Kamis, 11 Juli 2019

Jumat, 12 Juli 2019

*BERTAHAN DALAM KASIH*

*BACAAN*
*Kej 46:1-7.28-30* – “Sekarang bolehlah aku mati”
*Mat 10:16-23* – “Bukan kamu yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu”

*RENUNGAN*
1.Kunci paradox Yesus adalah bahwa Ia begitu mengasihi kita sampai Ia mengalami salib demi keselamatan kita. Namun demikian, Ia juga mengetahui segala kelemahan kita. Ia tahu betapa hati manusia itu plin-plan. “Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia” (Yoh 2:24-25). Dengan ungkapan tersebut, Kristus mengingatkan kita untuk tidak terlalu percaya kepada orang lain. Sama seperti kita, setiap orang memiliki kelemahan. Keyakinan kita terhadap mereka haruslah relatif dan realistik. Tetapi tidak demikian dengan iman kita terhadap Kristus.

2.Kristus adalah batu karang yang melawan hempasan gelombang. Kristus meminta tanggapan personal dari kita masing-masing. Dan tanggapan setiap orang merupakan misteri. Beberapa orang mengatakan ya; beberapa orang lain mengatakan tidak. Keterbelahan dalam diri seseorang bisa bergaung dalam keterbelahan di dalam keluarga. Bisa saja seorang saudara menjadi musuh kita yang sangat keji. Mungkinkah mengikuti Kristus menyebabkan friksi terhadap anggota keluarga yang kita cintai?

3.Kristus tidak pernah menjanjikan kepada pengikut-Nya sebuah kehidupan yang nyaman, mudah, dan berkecukupan. Ia tahu apa yang membuat kita dewasa dalam kasih, yaitu pengurbanan. Pengurbanan menyucikan kita, mempermuliakan kita. Cinta tanpa pengurbanan hanyalah dongeng omong kosong. Mencintai berarti terlibat dalam penderitaan orang lain. Jika kita menutup diri terhadap kebahagiaan Allah, kita akan tetap menjadi pribadi yang kerdil. Bisakah aku menerima penderitaan Kristus sebagai cara untuk keluar dari kepompong kenyamanan kita?
🇮🇩Ma.Sri🇮🇩

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar