Selasa, 22 Januari 2019

Rabu, 23 Jan 2019
Pekan Biasa II, Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia
1Sam. 17:32-33,37,40-51;Mzm. 144:1,2,9-10; Mrk. 3:1-6.

"Ulurkanlah tanganmu!"

Perintah Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya untuk mengulurkan tangannya, menurut saya bukan sekedar proses penyembuhan. Memang, semula tangan orang itu mati rasa sehingga tidak bisa digerakkan. Namun, saat Yesus memintanya untuk mengulurkan tangan itu, seketika itu juga menjadi sembuh (Mrk 3,5). Setelah sembuh, kan berarti tangan itu tidak lagi mati rasa: bisa digerakkan, bisa diulurkan. Maka, sebenarnya Yesus tetap dan terus meminta: "Ulurkanlah tanganmu!" Bukan untuk disembuhkan - karena sudah sembuh - tetapi untuk menolong orang lain, sebagaimana Yesus juga telah menolongnya. Maka, kisah Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya ini sebenarnya kisah kita masing-masing. Apalagi Penginjil Markus hanya mengatakan " *ada seorang* yang mati sebelah tangannya" (Mrk 3,1). Siapakah nama orang itu? Ya kita masing-masing. Bukankah tangan kita kadang atau bahkan sering mati karena kita tidak mau menggerakkan dan mengulurkannya untuk berbuat kasih dan memberi pertolongan kepada orang lain. Bahkan mungkin ada juga di antara kita yang tangannya mati karena kita malas menggerakkan dan mengulurkan untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita.) (Atau jangan-jangan, ada juga yang mati tangannya saat kotak atau kantong kolekte beredar sampai di depan kita sehingga kita diam saja, tidak mengulurkan tangan untuk memberi persembahan) - yang ini dalam tanda kurung saja. Masih ada lagi, yakni orang yang tidak mau mengulurkan tangan untuk sekedar bersalaman. Hari ini, Tuhan Yesus berkenan menyembuhkan kita. Ia meminta kepada kita: "Ulurkanlah tanganmu!".
Mengulurkan tangan untuk menolong dan menyelamatkan orang lain itu tidak mengenal batasan waktu, tempat dan pribadi. Artinya, kapan pun, di mana pun dan dengan siapa pun, hati yang penuh kasih akan selalu tergerak untuk mengulurkan tangan guna memberikan pertolongan. Bahkan, ketika tindakan itu harus mendatangkan risiko karena ketidaksetujuan dan kebencian dari orang/kelompok lain, hati tetaplah terbuka untuk mengasihi dan tangan tetap terulur untuk memberi. Itulah yang dilakukan Yesus. Meskipun pada hari Sabat, Ia tetap meminta orang yang mati sebelah tangannya untuk mengulurkan tangannya. Hati-Nya yang penuh kasih tidak bisa membiarkan ada orang menderita tanpa memberinya pertolongan. Bahkan juga ketika tindakan itu membuat kebencian orang-orang Farisi semakin menjadi. Begitulah: Tuhan senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk kita. Kita pun diundang untuk melakukan hal yang sama: 1) mengulurkan tangan kepada Tuhan untuk mengunjukkan persembahan dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya,  2) mengulurkan tangan kepada sesama untuk membangun persahabatan serta memberikan pertolongan, 3) mengulurkan tangan untuk melaksanakan tugas-pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar