Rabu, 19 Juni 2019

Kamis, 20 Juni 2019
Pekan Biasa XI
2Kor. 11: 1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,7-8; Mat 6:7-15.

“Bila kal​​ian berdoa janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka doanya akan dikabulkan karena banyaknya kata-kata. ... Karena Bapamu tahu apa yang kalian perlukan, sebelum kalian minta kepada-Nya."

Ketika mendengarkan sebuah sambutan, presentasi atau homili yang bertele-tele, kita tentunya mudah merasa bosan. Kebosanan itu bukan pertama-tama karena waktu yang panjang/lama, tetapi lebih-lebih karena isi pembicaraan yang tidak jelas. Yesus pun ternyata sama. Ia tidak menghendaki doa yang bertele-tele. Yaitu, doa yang ngelantur dengan banyak kata yang tidak jelas (bdk. arti kata bertele-tele dalam KBBI: "bertele-tele" berarti bercakap-cakap tidak jelas ujung pangkalnya, melantur-lantur, berlarut-larut; bodoh, kurang akal. Dengan tegas, Yesus mengatakan bahwa doa yang bertele-tele menunjukkan kurang atau tiadanya iman. Orang yang berdoa secara bertele-tele berarti tidak mengenal Allah dan juga tidak mengenal diri sendiri. Tidak tahu apa yang diimani, disyukuri, diharapkan dan dimohon. Kalau demikian, apakah Yesus menghendaki agar kita berdoa sebentar saja dan cepat-cepat, to the point minta apa? Tentu tidak demikian juga. Yesus meminta supaya kalau berdoa, kita jangan bertele-tele dengan banyak kata. Ia tidak meminta agar kita berdoa sebentar dan cepat-cepat. Doa adalah berkomunikasi dan bercakap-cakap dengan Tuhan. Jadi harus ada dialog timbal balik. Bukan hanya kita saja yang berkata-kata. Tuhan juga ingin berbicara dengan kita. Nah, untuk itu kita berdoa dengan sedikit kata yang jelas lalu memberi kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara kepada kita dan kita mendengarkan. Maka, dalam kesempatan doa pribadi, sangatlah penting kita sekedar hening di hadapan Tuhan, misalnya di hadapan Sakramen Mahakudus. Bukankah kalau dalam salah satu bagian Bapa Kami, Yesus mengajarkan agar kita berdoa, "Bapa Kami yang ada di surga ...Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga", itu berarti kita harus hening dan mendengar Tuhan mengatakan apa kehendak-Nya atas diri kita atau Dia menghendaki apa dari kita? Yesus sendiri selalu memberi contoh. Ketika ada orang datang kepada-Nya, ia bertanya, "Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" (Mat 20:32; Mrk 10:36). Nah, sekarang dalam doa pun kita hendaknya juga bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, apa yang Kau kehendaki supaya aku perbuat bagi-Mu"? Lalu, dalam hening kita mendengarkan Dia.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar