Sabtu, 05 Januari 2019

Minggu, 6 Jan 2019
Hari Raya Epifani
Yes 60:1-6; Ef 3:2-2a,5-6; Mat 2:1-12

Hari ini kita merayakan Epifani atau Hari Raya Penampakan Tuhan. Menurut tradisi, ketiga majus yang datang kepada Yesus bernama Baltasar (Persia), Melkior (Asia) dan Gaspar (Ethiopia). Mereka mewakili tiga ras besar bangsa manusia di dunia pada waktu itu. Dengan demikian, hendak dinyatakan bahwa kehadiran Yesus bukan hanya untuk kalangan terbatas bangsa Yahudi tetapi untuk seluruh bangsa di dunia. Inilah salah satu hal yang hendak dinyatakan melalui Hari Raya Penampakan Tuhan ini, yakni: universalitas keselamatan. Yesus adalah penyelamat seluruh umat manusia yang mau menerima Dia dan percaya kepada-Nya.

Oleh bacaan pertama (Yes 60:1-6), penampakan Tuhan ini dinyatakan sebagai “terang yang telah datang dan kemuliaan Tuhan yang telah terbit” (ay.1). Yesus adalah terang dunia (bdk. Yoh 1:4-5). Berkat kehadiran-Nya di tengah-tengah kita, hidup dan masa depan kita yang diliputi kegelapan karena dosa dan maut, menjadi terang dan penuh pengharapan. Kita diterangi untuk memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal. Terang Kristus dan penyelamatan yang dikerjakan-Nya ini berlaku untuk seluruh dunia sebagaimana ditegaskan pula oleh St. Paulus dalam bacaan kedua bahwa, “Orang-orang bukan Yahudi pun turut menjadi ahli waris, menjadi anggota-anggota tubuh serta peserta dalam janji yang diberikan dalam Yesus Kristus” (Ef 3:6).

Untuk mengalami terang Tuhan yang membawa keselamatan dan kehidupan bagi kita, kita diajak menghayati iman seperti orang-orang “majus”, yaitu:

Pertama, mereka ini disebut sebagai orang majus, bahasa Yunaninya “magos”, yang secara etimologis menunjuk pada imam Persia yang ahli dalam astrologi dan astronomi. Mereka menggunakan keahliannya dalam ilmi perbintangan untuk mencari, menemukan dan menyembah Yesus (Mat 2:2). Maka, menghayati iman seperti para majus berarti kita menggunakan keahlian kita masing-masing untuk mencari dan menyembah/mengabdi Tuhan. Apa pun profesi, keahlian, keterampilan, bakat dan talenta kita, marilah kita gunakan sebagai sarana untuk mencari dan mengabdi Tuhan.

Kedua, para majus dapat berjumpa dengan Yesus berkat sebuah bintang yang menuntun mereka. Mereka mengatakan, “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Artinya, Tuhan sendirilah yang memberikan petunjuk kepada mereka untuk mencari dan menemukan Dia. Kepada kita masing-masing, Tuhan juga selalu memberikan “bintang-Nya”, yaitu petunjuk bagi kita untuk mencari dan menemukan Tuhan. Namun, seperti yang dialami para majus tersebut, “bintang” Tuhan itu tidak selalu jelas dan tampak. Maka, kita harus berusaha untuk peka menangkap bimbingan Tuhan: ke arah mana Ia membimbing saya dan di mana saya harus berhenti untuk melakukan sesuatu, kemudian melanjutkan perjalanan lagi sesuai dengan bimbingan Tuhan. Semoga kita mampu melihat “bintang-Nya” yang berhenti di atas keluarga kita, di atas lingkungan/masyarakat kita, di atas Gereja kita, di atas tempat kerja kita, dll sehingga di tempat-tempat itu, kita dapat menemukan Tuhan dan berjumpa dengan-Nya.

Ketiga, setelah berjumpa dengan Yesus, para majus “sujud menyembah Dia ... dan mempersembahkan persembahan kepada Anak itu” (Mat 2:11). Mereka mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Sebagaimana para majus yang sujud menyembah kepada Tuhan dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, kita pun diajak supaya dengan tekun dan setia datang kepada Tuhan untuk sujud menyembah dan menghunjukkan persembahan kepada-Nya. Dalam hal ini, Perayaan Ekaristi harus mendapatkan tempat utama dalam hidup kita. Sebab, di situlah Yesus sendiri hadir dan kita sujud menyembah serta menghunjukkan persembahan kepada-Nya berupa kolekte dan bahan persembahan lainnya.

Keempat, orang-orang majus tersebut, setelah berjumpa dengan Yesus, “pulang ke negerinya lewat jalan lain” (Mat 2:12). Dalam Injil ditulis bahwa mereka pulang lewat jalan lain karena dilarang untuk kembali kepada Herodes. Tetapi secara simbolis, hal ini menegaskan bahwa mereka yang benar-benar mengalami penampakan Tuhan dan berjumpa dengan-Nya, tidak lagi menapaki jalan hidup yang sama. Sebab, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan itu memperbarui dan mengubah. Demikian pula, setelah berjumpa dengan Tuhan dan sujud menyembah kepada-Nya dalam Perayaan Ekaristi, kita pun harus kembali dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, kehidupan sehari-hari itu harus kita jalani secara lain dan baru, sesuai dengan roh, semangat, dan ispirasi yang kita dapatkan melalui perjumpaan dengan Tuhan dalam Ekaristi. 

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar