Minggu, 03 Maret 2019

Senin, 4 Mar 2019
Hari biasa VIII
Sir. 17:24-29; Mzm. 32:1-2,5,6,7: Mrk. 10:17-27.

"Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Mrk 10,25)

Lubang jarum itu sangat kecil. Untuk bisa memasukkan benang dibutuhkan kejelian dan ujung benang yang rapi. Nah, pintu yang disebut lubang jarum oleh bangsa Yahudi adalah pintu yang bentuknya sempit memanjang, berada di tembok pembatas kota dan hanya digunakan pada saat pintu gerbang kota tutup. Ada sejumlah tentara yang berjaga di situ dan siapa pun yang hendak lewat atau memasukinya, harus diperiksa. Unta, yang pada masa itu biasa dipakai sebagai binatang tunggangan dan angkutan barang, masih bisa melewatinya asal penumpang dan barang-barangnya diturunkan terlebih dahulu. Setelah barang-barang diturunkan, unta juga harus ditarik masuk ke dalam pintu lubang jarum tersebut. Kita tahu bahwa unta adalah binatang yang jinak dan penurut sehingga dengan diperintah dan dituntun, ia akan dengan mudah berjalan masuk dan melewati pintu sempit tersebut. Yesus menggunakan peristiwa masuknya unta melewati lubang jarum sebagai pembanding untuk proses orang masuk ke surga. Bagi-Nya, lebih mudah menarik unta masuk melewati pintu lubang jarum daripada menuntun orang kaya masuk surga. Mengapa? Unta, ketika barang-barang yang melekat di tubuhnya dilepas dan diturunkan, ia diam saja. Ketika dituntun dan ditarik untuk memasuki dan melewati pintu lubang jarum, ia juga mudah dan menurut. Berbeda dengan kita, yang seringkali amat sulit untuk melepaskan apa yang kita miliki, termasuk melepaskan harta kekayaan kita dan mendermakannya kepada yang membutuhkan. Alih-alih mendermakan, yang lebih sering kita pikirkan justru bagaimana caranya agar kekayaan dan tabungan kita semakin bertambah. Maka, kita juga sulit untuk diam dan menurut ketika dituntun dan diarahkan oleh Yesus untuk memasuki jalan-Nya sempit dan kadang juga sulit. Semoga kita mudah untuk melepaskan diri dari berbagai macam ikatan yang membebani dan menghalangi kita untuk berjalan di jalan Tuhan. Semoga kita juga lebih menurut untuk diarahkan dan dituntun oleh Tuhan melewati jalan-Nya, yakni jalan keselamatan.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar