Rabu,6 Mar 2019
HARI RABU ABU
PANTANG & PUASA
Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20 - 6:2; Mat. 6:1-6,16-18.
Saudara dan saudari yang terkasih,
untuk permenungan kita pada Rabu Rabu kali ini, saya sajikan sebagian (Intisari) dari Pesan Prapaskah 2019 yang disampaikan oleh Paus Fransiskus:
“Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan” (Rm 8:19)
Setiap tahun, melalui Gereja Bunda, Allah “menganugerahi umat-Nya, berkat pemurnian dalam Roh, masa yang penuh sukacita untuk mempersiapkan diri merayakan misteri Paskah … agar dari Misteri Penebusan-Nya kita menimba kepenuhan hidup baru dalam Kristus” (Prefasi Prapaskah I). Dengan demikian, kita dapat menapaki perjalanan dari Paskah ke Paskah menuju kepenuhan keselamatan yang telah kita terima sebagai buah dari misteri Paskah Kristus: “sesungguhnya, kita diselamatkan dalam pengharapan” (Rm. 8,24). Misteri keselamatan ini, yang sudah bekerja dalam diri kita selama kehidupan di dunia, merupakan proses dinamis yang juga mencakup sejarah dan seluruh ciptaan. Sebagaimana dikatakan Santo Paulus, “dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan” (Rm 8,19).
[...]
Ciptaan membutuhkan pernyataan anak-anak Allah, yakni mereka yang telah dijadikan “ciptaan baru”: “Barangsiapa ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sebab mereka telah dilahirkan kembali” (2 Kor 5,17). [...] Perjalanan menuju Paskah menuntut kita untuk memperbarui wajah dan hati kita sebagai pengikut Kristus melalui penyesalan, pertobatan, dan pengampunan, agar dapat hidup sepenuhnya dalam kelimpahan rahmat misteri Paskah.
[...] Segenap ciptaan dipanggil, bersama kita, untuk keluar “dari perbudakan kebinasaan untuk masuk dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rm. 8,21). Masa Prapaskah adalah tanda sakramental dari pertobatan ini. Masa Prapaskah mengundang umat Kristiani untuk menjelmakan misteri Paskah secara lebih intensif dan konkret, dalam kehidupan pribadi, keluarga dan sosial, terutama dengan berpuasa, berdoa dan berderma.
Berpuasa, merupakan usaha untuk mengubah sikap kita terhadap orang lain dan segenap ciptaan: dari godaan untuk “melahap” segalanya demi memuaskan kerakusan kita ke sikap siap menderita untuk mengasihi, yang dapat mengisi kekosongan hati kita. Berdoa memampukan kita untuk meninggalkan penyembahan berhala dan merasa dapat mencukupi diri sendiri, sekaligus menyadarkan kebutuhan kita akan Allah dan belas kasih-Nya. Berderma membebaskan kita dari hasrat untuk menimbun segalanya bagi diri kita sendiri karena keyakinan palsu bahwa kita dapat menjamin masa depan yang bukan milik kita. Dengan demikian, kita menemukan kembali sukacita dari rencana Allah bagi ciptaan dan bagi kita masing-masing, yaitu mengasihi Dia, mengasihi saudara-saudari kita, dan mengasihi seluruh dunia. Dalam kasih ini, kita menemukan kebahagiaan sejati.
[...] Semoga Masa Prapaskah kita [...] membawa pengharapan akan Kristus, juga bagi ciptaan, yang “dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rm 8,21). Jangan biarkan masa penuh rahmat ini berlalu dengan sia-sia! Marilah kita memohon kepada Allah agar membantu kita untuk mewujudkan perjalanan pertobatan yang sejati. Marilah kita meninggalkan keegoisan dan keterpusatan pada diri sendiri, serta beralih kepada Paskah Kristus. Marilah menjadi saudara bagi mereka yang membutuhkan, dengan berbagi harta rohani dan jasmani kepada mereka. Dengan demikian, kita memancarkan juga kepada seluruh ciptaan daya kuasa-Nya yang mengubah, ketika secara nyata kita menyambut kemenangan Kristus atas dosa dan maut dalam hidup kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar