Senin, 25 Maret 2019

*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                          Selasa, 26 Maret 2019                                                                                                                           RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Dengan Mengampuni Kita Bisa Alami Kesembuhan!*                                               Matius 18:21-35

Saudara-saudari... Setiap kali saya mengajar psikologi perkembangan untuk para frater tingkat dua, saya selalu mengajak mereka untuk buat refleksi tentang perkembangan dirinya dari tahap ke tahap, sampai pada tahap dewasa: dari masa selama di kandungan ibu, sewaktu dilahirkan, di masa bayi dst. Karena apa yang terjadi di masa-masa itu akan sangat mempengaruhi perkembangan psikologis sesorang, di masa mendatang, malah sampai menjelang kematian, kalau masalah itu tidak diproseskan. Saya juga meminta mereka untuk melihat, apa isu pribadi yang selalu membuatnya bertanya-tanya: “Mengapa saya seperti ini?”  Seorang frater, secara terbuka menyampaikan apa yang selalu dialaminya dan tidak mengerti mengapa ia demikian. Katanya: “Di saat saya sangat marah, badanku jadi kaku dan tidak bisa expresikan kemarahan. Saya tidak tahu mengapa saya seperti itu?” Lalu saya bertanya kepadanya: “Apakah engkau ingat, mungkin ada orang yang memukul engkau sewaktu kecil?”  Dia menjawab: “Tidak pernah ingat.”  “Bagaimana relasimu dengan mama, bapa dan saudara/i dalam keluarga?” Ia menjawab: “Pada umumnya baik, tetapi saya tidak terlalu merasa bebas dengan bapa saya.” “Ada apa dengan bapamu? Pernahkah ia memukul engkau?” tanya-ku. Ia menjawab: “Tidak pernah!”  “Bagaimana pengalaman mama sewaktu kamu dalam kandungan? Pernahkah ia menceriterakan kepadamu? Bagaimana kehidupanmu semasa bayi?”  Dia menjawab: “Saya belum tanya mama.”
Ok. Saya anjurkan, tolong tanya mama sewaktu kamu masih dalam kandungan dan sewaktu kamu berumur di bawa dua atau tiga tahun.

Sesudah ia bertanya kepada mamanya, sekarang ia sadar apa yang menjadi alasan mengapa ia merasa tidak bebas dengan bapanya. Sewaktu masih bayi, ia selalu menangis di malam hari. Hari-hari awal, bapanya masih sabar, tetapi pada satu malam, sekitar jam 11, ia menangis begitu lama dan bapanya tidak sabar lagi. Ia mengangkat si bayi dan masukan dia ke dalam ember air. Si bayi langsung diam, sepertinya beku dan tidak menangis lagi. Sejak waktu itulah ia jarang sekali menangis. Itulah akar masalahnya, mengapa di saat ia sangat marah, tubuhnya jadi kaku.
Saya menganjurkan kepadanya untuk adakan rekonsiliasi dengan bapanya. Pada waktu libur ia mengadakan rekonsiliasi dengan bapanya dan bapanya membunuh satu ekor babi dan memohon maaf. Frater menerimanya dengan tulus hati dan mengampuni bapanya dengan sepenuh hati. Sekarang frater ini sudah ditahbiskan imam. Sejak terjadinya rekonsiliasi ini, ia merasa bahwa ada banyak sekali perubahan yang sangat positip yang terjadi ke atas dirinnya termasuk bisa expresikan kemarahan kalau ia marah. Perasaan kedekatan dengan bapanya juga sudah semakin baik. Ia juga bisa ngomong secara bebas dengan bapanya. Sungguh, memberi pengampunan dengan sepenuh hati bisa menyembuhkan luka bathin.

Saudara-saudari... Hari ini Petrus bertanya kepada Yesus: “Sampai berapa kali harus saya mengampuni saudaraku yang berdosa kepadaku, sampai tujuh kali?”  Yesus Kristus menjawab: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh.”  Itu berarti sepanjang kita masih hidup di dunia ini. Yesus menyebut angka 70. Mengapa angka 70? Angka 70 ada kaitannya dengan umur manusia. Menurut kitab Mazmur: 90:10, di sana tertulis: “Masa hidup kami 70 tahun, dan jika kami kuat, 80 tahun.” Yesus Kristus menghendaki agar setiap kali ada perselisihan atau salah paham dengan sesama, sebaiknya secepatnya kita saling mengampuni. Menyimpan kemarahan atau dendam akan membuat kita sakit. Jiwa dan tubuh kita akan turut dipengaruhi oleh perasaan itu. Semakin kita pendamkan, semakin kita akan merasa tidak nyaman, sebaliknya kalau kita langsung membereskan kesalah-pahaman kita dengan cepat, kita akan merasa bebas, dan luka bathin kita pun akan cepat sembuh.

Mari kita bertanya diri: apakah kita selalu siap mengampuni sesama?  Kalau sekarang kita masih menyimpan kemarahan terhadap sesama, bagaimana perasaan bathin kita saat ini sewaktu mendengar permintaan Yesus untuk mengampuni orang yang bersalah? Apakah ada niat yang baik dalam masa Prapaskah ini untuk mengampuni? Tuhan selalu siap mengampuni kita. Ia juga menghendaki agar di saat Tuhan mengampuni kita, kita pun langsung mengampuni sesama kita.

Bersama Bunda Maria, kita berdoa memohon bantuan Tuhan, agar kita diberi hati yang penuh belaskasihan sehingga kita sanggup mengampuni sesama dan pada saat yang sama kita pun akan alami kesembuhan bathin. Amin. 

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar