Rabu, 20 Mar 2019
Hari Biasa Pekan Prapaskah II
Bacaan 1 : Yer 18:18-20
Mazmur : Mzm 31:5-6.14.15-16
Injil : Mat 20:17-28
“Hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” – Mat 20,23
Seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan, ia rela melakukan dan mengorbankan apa pun demi kebahagaiaan anak-anak. Saya teringat simbok saya yang tidak malu untuk _ngutang_ ke beberapa tetangga agar kami bisa membayar sekolah; juga ketika menghadiri suatu acara/pesta, rela untuk makan tanpa lauk karena memilih untuk membungkus lauknya demi anak-anak yang ada di rumah. Saya ndak tahu, apakah pada masa sekarang, masih ada ibu-ibu yang melakukan semacam itu. Namun, latar belakang pengalaman tersebut membantu saya untuk merenungkan apa yang dilakukan oleh ibunda Yohanes dan Yakobus ini. Ia tentu sangat mencintai kedua anaknya. Mungkin, ia merasa berat ketika kedua anaknya itu memilih untuk meninggalkannya dan mengikuti Yesus. Maka, ia mengharapkan "jaminan" dari Yesus. Seolah-olah, ia berkata: "Kedua anakku yang kucintai telah meninggalkanku untuk mengikuti-Mu. Maka, jangan sampai mereka terlantar. Apalagi setelah Engkau meninggalkan mereka. Perkenankanlah mereka duduk di sebelah kanan dan kiri-Mu, kelak dalam kerajaan surga". Menurut saya, ini sebuah permintaan yang wajar. Bahkan, juga merupakan keinginan, harapan, kerinduan dan permohoan kita, bukan? Setiap kali kita mendoakan saudara/i kita yang sudah meninggal, kita memohon kepada Tuhan agar mereka diperkenankan hidup bahagia di surga. Hal yang sama juga kita mohon: agar kelak kita berbahagia di surga. Namun, jawaban Yesus menegaskan bahwa perihal masuk kerajaan surga bukanlah hadiah atas perjuangan ataupun amal baik kita tetapi merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada kita atas dasar belaskasih dan kemurahan-Nya. Memang, usaha untuk hidup baik tetap harus kita lakukan sebagaimana kedua rasul itu diharuskan meminum cawan. Yesus juga menegaskan pentingnya melakukan hal-hal baik terhadap saudara-saudari kita yang membutuhkan sebagai jalan untuk masuk surga (bdk. Mat 2534-40). Namun, kita sadar bahwa perjuangan dan amal baik kita tidak akan pernah cukup untuk menggapai surga, tanpa belaskasih dan kemurahan Tuhan. Seandainya masuk surga itu ditentukan oleh amal kita, tentunya tidak akan pernah cukup karena kita lebih banyak _ngomel_ daripada _ngamalnya_. Oleh karena itu, kita tidak perlu berpikir masuk surga atau tidak, karena itu sudah dijamin oleh Kristus. Yang penting bagi kita adalah berusaha mendatangkan surga itu dalam hidup kita sehari-hari, yakni dengan saling mengasihi dan melayani (bdk. Mat 20,26-28). Dengan saling mengasihi dan melayani, kita akan mengalami suasa surga sejak sekarang.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar