Sabtu, 11 Mei 2019

Minggu, 12 Mei 2019

*XII. DOGMA GEREJA:  PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA*

1.Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa. Dogma ini bukan ujug-ujug diumumkan, tetapi lebih menjaga dan mempertahankan apa yang sudah diyakini oleh Umat Allah sejak abad awal.

2.Alasan pertama Bunda Maria dikandung tanpa noda ini berhubungan dengan peran Bunda Maria sebagai ibu Tuhan Yesus. Walau pun Maria manusia biasa, ia tidak seperti kita. Sangat banyak manusia, namun Tuhan hanya memilih satu orang untuk menjadi ibu-Nya, yaitu Maria. Kita tahu bahwa Allah adalah Kudus, sempurna dan tidak ada dosa di dalam Dia, maka ketika memutuskan untuk dilahirkan di dunia, maka sudah sangat layak bahwa ketika memutuskan untuk dilahirkan di dunia, Allah menguduskan terlebih dahulu seseorang yang melaluinya Ia akan dilahirkan.

3.Sejak awal mula, Bunda Maria disebut sebagai “perempuan” yang keturunannya akan mengalahkan ular atau iblis (Kej 3:15). Kata “perempuan” sering diulang dalam Perjanjian Baru: Yoh 2:4, Yoh 19:26-27. Di sini Yesus mau menunjukkan bahwa Maria adalah “perempuan” yang telah dinubuatkan pada awal mula dunia sebagai “Hawa yang Baru.” “Hawa yang Baru” berperan berdampingan dengan Kristus sebagai “Adam yang Baru.” Oleh karena itu, sudah selayaknya Allah membuat Bunda Maria tidak tercemar sama sekali oleh dosa, supaya ia dapat ditempatkan bersama Yesus di tempat utama dalam pertentangan yang total melawan Iblis (Kej 3:15).

4. Bunda Maria disebut sebagai Tabut Perjanjian yang Baru. Dalam Kitab Keluaran bab 25 – 31, bagaimana Kemah Suci dan Tabut Perjanjian dikuduskan oleh Allah sendiri. Betapa lebih istimewa lagi perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung Putera-Nya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1). Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus dan tidak berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.

5.Malaikat Gabriel ketika memberitakan Kabar Gembira, ia memanggil Maria sebagai “… engkau yang dikaruniai” – penuh rahmat (Luk 1:28). Kata tersebut tidak pernah ditujukan kepada siapa pun di dalam Kitab SUci, kecuali kepada Maria. Bahkan Allah tidak pernah menyapa Abraham atau pun Musa dengan salam. Kepada Maria, Allah bukan saja memberi salam, tetapi juga memenuhinya denga rahmat (rahmat: lawan dari dosa). Karena “penuh rahmat” maka para Bapa Gereja mengartikannya bahwa seluruh keberadaan Maria dipenuhi dengan rahmat Allah dan semua karunia Roh Kudus, sehingga dengan demikian tidak ada tempat lagi bagi dosa, yang terkecil sekali pun, sebab hadirat Allah tidak berkompromi dengan dosa. Artinya, Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal.

6.Bunda Maria yang tidak bernoda dosa tubuh dan jiwanya, tidak hanya dimaksudkan “hanya” untuk melukiskan keistimewaan Maria, tetapi untuk memberi gambaran bagi Gereja. Seperti Maria, Gereja juga dikatakan sebagai “tidak bernoda.” Hal ini juga dikatakan oleh Rasul Paulus: “Kristus menempatkan Gereja di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Sebagai anggota Gereja, kita diajak melihat Maria sebagai teladan. Maria adalah model bagi Gereja dan teladan bagi kita dalam hal kekudusan.
🇮🇩MS😄🇮🇩

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar