Sabtu, 27 April 2019

Minggu, 28 April 2019
HARI MINGGU PASKAH II,
Minggu Kerahiman Ilahi
Kis. 5:12-16; Mzm. 118:2-4,22-24,25-27a; Why. 1:9-11a,12-13,17-19; Yoh. 20:19-31

Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."

Dengan menderita sengsara dan wafat di salib, Yesus menyatakan belas kasih Allah kepada kita semua. Oleh karena itu, sejak Jumat Agung yang lalu, kita dengan setia menjalani Novena Kerahiman Ilahi. Hari ini, kita merayakan Pesta Kerahiman Ilahi. Bacaan Injil berbicara tentang Yesus yang hadir di tengah-tengah para murid dan memberikan damai sejahtera bagi mereka. Damai sejahtera ini, di satu sisi merupakan anugerah Allah, dan di sisi lain merupakan usaha manusia untuk mewujudkan dan memeliharannya. Namun, seringkali manusia justru melakukan yang sebaliknya, yakni merusak damai sejahtera yang dianugerahkan Allah dengan berbuat dosa dan kejahatan. Hal ini amat jelas dalam dosa Adam dan Hawa. Dengan dosa yang mereka buat, maka rusaklah keserasian dan keselarasan hubungan dengan Allah dan ciptaan yang lain. Mereka kehilangan damai dalam hati karena rasa bersalah dan malu di hadapan Allah, sekaligus tidak dapat lagi menikmati kesejahteraan hidup di Taman Firdaus (Kej 3:8). Mereka yang sebelumnya memiliki persekutuan intim dengan Allah menjadi takut, menyembunyikan diri dan tidak berani mendengar suara-Nya (Kej 3:8.10). Hubungan harmonis di antara Adam dan Hawa sebagai suami istri pun terganggu. Mereka saling menyalahkan (Kej 3:12). Dosa mereka tidak hanya merusak keserasian hubungan dengan Allah dan sesama tetapi juga dengan alam. Mereka harus bermusuhan dengan ular (Kej 3:15) dan harus bekerja keras untuk mengelola alam (Kej 3:17-19).
Pesan damai sejahtera dari Yesus ini, kiranya juga sangat aktual dan mendesak untuk kita perjuangkan. Beberapa peristiwa pengeboman dan penembakan, seperti yang barusaja terjadi di Sri Langka dan di Christchurch, marupakan manifestasi dosa dan kejahatan pada jaman sekarang. Buahnya jelas sekali, yakni merusak damai sejahtera. Bangsa kita pun juga menghadapi berbagai ancaman damai sejahtera karena adanya beberapa pihak suka membuat kekacauan, membuat provokasi, dan menyebarkan berita-berita bohong yang memang dibuat untuk tujuan jahat (hoax). Di tengah situasi semacam ini, kita yang telah menerima pesan dan anugerah damai sejahtera dari Yesus, diutus untuk memperjuangkan dan memelihara damai sejahtera. Kita mulai dengan senantiasa menciptakan damai sejahtera di hati, kemudian dalam keluarga, lalu dalam hidup bersama dengan tetangga, dalam masyarakat, di tempat kerja, dan di mana pun berada. Tidak lupa, kita juga perlu untuk selalu berdoa bagi perdamaian dunia, damai sejahtera bagi bangsa dan negara kita.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar