandang di Betlehem telah mentransformasi hidup mereka.

Optimisme merubah hidup seseorang. Mereka diubah dari yang dulunya orang biasa, diubahnya menjadi anak-anak Allah, terlibat dalam karya keselamatan Allah di tengah dunia.

I TRUST IN YOU MY LORD
(Rm Josep)

Salam Damai Kristis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar