Senin, 14 Januari 2019

MEMBONGKAR RAHASIA ILAHI DALAM PERUMPAMAAN ANAK HILANG
(RD Josep Susanto)

Sudah lama saya tidak menangis dalam membaca Kitab Suci. Namun pagi ini, ketika mengkoreksi buku ketiga saya, sekali lagi air mata saya jatuh menetes ketika saya membaca Perumpamaan Anak yang Hilang dalam Luk 10:11-32.

Saya yakin Perumpamaan Anak Hilang sudah sangat dikenal oleh umat kebanyakan.

Namun dalam renungan kali ini saya mau membongkar rahasia ilahi yang membuat saya menangis, kagum dengan Kitab Suci.

Pertama:
Judul yang Kurang Pas

Dalam Kitab Suci kita, kisah perumpamaan Luk 10:11-32 diberi judul PERUMPAMAAN ANAK HILANG.

Tetapi kalau kita baca baik-baik kisah ini, sambil bertanya-tanya siapa sebenarnya TOKOH UTAMA dalam kisah ini, kita akan sepakat bahwa judul perikop ini tidak 100% tepat.

Mengapa?

Sebab ternyata dalam perumpamaan si anak bungsu tidak menjadi tokoh utama. Tokoh ayah lah yang menjadi paling berperan dalam keseluruhan kisah.

Tindakan si ayah, kata-kata si ayah, sikap si ayahlah yang paling menentukan jalan cerita dari awal sampai akhir. Tindakannya yang mewarnai dan menentukan nasib anak-anaknya.

Maka judul yang paling tepat yang bisa kita tawarkan untuk kisah ini mungkin :
☆AYAH YANG HEBAT
☆AYAH YANG LUAR BIASA
☆ AYAH YANG PENUH BELAS KASIH
☆AYAH YANG PENGAMPUN.
☆ Bahkan biar bombastis, AYAH YANG TERTUKAR 😋

Kedua:
Pertarungan MATI dan HIDUP.

Teman teman pasti ingat bahwa si bungsu sangat kurang ajar meminta warisan dari ayahnya yang masih hidup. Dia menganggap ayahnya sudah MATI.

Tetapi ketika ia mengambur hamburkan warisannya dan hidup susah di negeri orang, makan ampas babi, dia merasa SUDAH SEPERTI ORANG MATI.

Dengan penuh penyesalan anak bungsu berkata: aku telah berdosa.

Ungkapan ini adalah simbol dari dirinya yang seperti orang mati atau orang yang sudah berada di ujung kematian. Sebab ia kelaparan, menderita tapi tidak ada satu orangpun yang peduli.

Pemahaman anak bungsu itu dipahami oleh ayahnya ketika ia berkata kepada anak sulungnya, bahwa pesta sedang dilangsungkan untuk ANAKKU YANG TELAH MATI, TETAPI SEKARANG HIDUP LAGI.

Di sini kita bisa melihat aspek dari pertobatan sejati: kita telah mati oleh dosa tetapi hidup oleh Kristus.

Ketiga:
Hancurnya Relasi keluarga

Dalam kisah ini bukan hanya si ayah saja yang kehilangan anak bungsunya. Si ayah terancam kehilangan kedua anaknya, karena rusaknya relasi kakak adik dalam diri anak anaknya.

Perhatikan baik baik, si sulung dalam kemarahannya, tidak pernah mengakui adiknya.

Dia tidak pernah menyebut si bungsu dengan sebutan "adikku" tetapi ia menyebutnya "anakmu".

Dalam kisah ini si ayah berusaha sekuat tenaga, bahkan merendahkan dirinya.

Si ayah dalam dialog dengan si sulung, menyebut si bungsu dengan "adikmu" dan "anakku"

Dengan demikian dia berusaha menyatukan kembali keutuhan keluarganya yang terancam hancur.

Keempat:
Mentalitas BUDAK dari kedua anaknya.

Para pembaca pasti ingat niat si bungsu ketika ingin kembali ke rumahnya. Ia berniat untuk MENJADI BUDAK ayahnya saja.

Dalam kisah kita tahu si ayah bahkan tidak memberi kesempatan kepada anak bungsunya untuk mengungkapkan niatnya itu. Ayahnya menerima anak bungsunya kembali.

Tetapi apa yang bisa kita lihat dalam kata kata si anak sulung. Ternyata dia tidak lebih baik dari adiknya itu, bahkan lebih malang.

Kesalahan si sulung adalah meski ia tinggal dalam kelimpahan di rumah ayahnya, ia hidup dalam MENTALITAS BUDAK.

Si sulung merasa si ayah tidak pernah memberikan anak kambing untuk dia berpesta dengan teman temannya.

Padahal si ayah menganggap hartanya adalah harta anaknya juga.

Keanehan besar terjadi di sini:

Si bungsu, dalam penderitaannya, kembali kepada ayahnya, dengan niat menjadi BUDAK ayahnya. Tetapi niat itu ditolak ayahnya.

Si sulung, dalam kelimpahannya, tidak mau masuk ke rumah, dan malah menjadikan dirinya seperti seorang BUDAK.

Untungnya lagi lagi si ayah mencegah anak sulungnya bermental budak selama lamanya. Ia mengundang anak sulungnya masuk untuk berpesta bersama.

Kesimpulan:
Tuhan Yesus memang terlalu luar biasa. Entah tindakanNya, kata-kataNya dan pengajaranNya.

Hati saya yang terdalam begitu tertusuk dan kagum oleh sikap Allah yang diceritakan dalam kisah ini. Allah kita sungguh luar biasa dalam memberi pengampunan.

Mari selami Firman Tuhan, biarlah SabdaNya menyentuh kedalaman hatimu.

Kitab Suci memang keren kalau dibaca.
(Rm Josep.)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar