Minggu, 17 Feb 2019
Hari Minggu Biasa VI
Yer. 17:5-8; Mzm. 1:1-2,3,4,6; 1Kor. 15:12,16-20; Luk. 6:17,20-26.
Berbeda dengan Mateus, yang hanya menampilkan Sabda Bahagia Yesus (Mat 5,3-12), Lukas menampilkan juga Sabda Celaka. Dengan demikian, pada Lukas, kita memiliki baik Sabda Bahagia maupun Sabda Celaka. Untuk Sabda Bahagia, kurang lebih sama dengan Mateus: berbahagialah yang miskin, yang lapar, yang menangis, yang dibenci dsb. Sementara untuk Sabda Celaka, disebutkan persis keadaan yang sebaliknya: celakalah yang kaya, yang kenyang, yang tertawa, dan yang dipuji. Bagaimana kita mesti memahami hal ini, khususnya Sabda Celaka ini? Tentu saja, kita tidak boleh mengartikannya secara harafiah dan hurufiah. Kekayaan, berkecukupan makanan sehingga bisa makan sampai kenyang, dan sukacita dalam canda tawa adalah wujud nyata dari berkat Tuhan juga.
Bagi saya, salah satu kunci untuk memahami secara benar Sabda Bahagia dan Sabda Celaka Lukas ini adalah pewartaan Nabi Yeremia (bacaan I). "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan! ... Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!" (Yer 17,5.7). Bahagia (diberkati) atau celaka (dikutuk) tidak tergantung baik pada kondisi miskin atau kaya, lapar atau kenyang, menangis atau tertawa, dibenci atau dipuji; namun pada sikap hati dan perilaku kita: apakah kita mengandalkan Tuhan atau sebaliknya kita mengandalkan diri sendiri dan menjauh dari Tuhan. Sikap yang pertama mendatangkan berkat dan kebahagiaan, sedangkan yang kedua mendatangkan celaka atau kutuk.
Nah, Lukas menghadirkan orang-orang yang miskin, lapar, menangis, dan dibenci, sebagai figur orang-orang yang dengan mudah mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan pada-Nya. Mereka tidak punya apa-apa untuk diandalkan sehingga mudah untuk mengandalkan Tuhan (meski tidak selalu juga). Sebaliknya, mereka yang kaya, kenyang, tertawa, dan dipuji, seringkali mudah melupakan Tuhan serta terlalu mengandalkan diri sendiri dan kekayaannya. Namun, tentu saja tidak semua orang demikian. Ada banyak orang kaya dan bisa selalu makan kenyang, tetapi tetap mengandalkan Tuhan, sehingga hidupnya pun diberkati dan berbahagia.
Dengan kata lain, kita diajak membangun sikap dan kesadaran bahwa kekayaan dan apapun yang kita miliki adalah pemberian dari Tuhan. Saya ingat nasihat yang amat bagus dari Musa: "Tuhan, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik ... di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun ... Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan, Allahmu ... janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. .. Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan" (Ul 8,7.9.11.17.18).
Atau seperti penutup bacaan pertama: kita diajak menjadi seperti pohon yang diberi kehidupan dan kesuburan oleh Tuhan sehingga mampu menghasilkan buah tiada henti (bdk. Yer 17,8). Bukanlah pohon yang lebat buahnya tidak pernah memanfaatkan buah yang dihasilkannya itu untuk dirinya sendiri, tetapi selalu diberikan kepada sang empunya pohon, dan sang empunya pohon membagikan buah-buah yang dipetiknya kepada banyak orang lain? Demikian pulalah hendaknya kita: tetap dan selalu mengandalkan Tuhan, serta rela membagikan apa yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dengan demikian, hidup kita akan bahagia dan terberkati.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar