*SIRAMAN ROHANI* Kamis, 11 April 2019 RP Fredy Jehadin, SVD
*Tema: Kehidupan Kekal Berarti Hidup Bersama Kristus Untuk Selamanya!* Yohanes 8:51 - 59
Saudara-saudari.... Beberapa hari terakhir ini, kita mendengar lewat Injil bahwa Yesus Kristus dan para pemuka agama Yahudi selalu bertentangan. Masing-masing mempertahankan pendapatnya. Apa yang dianggap benar oleh Yesus Kristus, tetap dianggap salah oleh orang Yahudi. Orang Yahudi tetap menganggap bahwa Yesus Kristus selalu menghujat Allah karena Ia menganggap dirinya Putera Allah dan setara dengan Allah. Karena itu mereka selalu berusaha mau menangkapNya.
Hari ini kita mendengar ada pertentangan menyangkut soal kematian dan soal status Yesus Kristus. Yesus berkata: “Sesungguhnya, barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak mengalami maut untuk selama-lamanya.” Pernyataan Yesus ini ditanggapi secara negatip oleh orang Yahudi. Mereka menganggap bahwa Yesus sudah kerasukan setan. Mereka berkata: “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati demikian juga para nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan alami maut sampai selama-lamanya. Adakah Engkau lebih besar dari Abraham?”
Dari pernyataan ini bisa diketahui bahwa mereka tidak mengerti apa yang dimasukan Yesus dengan kematian. Kematian menurut Yesus Kristus adalah hidup sesudah kematian tubuh. Hidup tanpa sumber kehidupan itu sendiri. Itu berarti orang yang tidak percaya pada Yesus Kristus selama hidupnya di dunia ini, nanti sewaktu sesudah kematian tubuhnya, jiwanya akan alami kesengsaraan seumur hidup. Jiwanya akan tinggal dalam kegelapan. Hidup bersama Setan dalam Neraka; alami kesesengsaraan untuk selama-lamanya. Kesengsaraan untuk selamanya bisa disamakan dengan kematian untuk selamanya. Sebaliknya kehidupan kekal berarti alami sukacita, bahagia untuk selamanya. Orang yang percaya kepada Kristus dan menjalankan perintahNya akan hidup bersama Kristus dalam kerajaan surga untuk selamanya.
Kedua kelompok ini sesungguhnya berpijak pada konsep yang berbeda. Yesus berbicara soal hidup sesudah kematian tubuh; sementara orang Yahudi hanya berpikir soal kematian tubuh. Keduanya masing-masing pertahankan pendapatnya tanpa saling mendengarkan. Kalau saja ada ketebukaan untuk bertanya dan mencari tahu apa yang dimaksudkan dengan kematian, pasti salah paham bisa teratasi.
Soal kedua yang dipertentangkan adalah soal ke-Allah-an Yesus. Ia sudah ada sebelum Abraham dan para nabi. Orang Yahudi katakan: “Umur-Mu belum sampai 50 tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Dari pernyataan ini kita tahu bahwa mereka sesungguhnya tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias. Mereka sungguh marah sesudah mendengar apa yang dikatakan Yesus: “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”, mereka mengambil batu untuk melempari Dia, karena Ia menghujat Allah. Ia mau menyamakan diriNya dengan Allah. Sementara dari pihak Yesus, Ia sungguh menyampaikan satu pernyataan yang sungguh benar bahwa Ia adalah Mesias, Ia adalah Allah yang hidup sebelum segala sesuatu diciptakan. Walaupun mereka mau melempari Dia dengan batu, tetapi Yesus dengan segala kuasa ke-Allah-anNya menghilang dari antara mereka. Kalau saja orang Yahudi manfaatkan peristiwa keajaiban ini dan menganalisis mengapa Yesus tiba-tiba menghilang dan meninggalkan Bait Allah, pasti mereka akan percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah. Tetapi sayang bahwa hati dan pikiran mereka sudah dikuasai oleh kegelapan. Segala perbuatan baik yang Yesus lakukan semuanya dilihat sebagai sesuatu yang negatip. Kegelapan hati sudah menutup kemungkinan untuk melihat sesuatu yang positip yang dibuat oleh orang lain.
Marilah saudara-saudari... Bersama Bunda Maria kita berdoa: Tuhan kuatkanlah iman kami. Semoga kami setia mengikuti perintah-Mu dan tekun melaksanakannya sehingga di saat kami mengakhiri ziara kehidupan kami di dunia ini kami boleh bersukaria alami kehidupan kekal bersama Allah Bapa, dan Allah Putera dan Allah Roh Kudus serta semua para Malaikat Surga untuk selama-lamanya. Amen.
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar