Minggu, 20 Januari 2019

Pergulatan Seorang Pelayan Sabda:
Biarlah Anggur Baik Itu Selalu Tersedia
(RD Josep Susanto)

Ketika mempersiapkan homili Minggu 20 Januari 2019 ini tiba-tiba muncul pikiran nakal dalam benak saya:

Akankah suatu saat nanti
sebagai seorang IMAM, saya kehabisan bahan renungan, kehabisan bahan homili,
kehabisan bahan pengajaran
dan kehabisan bahan seminar?

Kalau jawabnya IYA, bisa-bisa kotbah dan pewartaan saya sebagai seorang imam hanya menjadi RADIO RUSAK yang terus menerus memutar lagu lagu lama yang itu itu saja.

Sebagai manusia, jujur di pikiran saya beberapa kali terbersit kekhawatiran seperti itu.

Sekarang hal itu sih belum terjadi, karena saya
baru 12 tahun jadi pastor,
umur masih 40-an,
baru 2 tahun pulang studi,
masih banyak bahan-bahan menarik yang bisa saya bagikan,

TETAPI nanti kalau umur saya sudah tidak muda lagi, apakah inspirasi, kotbah, pengajaran saya masih menarik dab relevan?

Ketika hawa kecemasan mulai menghinggapi sanubari saya, saya dapat berkat luar biasa yang saya dapat dari Kitab Suci, tepatnya di kalimat ini:

“ENGKAU MENYIMPAN ANGGUR YANG BAIK SAMPAI SEKARANG” (Yoh 2:10).

Kalimat ini seolah menelanjangi hidup saya bulat-bulat. Kalimat ini membaca pikiran saya dengan jernihnya.

Kalimat di atas menjadi obat kekhawatiran saya sekaligus memberikan sebuah cara/jalan keluar untuk memecah kebuntuan.

Teks Perkawinan di Kana adalah teks Kitab Suci paling favorit yang sering saya bahas. Kalau tidak salah saya sudah membagikan kurang lebih 6 variasi renungan tentang kisah ini.

Tetapi baru sekarang saya menyadari bahwa kalimat di Yoh 2:10 di atas adalah RAHMAT ISTIMEWA yang diberikan Allah kepada setiap imamNya.

Setiap imam tidak pernah boleh berhenti membaca Kitab Sucinya.

Bagi setiap imam, inspirasi Kitab Suci bagaikan PESTA PERKAWINAN DI KANA dalam karya pewartaannya.

Dalam pesta itu anggur baik tersedia secara berlimpah, bisa dinikmati banyak orang, dan memeriahkan pesta. Anggur yang baik menjadi jiwa dari keberlangsungan pesta itu, termasuk hidup para imam.

Namun ada kalanya, anggur baik itu habis, tergerus sampai tetes terakhir, entah karena lalai, terlalu sibuk dengan urusan lain, atau begitu banyaknya permintaan.

Di sini para imam akan mengalami kekeringan inspirasi. Ini pasti sangatlah menyiksa.

Akibatnya kotbahnya menjadi asal asalan tanpa pesiapan, diulang-ulang, tanpa isi, tanpa jiwa, tanpa roh, persis seperti ANGGUR YANG TIDAK BAIK, yang seringkali disediakan orang kebanyakan.

Pada saat genting seperti ini para imam diajak untuk BERTRANSFORMASI, dari seorang pemimpin pesta MENJADI seorang pelayan seperti yang terjadi di pesta perkawinan di Kana.

Bukan kebetulan bila jati diri seorang imam juga adalah seorang pelayan sabda.

Para imam harus berinteraksi dengan Yesus, mengalami sendiri bagaimana Yesus membimbing mereka dalam proses perubahan air menjadi anggur, seperti para pelayan, mendengar perkataan Yesus dan melakukannya.

Ketaatan dan konsistensi para pelayan sabda ini dalam menjalani 2 rahasia hidup sebagaimana yang diajarkan oleh Ibu Yesus ini menjadi KUNCI keberhasilan.

Para imam harus selalu dekat dengan Yesus, berjalan bersama Yesus, mendengar SabdaNya, berproses bersama Yesus.

Begitu imam berhenti berdoa, berhenti merefleksikan hidupnya bersama Yesus, berhenti berekaristi dengan menjadikan Yesus sebagai sumber hidupnya,
otomatis kekeringan akan melanda panggilannya.

Begitu imam menolak menjadi pelayan sabda, maunya menjadi pemimpin pesta terus, imam akan mengalami kemandekan dalam pewartaannya.

Apa yang berlaku untuk para imam di atas, juga berlaku untuk seluruh umat tanpa kecuali.

Salam Damai Kristus dari
Seorang Pelayan Sabda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar