Jumat, 18 Jan 2019
Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani,
Ibr. 4:1-5,11; Mzm. 78:3,4bc,6c-7,8; Mrk. 2:1-12.
Mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya
Di Roma ini, sarana tranpotasi andalan saya adalah bus umum. Setiap kali berangkat dan pulang ke kampus, selalu menggunakan bus. Kadang, seperti hari kemarin, penumpang sangat banyak sehingga penuh sesak. Yang menarik adalah, setiap kali ada penumpang, yang kebetulan berada di tengah, ingin turun, penumpang-penumpang lain yang ada di gang di antara kursi-kursi penumpang selalu memberi jalan. Tidak jarang, kami harus turun dulu, baru kemudian naik kembali. Pengalaman ini sangat kontras dengan peristiwa yang dikisahkan dalam Injil. Orang banyak yang berkerumun di muka pintu rumah Yesus - setelah memulai karya-Nya, Yesus meninggalkan Nazaret dan tinggal di Kapernaum (Mat 4,13) - tidak mau memberi jalan kepada 4 orang yang sedang menggotong seorang lumpuh dan ingin masuk untuk berjumpa dengan Yesus. Saya jadi bertanya-tanya, ngapain orang banyak itu datang kepada Yesus? Kalau mereka sungguh mendengarkan ajaran Yesus dan percaya kepada-Nya, tentu mereka tidak hanya membuka telinga tetapi juga membuka mata dan hati untuk melihat orang lain yang membutuhkan jalan. Rupanya, kerumunan massa yang suka menghalangi orang untuk berjumpa dengan Tuhannya masih ada juga sampai sekarang. Di beberapa tempat, sering terjadi kasus ada sekelompok umat yang dilarang berdoa dan dilarang beribadah, dilarang mendirikan rumah ibadar, bangunan gereja yang sudah ada disegel dan diminta untuk dibongkar. Kita pun, yang mungkin tidak mendapatkan hambatan untuk berdoa dan beribadah, seringkali justru menjadikan diri kita sendiri sebagai penghalang dan penghambat bagi diri sendiri dan orang lain. Kadang ada rasa malas, ada rasa bosan (dengan liturgi atau kotbah romonya), ada kekacauan dalam mengatur pekerjaan atau kesibukan, dll. Bahkan, ada juga orang yang tidak mau ke Gereja atau mengikuti kegiatan di lingkungan karena suatu saat tersinggung oleh kata-kata, tindakan, atau keputusan tertentu. Hal-hal tersebut, kadang menghalangi kita untuk berjumpa dengan Tuhan. Menghadapi berbagai macam tantangan dan hambatan untuk berjumpa dengan Tuhan itu, marilah kita menimba inspirasi dari keempat orang yang menggotong orang lumpuh yang sampai memanjat ke atap rumah dan membukanya agar si lumpuh dapat berjumpa dengan Yesus. Semoga kita pun juga berani untuk secara kreatif menemukan cara dan jalan untuk berjumpa dengan Tuhan. Dan tentu saja, semoga kita tidak menjadikan diri kita justru sebagai penghalang bagi orang lain untuk berjumpa dengan Tuhan(nya).
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar