Kamis, 21 Maret 2019

*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                Jumat, 22 Maret 2019                                                                                                                             RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Sebagai Penggarap Kebun Anggur Kita Harus Setia Dan Taat!* 

Matius 21:33-43.45-46
Saudara-saudari... Kedua bacaan hari ini sangat membantu kita untuk kembali merenungkan sikap hidup kita, apakah kita selalu setia dan taat kepada Tuhan atau kita selalu melanggar perintahNya dan secara sadar menolak Dia?

Bacaan Pertama yang diambil dari kitab Kejadian 37:3-4.12-13.17-28, berceritera tentang Yusuf, putera Yakup, yang sangat dicintai oleh bapanya,  tetapi dibenci oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang ke dalam sumur kering lalu dijual kepada saudagar dari Midian dengan harga 20 keping perak dan dibawa ke Mesir. Karena kesuksesan dan kehebatannya, Yusuf diangkat menjadi penguasa di Mesir. Pada waktu musim kelaparan, saudara-saudaranya datang membeli makanan di Mesir. Pada waktu itulah Yusuf bertemu kembali dengan saudara-saudaranya. Ia tidak memanfaatkan kuasanya untuk membalas kejahatan yang dibuat saudara-saudaranya, tetapi memaafkan mereka. Ia meminta mereka dan Bapanya untuk pindah dan tinggal di Mesir. Bersama Yusuf, mereka semua alami kebahagiaan. Mimpi Yusuf menjadi kenyataan, bahwa berkas-berkas gandum dari kesebelas saudaranya mengelilingi berkas gandum Yusuf dan semuanya sujud menyembah berkas gandumnya. Atau menurut bahasa Kitab Suci Perjanjian Baru: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan kini sudah menjadi batu penjuru. Yusuf sudah menjadi batu penjuru bagi keluarganya.

Ceritera serupa kita dengar lewat Injil hari ini.  Para penggarap menangkap dan membunuh hamba-hamba dari Tuan kebun, termasuk anak kesayangannya.
Kalau kita merenungkan sikap dari para penggarap ini, sesungguhnya mereka adalah manusia yang tidak tahu berterima kasih. Mereka adalah penggarap, yang punya hak untuk menggarap, tetapi tidak punya hak untuk memiliki kebun itu.  Mereka berpikir, bahwa dengan membunuh para hamba dan anak kesayangan pemilik kebun, mereka akan memiliki kebun anggur itu. Mereka sama sekali keliru. Pikiran mereka sesungguhnya sudah dirusaki oleh kerakusan dan ambisi negatip. Kesombongan dan kerakusan akan kehendak diri sendiri sudah merusaki dirinya. Injil katakan bahwa pada akhirnya mereka dibinasakan. 

Saudara-saudari... Perumpamaan tentang penggarap ini mengingatkan kita bahwa kita pun adalah penggarap-penggarap kebun anggur Allah. Bibit anggur itu sesungguhnya sudah ditanamkan Tuhan dalam diri kita masing-masing. Tugas kita adalah menjaga dan memelihara Benih Sabda Allah, yang sudah ada dalam diri kita, agar bertumbuh dan menghasilkan buah. Hamba-hamba Allah adalah orang-orang yang datang mau membantu kita, mengajar kita agar kita selalu memperhatikan Benih Sabda Tuhan supaya bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah. Tetapi mungkin terkadang kita menolak mereka dan tidak menerima kehadiran mereka. Kita lebih senang mau mengikuti kehendak kita sendiri dan secara bebas mau mengatur diri sendiri. Mungkin terkadang secara sadar kita menolak kehadiran Yesus Kristus dalam diri kita, dan secara sadar pula mengangkat diri sendiri sebagai tuan akan diri sendiri.

Injil mengingatkan kita bahwa apa pun perbuatan kita di dunia ini, selalu diamati Tuhan. Dan akan tiba saatnya, Tuhan akan tunjukkan kuasa-Nya, bahwa Ia adalah penguasa tunggal akan hidup kita. Kejahatan yang kita buat terhadap para hamba dan Anak yang dikasihiNya akan mendatangkan malapetaka bagi kita. Kesombongan kita akan menghancurkan jiwa kita.

Marilah saudara-saudari... Dalam masa prapaska ini kita kembali bertanya diri, apakah kita selalu menjalankan tugas kita sebagai penggarap kebun anggur Tuhan dengan penuh tanggungjawab atau kita sering mengikuti kemauan kita sendiri? Kalau kita kadang melanggar perintah-Nya, marilah kita bertobat.

Bersama Bunda Maria kita berdoa, semoga Tuhan memberkati dan menyadarkan kita agar kita selalu menghayati dan mengamalkan tugas kita sebagai penggarap kebun anggur yang setia dan bertanggungjawab, sehingga pada akhirnya Tuhan boleh berbahagia memetik buah anggur yang berlimpah dari hasil kerja keras kita.  Amin.

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar