Minggu, 23 Juni 2019

Rabu, 24 Juni 2019
HR. KELAHIRAN St. YOHANES PEMBAPTIS
Yes. 49:1-6; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15;  Kis. 13:22-26; Luk. 1:57-66,80.

Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga, apalagi kalau keluarga itu sudah lama menantikan anak, tentu merupakan sukacita yang besar. Inilah yang terjadi pada peristiwa kelahiran Yohanes. Zakaria dan Elizabet, mungkin sudah putus asa dan pasrah karena sampai usia mereka lanjut, Tuhan tidak kunjung memberi momongan. Mereka sudah pasrah dan tidak berharap lagi akan dianugerahi anak. Oleh karena itu, ketika Zakaria mendengar kabar dari Malaikat Gabriel bahwa Elisabeth akan mengandung, ia tidak percaya. Mustahil karena mereka berdua sudah tua. Namun, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia ini pun akhirnya dianugerahi anak. Dan anak itu harus diberi nama Yohanes, yang artinya "Tuhan merahimi". Hal ini bukan sekedar berarti Tuhan mengisi rahim Elisabet yang mandul dan sudah uzur, tetapi Tuhan memberikan kerahiman-Nya kepada bangsa manusia. Tuhan mengisi rahim Elisabet bukan sekedar untuk memberinya seorang anak. Bukan. Tuhan mempunyai rencana yang jauh lebih besar. Sebab, melalui Anak yang dikandung dan dilahirkan Elisabet itulah, Tuhan mempersiapkan bangsa manusia yang akan dilahirkan secara baru melalui pembaptisan. Umat baru inilah yang disiapkan untuk menerima kehadiran Kristus, Sang Juru Selamat. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita bersukacita merayakan kelahiran St. Yohanes Pembaptis. Sebagaimana Yohanes diutus untuk mempersiapkan umat yang siap menerima Kristus, kita pun juga dipanggil untuk selalu mempersiapkan diri kita dan juga generasi muda kita, anak-cucu kita, sehingga mereka pun juga siap menyambut Kristus. Apakah sebelum merayakan Ekaristi, kita juga selalu mempersiapkan diri dengan berdoa, membaca Sabda Tuhan, dan bertobat sehingga kita lebih siap dan pantas untuk mendengarkan Sabda-Nya dan menyambut Tubuh-Nya? Apakah kita juga ikut serta mempersiapkan anak cucu kita untuk semakin mengenal, mencintai dan mengimani Kristus, misalnya dengan cara mengajak mereka doa bersama dalam keluarga, menyadiakan bacaan-bacaan rohani, mengajak mereka aktif dalam kegiatan lingkungan dan Gereja, mendukung kegiatan-kegiatan PIA/PIR/Misdinar di paroki, dll?

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar