Selasa, 28 Mei 2019

Rabu, 29 Mei 2019

*XXIX. MEDALI WASIAT*

1.Kisah Medali Wasiat berawal dari penampakan Bunda Maria kepada St. Katarina Laboure, seorang novis Suster-suster Puteri Kasih di Paris. St Katarina (1806-1876, dikanonisasi 1947) adalah puteri seorang petani, anak  kesembilan dari sebelas bersaudara. Ketika usianya delapan tahun, ibunya meninggal dunia. Bahkan dalam usia yang masih amat belia, St Katarina telah menunjukkan kasih yang istimewa kepada Bunda Maria. Sepeninggal ibunya, St Katarina memanjat sebuah kursi agar dapat menggapai patung Bunda Maria di rumah mereka. Ia mendekapkan patung itu ke dadanya sembari berkata, “Sekarang, Bunda Maria terkasih, engkau akan menjadi ibuku.” Ia diserahi tugas mengurus rumah tangga, dan karena itu ia tidak dapat mengenyam pendidikan formal di sekolah.  Pada tanggal 22 Januari 1830, dalam usia 24 tahun, St Katarina menggabungkan diri dengan Suster-suster Puteri Kasih yang didirikan oleh St. Vincentius de Paul.

2.Pada malam hari 18 Juli 1830, St Katarina melihat Bunda Maria duduk di tempat paduan suara di kapel rumah induk. St Katarina sendiri mencatat peristiwa tersebut, yang diberinya judul, “Percakapan bulan Juli dengan Santa Perawan, dari pukul 11.30 malam hari tanggal 18 hingga pukul 1.30 dini hari tanggal 19, pada pesta St Vincentius.” Sepanjang waktu itu, Bunda Maria berbicara kepadanya dan menyampaikan beberapa nubuat yang di kemudian hari terbukti menjadi kenyataan. Bunda Maria mengatakan, “Anakku, Allah yang baik hendak menugasimu dengan suatu misi. Engkau akan banyak menderita, tetapi engkau akan mengatasi penderitaan-penderitaan ini dengan merenungkan bahwa apa yang engkau lakukan adalah demi kemuliaan Allah. Engkau akan mengetahui apa yang dikehendaki Allah yang baik. Engkau akan menderita hingga engkau mengatakan kepada dia yang ditugasi untuk membimbingmu. Engkau akan ditentang tetapi, janganlah takut, engkau akan beroleh rahmat. Katakanlah dengan penuh kepercayaan segala yang terjadi dalam dirimu; katakan dengan bersahaja. Percayalah. Jangan takut.”

3.Pada tanggal 27 November 1830, Bunda Maria kembali menampakkan diri kepada St Katarina sekitar pukul 5.30 petang, sementara Katarina bermeditasi bersama komunitas. St Katarina menggambarkan apa yang dilihatnya, “Santa Perawan berdiri. Tingginya sedang; ia mengenakan busana serba putih. Sebuah kerudung putih menutup kepala dan jatuh terjuntai di samping kedua kaki. Di bawah kerudung, rambutnya, yang tergelung, diikat dengan sebuah ikat rambut berhias renda, sekitar tiga sentimeter tingginya atau dua jari lebarnya, tanpa lipit, yang bertengger ringan di atas rambut. Wajahnya terlihat jelas, malahan terlihat amat jelas, dan begitu cantik jelita hingga rasanya mustahil bagiku untuk menggambarkan keelokannya yang teramat menawan. Kedua kakinya berpijak di atas sebuah bola dunia putih, maksudnya setengah bola dunia, atau setidaknya aku melihatnya hanya setengah. Ada juga seekor ular, berwarna hijau dengan tutul-tutul kuning. Kedua tangannya terangkat setinggi perut dan memegang, dengan cara yang amat rileks dan seolah mempersembahkan kepada Allah, sebuah bola emas dengan salib emas kecil dipuncaknya, yang melambangkan dunia. Matanya sekarang terarah ke surga, dan sekarang terarah ke bawah. Wajahnya elok jelita tiada tara hingga tak mampu aku menggambarkannya. Sekonyong-konyong, aku melihat cincin-cincin pada jari-jemarinya, tiga cincin di masing-masing jari, yang terbesar dekat pangkal jari, yang berukuran sedang di tengah, yang terkecil di ujung. Masing-masing cincin bertahtakan permata, sebagian lebih indah dari yang lain; permata-permata yang lebih besar memancarkan berkas-berkas sinar yang lebih besar sementara permata-permata yang lebih kecil memancarkan berkas-berkas sinar yang lebih kecil; berkas-berkas cahaya dari segala penjuru membanjiri bagian bawah, sehingga aku tak dapat lagi melihat kaki Santa Perawan.”

Bunda Maria kemudian menjelaskan kepada St Katarina simbolisme sehubungan dengan penampakannya: “Bola ini yang engkau lihat melambangkan seluruh dunia, khususnya Perancis, dan setiap orang secara istimewa. [Sinar-sinar kemilau] adalah lambang rahmat-rahmat yang aku limpahkan atas mereka yang memohonnya. Permata-permata yang darinya tidak terpancar sinar adalah rahmat-rahmat yang lupa dimohonkan oleh jiwa-jiwa.” Sebuah bingkai yang sedikit oval mengelilingi Bunda Maria, di atasnya tertulis kata-kata dalam huruf-huruf emas: “O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.” Gambar ini dengan jelas mengidentifikasikan Bunda Maria sebagai Yang Dikandung Tanpa Dosa dan Mediatrix (= Perantara) Rahmat. Pada tahun 1854, Beato Paus Pius IX secara khidmad memaklumkan Dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, yakni “… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang Mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal…”

4.Bunda Maria kemudian memerintahkan kepada St Katarina agar sebuah medali dibuat seturut gambar ini. Di sisi belakang medali hendaknya terdapat sebuah huruf M yang besar dengan sebuah palang dan sebuah salib di puncaknya; di bawah huruf M terdapat Hati Yesus dimahkotai duri, dan Hati Maria ditembusi sebilah pedang. Bunda Maria juga mengatakan, “Mereka semua yang mengenakan medali ini akan menerima rahmat-rahmat istimewa; hendaknya mereka mengenakannya pada leher. Rahmat akan dicurahkan secara berlimpah ruah kepada mereka yang mengenakannya dengan penuh kepercayaan.” Dengan persetujuan Uskup Agung de Quelen dari Paris, 1500 medali pertama dibuat pada tanggal 30 Juni 1832.

5.Devosi kepada medali yang dianjurkan oleh Sr Katarina secara ajaib menyebar dengan cepat. Pertobatan dan mukjizat-mukjizat yang terjadi melalui Medali Santa Perawan Maria tak terhitung banyaknya. Sehingga, nama resmi yang diberikan kepada  medali tersebut "Medali dari Yang Dikandung Tanpa Dosa"  segera dilupakan orang, dan orang lebih suka menyebutnya Miraculous Medal (Medali Ajaib) atau kita menyebutnya Medali Wasiat.

6.Pada tahun 1836 Komisi Khusus yang ditunjuk oleh Bapa Uskup Agung menyatakan bahwa penampakan Santa Perawan Maria di Kapel Biara Puteri-Puteri Kasih di 140 Rue du Bac, Paris, Perancis adalah benar.

7.Kita pun diberi keistimewaan untuk mengenakan Medali Wasiat. Mengenakannya berarti menerima tawaran perlindungan Bunda Maria yang membawa kuasa Puteranya, Yesus Kristus ke dalam hidup kita.

"O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.”
🇮🇩MS🇮🇩

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar