Kamis, 21 Feb 2019
Pekan Biasa VI
Kej. 9:1-13; Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23; Mrk. 8:27-33.
Hari-hari ini, kepada kita diperdengarkan Injil Markus. Injil yang paling pendek - 16 bab - dibanding ketiga Injil yang lain. Namun, sangat bernas untuk membantu kita semakin mengenal Yesus. Pada bab I, Markus yang diilhami Roh Kudus menegaskan "Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah" (Mrk 1,1). Kemudian, persis ditengah-tengah, yakni pada bab 8, melalui mulut Petrus yang ditanya oleh Yesus tentang "siapakah Aku", juga dinyatakan "Engkau adalah Mesias" (Mrk 8,29). Mesias sinonim dengan Kristus. Pada bab menjelang terakhir Injilnya, Markus kembali menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah melalui mulut Kepala Pasukan yang menyalibkan-Nya, "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah" (Mrk 15,39).
Berkaitan dengan Injil hari ini, baiklah kita memusatkan perhatian pada Petrus dan belajar darinya. Kita tahu bahwa di dalam dirinya ada dua kekuatan atau kuasa yang bekerja sekaligus, yakni kuasa Allah dan iblis. Ketika Ia sehati dan sepikiran dengan Allah, ia dapat mengatakan secara benar tentang siapakah Yesus. Namun, ketika ia tidak sehati dan sepikiran dengan Allah, ia mempunyai pemahaman yang salah tentang kata yang sudah diucapkannya secara benar, yakni tentang makna Mesias. Ketika iblis menguasainya, maka dalam berpikir, berkata dan bertindak, Petrus tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mateus, dalam kisah yang paralel dengan perikup Mrk 8,33 ini (bdk. Mat 16,23) dengan tegas menyebut bahwa Petrus telah menjadi batu sandungan bagi Yesus.
Hal yang sama seringkali juga terjadi pada kita. Manakala kita tidak berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, melainkan mengikuti godaan setan, kita menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kita membuat orang lain tersandung, jatuh, dan celaka/menderita. Padahal, Tuhan menghendaki agar kita menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi orang lain. Seperti Petrus, kendati kita berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah sehingga mampu menjadi tanda dan sarana keselamatan, namun karena kelemahan kita, kita seringkali justru menjadi batu sandungan bagi orang lain. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan agar kita dimampukan untuk sehati dan sepikir dengan Allah sehingga kita semakin mampu mengenal Tuhan dan melaksanakan kehendak-Nya.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar