Selasa, 29 Jan 2019
Pekan Biasa III
Ibr. 10: 1-10; Mzm. 40:2,4ab,7-8a,10,11; Mrk. 3:31-35
"Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku" (Mrk 3,35)
Kalau diperhitungkan berdasarkan hubungan darah, kita ini bukan siapa-siapanya Yesus. Syukur bahwa Yesus memperluas ikatan persaudaraan dengan-Nya, tidak hanya berdasarkan hubungan darah atau garis keturunan tetapi berdasarkan pelaksanaan atas kehendak Allah. Ia bersabda, "Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku!” Jadi, sejauh kita melaksanakan kehendak Allah, kita pun layak menjadi dan disebut sebagai saudara-saudara Yesus. Dengan air pembaptisan, kita semua diangkat menjadi anak-anak Allah dan dengan demikian, kita semua dengan Yesus adalah saudara se-Bapa. Meskipun Yesus adalah Anak Allah yang sesungguhnya, sedangkan kita adalah anak-anak angkat, namun tentu kita sangat bersyukur. Kita akan sungguh-sungguh menghayati persaudaraan tersebut, kalau kita benar-benar melakukan kehendak Bapa, seturut teladan Yesus sendiri, yang mengatakan: "Makanan-Ku adalah melakukan kehendakAllah yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh 4,34). Tentu, Bunda Maria pun menjadi teladan bagi kita dalam melaksanakan kehendak Allah, karena semboyan hidupnya adalah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1,38). Kita tahu bahwa kehendak Tuhan yang paling utama adalah mengasihi Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, marilah kita hayati identitas dan perutusan kita sebagai anak-anak Allah dan sebagai saudara-saudari Yesus dengan semakin mengasihi Allah dan sesama.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar